Tampilkan postingan dengan label 1903. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1903. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Desember 2023

Wajah penghuni Hindia-Belanda dalam foto studio: Studio Koene, Jakarta (2)

Antara 1890-1899: Seorang wanita Belanda bernama Anna Teves
(klik untuk memperbesar | © NGA)
10 April 1903: Seorang pria Belanda berjanggut putih
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1895: Sesuatu yang saat itu masih jarang, foto wajah warga lokal menatap ke kamera
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1895, 1899, 1903
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Studio Koene & Co; Studio Koene & Büttinghausen
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 25 Januari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1903-1923

De Amsterdammer, 1 November 1903
(klik untuk memperbesar | © Johan Braakensiek / Universiteit Leiden)

Karikatur ini menggambarkan Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz menyambut kedatangan Merkurius, dewa perdagangan Romawi, di pelabuhan Sabang, yang menyusul Mars, dewa perang Romawi, yang sudah ada di sana. Karikatur ini bisa ditafsirkan bahwa dari awal Belanda memang memiliki motivasi ekonomi di dalam usahanya untuk menguasai Aceh.

De Amsterdammer, 26 Januari 1908
(klik untuk memperbesar | © Johan Braakensiek / Universiteit Leiden)

Karikatur di atas berasal dari era ketika para seniman besar Belanda di bidang pertunjukan pada mendatangi wilayah Nusantara. Nama-nama yang ditampilkan a.l. Louis Bouwmeester, Anton Kimmel, dan Albert Vogel. Mbok Indonesia yang merasa heran bertanya kepada Nona Belanda apakah mereka itu anak-anaknya. Nona Belanda menjawab bahwa mereka itu sekedar pencari emas.

(klik untuk memperbesar | © Louis Raemaekers / AVS)

Karikatur ini muncul antara tahun 1914 dan 1918 dan menggambarkan bagaimana seorang agen Jerman merayu rakyat Indonesia dengan menjanjikan senjata dan uang untuk mengenyahkan penjajah Belanda. Bahwa Jerman mencoba membangkitkan perlawanan rakyat Indonesia untuk mengusir Belanda, ini adalah hal yang tampkanya jarang disinggung sejarah.

(klik untuk memperbesar | © Piet van der Hem / AVS)

Karikatur ini muncul di tahun 1923, di saat Belanda melakukan banyak pengetatan anggaran. Tetapi, sebuah undang-undang dengan nama de Vlootwet (Undang-undang Armada) disahkan, guna mempertangguh kekuatan laut Belanda di wilayah Nusantara. Tampaknya saat itu Belanda sudah menyadari bahwa wilayah Nusantara dengan banyak pulau dan periarannya memerlukan armada laut yang tangguh. Boleh jadi Belanda juga sudah melihat bahwa kekuatan laut Jepang bisa menjadi ancaman serius; sebuah pandangan yang kemudian terbukti benar.

Waktu: 1903, 1908, 1918, 1923
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke beberapa peristiwa di Nusantara
Tokoh: Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek | Louis Raemaekers | Piet van der Hem
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk | Universiteit Leiden
Catatan:

Sabtu, 12 Desember 2020

Armada KNIL Laut di tahun 1903

Ilustrasi di bawah memperlihatkan segenap kapal dari armada milik KNIL Laut di tahun 1903. Gambar ini memuat pembagian jenis kapal dalam 9 kategori, serta nama-nama dari kapal yang termasuk kategori ini.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Karena blogger membatasi lebar atau tinggi gambar ke maksimal 1600 pixel, gambar di atas dipotong dua agar detail nama dan penomoran bisa terlihat lebih jelas.

potongan kiri
(klik untuk memperbesar)

potongan kanan
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1903
Tempat: Hindia-Belanda
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Cornelis Christiaan Dommersen
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Selasa, 03 November 2020

Jakarta tempo doeloe: Sungai dan kali

Antara 1900 dan 1913: Ciliwung
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Antara 1901 dan 1903: Ciliwung di kawasan Matraman
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Sungai di Kampung Embrat, sekarang kawasan Muara Heemraad
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Kali Angke
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Kali yang belum teridentifikasi
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: antara 1900 dan 1913 (foto pertama), antara 1901 dan 1903 (foto kedua)
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 26 Agustus 2020

Kartu pos kuno tentang Aceh

1900-1904: Bivak Belanda di Samalanga, Bireuen
(klik untuk memperbesar | © C. Nieuwenhuis / AVS)
1901: Kartu pos bergambar bivak Belanda di Lamjamu, dan Panglima Tibang
(klik untuk memperbesar | © AVS)
1903: Kartu pos bergambar pastor Henricus Christiaan Verbraak, rohaniawan yang mendampingi prajurit Belanda semasa Perang Aceh dari tahun 1874 hingga 1899, dan tampaknya itu a.l. yang menyematkan tanda jasa di dadanya.
(klik untuk memperbesar | © AVS)
1905-1919: Konvoi logistik KNIL berisi bahan makanan dari Indrapuri semasa Perang Aceh
(klik untuk memperbesar | © Jean Demmeni / AVS)
1905-1919: Pintu masuk keraton di dekat jembatan Peunayong
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Masjid Raya Baiturrahman
(klik untuk memperbesar | © Tio Tek Hong / AVS)
1900-1904: Ini kasus menarik. Kartu pos ini ngakunya Groet uit Atjeh (salam dari Aceh) dan dicetak di Kutaraja oleh studio Reicher & Co. Tapi gambar yang disebut Chineesche Gebauw (bangunan Tionghoa) jelas-jelas mesjid; yang kiri atas adalah Masjid Agung Palembang, yang di bawahnya kemungkinan mesjid yang sama tetapi dalam tahap pemugaran dan pengembangan. Tampaknya jualan informasi yang ngawur sudah ada sejak zaman dulu.
(klik untuk memperbesar | © Reicher & Co / AVS)

Waktu: 1901, 1903, 1904, 1919
Tempat: Aceh (catatan: kartu pos bergambar pastor Verbraak dikirim dari Padang)
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar/foto: C. Nieuwenhuis; Jean Demmeni; Reicher & Co; Tio Tek Hong
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: (1) Link di deskripsi kartu pos, jika ada, adalah tautan ke posting terkait di blog ini yang pernah muncul sebelumnya. (2) Patung pastor H.C. Verbraak masih berdiri di Taman Maluku di Bandung. (3) Kartu pos tentang Masjid Agung Palembang akan dimuat pada tanggal 27 September 2020.

Selasa, 07 Juli 2020

Perang kolonial di Hindia-Belanda sebagai permainan papan

Sebelum ini kita sudah melihat bagaimana Perang Aceh dan Teuku Umar menjadi tema sebuah permainan papan di Belanda. Ternyata masih ada permainan papan lain yang diilhamkan dari Perang Aceh atau perang kolonial di Hindia-Belanda secara umum. Berikut dua contoh tampilan dari permainan papan ini.

Permainan Perang Aceh (Atchin) yang harus melewati beberapa kampong dan benting sebelum sampai di kraton.
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Permainan perang kolonial yang mencakup pergerakan pasukan, pengepungan, pertempuran, dan tentunya kemenangan dengan pengibaran bendera Belanda
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu:  antara 1873 dan 1889 (foto pertama); 1903 (foto kedua)
Tempat:  Belanda
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar/foto:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 07 Mei 2020

Dari album foto keluarga Kartini: RMAA Singgih Joyoadhiningrat, suami Kartini

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Sejarah Hindia-Belanda menunjukkan bahwa tokoh yang menjadi pahlawan bagi bangsa Indonesia, bagi pihak Belanda saat itu tak lebih dari pemberontak, pembuat onar, penyulut kerusuhan, dsb. Sebaliknya, orang yang diberi tanda jasa oleh Belanda, bagi bangsa Indonesia merupakan pembantai, penjahat perang, kolaborator, dsb.

Raden Ayu Kartini merupakan satu dari sedikit pengecualian: Orang Belanda dan Indonesia sama-sama kagum dan menghargai apa yang beliau rintis untuk memajukan bangsa Indonesia, terutama kaum perempuannya. Bahkan kemudian warga Belanda bersama warga Indonesia bersama-sama meneruskan dan mengembangkan apa yang telah beliau mulai, yaitu dengan menghidupkan sarana pendidikan untuk anak-anak perempuan Indonesia.

Seri foto berikut ini akan menampilkan foto-foto Kartini dan keluarganya, dan diteruskan dengan munculnya sekolah-sekolah Kartini di berbagai pelosok

Rembang, 1903: Kartini dan suaminya, R.M.A.A. Singgih Joyoadhiningrat
(klik untuk memperbesar | © Tee Han Sioe / Universiteit Leiden)
Foto yang sama dari saat pengambilan yang berbeda
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Belakang: Kartini, R.M.A.A. Singgih Joyoadhiningrat;
depan d.ki.k.ka: Sumantri, Rukmini, Kardinah
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)


Waktu: 1903
Tempat: Rembang
Tokoh: Raden Ayu Kartini (perintis pendidikan perempuan), Kardinah (adik Kartini), Rukmini (adik Kartini), Sumantri (adik tiri Kartini), R.M.A.A. Singgih Joyoadhiningrat (Bupati Rembang, suami Kartini)
Peristiwa:
Fotografer: Tee Han Sioe (paling tidak dua foto pertama)
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Selasa, 05 Mei 2020

Dari album foto keluarga Kartini: Kartini dan saudara-saudaranya (2)

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Sejarah Hindia-Belanda menunjukkan bahwa tokoh yang menjadi pahlawan bagi bangsa Indonesia, bagi pihak Belanda saat itu tak lebih dari pemberontak, pembuat onar, penyulut kerusuhan, dsb. Sebaliknya, orang yang diberi tanda jasa oleh Belanda, bagi bangsa Indonesia merupakan pembantai, penjahat perang, kolaborator, dsb.

Raden Ayu Kartini merupakan satu dari sedikit pengecualian: Orang Belanda dan Indonesia sama-sama kagum dan menghargai apa yang beliau rintis untuk memajukan bangsa Indonesia, terutama kaum perempuannya. Bahkan kemudian warga Belanda bersama warga Indonesia bersama-sama meneruskan dan mengembangkan apa yang telah beliau mulai, yaitu dengan menghidupkan sarana pendidikan untuk anak-anak perempuan Indonesia.

Seri foto berikut ini akan menampilkan foto-foto Kartini dan keluarganya, dan diteruskan dengan munculnya sekolah-sekolah Kartini di berbagai pelosok

Kartini, Kardinah, Rukmini
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Kartini, Kardinah, Rukmini (potret Kartini yang populer berasal dari foto ini, begitu juga tanda tangan beliau)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Semarang 8/9 Agustus 1900: Kardinah, Kartini, Rukmini
(klik untuk memperbesar | © Helios / Universiteit Leiden)
Rembang, 1903: Sumantri, Rukmini, Kartini, dan Kardinah mengenakan kimono
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1900 (tiga foto pertama), 1903 (foto terakhir)
Tempat: Rembang, Semarang
Tokoh: Raden Ayu Kartini (perintis pendidikan perempuan), Kardinah (adik Kartini), Rukmini (adik Kartini), Sumantri (adik tiri Kartini)
Peristiwa:
Fotografer: Charls & Co. / Helios
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: Foto terakhir merupakan tayang ulang dari posting sebelum ini.

Rabu, 22 April 2020

Hindia-Belanda dalam foto stereoskopi (3): Colorized

PENGANTAR
Di akhir abad ke-19 foto stereoskop cukup populer untuk melihat foto dengan kesan tiga dimensi. Teknik yang digunakan saat itu adalah dengan membuat dua foto dengan sudut pengambilan yang sedikit berbeda. Kemudian kedua foto ini disandingkan, dan dilihat dengan menggunakan alat bersekat yang memisahkan pandangan mata kiri dan kanan. Gambar di kiri memperlihatkan contoh alat ini.

Wilayah Hindia-Belanda pun tak luput dari mode fotografi ini. Seri berikut akan menampilkan beberapa motif foto dari Hindia-Belanda yang ada di koleksi penggemar stereoskopi.


Wanita dan anak-anak Malang di pancuran
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah pasar, kemungkinan di Jawa Barat
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah alun-alun di Jawa
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Patung di sekitar candi Singhasari (Arca Dwarpala)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Menyeberangi Bengawan Solo
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah pasar di Jawa
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Waktu: 1903
Tempat: Jawa, Jawa Barat, Malang, Solo
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Truman W. Ingersoll
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Kamis, 21 November 2019

Konstruksi jembatan bambu zaman dulu: Tipe segitiga

PENGANTAR

Sebelum warga Nusantara belum mengenal konstruksi beton atau baja, bambu adalah bahan yang digunakan untuk membuat jembatan. Bambu relatif mudah didapat, tersedia dalam berbagai ukuran panjang, mudah dipotong sesuai kebutuhan, dan cukup elastis dalam menahan beban.

Kelemahan bambu tetapi adalah daya topangnya yang terbatas. Di sini, warga Nusantara mencoba menyiasatinya dengan berbagai kreasi struktur, yang akan kita lihat di beberapa foto berikut ini.

Ketika beban yang harus diseberangkan makin besar dan rumit, serta rentang jembatan makin panjang, akhirnya bambu menemui limit kemampuannya, dan harus menyerahkan fungsi jembatan kepada beton dan baja hingga sekarang ini.

Jawa 1935: Bentuk awal dari tambahan bambu yang mencuat miring ke atas membentuk segitiga. Ini tampaknya untuk memperbesar stabilitas pada jembatan yanga agak panjang.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Kebon Sirih, Jakarta 1936: Jika di foto atas bagian yang miring disambung dengan bambu horisontal, di sini sambungannya menggunakan bambu vertikal di tengah. Secara teknis ini akan menambah beban ke jembatan; dan karenanya ada tumpuan tambahan dari dasar sungai.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Moga, Pemalang 1903: Konstruksi segitiga di jembatan ini bisa dipertanyakan karena tampaknya justru hanya menambah beban yang tidak perlu. Tapi secara estetis memang lebih ok.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Bandung 1930: Sambungan vertikal di jembatan ini lumayan masif, ada tiga pasang dengan masing-masing dua batang bambu. Jelas ini adalah penambahan beban yang lumayan, dan boleh jadi kurang sebanding dengan stabilitas yang dihasilkan.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Cikapundung, Bandung 1920: Jembatan dengan segitiga ganda. Konstruksi ini bisa termasuk stabil karena kaki segitiga berpijak langsung di dasar sungai, bukan ke tanggul.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Jawa 1918: Ini versi ganda dari jembatan di Bandung di atas. Tiap segitiga memiliki tiga pasang bambu vertikal dengan masing-masing dua batang bambu. Secara sepintas si jembatan akan lebih terasa ringan jika tambahan segitiga ini dihilangkan.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1903, 1918, 1920, 1930, 1935, 1936
Tempat: Bandung, Jakarta, Jawa, Pemalang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:


UPDATE 3 Januari 2020

Konstruksi segitiga yang digunakan tentara Belanda sebagai gerbang masuk ke area perkemahan mereka, 15 Juli 1948:

(klik untuk memperbesar | © Hugo Wilmar / Het Geheugen / Spaanerstad)

Rabu, 13 November 2019

Konstruksi jembatan bambu zaman dulu: Tipe sangat sederhana

PENGANTAR

Sebelum warga Nusantara belum mengenal konstruksi beton atau baja, bambu adalah bahan yang digunakan untuk membuat jembatan. Bambu relatif mudah didapat, tersedia dalam berbagai ukuran panjang, mudah dipotong sesuai kebutuhan, dan cukup elastis dalam menahan beban.

Kelemahan bambu tetapi adalah daya topangnya yang terbatas. Di sini, warga Nusantara mencoba menyiasatinya dengan berbagai kreasi struktur, yang akan kita lihat di beberapa foto berikut ini.

Ketika beban yang harus diseberangkan makin besar dan rumit, serta rentang jembatan makin panjang, akhirnya bambu menemui limit kemampuannya, dan harus menyerahkan fungsi jembatan kepada beton dan baja hingga sekarang ini.

Lombok 1930: Ini jembatan bambu yang sangat sederhana. Sejumlah kecil bambu diletakkan begitu saja di antara bantaran sungai. Jembatan ini diberi pegangan satu sisi untuk menambah kestabilan bagi pelintas.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Pekalongan 1903: Jembatan ini menggunakan lebih banyak bambu sehingga lebih lebar dan bisa dilintasi dari dua arah. Pagar pegangan pun tersedia di dua sisi. Kemungkinan jembatan ini menggunakan batang pohon bagian bawah sebagai penguat.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Pujon, Malang 1910: Ini adalah satu kiat untuk mengatasi rentangan yang panjang: Orang mencari posisi di mana terdapat fondasi alamiah seperti batu yang bisa digunakan sebagai tumpuan tambahan sehingga batang bambu bisa ditempatkan dari dua sisi sungai secara terpisah.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1903, 1910, 1930
Tempat: Lombok, Pekalongan, Pujon (Malang)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: