Tampilkan postingan dengan label Singa Belanda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Singa Belanda. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Agustus 2021

Peta Jakarta dari abad ke-17/18: Satu basis tiga versi (1)

Clement de Jonghe adalah seorang pelukis Belanda yang hidup di abad ke-17. Sekitar tahun 1650 dia menggambar peta Batavia yang menjadi dasar dari beberapa salinan oleh pemeta lain. Berikut tiga dari versi peta Batavia yang didasari karya de Jonghe.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Versi ini berasal dari sekitar tahun 1660-1664 dan kemungkinan dibuat oleh A. Meijer. Versi ini tidak memberikan deskripsi atas bagian-bagian di peta; tetapi memberikan nuansa eksotis dengan menampilkan pohon kelapa, gajah tunggang, serta beragam manusia.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Versi ini dibuat oleh Frederik de Wit di tahun 1681. Peta ini sudah memberikan beberapa deskripsi. Sungai yang melintas di bagian tengah adalah De Groote Rivier (Kali Besar), sementara beberapa bangunan dan area diberi kode huruf dan nomor dengan keterangan di pojok kanan bawah. Kita antara lain bisa membaca bahwa di kastil Batavia ada bagian Logiment van de Raden van India serta Iavansche corps dagarde yang mengindikasikan kesatuan Jawa dengan panglimanya. Selain itu ada pula Bandanees quartier (wilayah orang Banda), Mallebaera quartier (wilayah orang Malabar, India?), Cinees Siecken huys (rumah sakit Tionghoa), serta Vismarckt (pasar ikan).

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Peta di atas diterbitkan berwarna di sekitar tahun 1740 oleh M. du Chesne. Isinya hampir sama persis, hanya penempatan mata angin yang berbeda, serta sekarang judul peta berbunyi Afbeldinge van 't Casteel en de Stadt BATAVIA gelegen op 't groot Eylandt JAVA-MAIOR, int Coninckrijck van IACCATRA (gambar kastil dan kota Batavia di pulau besar Jawa Raya di Kerajaan Jakatra).

Waktu: 1664, 1681, 1740
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: A. Meijer; Frederik de Wit; M. du Chesne
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 06 Februari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1955-1958 & 1970

Het Parool, 19 April 1955
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Bagi Leo Jordaan yang membuat karikatur ini, Konferensi Asia Afrika di Bandung adalah ajang buat Zhou Enlai untuk menawarkan komunisme dan Jawaharlal Nehru untuk mengkampanyekan nasionalisme-sekuler di kalangan bangsa-bangsa Asia dan Afrika.

(klik untuk memperbesar | © Menno van Meeteren / AVS)

Karikatur yang berjudul Het verloren paradijs ("surga yang lepas") ini disebut berasal dari tahun 1956, tapi mungkin dibuat di tahun 1950. Karya ini menggambarkan seorang Belanda dengan pakaian a la Gubernur Jenderal meninggalkan Indonesia dengan menahan malu, sementara Singa Belanda yang mendampinginya tampak cedera.

Vrij Nederland, 1 Maret 1958
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Perang saudara di Indonesia antara pemerintah pusat di Jakarta dengan pemberontak di Sumatera Barat digambarkan oleh Leo Jordaan sebagai peristiwa di mana pada ujungnya dunia komunisme (diwakili oleh Nikita Khrushchev dan Mao Zedong) adalah pihak yang akan mengambil keuntungan.

De Tijd - De Maasbode, 12 Agustus 1970
(klik untuk memperbesar | © Charles Boost / AVS)

Soekarno banyak berkunjung ke manca negara, dan berbagai negara di Eropa, tapi tidak pernah ke Belanda. Karenanya, kunjungan Soeharto ke Belanda di tahun 1970 merupakan tonggak penting dalam pemulihan persahabatan antara Belanda dan Indonesia. Namun, di Belanda sudah menunggu berbagai kalangan yang cenderung negatif terhadap Indonesia seperti diperlihatkan di karikatur di atas. Ini mulai dari Door de Eeuwen Trouw yang mendukung RMS, hingga ke kalangan yang menyebut Soeharto sebagai moordenaar (jagal), dan yang memperjuangkan hak-hak rakyat Papua.

Waktu: 1955, 1956, 1958, 1970
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa terkait Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Charles Boost | Leo Jordaan | Menno van Meeteren
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Selasa, 02 Februari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1948

De Vlam, antara 1946 dan 1948
(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Ada kalangan di Belanda yang menganggap bahwa Uni Sovyet, atau dunia komunisme, mendukung Indonesia dalam perjuangannya melawan Belanda. Menurut karikatur ini, kenyataannya keberanian Indonesia yang dengan tangan kosong melawan Singa Belanda yang bersenjata pedang, justru membuat melongo si Beruang Rusia.

(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur karya Leo Jordaan yang berjudul De oplossing? (Solusi?) ini tampaknya mengajukan pendapat bahwa solusi atas konflik bersenjata antara Belanda dan Indonesia mungkin bisa tercapai apabila kekuatan militer kedua belah pihak meletakkan senjatanya dan beristirahat tanpa harus segan-segan berdekatan.

De Groene Amsterdammer, 24 Juli 1948
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Olimpiade 1948 yang diselenggarakan di London seharusnya bisa menjadi ajang persahabatan pertama dunia setelah usainya Perang Dunia II. Kenyataannya 1948 merupakan tahun yang penuh konflik, a.l. Arab vs. Israel, Stalin vs. Tito, Marshall vs. Molotov, dsb. termasuk Soekarno vs. Van Mook. Dewi pembawa obor Olimpiade tampak digambarkan kesulitan untuk berjalan melewati pihak-pihak yang bertikai ini.

Het Parool, 14 Desember 1948
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur ini memperlihatkan Muhammad Hatta dan Menlu Belanda Dirk Stikker, yang sebenarnya berdiri tidak jauh dari satu sama lain, dan keduanya sudah bersedia dan bersiap untuk saling menghampiri. Tetapi belukar yang terdiri dari berbagai macam persoalan menghalangi keduanya untuk makin mendekat. Beluar ini a.l. adalah kesalahpahaman, gengsi, penafsiran atas hasil perjanjian Linggarjati dan Renville, dll.

Waktu: 1948
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu konflik Belanda-Indonesia di tahun 1948.
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan | Wim van Wieringen
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Minggu, 06 Desember 2020

Perang Lombok dalam karikatur Belanda, 1894-1895

Perang Lombok tak luput dari pencermatan para juru gambar Belanda. Perhatian mereka tetapi tidak senantiasa sejalan. Dua gambar di bawah ini menunjukkan sikap pandang warga Belanda tentang ekspedisi militer Belanda di Lombok ini.

De Nederlandsche Spectator, 1894
(klik untuk memperbesar | © Johan Schmidt Crans / AVS)

Karikatur pertama ini muncul di awal ekspedisi militer Belanda di Lombok, memperlihatkan Nona Belanda memerintahkan Singa Belanda untuk bergerak menuju Lombok, dan mengaum dengan dahsyat untuk tidak menjadikan Lombok sebagai Aceh kedua. Saat itu Belanda memang kerepotan dengan kegigihan perlawanan rakyat Aceh.

De Kroniek, 26 Mei 1895
(klik untuk memperbesar | © Rusticus / AVS)

Karikatur kedua terbit setelah Belanda menguasai Lombok, dan nadanya menjadi kritis. Panglima KNIL, Mayor Jenderal Jacobus Vetter, digambarkan sebagai seorang triumphator, pemenang perang a la Romawi, yang memamerkan kemenangannya di arena. Karikatur ini cenderung bernuansa gelap, dan menggambarkan bagaimana Vetter sejatinya menyeret "Lombok" tanpa belas kasihan.

Waktu: 1894, 1895
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke perang di Lombok
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Schmidt Crans | Rusticus
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 14 November 2020

Karikatur tentang perasaan Belanda bahwa Amerika Serikat dan Jepang mengincar Hindia-Belanda

Ada beberapa karikatur Belanda yang menunjukkan bahwa Belanda merasa wilayah jajahan mereka di Nusantara ini diam-diam diincar oleh Amerika Serikat dan Jepang, dua kekuatan adi daya di Pasifik saat itu. Perasaan terhadap Jepang memang beralasan, karena Jepang sejak akhir abad ke-19 sudah menduduki Formosa, kemudian semenanjung Korea, dan Manchuria. Menarik bahwa Belanda juga merasa Amerika melirik wilayah Nusantara; boleh jadi ada alasan Belanda untuk itu yang sekarang kita tidak tahu.Yang jelas, sangkaan terhadap Jepang terbukti benar ketika di tahun 1942 Jepang berhasil mengusir Belanda dari wilayah Nusantara.

(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur di atas terbit bulan Oktober 1932. Kemungkinan ada peristiwa di Portugal atau Timor Timur yang sempat membuat ada semacam kevakuman kekuasaan di Timor Timur. Tampak Paman Sam, dan militer Jepang menghampiri sambil bertanya kepada Nona Belanda: "Tempat ini kosong?". Si Nona yang duduk di Timor Barat ini menjawab: "Tidak tahu, tapi apakah Tuan-tuan merasa tempat ini pas?"

(klik untuk memperbesar | © Piet van der Hem / AVS)

Karikatur ini terbit sekitar tahun 1939, memperlihatkan Paman Sam dan seorang samurai, tampaknya sama-sama berpura-pura, saling mempersilakan untuk memberikan jalan kepada Srikandi Indonesia.

(klik untuk memperbesar | © Louis Raemaekers / AVS)

Di tahun 1941 ancaman Jepang menjadi realitas. Karikatur di atas berkomentar bagaimana Belanda (singa) memiliki keberanian untuk melawan Jepang (naga), tapi menyayangkan bahwa si singa tidak bisa terbang. Ini tampaknya sudah menyiratkan bahwa Jepang akan lebih unggul.

(klik untuk memperbesar | © Louis Raemaekers / AVS)

Karikatur tahun 1941 ini memperlihatkan bagaimana akhirnya militer Jepang mendarat di Hindia-Belanda. Tetapi dia kaget melihat bagaimana Paman Sam sudah duduk di samping Mbok Indonesia. Jepang-san berteriak: "Aku pikir dia sendirian di sini."

(klik untuk memperbesar | © Charles Boost / AVS)

Ketika Jepang sudah kalah perang, tampaknya Belanda masih merasa bahwa Amerika tetap melirik Indonesia. Karikatur yang terbit tahun 1954 di atas memperlihatkan dua sikap Paman Sam terhadap Belanda: Tersenyum melihat Belanda bergabung di Uni Eropa Barat, tetapi berang melihat Belanda ada di Indonesia.

Waktu: 1932, 1939, 1941, 1954
Tempat: 
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan | Piet van der Hem | Louis Raemaekers | Charles Boost
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 05 September 2020

Poster rekrutmen prajurit Belanda untuk diterjunkan melawan pejuang kemerdekaan Indonesia, 1945/1946

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: antara 1945 dan 1946
Tempat: poster ini diedarkan di Belanda
Tokoh:
Peristiwa: Ketika Belanda mencoba kembali ke Indonesia setelah Perang Dunia II, dan menghadapi perlawanan rakyat Indonesia, iklan rekrutmen untuk posisi tentara yang akan diterjunkan di Indonesia gencar disuarakan. Berbeda dengan dua poster rekrutmen sebelum ini, kali tidak ada keterangan tentang berapa uang dan penghasilan yang akan diperoleh oleh si tentara. Kali ini yang ditampilkan adalah simbol "singa oranye" yang mengarah ke kartun, bukan ke gambaran tentara dengan seragam dan senjata. Dan seruannya pun adalah "Zie de weereld" (lihatlah dunia), seolah-olah penugasan ini adalah sebuah perjalanan melihat bagian lain dari dunia.
Juru gambar/foto: De La Mar / Frits van Bemmel
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Selasa, 21 Mei 2019

Soekarno dalam karikatur Belanda tahun 1940-an (3)

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1946
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa: Karikatur ini menunjukkan bagaimana Singa Belanda mencoba menggertak dan menakut-nakuti Soekarno dengan cara mengelilingnya. Tetapi Soekarno tampak tak bergeming hingga akhirnya si singa malah mendekati dan tertidur di kaki Soekarno.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: