Tampilkan postingan dengan label 1915. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1915. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 November 2023

Wajah penghuni Hindia-Belanda dalam foto studio: Studio Charls (8)

~1915: Sepasang suami istri di Jakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1893: Seorang bocah Belanda di Semarang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1893: Seorang wanita Belanda di Semarang
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1893, 1925
Tempat: Jakarta, Semarang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Studio Charls (berkembang menjadi N.V. Charls & Van Es & Co.)
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 01 November 2023

Wajah penghuni Hindia-Belanda dalam foto studio: Studio Charls (1)

~1905: Kakak beradik
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Antara 1900 dan 1915: Pengantin baru
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Keluarga (?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1905, 1915
Tempat: Jakarta (dua foto terakhir), Semarang (foto pertama)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Studio Charls (berkembang menjadi N.V. Charls & Van Es & Co.)
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Kamis, 07 September 2023

Dari koleksi studio foto Onnes Kurkdjian tentang Jawa (9): Kawasan Bromo

1900
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1915
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1900
(klik untuk memperbesar | © NGA)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1900, 1915
Tempat: kawasan Bromo
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: studio foto Onnes Kurkdjian, Surabaya
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Kamis, 24 Agustus 2023

Dari koleksi studio foto Onnes Kurkdjian tentang Jawa (2): Magelang dan Yogyakarta

Gerbang istana air Taman Sari, Yogyakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1912: Candi Mendut, Magelang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Edisi tanpa judul dari foto di atas
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1912: Reruntuhan Candi Prambanan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1915: Alun-alun Lor, Yogyakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1912, 1915
Tempat: Magelang, Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: studio foto Onnes Kurkdjian, Surabaya
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Foto #2 dan #3 pernah dimuat sebelumnya di posting ini.

Selasa, 22 Agustus 2023

Dari koleksi studio foto Onnes Kurkdjian tentang Jawa (1): Bogor dan Garut

~1915: Telaga Cipanas di Garut
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1910: Pesawahan dengan latar belakang Gunung Guntur
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1910: Sumber belerang di kawah Papandayan, Garut
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1925: Salah satu sudut Kebun Raya Bogor
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1910, 1915, 1925
Tempat: Bogor, Garut
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: studio foto Onnes Kurkdjian, Surabaya
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Foto #1 pernah dimuat sebelumnya di posting ini; foto #2 di sini dan sini; foto 3 di sini.

Minggu, 28 Mei 2023

Dari koleksi studio foto Onnes Kurkdjian tentang Bali (2)

~1930: Seorang gadis penari Bali
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kintamani, 1913: Istri seorang punggawa
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1915: Tiga wanita Bali di depan sebuah pura di Bangli
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1913: Istri seorang punggawa Kintamani di gerbang pura porselan (Pura Kehen?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1913, 1915, 1930
Tempat: Bali
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: a.l. Thilly Weissenborn ketika masih bergabung dengan studio Onnes Kurkdjian
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Foto #2 pernah dimuat sebelumnya di posting ini; foto #3 di sini; foto #4 di sini.

Rabu, 30 Desember 2020

Karikatur karya Johan Braakensiek tentang Mbok Indonesia, 1905-1920

De Amsterdammer, 3 Desember 1905
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Karikatur ini menggambarkan kebingungan para politisi Belanda melihat rakyat Indonesia tak habis-habisnya beranak pinak. Si Mbok Indonesia bercerita kepada Dirk Fock (kelak menjadi Gubernur Jenderal Hindia-Belanda 1921-1926) dan rekan-rekannya bahwa dia melahirkan kembar empat, sebelumnya kembar tiga, sebelumnya lagi kembar empat, dst. Dirk Fock berkomentar bahwa mereka harus memikirkan pendidikan anak-anak ini, begitu kesempatan kerja, dan aspek lainnya.

De Amsterdammer, 16 Oktober 1908
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Jurnalis Belanda Charles Boissevain mengadakan perjalanan di Hindia-Belanda di tahun 1908 dan mempublikasikannya (a.l. sebagai buku yang terbit tahun 1909). Karikatur di atas menggambarkan bagaimana Mbok Indonesia merasa bahwa dia terlalu banyak didandani atau dipercantik oleh Boissevain sehingga menjauh dari realita. Boissevain menyahut bahwa kalau orang sudah mencintai seorang wanita, dia akan mengusahakan si wanita senantiasa tampak menawan.

