Tampilkan postingan dengan label Dirk Fock. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dirk Fock. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Desember 2020

Karikatur karya Johan Braakensiek tentang Mbok Indonesia, 1905-1920

De Amsterdammer, 3 Desember 1905
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Karikatur ini menggambarkan kebingungan para politisi Belanda melihat rakyat Indonesia tak habis-habisnya beranak pinak. Si Mbok Indonesia bercerita kepada Dirk Fock (kelak menjadi Gubernur Jenderal Hindia-Belanda 1921-1926) dan rekan-rekannya bahwa dia melahirkan kembar empat, sebelumnya kembar tiga, sebelumnya lagi kembar empat, dst. Dirk Fock berkomentar bahwa mereka harus memikirkan pendidikan anak-anak ini, begitu kesempatan kerja, dan aspek lainnya.

De Amsterdammer, 16 Oktober 1908
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Jurnalis Belanda Charles Boissevain mengadakan perjalanan di Hindia-Belanda di tahun 1908 dan mempublikasikannya (a.l. sebagai buku yang terbit tahun 1909). Karikatur di atas menggambarkan bagaimana Mbok Indonesia merasa bahwa dia terlalu banyak didandani atau dipercantik oleh Boissevain sehingga menjauh dari realita. Boissevain menyahut bahwa kalau orang sudah mencintai seorang wanita, dia akan mengusahakan si wanita senantiasa tampak menawan.

De Amsterdammer, 7 November 1915
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Karikatur di atas tampak seperti adegan dari kisah pahlawan super, tapi sejatinya diinsprirasi oleh kisah Perseus yang akan membebaskan Andromeda dari cengkraman naga. Perseus menggambarkan Johan Paul van Limburg Stirum yang baru saja ditunjuk menjadi Gubernur Jenderal Hindia-Belanda yang baru, sementara Andromeda adalah (Mbok) Indonesia, dan naga adalah burokrasi yang tampaknya di saat itu pun sudah menjadi tantangan yang sulit untuk dihadapi seorang gubernur jenderal sekalipun.

De Amsterdammer, 28 Februari 1920
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Karikatur ini terbit dalam rangka menyambut hari kelahiran Multatuli (Eduard Douwes Dekker) yang ke-100, tepatnya 2 Maret 1920. Mbok Indonesia tampak digambarkan memberikan penghormatan kepada penulis yang telah membuka kekejaman penjajahan di Hindia-Belanda melalui karyanya Max Havelaar.

Waktu: 1905, 1908, 1915, 1920
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke persoalan terkait Indonesia (Hindia-Belanda)
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk | Universiteit Leiden
Catatan:

Jumat, 18 Desember 2020

Karikatur-karikatur karya Johan Braakensiek tentang Nona Belanda dan Mbok Indonesia, 1904-1930

Amerika punya Uncle Sam, Inggris memiliki John Bull, dan dari Belanda ada Nederlandse Maagd (Dutch Maiden; Nona Belanda). Nona Belanda ini bisa tampil dalam versi terhormat seperti dewi Romawi, atau versi ndeso dalam pakaian tradisional Belanda.

Para karikaturis Belanda zaman dulu tampaknya juga mencoba mengilustrasikan Hindia-Belanda dalam bentuk seorang perempuan. Perempuan ini bisa mengenakan kain dan kebaya, atau kain kemben. Si Mbok Indonesia ini terkadang langsing, terkadang juga berisi; terkadang terlihat lanjang, atau memiliki banyak anak.

Posting kali ini akan memperlihatkan si Nona Belanda dalam kaitannya dengan Indonesia, atau malah muncul bersamaan dengan si Mbok Indonesia.

De Amsterdammer, 14 Agustus 1904
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

John Bull, yang mengalami konflik di jajahannya di Afrika Selatan, bertemu dengan Nona Belanda, yang masih berperang melawan rakyat Aceh. John Bull menawarkan Nona Belanda untuk meniru cara dia di Afrika Selatan, yaitu dengan membuat kamp konsentrasi serta juga memerangi wanita dan anak-anak. Nona Belanda menampik dengan berujar bahwa dia memerangi musuhnya, tapi tidak menyiksanya.

De Amsterdammer, 16 April 1905
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Perang Jepang melawan Rusia di tahun 1904-1905, yang dimenangkan Jepang, telah membuat Nona Belanda merasa khawatir bahwa posisi Mbok Indonesia terancam. Si Nona berteriak minta pertolongan, yang disambut oleh PM Belanda Abraham Kuyper. Saat itu Belanda tampaknya sudah memiliki firasat bahwa Jepang suatu saat akan datang ke Indonesia.

De Amsterdammer, 20 Agustus 1905
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Louis Frederik Johannes Bouwmeester adalah salah seorang seniman teater dan perfilman Belanda yang terkenal. Di tahun 1905-1906 Bouwmeester meninggalkan Belanda untuk menjalankan bakat seninya di Hindia-Belanda. Kepergian ini membuat Nona Belanda tampak cemburu dan bertanya apakah Bouwmeester sudah merasa menjadi seniman yang terlalu besar untuk ukuran Belanda. Bouwmeester menjawab bahwa ada hal-hal kecil yang mendorongnya pergi, katanya sambil menggandeng tangan Mbok Indonesia.

De Amsterdammer, 14 Oktober 1916
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Karikatur ini memperlihatkan bagaimana berharganya wilayah jajahan Hindia-Belanda buat Nona Belanda, laksana untaian kalung zamrud.

De Amsterdammer, 9 Oktober 1920
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Nona Belanda memperkenalkan Dirk Fock sebagai Gubernur Jenderal Hindia-Belanda yang baru. Sambutan Mbok Indonesia cukup mengagetkan.

1930
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Letusan Gunung Merapi di tahun 1930 menginspirasi Johan Braakensiek untuk memperlihatkan bahwa Nona Belanda bisa menjadi pelindung bagi Mbok Indonesia dan anak-anaknya.

Waktu: 1904, 1905, 1916, 1920, 1930
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa terkait Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk | Universiteit Leiden
Catatan:

Sabtu, 12 Januari 2019

Penerbangan pertama dari Belanda ke Indonesia 4: Penyambutan di Cililitan, 1924


PENGANTAR

Penerbangan dari Indonesia ke Eropa saat ini "hanya" menyita waktu belasan jam. Di zaman Belanda dulu, pelayaran dengan kapal uap bisa menempuh waktu sekitar dua bulan penuh.

Usaha mempersingkat waktu tempuh ini pertama kali dilakukan oleh KLM dengan menggunakan pesawat Fokker VII dengan kode H-NACC. Pesawat bermesin tunggal ini memiliki daya jelajah di sekitar 1.000 km. Jadi, jarak dari Belanda ke Indonesia yang sekitar 16.000 km paling tidak harus ditempuh dengan belasan kali pemberhentian.

Sejatinya, pesawat ini harus melakukan 21 kali pemberhentian. Dia lepas landas dari Amsterdam pada tanggal 1 Oktober 1924, dan mendarat di Jakarta pada tanggal 24 November 1924. Sebuah perjalanan yang lumayan lama, sekitar 55 hari.

Penyebab utama keterlambatan adalah ketika mesin pesawat rusak di Bulgaria. Awak pesawat harus menunggu sekitar satu bulan hingga mesin pengganti datang, lewat jalur darat. Itupun dikabarkan bahwa pembelian mesin baru merupakan usaha patungan dari warga Belanda.

Pada akhirnya, pesawat dengan tiga awak ini memang mencatat sejarah, dan meyakinkan masyarakat, baik di negeri Belanda maupun di Hindia-Belanda, bahwa perjalanan udara antar dua wilayah ini dimungkinkan dan tinggal masalah waktu saja.

Gubernur Jenderal Dirk Fock (berkumis) hadir di acara penyambutan kedatangan H-NACC
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Para istri pembesar Belanda tak mau ketinggalan, hadir dengan pakaian meriah
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Ketiga awak pesawat, dengan pakaian rapi, dalam acara jamuan penyambutan
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: 24 November 1924
Tempat: Cililitan (Jakarta)
Tokoh: Dirk Fock (Gubernur Jenderal Hindia-Belanda 1921-1926)
Peristiwa: l.d.a.
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Sabtu, 04 Februari 2017

Sambutan atas kedatangan Gubernur Jenderal Dirk Fock ke Hindia Belanda, 1921

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Waktu: April/Mei 1921
Tempat: Jakarta
Tokoh: Dirk Fock (Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1921-1926)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Kamis, 02 Februari 2017

Gubernur Jenderal Dirk Fock mengunjungi pekan raya di Bandung, 1926

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Waktu: 1926
Tempat: Bandung
Tokoh: Dirk Fock (Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1921-1926)
Peristiwa: Dirk Fock (duduk di tengah) bersama isterinya (duduk di kiri) di depan stand pabrik karet Hevea di Pekan Raya Bandung.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan: