Tampilkan postingan dengan label 1945. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1945. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Juni 2026

Pencarian jenazah korban pembantaian Jepang di Laha, Ambon, 1945 (3)

Di akhir Januari dan awal Februari 1942 Sekutu berusaha menahan gerak maju pasukan Jepang di Ambon dengan mengerahkan sekitar 2.600 personel KNIL dan 1.100 prajurit Australia. Kekuatan Jepang dengan lebih dari 5.000 tentara tetapi tidak terbendung; mereka berhasil mencerai-beraikan posisi Sekutu dalam pertempuran yang dikenang sebagai Battle of Ambon.

Lebih dari 2.000 prajurit KNIL dan Australia ditahan atau menyerahkan diri. Militer Jepang memilih acak sekitar 300 dari mereka dan membantainya dengan cara dibayonet, disiksa, atau malah dipenggal kepala; dan kemudian membuang atau menguburkan jenazahnya di sekitar pangkalan udara di Laha, yang sekarang menjadi Bandara Pattimura. Peristiwa ini dicatat pihak Australia sebagai massacre of Laha.

Di September 1945, setelah Jepang kalah perang, pihak Australia berusaha mencari jasad dan sisa-sisa dari korban pembantaian ini. Hanya 71 yang ditemukan.

Tulang belulang dan tengkorak yang mengindikasikan adanya kekejaman sebelum atau pada saat eksekusi
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Serakan tulang rusuk dari korban pembantaian
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan September 1945
Tempat: kemungkinan Laha (Ambon)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Catatan asli foto menyebut tanggal "23 November 1946", tetapi ada kemungkinan kedua foto di atas merupakan dari foto-foto yang pernah dimuat di posting ini sebelumnya.

Rabu, 17 Juni 2026

Persiapan Belanda di Australia untuk merebut kembali Indonesia: Defile pasukan KNIL gabungan kulit putih dan coklat (6)

Di penghujung 1944 dan awal 1945, ketika Jerman makin terdesak di Eropa, dan Jepang makin terpukul di kawasan Asia-Pasifik, Belanda makin menggiatkan usaha-usaha untuk merebut kembali Hindia-Belanda. Usaha-usaha ini terpusat di Australia, yang secara geografis dekat dengan Indonesia, dan secara politis dan militer berada bersama Belanda di pihak yang melawan negara-negara Poros. Seri berikut akan mencoba menampilkan dokumentasi foto tentang aktivitas Belanda di wilayah Australia ini.


Barisan KNIL dengan bayonet panjang terhunus
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: Oktober 1945
Tempat: Melbourne (Australia)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat bagian lain dari defile ini yang dimulai di posting ini.

Senin, 01 Juni 2026

Pasukan Sekutu dan Belanda di Papua 1944/1945 (13)

Biak, Juli 1945: Letnan KNIL bernama Abdul Rivai menyambut kedatangan tim medis Amerika di sebuah kamp yang dijadikan "Rumah Sakit NICA"
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Juli 1945: Latihan penggunaan senapan yang diberikan kepada para prajurit yang tampaknya didatangkan Belanda dari Hindia-Barat
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Antrean makan para prajurit
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
15 Maret 1947: Seorang tentara Belanda dengan latar belakang Danau Sentani
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945, 1947
Tempat: Papua (a.l. Biak)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 04 Mei 2026

Pelepasan sukarelawan perang dari Amsterdam menuju Hindia-Belanda setelah Jerman dan Jepang kalah perang, 1945

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: pertengahan kedua 1945
Tempat: Amsterdam
Tokoh:
Peristiwa: Belanda baru beranjak pulih dari pendudukan Jerman ketika Jepang kalah perang di bulan Agustus 1945, dan Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Militer Belanda yang baru ditata kembali harus merekrut sukarelawan yang bersedia diterjunkan menuju Hindia Timur. Gambar di atas memperlihatkan dua truk yang berisi para pemuda, masih dalam pakaian sipil, yang siap dikapalkan ke arah Nusantara. Warga Belanda tampak mengelu-elukan keberangkatan para sukarelawan yang kelak harus menghadapi para pejuang kemerdekaan Indonesia.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 02 Mei 2026

Kamp tawanan Kampili setelah Jepang kalah: Perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina 31 Agustus 1945 (9)

Kamp Kampili tampaknya merupakan kamp tahanan terbesar yang didirikan Jepang di bagian timur Indonesia untuk menawan wanita dan anak-anak dari warga Belanda atau warga Sekutu lainnya. Hanya dua minggu setelah Jepang menyatakan menyerah dalam Perang Dunia II, warga kamp ini bisa menyelenggarakan acara yang mengembalikan keceriaan buat mereka, yaitu perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang ke-65. Sementara itu, kemungkinan tanpa banyak disadari oleh para penghuni kamp, Indonesia sudah menyatakan merdeka, dan suasana yang akan berujung pada pertikaian sengit hingga empat tahun berikutnya sudah mulai pecah.


Seorang ibu bernama Ankie Herdes mengasuh bocah-bocah di lapangan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anak-anak berlomba meniti pohon bambu
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Lomba lari pasangan untuk anak-anak dengan kaki terikat
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebagian dari wajah anak-anak yang sekitar tiga tahun tidak melihat ayahnya, sebagian mungkin malahj tidak akan melihat bapaknya lagi
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 31 Agustus 1945
Tempat: Kampili (Gowa, Sulawesi Selatan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Edisi lain dari foto nomor dua pernah dimuat di posting ini sebelumnya, sementar nomor satu dan tiga di posting ini.

Kamis, 30 April 2026

Kamp tawanan Kampili setelah Jepang kalah: Perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina 31 Agustus 1945 (8)

Kamp Kampili tampaknya merupakan kamp tahanan terbesar yang didirikan Jepang di bagian timur Indonesia untuk menawan wanita dan anak-anak dari warga Belanda atau warga Sekutu lainnya. Hanya dua minggu setelah Jepang menyatakan menyerah dalam Perang Dunia II, warga kamp ini bisa menyelenggarakan acara yang mengembalikan keceriaan buat mereka, yaitu perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang ke-65. Sementara itu, kemungkinan tanpa banyak disadari oleh para penghuni kamp, Indonesia sudah menyatakan merdeka, dan suasana yang akan berujung pada pertikaian sengit hingga empat tahun berikutnya sudah mulai pecah.


Kumpulan para bocah dengan bendera Belanda mengelilingi seorang ibu bernama Ankie Herdes
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Foto bersama para bocah lelaki yang belum masuk kategori pemuda ketika Jepang masuk ke Hindia-Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sketsa buatan tangan yang memperlihatkan peta kamp kampili
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anak-anak mengepalkan tangan sementara kaum dewasa mengacungkan gelas berisi minuman untuk mengelukan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Suster Lutgarda mengasuh bocah-bocah di lapangan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 31 Agustus 1945
Tempat: Kampili (Gowa, Sulawesi Selatan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Edidi lain dari dua foto terakhir pernah dimuat di posting ini sebelumnya.

Selasa, 28 April 2026

Kamp tawanan Kampili setelah Jepang kalah: Perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina 31 Agustus 1945 (7)

Kamp Kampili tampaknya merupakan kamp tahanan terbesar yang didirikan Jepang di bagian timur Indonesia untuk menawan wanita dan anak-anak dari warga Belanda atau warga Sekutu lainnya. Hanya dua minggu setelah Jepang menyatakan menyerah dalam Perang Dunia II, warga kamp ini bisa menyelenggarakan acara yang mengembalikan keceriaan buat mereka, yaitu perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang ke-65. Sementara itu, kemungkinan tanpa banyak disadari oleh para penghuni kamp, Indonesia sudah menyatakan merdeka, dan suasana yang akan berujung pada pertikaian sengit hingga empat tahun berikutnya sudah mulai pecah.


Kumpulan anak-anak di lapangan dalam asuhan ibu-ibu atau biarawati. Catatan foto menyebut nama Annelies Goedbloed untuk anak yang tersenyum ke arah kamera.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Suster Van Goor memberikan sambutan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kumpulan para penghuni kamp yang memang mayoritas ibu-ibu, mendengarkan sambutan Suster Van Goor dan Pastor Beltjens
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Foto bersama dari sebagian dari sekitar 1.670 penghuni kamp
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sudut lain dari Kumpulan para penghuni kamp dalam acara perayaan ulang tahun Ratu Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 31 Agustus 1945
Tempat: Kampili (Gowa, Sulawesi Selatan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 26 April 2026

Kamp tawanan Kampili setelah Jepang kalah: Perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina 31 Agustus 1945 (6)

Kamp Kampili tampaknya merupakan kamp tahanan terbesar yang didirikan Jepang di bagian timur Indonesia untuk menawan wanita dan anak-anak dari warga Belanda atau warga Sekutu lainnya. Hanya dua minggu setelah Jepang menyatakan menyerah dalam Perang Dunia II, warga kamp ini bisa menyelenggarakan acara yang mengembalikan keceriaan buat mereka, yaitu perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang ke-65. Sementara itu, kemungkinan tanpa banyak disadari oleh para penghuni kamp, Indonesia sudah menyatakan merdeka, dan suasana yang akan berujung pada pertikaian sengit hingga empat tahun berikutnya sudah mulai pecah.


Perlombaan estafet balok
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Perlombaan lintas aneka rintang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Bocah-bocah kecil menonton kakak-kakaknya berlomba, ditemani tiga perempuan bernama Barendien, Ans de Jong, dan Weintré; dua anak dengan rambut dan kulit lebih gelap boleh jadi merupakan bocah campuran.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anak-anak sekolah di kamp Kampili didampingi Ny. Mobach (berkaca mata) dan Suster Willemien
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dua lelaki dewasa penghuni kamp yang semuanya rohaniwan: Pendeta Spreeuwenberg dan Pastoor Beltjens, didampingi Suster Van Goor dan Grechten van Veen
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 31 Agustus 1945
Tempat: Kampili (Gowa, Sulawesi Selatan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 24 April 2026

Kamp tawanan Kampili setelah Jepang kalah: Perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina 31 Agustus 1945 (5)

Kamp Kampili tampaknya merupakan kamp tahanan terbesar yang didirikan Jepang di bagian timur Indonesia untuk menawan wanita dan anak-anak dari warga Belanda atau warga Sekutu lainnya. Hanya dua minggu setelah Jepang menyatakan menyerah dalam Perang Dunia II, warga kamp ini bisa menyelenggarakan acara yang mengembalikan keceriaan buat mereka, yaitu perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang ke-65. Sementara itu, kemungkinan tanpa banyak disadari oleh para penghuni kamp, Indonesia sudah menyatakan merdeka, dan suasana yang akan berujung pada pertikaian sengit hingga empat tahun berikutnya sudah mulai pecah.


Salah seorang pemuka kamp, Ny. Jans Luyendijk bersama anaknya
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Bocah laki-laki di ruangan yang difungsikan menjadi sekolah
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Foto bersama para gadis dan anak perempuan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Foto bersama para bocah laki-laki dan yang tiga tahun kemudian sudah menjadi remaja
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anak-anak mengerumuni mobil komandan kamp yang masih memakai pelat nomor AL Kekaisaran Jepang dengan lambang jangkar dan bunga serunai
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 31 Agustus 1945
Tempat: Kampili (Gowa, Sulawesi Selatan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Edisi lain dari foto nomor dua pernah dimuat sebelumnya di posting ini.

Rabu, 22 April 2026

Kamp tawanan Kampili setelah Jepang kalah: Perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina 31 Agustus 1945 (4)

Kamp Kampili tampaknya merupakan kamp tahanan terbesar yang didirikan Jepang di bagian timur Indonesia untuk menawan wanita dan anak-anak dari warga Belanda atau warga Sekutu lainnya. Hanya dua minggu setelah Jepang menyatakan menyerah dalam Perang Dunia II, warga kamp ini bisa menyelenggarakan acara yang mengembalikan keceriaan buat mereka, yaitu perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang ke-65. Sementara itu, kemungkinan tanpa banyak disadari oleh para penghuni kamp, Indonesia sudah menyatakan merdeka, dan suasana yang akan berujung pada pertikaian sengit hingga empat tahun berikutnya sudah mulai pecah.


Para peserta perayaan mendengarkan sebuah pidato
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Wajah ceria para penghuni kamp setelah pembebasan, d.ki.k.ka. Marie Antoinette Charlotte Geraldine Ghislaine Wauters-Berendsen, Ans Prak, Susan Kuipers, Leida Grébe, Ny. Voskuil.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Acara perayaan yang dipimpin oleh Pastor Beltjens Zus van Goor
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Suster Lutgarda di antara anak-anak yang 3 tahun tidak melihat ayahnya (sebagian mungkin tidak akan melihat lagi)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dua biarawati penghuni kamp: Suster Vincenza dan Suster Jozef
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 31 Agustus 1945
Tempat: Kampili (Gowa, Sulawesi Selatan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 20 April 2026

Kamp tawanan Kampili setelah Jepang kalah: Perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina 31 Agustus 1945 (3)

Kamp Kampili tampaknya merupakan kamp tahanan terbesar yang didirikan Jepang di bagian timur Indonesia untuk menawan wanita dan anak-anak dari warga Belanda atau warga Sekutu lainnya. Hanya dua minggu setelah Jepang menyatakan menyerah dalam Perang Dunia II, warga kamp ini bisa menyelenggarakan acara yang mengembalikan keceriaan buat mereka, yaitu perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang ke-65. Sementara itu, kemungkinan tanpa banyak disadari oleh para penghuni kamp, Indonesia sudah menyatakan merdeka, dan suasana yang akan berujung pada pertikaian sengit hingga empat tahun berikutnya sudah mulai pecah.


Anak-anak berenang di sungai di sekitar kamp
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Barisan para anak-anak, wanita, dan biarawati penghuni kamp. Catatan foto menyebut nama Ny. Herdes en Ny. Joustra sebagai dua wanita yang berdiri di depan menghadap barisan.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anak-anak bermain masuk-keluar lorong
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Suasana di tengah kamp. Catatan foto menyebut nama Ny. Verhoeven dan Winny Ledoux (latar depan) serta Suster Willemien dan Ny. Herdes (berjalan membelakang).
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Ny. Gretchen van Veen memimpin paduan suara anak-anak
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 31 Agustus 1945
Tempat: Kampili (Gowa, Sulawesi Selatan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 18 April 2026

Kamp tawanan Kampili di Gowa setelah hancur terbakar akibat salah dibom oleh pihak Sekutu, 1945 (4)

Kamp Kampili tampaknya merupakan kamp tahanan terbesar yang didirikan Jepang di bagian timur Indonesia untuk menawan wanita dan anak-anak dari warga Belanda atau warga Sekutu lainnya; blog ini sudah menampilkan beberapa foto dari kamp ini sebelumnya. Di tahun 1945, ketika Jepang di Perang Dunia II makin terdesak, dan Sekutu makin gencar membom posisi-posisi Jepang, kamp Kampili menjadi sasaran serangan udara Sekutu, padahal di dalamnya tinggal wanita dan anak-anak warga mereka sendiri. Kekeliruan ini membuat kamp porak poranda, dan babi peliharaan yang menjadi sumber makanan para penghuni kamp menjadi hangus terbakar. Foto-foto berikut menampilkan situasi di kamp ini setelah jatuhnya bom yang salah sasaran ini.


Seorang wanita penghuni kamp (bernama Lita Chamberlain?) mencari sisa-sisa barang yang masih bisa dimanfaatkan di antara reruntuhan yang hangus terbakar
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang wanita Belanda bernama Van de Noen bersama anaknya, bernama Henny, mengumpulkan peralatan dapur yang tampak gosong
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Para biarawati bersama penghuni kamp lainnya di salah satu pojok reruntuhan yang dijadikan dapur
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Lima anak-anak Belanda berjalan di antara reruntuhan. Catatan foto menyebut nama Helga van Driest (kedua dari kanan) dan Hermmien den Hondt (tengah)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Kampili (Gowa, Sulawesi Selatan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 31 Maret 2026

Foto-foto pengintaian udara yang diambil Sekutu semasa Perang Dunia 2: Wangkanapi (Wolio, Baubau, Sulawesi Tenggara), 1944/1945

Foto yang diambil pesawat pengintai Sekutu di atas Wangkanapi yang saat itu menjadi salah satu wilayah dengan fasilitas militer Jepang. Catatan foto menunjukkan adanya markas Kempetai, barak tentara Jepang, bengkel militer, markas angkatan udara, di samping fasilitas umum seperti pasar, jembatan, rumah dokter, gudang beras, sekolah, dsb.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan 1944/1945
Tempat: Wangkanapi (Wolio, Baubau, Sulawesi Tenggara)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 27 Februari 2026

Para politisi Belanda setelah dimerdekakan dari tahanan Jerman Nazi, untuk kemudian harus menghadapi masalah kemerdekaan Indonesia, 1945

14 tokoh Belanda yang ditahan Jerman Nazi sebagai balasan atas penahanan warga-warga Jerman di Hindia Belanda di bulan Mei 1940. Foto diambil setelah mereka dibebaskan menyusul kekalahan Jerman dalam Perang Dunia II.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 24 Juni 1945
Tempat: wilayah selatan Belanda
Tokoh:
  • Eelco van Kleffens (ketiga dari kanan: kelak Menteri Luar Negeri Belanda, kemudian menjadi diplomat Belanda di PBB dan harus menghadapi perdebatan tentang kemerdekaan Indonesia)
  • Pieter Lieftinck (keenam dari kiri: kelak Menteri Keuangan Belanda dan a.l. harus menghadapi problematika moneter Uni Belanda-Indonesia hasil Konferensi Meja Bundar)
  • Willem Drees (kelima dari kiri: kelak Perdana Menteri Belanda, a.l. ikut terlibat di belakang layar dalam Perundingan Renville)
  • Willem Schermerhorn (ketujuh dari kiri: kelak Perdana Menteri Belanda, a.l. terlibat langsung dalam Perundingan Linggarjati)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 25 Februari 2026

Sayid Abdurrahman Almassawa, Arab-Nusantara yang menjadi salah satu corong dinas propaganda Belanda, 1945

Sayid Abdurrahman Almassawa (kedua dari kanan) di perayaan bebasnya Belanda dari pendudukan Jerman Nazi
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Edisi lain dari foto di atas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 8 Mei 1945
Tempat: Toorak (Victoria, Australia)
Tokoh: Sayid Abdurrahman Almassawa (Kepala Seksi Siaran Indonesia dari NIGIS)
Peristiwa: Letkol Ferdinand Henry Wright (keempat dari kanan) merupakan Konsul Australia untuk Belanda yang ditempatkan di Victoria pada saat sebelum, selama, dan sesudah Belanda diduduki Jerman Nazi. Ketika Jerman kalah perang dan Belanda terlepas dari kekuasaan Nazi, Wright mengundang para pemuka NIGIS untuk merayakan pembebasan ini, termasuk seorang Arab-Nusantara bernama Sayid Abdurrahman Almassawa. NIGIS (Netherlands Indies Government Information Service) adalah organisasi sipil yang dibentuk Belanda di Australia pada tahun 1942 setelah Jepang menguasai Nusantara. NIGIS bertugas mengumpulkan informasi rahasia tentang pendudukan Jepang di wilayah bekas jajahan Belanda dan menyebarkan propaganda anti-Jepang ke masyarakat Nusantara.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: