Tampilkan postingan dengan label bangsawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bangsawan. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Juli 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang kediaman Residen Serang

Kediaman Residen Serang, dengan dua orang petinggi lokal dan Belanda tampak dipayungi di sebelah kiri, sementara di kanan tampak warga lokal mengendarai pedati dan memikul dagangan
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1844
Tahun peristiwa: abad ke-19
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Paul Lauters yang menyalin dari karya Charles William Meredith van de Velde
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: 1) Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini. 2) Versi tak berwarna dari lukisan di atas pernah dimuat di posting ini.

Rabu, 11 Maret 2026

Dua wajah perempuan Yogyakarta zaman dulu

Seorang putri keraton, priyayi bangsawan ningrat …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… dan seorang wanita dari kalangan biasa
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: ?
Tempat: Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 25 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (2)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Seorang pendeta Tionghoa di sebuah kelenteng di Jakarta. Berdasarkan gambar di atas pendeta ini , kemungkinan seorang perempuan dan penganut Taoisme. Dia memakai jubah abu-abu dengan mantel merah-hitam yang berisi berbagai ornamen. Tangannya memegang sebuah lonceng perangkat ritual keagamaan.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI ini lumayan menyajikan komposisi yang disajikan oleh karya Hardouin
(klik untuk memperbesar)
Seorang bupati di Jawa yang diiringi seorang punakawan. Bupati ini mengenakan blangkon batik, pakaian kebesaran dengan banyak ornamen keemasan, keris yang dipasang di pinggang belakang, kain batik yang berurai hingga ke bawah lutut, serta celana yang panjang hingga ke bawah sepatu. Sang punakawan yang berbadan kerdil membawa payung kehormatan dari kertas, mengenakan blangkon, baju kebesaran, serta sarung selutut, tanpa alas kaki.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI ini cukup menyajikan gambaran yang realistis, kecuali celana dan sepatu bupati yang ditampilkan seperti zaman sekarang, dan bukan model stirrup pants yang menutupi sebagian sepatu.
(klik untuk memperbesar)
  
Tahun terbit: 1855
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 09 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (16)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Senenan, sebuah tradisi permainan berkuda di kaum pria dari kalangan bangsawan dan ningrat Jawa yang ditonton khalayak ramai di latar belakang. Para lelaki ini bertelanjang dada dengan mengenakan semacam celana panjang yang ditutupi kain di bagian pinggang. Kepala para lelaki ini ditutup dengan kuluk, tetapi kakinya memilih gaya nyeker.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah gereja di Salatiga dengan latar belakang Gunung Merbabu dan Gunung Telomoyo. Gereja ini tampak sepenuhnya terbuat dari kayu meskipun bagian yang berwarna putih mengindikasikan adanya bagian tembok.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Dangau, gubuk, atau saung petani di tengah pesawahan. Dangau ini dibuat lumayan tinggi sehingga orang perlu tangga untuk memanjat hingga ke atas. Dari ketinggian ini petani, atau anak-anak mereka, bisa mengawasi bagian sawah mana yang sedang "diserang" burung sehingga mereka bisa menarik-narik tali yang cocok untuk mengagetkan dan mengusir burung yang "menyerang" ini.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Stasiun kereta Tanggung di Grobogan. Di peron tampak petugas kereta dalam seragam putih bersiap menyambut kedatangan kereta bertenaga uap yang sudah mendekat. Empat penumpang, salah satunta pria Tionghoa bertaucang, siap menaiki kereta yang tampkanya terdiri dari sekitar empat gerbong.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Kediaman Residen Semarang dengan penjagaan bersenjata. Seorang tukang kebun tampak sednag menyapu halaman, sementara seorang opas berjalan dengan sedikit merunduk sambil mengepit seberkas dokumen.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Jumat, 21 Februari 2025

Dari Padang sampai ke Banda: Lukisan pemandangan Nusantara karya Charles William Meredith van de Velde, 1844 (4b - Banten)

Charles William Meredith van de Velde (1818-1898) tampaknya seorang dengan berbagai bakat dan kemampuan. Dia pernah menjadi perwira angkatan laut, tentara bayaran, pembuat peta, anggota palang merah, hingga misionaris. Salah satu keahlian dia adalah menangkap keindahan alam dari tempat yang dia kunjungi, dan menuangkannya ke atas kanvas. Dia terkenal sebagai pembuat peta Palestina di pertengahan abad ke-19, serta pelukis kota dan tempat di Palestina yang dia singgahi. Sebelumnya, dia juga mengabadikan banyak tempat di Nusantara dalam beberapa karya lukisannya, yang akan kita lihat di seri berikut ini.


Kediaman Residen Serang, dengan dua orang petinggi lokal dan Belanda tampak dipayungi di sebelah kiri, sementara di kanan tampak warga lokal mengendarai pedati dan memikul dagangan
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Reruntuhan dari tembok pembatas Keraton Banten
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Pemandangan di Serang dengan beberapa orang Eropa menaiki kereta atau kuda, semantara warga lokal menggembala kerbau atau mengangkut barang dengan pikulan
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1844
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar: Charles William Meredith van de Velde
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Edisi lain dari foto pertama pernah dimuat di posting ini.

Selasa, 31 Desember 2024

Foto yang diubah menjadi lukisan (2)

Sebelum ini kita melihat usaha di Belanda untuk mengumpulkan subjek dari beberapa gambar dan foto tentang masyarakat Nusantara ke dalam sebuah lukisan baru dan mewarnainya atau mewarnainya ulang. Sebuah proses lain juga terjadi di penghujung abad ke-19: Foto hitam putih diubah menjadi lukisan tangan. Ini tentu saja membutuhkan keterampilan khusus dan kepiawaian dalam menggambar. Blog ini akan memperlihatkan beberapa hasil dari proses menarik ini.
Tiga putri dari Sultan Hamengkubuwono VI, digambar ulang dari foto jepretan Isidore van Kinsbergen (lihat posting ini, dan ini)
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Mangkunegoro IV
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 29 Desember 2024

Foto yang diubah menjadi lukisan (1)

Sebelum ini kita melihat usaha di Belanda untuk mengumpulkan subjek dari beberapa gambar dan foto tentang masyarakat Nusantara ke dalam sebuah lukisan baru dan mewarnainya atau mewarnainya ulang. Sebuah proses lain juga terjadi di penghujung abad ke-19: Foto hitam putih diubah menjadi lukisan tangan. Ini tentu saja membutuhkan keterampilan khusus dan kepiawaian dalam menggambar. Blog ini akan memperlihatkan beberapa hasil dari proses menarik ini.
Pakubuwono IX dan salah satu istrinya
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Lukisan yang berasal dari foto jepretan Isidore van Kinsbergen (lihat posting ini)
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Permaisuri Kesultanan Yogyakarta bersama putrinya
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1880 (gambar pertama), 1883 (gambar lainnya)
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 23 Desember 2024

Kompilasi berwarna dari berbagai gambar dan foto yang digabungkan (2)

Di penghujung abad ke-19 ada usaha dari pihak-pihak Belanda dan pihak lain untuk memperkenalkan wajah Hindia-Belanda dengan cara yang diharapkan menarik minat banyak khalayak: Dari sekian banyak foto hitam putih, yang sebagiannya sudah pernah dimunculkan di blog ini, pihak-pihak ini mengumpulkannya, menggambar ulang dengan tangan, mewarnainya, dan menggabungkannya dengan bahan dari foto lain. Hasilnya adalah semacam kompilasi yang akan dimunculkan di seri ini.
Empat penari Bedhaya dengan iringan gamelan
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Sebuah gambar yang diberi judul "ras Melayu" dengan menampilkan dua lelaki Dayak, seorang ulama, dan sepasang orang Jawa [serta seorang petani duduk di belakang], yang merupaka kompilasi dari a.l. lukisan yang pernah dimuat di sini, sini, dan sini.
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Edisi lain dari gambar pertama
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: akhir abad ke-19
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Sabtu, 21 Desember 2024

Kompilasi berwarna dari berbagai gambar dan foto yang digabungkan (1)

Di penghujung abad ke-19 ada usaha dari pihak-pihak Belanda dan pihak lain untuk memperkenalkan wajah Hindia-Belanda dengan cara yang diharapkan menarik minat banyak khalayak: Dari sekian banyak foto hitam putih dan gambar berwarna, yang sebagiannya sudah pernah dimunculkan di blog ini, pihak-pihak ini mengumpulkannya, menggambar ulang dengan tangan, mewarnainya, dan menggabungkannya dengan bahan dari foto lain. Hasilnya adalah semacam kompilasi yang akan dimunculkan di seri ini.
Sebuah grup ronggeng.
Kompilasi dari dua gambar lain yang pernah dimuat di sini dan sini.
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Kaum pria di Jawa: 1. bupati, 2. priyayi, 3. orang Sunda, 4. kuli Sunda, 5. pemuka warga Madura, 6.  petani, 7. ulama, 8. abdi dalem
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Edisi lain dari gambar di atas.
Ini merupakan kompilasi a.l. dari gambar yang pernah dimuat di sini, sini, dan sini.
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Edisi lain dari gambar pertama
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: akhir abad ke-19
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Selasa, 03 Desember 2024

Dari penjelajahan Carl Alfred Bock ke wilayah suku Dayak di tahun 1878/1879 (1)

PENGANTAR

Di kalangan bangsa Eropa terutama zaman dulu, suku Dayak acapkali dikonotasikan dengan dua hal: head hunters dan cannibalism, atau penggal kepala dan makan daging manusia. Salah seorang perintis berani yang mencoba untuk memeriksa pandangan ini adalah seorang peneliti Norwegia bernama Carl Alfred Bock. Dalam usia 29 tahun, di tahun 1878 dan 1879 dia melakukan perjalanan penjelajahan ke pedalaman Kalimantan –dan juga Sumatera– untuk bertemu langsung dengan masyarakat pedalaman yang menghuni kawasan yang hingga saat itu dijauhi orang. Carl Bock mendokumentasikan perjalanan ini dalam bukunya The Head Hunters of Borneo, yang diterbitkan di tahun 1881 di London, dua tahun setelah penjelajahannya berakhir. Buku ini banyak memuat gambar-gambar berwarna yang diabadikan Carl Bock selama berkelana di Kalimantan.

Halaman judul dari The Head Hunters of Borneo edisi kedua yang terbit 1882
(klik untuk memperbesar)

Blog ini akan menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang berharga ini, yang berjasa menggambarkan suku Dayak menjelang akhir abad ke-19.


Rute penjelajahan Carl Bock dalam garis merah yang yang menyambungkan Banjarmasin dan Samarinda. Carl Bock menuliskan kawasan yang dihuni suku Dayak, suku Melayu, dan wilayah yang tak berpenghuni atau dipenuhi belantara. Carl Bock juga menunjukkan area yang merupakan daerah yang hanya dihuni Dayak Punan.
(klik untuk memperbesar)
Seorang pemuda Dayak membawa mandau
(klik untuk memperbesar)
1 dan 2: Dua pemuda Dayak yang mengiringi Carl Bock dalam penjelajahannya. 3: Gaya rambut seorang pria Dayak dari Long Blehh.
(klik untuk memperbesar)
Seorang pria Dayak dari Long Wahau, dengan hiasan di kuping, leher, tangan, betis, dan tentu saja mandau
(klik untuk memperbesar)
Para bangsawan Kesultanan Kutai. Carl Bock mencantumkan nama-namanya. Sultan Kutai saat itu adalah Aji Muhammad Sulaiman. Dua orang dengan tutup kepala tanpa umbul-umbul, dan tanpa nama, kemungkinan adalah abdi dalem.
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1878/1879
Tempat: Kalimantan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Carl Alfred Bock
Catatan:

Rabu, 01 Mei 2024

Raden Ayu, istri dari Raden Saleh Syarif Bustaman di tahun 1870

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Waktu: sekitar 1870
Tempat: Jakarta
Tokoh: Raden Ayu (istri dari pelopor seni lukis modern di Indonesia, Raden Saleh)
Peristiwa:
Juru foto:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Pada saat itu berfoto dengan didampingi "abdi dalem" yang duduk bersimpuh merupakan mode yang menunjukkan status tinggi. Sang pedamping tampak memegang tempat pembuangan sepah yang menunjukkan bahwa Raden Ayu merupakan pengunyah pinang sirih, sebuah tradisi yang saat itu tampaknya masih sangat populer.

Senin, 05 Februari 2024

Tiga potret bangsawan Jawa: Hamengkubuwono VIII, Bupati Pemalang, Bupati Trenggalek

Hamengkubuwono VIII, kemungkinan di tahun 1920-an
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1931: Bupati Pemalang, RAA Sudoro Suroadikusumo dan istri
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Bupati Trenggalek, dalam pakaian kebesaran dengan cincin dan koleksi uang logam, kemungkinan di awal 1930-an
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1920-an, 1930-an, 1931
Tempat: Pemalang, Trenggalek, Yogyakarta
Tokoh: Hamengkubuwono VIII (Sultan Yogyakarta)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Sabtu, 03 Februari 2024

Foto bersama warga Jawa dengan orang Belanda

Solo, antara 1915 dan 1920, di depan bangunan yang kelak menjadi Museum Radya Pustaka; …
(klik untuk memperbesar | © NGA)
… kemungkinan di bagian lain dari bangunan yang sama (dua wanita Belanda di foto pertama muncul lagi di foto ini)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah foto bersama di tahun 1926
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: antara 1915-1920, 1926
Tempat: Jawa (a.l. Solo)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Studio L. Keng Meng (foto pertama dan kemungkinan juga nomor 2)
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Studio "L. Keng Meng" juga disebut "L. King Ming" atau "L. King Meng"

Kamis, 01 Februari 2024

Pertemuan penguasa Jawa dengan petinggi Belanda

Bondowoso, 1924
(klik untuk memperbesar | © NGA)
31 Agustus 1927
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1924, 1927
Tempat: Jawa (a.l. Bondowoso)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Studio Promemoria Bondowoso (foto pertama)
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Minggu, 28 Januari 2024

GKR Timur, istri Mangkunegara VII, bersama tamu Eropa

GKR Timur (duduk ketiga dari kiri) bersama para tamu di Pura Mangkunegaran Solo …
(klik untuk memperbesar | © NGA)
… dan bersama para abdi dalem dan pemain wayang orang
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: tidak ada keterangan, kemungkinan 1930-an
Tempat: Solo
Tokoh: Gusti Kanjeng Ratu Timur (salah satu istri dari Mangkunegara VII, puteri dari Sultan Hamnegkubuwono VII)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 24 Januari 2024

Hamengkubuwono VIII, kerabat keraton Yogyakarta bersama para pembesar Belanda

9 November 1937: Hamengkubuwono VIII bersama para pembesar Belanda; lihat catatan di bawah untuk detail
(klik untuk memperbesar | © NGA)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1930-an (a.l. 1937)
Tempat: Yogyakarta
Tokoh: Hamengkubuwono VIII (Sultan Yogyakarta)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Foto pertama merupakan update gambar atas posting ini. Tokoh lain foto ini, dari Hamengkubuwono VIII ke arah kiri: W.H. van Helsdingen (ketua Volksraad), Louise Abbenhuis-Verschueren (istri asisten residen), berikutnya tidak di kenal; dari beliau ke arah kanan: Christiaan Abbenhuis (asisten residen), tidak dikenal, Ratu Pembayun (?), tidak dikenal, tidak dikenal, H.J. van Mook (Direktur Urusan Ekonomi, kelak Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda).

Rabu, 27 Desember 2023

Wajah penghuni Hindia-Belanda dalam jepretan studio-studio foto Tionghoa (4)

Studio foto Keng Seng, Solo (Warung Pelem): Sebuah keluarga (campuran?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Studio foto Ong Lian Khaij, Pekalongan: Sepasang ningrat
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: tanpa keterangan
Tempat: Pekalongan, Solo
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Studio foto Keng Seng, Ong Lian Khaij
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Jumat, 23 Juni 2023

Aneka foto dari zaman Belanda karya para juru foto yang belum teridentifikasi (6)

Yogyakarta (?), 1885-1895: Perajin perak
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1930-an: Dua penari Bali
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Surakarta, ~1895: Seorang bangsawan Keraton Solo
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1885-1895: Potret seorang bujang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jawa, 1885-1895: Foto studio dari seorang pedagang makanan keliling
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: antara 1885 dan 1895, 1930-an
Tempat: Bali, Jawa (a.l. Surakarta, Yogyakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: