Kamis, 01 Januari 2026

Rabu, 31 Desember 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (28)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Teks asli penyerta foto:Soerabaya: Vluchtelingen van de Indonesische Terreur, afkomstig van Madoera.
  • Terjemahan:Surabaya: Para pengungsi asal Madura [yang mencari perlindungan] dari teror Indonesia
  • Bahasan: Teks dan foto ingin menunjukkan bahwa masyarakat banyak lebih merasa nyaman di dekat para tentara Belanda (yang berdiri tanpa baju di latar belakang). Apabila melihat posisi warga di dalam foto ada kemungkinan mereka dikumpulkan di sebuah lapangan yang memang menjadi basis tentara Belanda, dan tampaknya mereka sedang mendapatkan semacam pengarahan dari pihak yang tidak tampak di foto.
  • Catatan:
Waktu: 1947
Tempat: Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 30 Desember 2025

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno tentang seorang budak wanita di Bali

(klik untuk memperbesar | @ Wellcome Collection)

Tahun terbit: abad ke-18 
Tempat terbit: Belanda 
Tokoh:
Deskripsi: Ini adalah gambaran tentang seorang budak perempuan di Bali di sekitar akhir abad ke-17 atau awal abad ke-18. Lukisan ini sejalan dengan gambar lain yang menunjukkan bahwa budak perempuan bisa berpakaian lebih tertutup daripada tuannya.
Juru foto/gambar: Cornelis de Bruijn
Sumber / Hak cipta: Wellcome Collection
Catatan:

Senin, 29 Desember 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (27)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Teks asli penyerta foto:Bespreking met Indonesische hoofden over bestuurszaken na bezetting door Nederlandse leger op Java na de eerste politionele actie. "Samenwerking...Waarom niet met al onze vrienden? Direct na de bevrijding werd met de dorpshoofden over de opbouw overlegd. Soms, als het gebied aan nog niet bevrijd gebied grensde, dorst het dorpshoofd niet, bang voor wraak van de "Heilsbrengers" der T.R.I. Waarom werd slechts aan enkelen in IndiĆ« gegund weer te leven bij Recht en Veiligheid?"
  • Terjemahan:Pembicaraan dengan para pemuka masyarakat Indonesia tentang masalah administrasi setelah pendudukan Jawa oleh tentara Belanda setelah Aksi Polisionil I. "Kerja sama... Mengapa tidak dengan semua teman kita? Segera setelah pembebasan [oleh militer Belanda], para pemuka desa membahas pembangunan kembali. Terkadang, jika daerah itu berbatasan dengan wilayah yang belum dibebaskan [dari kekuasan Republik], para pemimpin desa tidak berani, karena takut akan pembalasan dari "pembawa keselamatan" T.R.I. Mengapa hanya sedikit orang di Hindia-Belanda yang diberi hak untuk hidup kembali di bawah keadilan dan keamanan?"
  • Bahasan:Teks ini mengikuti pola yang biasa dipakai, yaitu 1) tentara Belanda membawa pembebasan, keadilan, serta keamanan; 2) masyarakat luas sebenarnya merasa lebih nyaman dengan kekuasaan Belanda; dan 3) TNI/TRI adalah kelompok yang menyebut diri pembawa keselamatan tetapi sebenarnya menyebar ketakutan.
  • Catatan:
Waktu: 1947
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 28 Desember 2025

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno tentang orang utan, ular kobra, dan monyet Jawa

(klik untuk memperbesar | @ Wellcome Collection)

Tahun terbit: 1744 
Tempat terbit: London 
Tokoh:
Deskripsi: Gambar ini menunjukkan bayangan warga Inggris di abad ke-18 tentang wujud orang utan (yang lebih mendekati paras manusia daripada sejatinya), ular sinduk (yang digambarkan seperti memakai hoody), serta monyet Jawa (yang berjalan tegak dan seperti sedang berkaraoke).
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Wellcome Collection
Catatan:

Sabtu, 27 Desember 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (26)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Teks asli penyerta foto:Evacuatie onder Nica-bescherming. West-Java.
  • Terjemahan: Evakuasi di bawah perlindungan NICA. Jawa Barat.
  • Bahasan: Dari foto-foto tentang masyarakat sipil di Jawa yang melakukan evakuasi di masa perang, ada semacam keseragaman bagaimana mereka membawa barang-barang mereka: kaum lelaki membawa pikulan, sementara kaum perempuan membawa bundelan kain yang diselempangkan ke pinggang atau ditempatkan ke punggung. Umumnya mereka berpakaian seadanya dan tanpa alas kaki. Foto di atas lebih memperlihatkan tiga lelaki yang tampaknya membawa karung berisi hasil bumi, serta seorang perempuang yang tidak membawa apa-apa dan malah mengenakan pakaian serta sepatu rapi. Beberapa tentara Belanda di ujung jembatan yang tampak sedang mengerjakan perbaikan makin mengindikasikan bahwa foto ini sebenarnya menunjukkan sebuah jembatan yang kemungkinan dirusak para pejuang, dan pihak Belanda berusaha mereparasinya. Dan untuk sementara, warga masih bisa memakainya tetapi dengan menggunakan papan yang dipasang di antara bilah besi. Tidak ada evakuasi di sini, dan pihak ada NICA di sana dalam rangka perbaikan jembatan.
  • Catatan:
Waktu: 1947
Tempat: Jawa Barat
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 26 Desember 2025

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno karya Theodor de Bry tentang pemain gamelan di Jawa

(klik untuk memperbesar | @ Wellcome Collection)

Tahun terbit: abad ke-16 
Tempat terbit: kemungkinan Frankfurt am Main 
Tokoh:
Deskripsi: Theodor de Bry terkenal sebagai ilustrator abad ke-16 yang banyak memperkenalkan kepada warga Eropa suasana di luar Eropa seperti Amerika dan Asia Timur termasuk Nusantara. Karena de Bry menumpahkan imaginasinya berdasarkan naskah-naskah dan narasi yang dia baca atau dapat, dan bukan menyaksikan sendiri, maka tidak jarang hasil karyanya harus dipandang dengan cermat. Seperti halnya gambar tentang pemain gamelan di Jawa ini. Lelaki di sebelah kanan dipastikan adalah pemain gong. De Bry sudah benar dalam menampilkan gong dalam ukurang yang tidak sama; sayangnya tetapi kelebihan dua, dan posisinya 90 derajat terlalu banyak. Dua lelaki lain sudah benar digambarkan dalam keadaan duduk di lantai, memegang dua pemukul yang ujungnya dibungkus, menghadap "meja" yang berisi kenongan. Tetapi, bayangan de Bry tentang bentuk kenongan sedikit meleset: benjolannya terlalu lebar.
Juru foto/gambar: Theodor de Bry
Sumber / Hak cipta: Wellcome Collection
Catatan: