Tampilkan postingan dengan label 1914. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1914. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Januari 2024

Pernikahan bangsawan Jawa yang dihadiri tamu Belanda

Sebuah pernikahan kalangan ningrat Jawa di Wonogiri pada tanggal 14 Juni 1914
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah pernikahan keluarga bangsawan Jawa, kemungkinan di Semarang (berdasarkan ucapan selamat dari Khouw Beng Wan yang merupakan pengusaha percetakan di Semarang)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1914
Tempat: Semarang, Wonogiri
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Sabtu, 20 Januari 2024

Wajah penghuni Hindia-Belanda: Perubahan busana pria perlente dari 1910-an ke 1930-an

1914: Sekelompok pria dengan busana dari era indutrialisasi dengan atasan gelap, bawahan cenderung putih, nasi pita, topi, dan masih ada yang membawa tongkat
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1930: Busana pria bergeser ke jas dan celana terang, dasi panjang, sementara topi dan tongkat sudah hilang sama sekali
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1914, 1930
Tempat: kemungkinan Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 14 Agustus 2023

Foto-foto pemandangan di Jawa hasil jepretan George Lewis (1)

1910: Telaga Cipanas di Garut dengan latar belakang Gunung Guntur
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1914: Petani di sawah dengan latar belakang Gunung Cikuray
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1910: Telaga Cipanas di Garut
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1910: Anak-anak menggembala kerbau
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1910, 1914
Tempat: Garut
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: George Lewis (1875-1939)
Sumber / Hak cipta: Studio foto Onnes Kurkdjian Surabaya | National Gallery of Australia
Catatan: Posting ini pernah memuat edisi lain dari foto nomor 1, 2, dan 3; posting ini juga memuat foto nomor 2.

Jumat, 21 Juli 2023

Aneka foto dari zaman Belanda karya para juru foto yang belum teridentifikasi (20)

1914: Pertunjukan silat Minangkabau
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1889: Perempuan Jawa dalam pakaian tradisional dan kostum poenari di Exposition Universelle (pameran dunia) di Paris
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pertunjukan tari dengan para penari pria dan seorang lelaki berkostum wanita, dengan penonton warga kulit putih, kemungkinan di sebuah hotel
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Seorang penari Jawa berselendang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah relief di Candi Prambanan (?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1889, 1914
Tempat: a.l. Minangkabau, Paris, Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 19 Juli 2023

Aneka foto dari zaman Belanda karya para juru foto yang belum teridentifikasi (19)

Sekelompok penari Jawa
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Penari topeng di Jawa
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pemain gamelan bersama enam sinden
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Dua penari di Jawa (Barat?) dengan dukungan gamelan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Panggung pertunjukan wayang golek
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1914
Tempat: Jawa Barat
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 19 Juni 2023

Aneka foto dari zaman Belanda karya para juru foto yang belum teridentifikasi (4)

~1912: Kawasan Tosari (?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1885: Sungai Batang-Serangan di Langkat
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1914: Foto udara atas sebuah kawasan industri (kemungkinan sebuah pabrik gula di Jawa dengan jalur rel dan rangakaian lokomotif dan roli di bagian bawah foto)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1885; Sebuah acara selamatan di Jawa
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1920: Acara perkawinan sepasang bangsawan Jawa
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1885, 1912, 1914, 1920
Tempat: Batang-Serangan (Langkat), Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Kamis, 09 Februari 2023

Perkebunan tebu di Madiun 1914 dalam jepretan D. Huppe (2)

Pohon tebu menjelang panen
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Panen tebu
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Seorang mandor dan petani tebu pada saat panen
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Waktu: 1914
Tempat: Madiun
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: D. Huppe
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 07 Februari 2023

Perkebunan tebu di Madiun 1914 dalam jepretan D. Huppe (1)

Penyiapan bibit tebu
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pembersihan bibit tebu
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Membawa bibit ke kawasan perkebunan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Penanaman bibit tebu
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Waktu: 1914
Tempat: Madiun
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: D. Huppe
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Jumat, 23 April 2021

Aneka wajah Nusantara dari album foto keluaran Kleynenberg & Co terbitan 1912-1914 (28)

PENGANTAR

Di sekitar tahun 1912-1914 penerbit Kleynenberg & Co. mengeluarkan album berisi 170 foto tentang jajahan Belanda. 150 di antaranya berasal dari Hindia-Belanda, sisanya dari Suriname. Kebanyakan foto-fotonya kemungkinan dibuat di awal abad ke-20, beberapa di antaranya berasal dari fotografer terkenal seperti Jean Demmeni (fotografer kelahiran Padang Panjang, campuran Perancis dan Madura), Christiaan Nieuwenhuis (mantan KNIL yang beralih jadi fotografer, menetap dan meninggal di Padang), Carl Kleingrothe (orang Jerman yang menjadi fotografer di Medan), atau Cassian Kephas (fotografer lokal yang autodidak), dsb.

Album ini menjadi menarik karena merupakan kompilasi keanekaragaman wajah Nusantara saat itu: dari pantai hingga ke pegunungan, dari Aceh hingga ke Papau, dari warga Dayak hingga ke warga Timor, dari perkebunan hingga ke industri tambang. Tak ketinggalan pula aneka macam bangunan mulai dari gua yang masih jadi tempat tinggal hingga ke rumah besar dan keraton. Dari candi, gereja, mesjid, hingga ke pura. Juga dari nelayan, petani, hingga ke penyepuh emas; serta dari bermain kartu, menenun kain hingga ke pacuan kuda.

Tentu tak mungkin semuanya terangkum hanya dalam beberapa foto; tetapi album ini berhasil menunjukkan satu sisi dari keanekaragaman ini.

Blog ini akan menampilkan 150 foto ini; beberapa di antaranya, terutama foto yang populer, pernah ditampilkan sebelumnya secara sendiri-sendiri. 42 foto pertama akan berasal dari yang tersedia di arsip Atlas Van Stolk, ini dipilih karena umumnya sudah menguning sehingga kental kesan kunonya; sisanya dari koleksi Universitas Leiden.


142. Pelabuhan Tanjung Priuk
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
143. Lori pengangkut kayu di Jawa
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
144. Tambang emas di Rejang Lebong, Bengkulu
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
147. Gudang perkebunan tembakau yang meliputi a.l. Beji dan Kiringan di Tulung, Klaten
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
148. Pekerja Tionghoa membabat hutan untuk pembukaan lahan bagi perkebunan tembakau di wilayah Deli
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
150. Perkebunan kina, kemungkinan di Jawa Barat
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: album foto terbit antara tahun 1912 dan 1914, kemungkinan foto-fotonya sudah lebih tua lagi
Tempat (d.a.k.b.): Jakarta, Jawa, Rejang Lebong, Klaten, Deli, Jawa Barat
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Kleynenberg & Co (Haarlem) / Universiteit Leiden
Catatan: Edisi lain dari foto no. 142 pernah dimuat di posting ini, dan no. 148 di posting ini.

Rabu, 21 April 2021

Aneka wajah Nusantara dari album foto keluaran Kleynenberg & Co terbitan 1912-1914 (27)

PENGANTAR

Di sekitar tahun 1912-1914 penerbit Kleynenberg & Co. mengeluarkan album berisi 170 foto tentang jajahan Belanda. 150 di antaranya berasal dari Hindia-Belanda, sisanya dari Suriname. Kebanyakan foto-fotonya kemungkinan dibuat di awal abad ke-20, beberapa di antaranya berasal dari fotografer terkenal seperti Jean Demmeni (fotografer kelahiran Padang Panjang, campuran Perancis dan Madura), Christiaan Nieuwenhuis (mantan KNIL yang beralih jadi fotografer, menetap dan meninggal di Padang), Carl Kleingrothe (orang Jerman yang menjadi fotografer di Medan), atau Cassian Kephas (fotografer lokal yang autodidak), dsb.

Album ini menjadi menarik karena merupakan kompilasi keanekaragaman wajah Nusantara saat itu: dari pantai hingga ke pegunungan, dari Aceh hingga ke Papau, dari warga Dayak hingga ke warga Timor, dari perkebunan hingga ke industri tambang. Tak ketinggalan pula aneka macam bangunan mulai dari gua yang masih jadi tempat tinggal hingga ke rumah besar dan keraton. Dari candi, gereja, mesjid, hingga ke pura. Juga dari nelayan, petani, hingga ke penyepuh emas; serta dari bermain kartu, menenun kain hingga ke pacuan kuda.

Tentu tak mungkin semuanya terangkum hanya dalam beberapa foto; tetapi album ini berhasil menunjukkan satu sisi dari keanekaragaman ini.

Blog ini akan menampilkan 150 foto ini; beberapa di antaranya, terutama foto yang populer, pernah ditampilkan sebelumnya secara sendiri-sendiri. 42 foto pertama akan berasal dari yang tersedia di arsip Atlas Van Stolk, ini dipilih karena umumnya sudah menguning sehingga kental kesan kunonya; sisanya dari koleksi Universitas Leiden.


134. Sekolah misi Kristen di Mojowarno, Jawa Timur
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
136. Transportasi tembakau dengan menggunakan pedati dan perahu, Sumatera Utara
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
137. Konvoi logistik bahan makanan dari Indrapuri semasa Perang Aceh
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
138. Pedati kerbau di Jawa
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
139. Dua pria Belanda menaiki perahu bersama warga Pulau Siberut
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
140. Perahu-perahu nelayan bertambat di sekitar pelabuhan Tanjung Mas, Semarang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: album foto terbit antara tahun 1912 dan 1914, kemungkinan foto-fotonya sudah lebih tua lagi
Tempat (d.a.k.b.): Mojowarno (Jombang), Sumatera Utara, Indrapuri (NAD), Jawa, Pulau Siberut (Mentawai), Semarang
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Kleynenberg & Co (Haarlem) / Universiteit Leiden
Catatan: Edisi lain dari foto no. 136 pernah dimuat di posting ini, serta no. 137 di posting ini dan ini.

Senin, 19 April 2021

Aneka wajah Nusantara dari album foto keluaran Kleynenberg & Co terbitan 1912-1914 (26)

PENGANTAR

Di sekitar tahun 1912-1914 penerbit Kleynenberg & Co. mengeluarkan album berisi 170 foto tentang jajahan Belanda. 150 di antaranya berasal dari Hindia-Belanda, sisanya dari Suriname. Kebanyakan foto-fotonya kemungkinan dibuat di awal abad ke-20, beberapa di antaranya berasal dari fotografer terkenal seperti Jean Demmeni (fotografer kelahiran Padang Panjang, campuran Perancis dan Madura), Christiaan Nieuwenhuis (mantan KNIL yang beralih jadi fotografer, menetap dan meninggal di Padang), Carl Kleingrothe (orang Jerman yang menjadi fotografer di Medan), atau Cassian Kephas (fotografer lokal yang autodidak), dsb.

Album ini menjadi menarik karena merupakan kompilasi keanekaragaman wajah Nusantara saat itu: dari pantai hingga ke pegunungan, dari Aceh hingga ke Papau, dari warga Dayak hingga ke warga Timor, dari perkebunan hingga ke industri tambang. Tak ketinggalan pula aneka macam bangunan mulai dari gua yang masih jadi tempat tinggal hingga ke rumah besar dan keraton. Dari candi, gereja, mesjid, hingga ke pura. Juga dari nelayan, petani, hingga ke penyepuh emas; serta dari bermain kartu, menenun kain hingga ke pacuan kuda.

Tentu tak mungkin semuanya terangkum hanya dalam beberapa foto; tetapi album ini berhasil menunjukkan satu sisi dari keanekaragaman ini.

Blog ini akan menampilkan 150 foto ini; beberapa di antaranya, terutama foto yang populer, pernah ditampilkan sebelumnya secara sendiri-sendiri. 42 foto pertama akan berasal dari yang tersedia di arsip Atlas Van Stolk, ini dipilih karena umumnya sudah menguning sehingga kental kesan kunonya; sisanya dari koleksi Universitas Leiden.


