Sabtu, 07 Juli 2018

Perempuan Belanda dan kebaya (4): Jakarta 1917

PENGANTAR

Sebelum ini sudah ada posting yang menunjukkan bagaimana wanita Belanda/bule mengenakan kebaya (di sini dan di sini). Hal yang selintas seperti biasa ini bisa menjadi menarik ketika kita bertanya: "Mana lelaki Belanda mengenakan pakaian daerah Indonesia?" Ketika kita melihat-lihat foto zaman dulu, para lelaki Belanda hampir semuanya berpakaian "a la kolonial" atau pakaian yang mereka juga lazim kenakan di negeri asalnya.

Apakah ini menunjukkan bahwa kaum perempuan lebih terbuka untuk menerima budaya lain, meskipun itu berasal dari masyarakat yang ‒saat itu‒ dianggap lebih inferior? Sementara kaum lelaki gengsinya lebih tinggi dan merasa turun martabat jika harus mengenakan sarung?

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1917
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Jumat, 06 Juli 2018

Aksi Polisionil 1: Inspeksi pengamat militer asing ke wilayah sekitar Salatiga (2), 1947

Mayor Sands (kiri) mengamati monyet yang ditangkap seorang tentara Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Kunjungan ke Getasan
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Para pengamat bertemu warga lokal, yang cenderung berdiri kaku tanpa ekspresi
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Fasilitas darurat dari Palang Merah Belanda di Getasan
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Para pengamat di fasilitas darurat Palang Merah Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 27 September 1947
Tempat: sekitar Salatiga
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Th. van de Burgt
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Kamis, 05 Juli 2018

Wajah gadis, mojang, dan perempuan Sunda dari berbagai masa

Sekitar 1880: Dua wanita Sunda di studio foto mengenakan kebaya yang terlihat mewah
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Bogor, sekitar 1910: Terkadang fotografer Belanda terkesan iseng, wanita sedang mandi difoto
(klik untuk memperbesar | © ARW-Kiekjes / Universiteit Leiden)
Antara 1925-1931: Empat mojang memegang angklung; kemungkinan diminta difoto karena ada kunjungan seorang pembesar dari Malang (disimpulkan dari nomer plat mobil)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Sekitar 1930: sekelompok mojang berkebaya
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1880, 1910, 1925, 1930
Tempat: Jawa Barat
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Rabu, 04 Juli 2018

Aksi Polisionil 1: Inspeksi pengamat militer asing ke wilayah sekitar Salatiga (1), 1947

Para pengamat militer: Kolonel Servais (Belgia; paling kiri), Kolonel Morizon (Perancis; mengalungi kamera) bersama perwira Belanda dipimpin oleh Kolonel Tijmen (memegang tongkat)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Inspeksi atas pipa saluran air di sungai Tuntang yang disabotase para pejuang
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Inspeksi atas pipa saluran air di sungai Tuntang yang disabotase para pejuang
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Inspeksi atas pipa saluran air di sungai Tuntang yang disabotase para pejuang
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Rombongan inspeksi di hotel Kopeng yang dibakar para pejuang
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Pengamat militer dari Inggris, Mayor Sands, membuat catatan di depan hotel Kopeng yang dibakar para pejuang. Di tembok hotel terbaca coretan para pejuang "Berdjoeanglah Oentoek Noesa dan Bangsa!"
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 27 September 1947
Tempat: sekitar Salatiga
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Th. van de Burgt
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Selasa, 03 Juli 2018

Pemandangan alam di Leles, Garut, di tahun 1911

Leles dengan latar belakang gunung Haruman
(klik untuk memperbesar | © Jean Demmeni / Universiteit Leiden)
Leles dengan latar belakang gunung Kaledong
(klik untuk memperbesar | © Jean Demmeni / Universiteit Leiden)
Situ Cangkuang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1911
Tempat: Leles (Garut)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Jean Demmeni (dua foto pertama)
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Senin, 02 Juli 2018

Aksi Polisionil 1: Kunjungan wartawan Arab ke Salatiga dan Ambarawa, 1947

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: September 1947
Tempat: Ambarawa/Salatiga
Tokoh:
Peristiwa: Dua (?) wartawan Arab berkunjung ke wilayah Ambarawa/Salatiga pada saat berkecamuknya perang antara Belanda dengan para pejuang kemerdekaan. Di foto tampak mereka didampingi penghubung dari militer Belanda dan warga Indonesia berpeci (yang mungkin menjadi penterjemah).
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: