Tampilkan postingan dengan label Kampili. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kampili. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Mei 2026

Kamp tawanan Kampili setelah Jepang kalah: Perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina 31 Agustus 1945 (9)

Kamp Kampili tampaknya merupakan kamp tahanan terbesar yang didirikan Jepang di bagian timur Indonesia untuk menawan wanita dan anak-anak dari warga Belanda atau warga Sekutu lainnya. Hanya dua minggu setelah Jepang menyatakan menyerah dalam Perang Dunia II, warga kamp ini bisa menyelenggarakan acara yang mengembalikan keceriaan buat mereka, yaitu perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang ke-65. Sementara itu, kemungkinan tanpa banyak disadari oleh para penghuni kamp, Indonesia sudah menyatakan merdeka, dan suasana yang akan berujung pada pertikaian sengit hingga empat tahun berikutnya sudah mulai pecah.


Seorang ibu bernama Ankie Herdes mengasuh bocah-bocah di lapangan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anak-anak berlomba meniti pohon bambu
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Lomba lari pasangan untuk anak-anak dengan kaki terikat
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebagian dari wajah anak-anak yang sekitar tiga tahun tidak melihat ayahnya, sebagian mungkin malahj tidak akan melihat bapaknya lagi
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 31 Agustus 1945
Tempat: Kampili (Gowa, Sulawesi Selatan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Edisi lain dari foto nomor dua pernah dimuat di posting ini sebelumnya, sementar nomor satu dan tiga di posting ini.

Kamis, 30 April 2026

Kamp tawanan Kampili setelah Jepang kalah: Perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina 31 Agustus 1945 (8)

Kamp Kampili tampaknya merupakan kamp tahanan terbesar yang didirikan Jepang di bagian timur Indonesia untuk menawan wanita dan anak-anak dari warga Belanda atau warga Sekutu lainnya. Hanya dua minggu setelah Jepang menyatakan menyerah dalam Perang Dunia II, warga kamp ini bisa menyelenggarakan acara yang mengembalikan keceriaan buat mereka, yaitu perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang ke-65. Sementara itu, kemungkinan tanpa banyak disadari oleh para penghuni kamp, Indonesia sudah menyatakan merdeka, dan suasana yang akan berujung pada pertikaian sengit hingga empat tahun berikutnya sudah mulai pecah.


Kumpulan para bocah dengan bendera Belanda mengelilingi seorang ibu bernama Ankie Herdes
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Foto bersama para bocah lelaki yang belum masuk kategori pemuda ketika Jepang masuk ke Hindia-Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sketsa buatan tangan yang memperlihatkan peta kamp kampili
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anak-anak mengepalkan tangan sementara kaum dewasa mengacungkan gelas berisi minuman untuk mengelukan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Suster Lutgarda mengasuh bocah-bocah di lapangan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 31 Agustus 1945
Tempat: Kampili (Gowa, Sulawesi Selatan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Edidi lain dari dua foto terakhir pernah dimuat di posting ini sebelumnya.

Selasa, 28 April 2026

Kamp tawanan Kampili setelah Jepang kalah: Perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina 31 Agustus 1945 (7)

Kamp Kampili tampaknya merupakan kamp tahanan terbesar yang didirikan Jepang di bagian timur Indonesia untuk menawan wanita dan anak-anak dari warga Belanda atau warga Sekutu lainnya. Hanya dua minggu setelah Jepang menyatakan menyerah dalam Perang Dunia II, warga kamp ini bisa menyelenggarakan acara yang mengembalikan keceriaan buat mereka, yaitu perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang ke-65. Sementara itu, kemungkinan tanpa banyak disadari oleh para penghuni kamp, Indonesia sudah menyatakan merdeka, dan suasana yang akan berujung pada pertikaian sengit hingga empat tahun berikutnya sudah mulai pecah.


Kumpulan anak-anak di lapangan dalam asuhan ibu-ibu atau biarawati. Catatan foto menyebut nama Annelies Goedbloed untuk anak yang tersenyum ke arah kamera.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Suster Van Goor memberikan sambutan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kumpulan para penghuni kamp yang memang mayoritas ibu-ibu, mendengarkan sambutan Suster Van Goor dan Pastor Beltjens
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Foto bersama dari sebagian dari sekitar 1.670 penghuni kamp
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sudut lain dari Kumpulan para penghuni kamp dalam acara perayaan ulang tahun Ratu Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 31 Agustus 1945
Tempat: Kampili (Gowa, Sulawesi Selatan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 26 April 2026

Kamp tawanan Kampili setelah Jepang kalah: Perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina 31 Agustus 1945 (6)

Kamp Kampili tampaknya merupakan kamp tahanan terbesar yang didirikan Jepang di bagian timur Indonesia untuk menawan wanita dan anak-anak dari warga Belanda atau warga Sekutu lainnya. Hanya dua minggu setelah Jepang menyatakan menyerah dalam Perang Dunia II, warga kamp ini bisa menyelenggarakan acara yang mengembalikan keceriaan buat mereka, yaitu perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang ke-65. Sementara itu, kemungkinan tanpa banyak disadari oleh para penghuni kamp, Indonesia sudah menyatakan merdeka, dan suasana yang akan berujung pada pertikaian sengit hingga empat tahun berikutnya sudah mulai pecah.


Perlombaan estafet balok
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Perlombaan lintas aneka rintang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Bocah-bocah kecil menonton kakak-kakaknya berlomba, ditemani tiga perempuan bernama Barendien, Ans de Jong, dan Weintré; dua anak dengan rambut dan kulit lebih gelap boleh jadi merupakan bocah campuran.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anak-anak sekolah di kamp Kampili didampingi Ny. Mobach (berkaca mata) dan Suster Willemien
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dua lelaki dewasa penghuni kamp yang semuanya rohaniwan: Pendeta Spreeuwenberg dan Pastoor Beltjens, didampingi Suster Van Goor dan Grechten van Veen
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 31 Agustus 1945
Tempat: Kampili (Gowa, Sulawesi Selatan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 24 April 2026

Kamp tawanan Kampili setelah Jepang kalah: Perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina 31 Agustus 1945 (5)

Kamp Kampili tampaknya merupakan kamp tahanan terbesar yang didirikan Jepang di bagian timur Indonesia untuk menawan wanita dan anak-anak dari warga Belanda atau warga Sekutu lainnya. Hanya dua minggu setelah Jepang menyatakan menyerah dalam Perang Dunia II, warga kamp ini bisa menyelenggarakan acara yang mengembalikan keceriaan buat mereka, yaitu perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang ke-65. Sementara itu, kemungkinan tanpa banyak disadari oleh para penghuni kamp, Indonesia sudah menyatakan merdeka, dan suasana yang akan berujung pada pertikaian sengit hingga empat tahun berikutnya sudah mulai pecah.


Salah seorang pemuka kamp, Ny. Jans Luyendijk bersama anaknya
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Bocah laki-laki di ruangan yang difungsikan menjadi sekolah
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Foto bersama para gadis dan anak perempuan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Foto bersama para bocah laki-laki dan yang tiga tahun kemudian sudah menjadi remaja
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anak-anak mengerumuni mobil komandan kamp yang masih memakai pelat nomor AL Kekaisaran Jepang dengan lambang jangkar dan bunga serunai
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 31 Agustus 1945
Tempat: Kampili (Gowa, Sulawesi Selatan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Edisi lain dari foto nomor dua pernah dimuat sebelumnya di posting ini.

Rabu, 22 April 2026

Kamp tawanan Kampili setelah Jepang kalah: Perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina 31 Agustus 1945 (4)

Kamp Kampili tampaknya merupakan kamp tahanan terbesar yang didirikan Jepang di bagian timur Indonesia untuk menawan wanita dan anak-anak dari warga Belanda atau warga Sekutu lainnya. Hanya dua minggu setelah Jepang menyatakan menyerah dalam Perang Dunia II, warga kamp ini bisa menyelenggarakan acara yang mengembalikan keceriaan buat mereka, yaitu perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang ke-65. Sementara itu, kemungkinan tanpa banyak disadari oleh para penghuni kamp, Indonesia sudah menyatakan merdeka, dan suasana yang akan berujung pada pertikaian sengit hingga empat tahun berikutnya sudah mulai pecah.


Para peserta perayaan mendengarkan sebuah pidato
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Wajah ceria para penghuni kamp setelah pembebasan, d.ki.k.ka. Marie Antoinette Charlotte Geraldine Ghislaine Wauters-Berendsen, Ans Prak, Susan Kuipers, Leida Grébe, Ny. Voskuil.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Acara perayaan yang dipimpin oleh Pastor Beltjens Zus van Goor
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Suster Lutgarda di antara anak-anak yang 3 tahun tidak melihat ayahnya (sebagian mungkin tidak akan melihat lagi)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dua biarawati penghuni kamp: Suster Vincenza dan Suster Jozef
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 31 Agustus 1945
Tempat: Kampili (Gowa, Sulawesi Selatan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 20 April 2026

Kamp tawanan Kampili setelah Jepang kalah: Perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina 31 Agustus 1945 (3)

Kamp Kampili tampaknya merupakan kamp tahanan terbesar yang didirikan Jepang di bagian timur Indonesia untuk menawan wanita dan anak-anak dari warga Belanda atau warga Sekutu lainnya. Hanya dua minggu setelah Jepang menyatakan menyerah dalam Perang Dunia II, warga kamp ini bisa menyelenggarakan acara yang mengembalikan keceriaan buat mereka, yaitu perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang ke-65. Sementara itu, kemungkinan tanpa banyak disadari oleh para penghuni kamp, Indonesia sudah menyatakan merdeka, dan suasana yang akan berujung pada pertikaian sengit hingga empat tahun berikutnya sudah mulai pecah.


Anak-anak berenang di sungai di sekitar kamp
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Barisan para anak-anak, wanita, dan biarawati penghuni kamp. Catatan foto menyebut nama Ny. Herdes en Ny. Joustra sebagai dua wanita yang berdiri di depan menghadap barisan.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anak-anak bermain masuk-keluar lorong
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Suasana di tengah kamp. Catatan foto menyebut nama Ny. Verhoeven dan Winny Ledoux (latar depan) serta Suster Willemien dan Ny. Herdes (berjalan membelakang).
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Ny. Gretchen van Veen memimpin paduan suara anak-anak
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 31 Agustus 1945
Tempat: Kampili (Gowa, Sulawesi Selatan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 18 April 2026

Kamp tawanan Kampili di Gowa setelah hancur terbakar akibat salah dibom oleh pihak Sekutu, 1945 (4)

Kamp Kampili tampaknya merupakan kamp tahanan terbesar yang didirikan Jepang di bagian timur Indonesia untuk menawan wanita dan anak-anak dari warga Belanda atau warga Sekutu lainnya; blog ini sudah menampilkan beberapa foto dari kamp ini sebelumnya. Di tahun 1945, ketika Jepang di Perang Dunia II makin terdesak, dan Sekutu makin gencar membom posisi-posisi Jepang, kamp Kampili menjadi sasaran serangan udara Sekutu, padahal di dalamnya tinggal wanita dan anak-anak warga mereka sendiri. Kekeliruan ini membuat kamp porak poranda, dan babi peliharaan yang menjadi sumber makanan para penghuni kamp menjadi hangus terbakar. Foto-foto berikut menampilkan situasi di kamp ini setelah jatuhnya bom yang salah sasaran ini.


Seorang wanita penghuni kamp (bernama Lita Chamberlain?) mencari sisa-sisa barang yang masih bisa dimanfaatkan di antara reruntuhan yang hangus terbakar
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang wanita Belanda bernama Van de Noen bersama anaknya, bernama Henny, mengumpulkan peralatan dapur yang tampak gosong
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Para biarawati bersama penghuni kamp lainnya di salah satu pojok reruntuhan yang dijadikan dapur
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Lima anak-anak Belanda berjalan di antara reruntuhan. Catatan foto menyebut nama Helga van Driest (kedua dari kanan) dan Hermmien den Hondt (tengah)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Kampili (Gowa, Sulawesi Selatan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 09 Mei 2025

Kamp tawanan Kampili di Gowa setelah hancur terbakar akibat salah dibom oleh pihak Sekutu, 1945 (3)

Kamp Kampili tampaknya merupakan kamp tahanan terbesar yang didirikan Jepang di bagian timur Indonesia untuk menawan wanita dan anak-anak dari warga Belanda atau warga Sekutu lainnya; blog ini sudah menampilkan beberapa foto dari kamp ini sebelumnya. Di tahun 1945, ketika Jepang di Perang Dunia II makin terdesak, dan Sekutu makin gencar membom posisi-posisi Jepang, kamp Kampili menjadi sasaran serangan udara Sekutu, padahal di dalamnya tinggal wanita dan anak-anak warga mereka sendiri. Kekeliruan ini membuat kamp porak poranda, dan babi peliharaan yang menjadi sumber makanan para penghuni kamp menjadi hangus terbakar. Foto-foto berikut menampilkan situasi di kamp ini setelah jatuhnya bom yang salah sasaran ini.


Bangkai dari belasan, atau malah puluhan, dari babi yang hangus terbakar akibat serangan bom Sekutu, yang sebelumnya diternakan sebagai sumber makanan penghuni kamp
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Para wanita penghuni kamp mengumpulkan alat-alat dapur yang masih bisa diselamatkan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Para penghuni kamp di bangunan yang tampaknya selamat dari serangan udara Sekutu
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Kampili (Gowa, Sulawesi Selatan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 07 Mei 2025

Kamp tawanan Kampili di Gowa setelah hancur terbakar akibat salah dibom oleh pihak Sekutu, 1945 (2)

Kamp Kampili tampaknya merupakan kamp tahanan terbesar yang didirikan Jepang di bagian timur Indonesia untuk menawan wanita dan anak-anak dari warga Belanda atau warga Sekutu lainnya; blog ini sudah menampilkan beberapa foto dari kamp ini sebelumnya. Di tahun 1945, ketika Jepang di Perang Dunia II makin terdesak, dan Sekutu makin gencar membom posisi-posisi Jepang, kamp Kampili menjadi sasaran serangan udara Sekutu, padahal di dalamnya tinggal wanita dan anak-anak warga mereka sendiri. Kekeliruan ini membuat kamp porak poranda, dan babi peliharaan yang menjadi sumber makanan para penghuni kamp menjadi hangus terbakar. Foto-foto berikut menampilkan situasi di kamp ini setelah jatuhnya bom yang salah sasaran ini.


Bangunan kamp yang hancur dan terbakar …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… dan menyisakan puing-puing yang berserakan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Beberapa biarawati penghuni kamp yang kemudian pindah (?) ke bangunan berdinding anyaman bambu
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Para wanita dan anak-anak penghuni kamp beramai-ramai mengangkut air dengan ember, kemungkinan untuk memadamkan api yang masih menyala di reruntuhan kamp
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Kampili (Gowa, Sulawesi Selatan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Foto nomor empat pernah dimuat di posting ini sebelumnya.

Senin, 05 Mei 2025

Kamp tawanan Kampili di Gowa setelah hancur terbakar akibat salah dibom oleh pihak Sekutu, 1945 (1)

Kamp Kampili tampaknya merupakan kamp tahanan terbesar yang didirikan Jepang di bagian timur Indonesia untuk menawan wanita dan anak-anak dari warga Belanda atau warga Sekutu lainnya; blog ini sudah menampilkan beberapa foto dari kamp ini sebelumnya. Di tahun 1945, ketika Jepang di Perang Dunia II makin terdesak, dan Sekutu makin gencar membom posisi-posisi Jepang, kamp Kampili menjadi sasaran serangan udara Sekutu, padahal di dalamnya tinggal wanita dan anak-anak warga mereka sendiri. Kekeliruan ini membuat kamp porak poranda, dan babi peliharaan yang menjadi sumber makanan para penghuni kamp menjadi hangus terbakar. Foto-foto berikut menampilkan situasi di kamp ini setelah jatuhnya bom yang salah sasaran ini.


Dua wanita Belanda tanpa alas kaki membawa barang yang masih bisa diselamatkan dari puing-puing kamp yang terbakar
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang biarawati penghuni kamp menyaksikan bangunan kamp yang sudah porak-poranda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dua wanita Belanda mengais-ngais di antara reruntuhan, mencari barang yang masih diselamatkan, dan tampaknya sudah menemukan dua gelas kelang untuk minum
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Bangunan yang terkena serangan bom dengan latar belakang tembok kamp yang masih berdiri tapi tampak rusak berat
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Kampili (Gowa, Sulawesi Selatan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 03 Mei 2025

Kamp tawanan Kampili setelah Jepang kalah: Perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina 31 Agustus 1945 (2)

Kamp Kampili tampaknya merupakan kamp tahanan terbesar yang didirikan Jepang di bagian timur Indonesia untuk menawan wanita dan anak-anak dari warga Belanda atau warga Sekutu lainnya. Hanya dua minggu setelah Jepang menyatakan menyerah dalam Perang Dunia II, warga kamp ini bisa menyelenggarakan acara yang mengembalikan keceriaan buat mereka, yaitu perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang ke-65. Sementara itu, kemungkinan tanpa banyak disadari oleh para penghuni kamp, Indonesia sudah menyatakan merdeka, dan suasana yang akan berujung pada pertikaian sengit hingga empat tahun berikutnya sudah mulai pecah.


Upacara memperingati hari ulang tahun Ratu Wilhelmina, yang jatuh pada tanggal 31 Agustus, di kamp Kampili setelah Jepang menyerahkan kontrol atas kawasan ini
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Perlombaan antar anak-anak dalam rangka ulang tahun Ratu Wilhelmina
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang biarawati mengasuh anak-anak yang paling tidak sudah 3 tahun tidak melihat para bapaknya
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anak-anak kecil diajak berjalan bersama menjelajahi kamp
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 31 Agustus 1945
Tempat: Kampili (Gowa, Sulawesi Selatan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Sebelumnya posting ini berjudul "Anak-anak Belanda di kamp tawanan Kampili, Gowa, 31 Agustus 1945 (2)"