124. Klinik lapangan kesatuan KNIL di Jawa
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
126. Pakubuwono IX dan Residen W. de Vogel
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
127. Sultan Hamengkubuwono VII
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
129. Sultan Kutai, Aji Muhammad Sulaiman beserta para isteri dan selirnya
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
130. Seorang bangsawan Gianyar beserta pengiringnya
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
133. Sekolah pribumi di Pakan Kamis, Tilatang, Agam
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: album foto terbit antara tahun 1912 dan 1914, kemungkinan foto-fotonya sudah lebih tua lagi
Tempat (d.a.k.b.): Jawa, Surakarta, Yogyakarta, Kutai, Gianyar, Tilatang (Agam)
Tokoh: Aji Muhammad Sulaiman (Sultan Kutai ke-18), Hamengkubuwono VII (Sultan Yogyakarta), Pakubuwono IX (Susuhunan Surakarta)
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Kleynenberg & Co (Haarlem) / Universiteit Leiden
Catatan: Edisi lain dari foto no. #126 pernah dimuat di posting ini, no. 127 di posting ini dan ini, no. 129 di posting ini, serta no. 130 di posting ini.

Sabtu, 17 April 2021

Aneka wajah Nusantara dari album foto keluaran Kleynenberg & Co terbitan 1912-1914 (25)

PENGANTAR

Di sekitar tahun 1912-1914 penerbit Kleynenberg & Co. mengeluarkan album berisi 170 foto tentang jajahan Belanda. 150 di antaranya berasal dari Hindia-Belanda, sisanya dari Suriname. Kebanyakan foto-fotonya kemungkinan dibuat di awal abad ke-20, beberapa di antaranya berasal dari fotografer terkenal seperti Jean Demmeni (fotografer kelahiran Padang Panjang, campuran Perancis dan Madura), Christiaan Nieuwenhuis (mantan KNIL yang beralih jadi fotografer, menetap dan meninggal di Padang), Carl Kleingrothe (orang Jerman yang menjadi fotografer di Medan), atau Cassian Kephas (fotografer lokal yang autodidak), dsb.

Album ini menjadi menarik karena merupakan kompilasi keanekaragaman wajah Nusantara saat itu: dari pantai hingga ke pegunungan, dari Aceh hingga ke Papau, dari warga Dayak hingga ke warga Timor, dari perkebunan hingga ke industri tambang. Tak ketinggalan pula aneka macam bangunan mulai dari gua yang masih jadi tempat tinggal hingga ke rumah besar dan keraton. Dari candi, gereja, mesjid, hingga ke pura. Juga dari nelayan, petani, hingga ke penyepuh emas; serta dari bermain kartu, menenun kain hingga ke pacuan kuda.

Tentu tak mungkin semuanya terangkum hanya dalam beberapa foto; tetapi album ini berhasil menunjukkan satu sisi dari keanekaragaman ini.

Blog ini akan menampilkan 150 foto ini; beberapa di antaranya, terutama foto yang populer, pernah ditampilkan sebelumnya secara sendiri-sendiri. 42 foto pertama akan berasal dari yang tersedia di arsip Atlas Van Stolk, ini dipilih karena umumnya sudah menguning sehingga kental kesan kunonya; sisanya dari koleksi Universitas Leiden.


115. Bongkar muat rotan di Sungai Musi, Palembang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
116. Arena pacuan kuda di Bukittinggi
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
117. Pertunjukan wayang kulit pada saat sekaten di Yogyakarta
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
118. Penari topeng di Kesultanan Kutai
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
121. Pemain sandiwara Tionghoa di Surabaya
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
122. Pernikahan dua pasang warga Abung, Lampung
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: album foto terbit antara tahun 1912 dan 1914, kemungkinan foto-fotonya sudah lebih tua lagi
Tempat (d.a.k.b.): Palembang, Bukittinggi, Yogyakarta, Kutai, Jawa Timur, Lampung
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Kleynenberg & Co (Haarlem) / Universiteit Leiden
Catatan: Edisi lain dari foto no. 118 pernah dimuat di posting ini.