De Amsterdammer, 7 November 1915
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Karikatur di atas tampak seperti adegan dari kisah pahlawan super, tapi sejatinya diinsprirasi oleh kisah Perseus yang akan membebaskan Andromeda dari cengkraman naga. Perseus menggambarkan Johan Paul van Limburg Stirum yang baru saja ditunjuk menjadi Gubernur Jenderal Hindia-Belanda yang baru, sementara Andromeda adalah (Mbok) Indonesia, dan naga adalah burokrasi yang tampaknya di saat itu pun sudah menjadi tantangan yang sulit untuk dihadapi seorang gubernur jenderal sekalipun.

De Amsterdammer, 28 Februari 1920
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Karikatur ini terbit dalam rangka menyambut hari kelahiran Multatuli (Eduard Douwes Dekker) yang ke-100, tepatnya 2 Maret 1920. Mbok Indonesia tampak digambarkan memberikan penghormatan kepada penulis yang telah membuka kekejaman penjajahan di Hindia-Belanda melalui karyanya Max Havelaar.

Waktu: 1905, 1908, 1915, 1920
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke persoalan terkait Indonesia (Hindia-Belanda)
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk | Universiteit Leiden
Catatan:

Jumat, 11 September 2020

Kartu pos kuno dari Jawa Barat

1900: Istana Bogor
(klik untuk memperbesar | © F.B. Smits / AVS)

1908: Kebun Raya Bogor
(klik untuk memperbesar | © Tio Tek Hong / AVS)

Bandung, sekitar 1915: Anak-anak sekolah membaca koran Bintang Hindia
(klik untuk memperbesar | © Visser & Co. / AVS)

1930-1934: Stasiun radio Malabar, Bandung
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Rumag di perkampungan Sunda
(klik untuk memperbesar | © Kawai & Co. / AVS)

Waktu (dari atas ke bawah): 1900, 1908, 1915, antara 1930 dan 1934, ?
Tempat: Bandung; Bogor
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar/foto: F.B. Smits / Tio Tek Hong / Visser & Co. / ? / Kawai & Co.
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: Foto nomor 3 pernah dimuat di posting ini dalam versi diwarnai.

Minggu, 14 Juni 2020

Ketika kimono menjadi mode di Hindia-Belanda

Sebelum ini kita sudah melihat posting yang menunjukkan bagaimana pakaian tradisional Jepang menjadi kostum yang disukai orang Belanda di Indonesia. Bahkan R.A. Kartini, yang suka kita identikan dengan kebaya, dan adik-adiknya pernah ikut mengikuti mode ini. Posting kali ini menambah foto yang memperlihatkan penggunaan kimono di Hindia-Belanda.

Sekitar 1915
(klik untuk memperbesar | © NGA)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Waktu: 1915 (a.l.)
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Jumat, 12 Juni 2020

Perempuan Belanda dan kebaya (8)

(klik untuk memperbesar | © NGA)
17 Juni 1900
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jakarta, antara 1900 dan 1910
(klik untuk memperbesar | © Busenbender & Co / NGA)
1914
(klik untuk memperbesar | © Uges / NGA)
Jakarta, sekitar 1915
(klik untuk memperbesar | © Charls & Van Ess & Co / NGA)
Sekitar 1915
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sekitar 1920
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1900, 1910, 1914, 1915, 1920
Tempat: Jakarta (a.l.)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Busenbender & Co / Charls & Van Ess & Co / Uges
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Sabtu, 30 Mei 2020

Bogor di sekitar tahun 1915 (2)

Keramaian di pasar
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Lomba panjat pinang (di lapangan Sempur?)
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Perayaan Imlek (?)
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Perayaan Imlek (?)
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Waktu: antara 1905-1915
Tempat: Bogor
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: Foto terakhir menampilkan banyak keragaman dalam berpakaian: Tionghoa dewasa dengan topi, bocah Tionghoa plontos, "Pak Haji" dengan busana yang sekarang disebut "gaya Betawi", serta warga Bogor lokal dengan ikat kepala dan beragam baju atau telanjang dada.

Kamis, 28 Mei 2020

Bogor di sekitar tahun 1915 (1)

Depot es batu
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Hotel Bellevue di kawasan Empang
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Jembatan Merah
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Masyarakat dan aparat keamanan di pasar
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Waktu: antara 1905-1915
Tempat: Bogor
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: