Tampilkan postingan dengan label sungai Citarum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sungai Citarum. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Maret 2026

Dua pemandangan dari Cimahi zaman dulu

Konvoi alat angkut bertenaga dua kuda. Saat para kuda "isi rumput" sebelum melanjutkan mengangkut karung-karung yang bertumpuk di pedati.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sungai Citarum di kawasan Batujajar, masih mengalir deras tanpa ditutupi sampah dan limbah seperti sekarang ini
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: ?
Tempat: Cimahi
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 09 November 2022

Dari sebuah kumpulan foto bernomor tentang Jawa Barat di awal abad ke-20 (2)

Foto-foto berikut berasal dari sebuah koleksi yang sayang sekali tidak diketahui dikeluarkan kapan dan oleh siapa. Sedikit beruntung, foto-foto ini diberi nomor dan deskripsi, sehingga di beberapa nomor kita masih bisa tahu di mana dan tentang apa foto ini dibuat. Nomor tertinggi adalah 37; sayang sekali kita hanya terwariskan 19 foto, mulai dari nomor 2 dengan beberapa nomor yang hilang.

10. Pantai Ciletuh, Sukabumi
(klik untuk memperbesar | © NGA)
15. Seorang lelaki Belanda ditemani beberapa warga loka di sungai berbatu. Di latar tengah tampak sebuah kereta tarik yang tampaknya digunakan untuk mengangkut ibu beserta anaknya.
(klik untuk memperbesar | © NGA)
21. Seorang anak menggembala kerbau
(klik untuk memperbesar | © NGA)
23. Sungai Citarum
(klik untuk memperbesar | © NGA)
24. Sisi lain Sungai Citarum
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: awal abad ke-20
Tempat: Jawa Barat (a.l. Sukabumi)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta:National Gallery of Australia
Catatan:

Minggu, 06 Maret 2022

Wajah flora dan manusia Nusantara di publikasi Koloniaal Museum Haarlem, 1895-1901 (4)

PENGANTAR

Foto-foto berikut berasal dari publikasi yang dikeluarkan oleh Koloniaal Museum Haarlem, Belanda, dari tahun 1895 hingga 1901. Rangkaian publikasi ini umumnya menampilkan budaya manusia sehari-hari, dunia flora, serta budi daya manusia atas dunia botanika ini.

(klik untuk memperbesar)

Beberapa foto muncul di lebih dari satu publikasi; blog ini tetap akan menampilkan dublet seperti ini.


Jawa: Sebuah grup ronggeng
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jawa: Memintal kapas menjadi benang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jawa: Mengolah kapas
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Menyeberangi Sungai Citarum dengan perahu yang dipandu tali
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pohon rotan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Liana yang tumbuh merambat-gantung dari pohon ke pohon
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1901 (4 foto pertama), sekitar 1900 (2 foto terakhir)
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: H. Kleinmann & Co.
Sumber / Hak cipta: Koloniaal Museum Haarlem / National Gallery of Australia
Catatan: Foto nomor 4 pernah dimuat di sini dan sini.

Senin, 27 September 2021

Foto-foto dari "Album van Java" tentang Jawa-Maluku-Sulawesi menjelang akhir abad ke-19 (4)

PENGANTAR

Walter Bentley Woodbury dan James Page adalah dua orang Inggris yang menjadi salah dua perintis dunia fotografi profesional di Hindia-Belanda. Studio foto yang mereka dirikan di Batavia menjadi teladan bagi fotografer lain untuk mendirikan hal yang sama di Padang, Semarang, Surabaya, dan kota-kota lain di Nusantara. Blog ini sudah menampilkan banyak karya keluaran dari studio ini.

(klik untuk memperbesar | © NGA)

Di sekitar tahun 1890 studio ini mengeluarkan album dengan judul Album van Java, yang sejatinya juga berisi foto-foto dari Maluku dan Sulawesi juga. Ada kemungkinan pemesan album ini memang aktif atau pernah berkunjung ke wilayah-wilayah ini. Album ini berisi 42 foto, yang 40 di antaranya akan ditampilkan di sini sesuai nomor urut; 2 lainnya tidak tersedia di koleksi yang dipublikasikan oleh National Gallery of Australia ini. Tiap foto memiliki catatan tulisan tangan sehingga memudahkan kita untuk mengidentifikasi objek foto.


18. Kepulauan Banda (1868)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
19. Satu pemandangan di Maluku (sekitar 1890)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
20. Penyeberangan sungai di Jawa Barat (Citarum? sekitar 1890)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
21. Kapal dan perahu di sebuah muara di Maluku (sekitar 1890)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
22. Sebuah pantai di Maluku (sekitar 1890)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
23. Makam Sultan Palembang, Mahmud Badaruddin II, di Ternate (sekitar 1890)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1868, 1890
Tempat: Banda, Jawa Barat, Maluku, Ternate
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Foto nomor 23 pernah dimuat di posting ini.

Selasa, 16 Juni 2020

Konstruksi jembatan bambu zaman dulu: Kumpulan berbagai jenis

Ini termasuk tipe anyaman, tetapi tanpa penopang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Termasuk tipe sangat sederhana dengan hanya batang bambu dan sedikit penopang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1925: Jembatan yang masuk kategori panjang dengan topangan
(klik untuk memperbesar | © Thilly Weissenborn / NGA)
Cimahi, 1904: Jembatan di atas Citarum dengan atap dan lengkungan bambu, termasuk kategori rumit
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1898: Masih termasuk jembatan dengan penopang, kali ini dengan bantuan batang kayu
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1885: Sebagai perbandingan, jembatan yang sepenuhnya dari kayu
(klik untuk memperbesar | © H. Ernst / NGA)
Waktu: 1885, 1898, 1904, 1925
Tempat: Cimahi (a.l.)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: H. Ernst / Thilly Weissenborn
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Jumat, 29 Mei 2020

Beberapa alat transportasi zaman dulu (2): Dari tandu ke mobil

Ketika jembatan besi untuk transportasi bermotor belum dibangun di Jawa, transportasi dari pesisir ke pegunungan dan sebaliknya masih banyak menggunakan perahu yang mengandalkan arus sungai dan keterampilan mendayung; sesuatu yang hampir punah saat ini
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kuda dan tandu sebagai alat transportasi di Jawa
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jawa, 1900-an: Medan terjal seperti ini hanya bisa dilalui oleh kuda, tandu, atau pejalan kaki. Foto kemungkinan diambil di sekitar hutan Lalijiwo (Prigen, Pasuruan).
(klik untuk memperbesar | © koleksi E. Becker / NGA)
Citarum di kawasan Priangan, 1901: Ketika jembatan besi belum ada, pemindahan barang berat antar dua tepi sungai besar dilakukan dengan perahu yang menyeberang dengan dipandu tali
(klik untuk memperbesar | © H. Kleinmann & Co / NGA)
Cemoro Lawang (Tengger), 1920: Seorang bangsawan Jawa berpose bersama mobilnya
(klik untuk memperbesar | © Studio Onnes Kurkdjian / NGA)
Waktu: awal abad ke-20, 1901, 1920
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: H. Kleinmann & Co; koleksi E. Becker; Studio Onnes Kurkdjian
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: 1) Foto nomor 1 menampilkan pintu air Mlirip (Mojokerto) yang mengatur aliran Kali Brantas ke arah Surabaya. 2) Foto nomor 4 pernah dimuat di posting ini dengan ukuran yang lebih kecil.

Sabtu, 04 Agustus 2018

Menyeberangi sungai Citarum ketika belum ada jembatan di akhir abad ke-19

(klik untuk memperbesar | © Woodbury & Page / Universiteit Leiden)
(klik untuk memperbesar | © Emrik & Binge / Universiteit Leiden)

Waktu: akhir abad ke-19 (atau awal abad ke-20)
Tempat: Jawa Barat
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: Foto kedua akan dimuat ulang pada tanggal 29 Mei 2020 dengan versi berukuran lebih besar.