Tampilkan postingan dengan label 1929. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1929. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Mei 2026

Pesawat amfibi dan pesawat pembom KNIL sebelum Perang Dunia II

6 Juli 1929: Dua pesawat amfibi mendarat, tepatnya melaut, di perairan Sabang di Pulau Weh
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
3 Desember 1938: Pesawat pembom buatan Glenn Martin (Dutch Martin model 166)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1929, 1938
Tempat: a.l. Sabang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 24 April 2025

Beberapa lukisan kuno tentang Jakarta dari berbagai masa (3)

1929: Dua halaman yang menampilkan kesibukan di kawasan Kali Besar
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Karya Johannes Vingboons, ~1760: Keramaian pelayaran di sekitar pelabuhan Sunda Kelapa dan Kastil Batavia
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Karya Jan Van Ryne, ~1793: Ini merupakan terbitan ulang dari lukisan yang aslinya terbit di sekitar tahun 1754; edisi lain yang pernah terbit sudah dimuat di posting ini, sementara deskripsi atas lukisan ini pernah dibahas di posting ini
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1760, 1793, 1929
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: a.l. Jan Van Ryne, Johannes Vingboons
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Jumat, 11 Februari 2022

Dari arsip Atlas Van Stolk: Wajah beberapa warga dan tokoh Belanda

7 Januari 1927: Pembukaan komunikasi jarak jauh Belanda-Nusantara melalui signal radio
(klik untuk memperbesar | © AVS)
1927: Ratu Wilhelmina menyampaikan pesan radio dari Belanda ke Hindia-Belanda
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Antara 1900 dan 1920: Berpose di atas dan depan mobil
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Medan, 1929: Sebuah jamuan makan warga Belanda dengan dua pelayan lokal
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Antara 1930 dan 1939: Rumah sakit Angkatan Laut di Surabaya
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Rotterdam, 1939: Pangeran Bernhard van Lippe-Biesterfeld mengamati maket Mesjid Demak
(klik untuk memperbesar | © AVS)
1972: Sukmawati Soekarnoputri di Belanda
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1920, 1927, 1929, 1939, 1972
Tempat: Belanda, Medan, Surabaya
Tokoh: Wilhelmina Helena Pauline Maria (Ratu Belanda); Bernhard van Lippe-Biesterfeld (suami Ratu Juliana); Sukmawati Soekarnoputri (anak Soekarno)
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 05 Februari 2022

Peta pom bensin Pulau Jawa, 1929

Di salah satu posting sebelum ini ditampilkan peta pom bensin bagian barat Jawa di tahun 1920-an. Kali ini akan ditampilkan peta yang lebih "baru", yaitu dari tahun 1929, di mana jumalah pom bensin di Jawa sudah makin banyak. Bagian tengah dan timur Jawa pun ditampilkan, dan dilengkapi dengan tabel jarak antar kota.

Peta ini juga bisa dilihat sebagai dokumen yang menunjukkan mana rute utama di Jawa pada saat itu (misalnya Jakarta-Bogor), mana jalur biasa yang masih bisa dilalui mobil (mis. Bandung-Soreang), dan mana jalan yang sulit atau hanya sewaktu-waktu bisa dilewati kendaraan (mis. Cikampek-Ciasem-Pamanukan-Patrol). Selain, itu peta ini menampilkan pula jalur kereta api dan malah trem di tahun 1920-an.

Sebuah pom bensin di kawasan Gemblongan, Surabaya
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Peta bom bensin Jawa Barat
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Peta bom bensin Jawa Tengah
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Peta bom bensin Jawa Timur
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Tabel jarak dari Bandung, Jakarta, Cirebon, Purwakarta, dan Sukabumi
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Tabel jarak dari Banyumas, Yogyakarta, Pekalongan, Semarang, dan Solo
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Tabel jarak dari Bondowoso, Kediri, Madiun, Pasuruan, Rembang, dan Surabaya
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: 1929
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Kamis, 18 Februari 2021

Foto-foto dari adegan di film Nyai Dasima, 1929

Tjerita Njai Dasima adalah sebuah kisah karya Gijsbert Francis yang diterbitkan di Jakarta pada tahun 1896. Cerita ini tampaknya sangat populer sehingga pada tahun 1929, sutradara Lie Tek Swie memfilmkannya dengan judul Njai Dasima; sebuah film bisu yang tampaknya sangat laku di masayarakat.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Film ini bercerita tentang Dasima, wanita lokal yang menjadi nyai (gundik) seorang Inggris bernama Edward William, dan dari hubungan ini mempunyai anak bernama Nancy. Seorang kusir delman bernama Samiun melirik Dasima, dan berusaha merebut hatinya, a.l. dengan jampi-jampi. Dasima meninggalkan Edward demi Samiun, tetapi kemudian tersadar bahwa Samiun ternyata mengincar hartanya belaka. Ketika sutau hari Dasima pergi ke kampung sebelah untuk menonton pertunjukan sandiwara, Dasima dicegat oleh orang suruhan Samiun yang kemudian membunuhnya dan membuang jasadnya ke sungai. Jenazah Dasima terbawa air hingga ke belakang rumah Edward yang kemudian menemukannya.

Waktu: 1929
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Minggu, 14 Februari 2021

Poster partai politik Belanda yang mendukung dan menolak kemerdekaan Indonesia, 1929/1933/1948

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Poster di atas diterbitkan oleh Partai Komunis Belanda dalam kampanye pemilihan umum parlemen Belanda di tahun 1929. Poster ini menyatakan bahwa 50 juta rakyat Indonesia mulutnya dibungkam, dengan bendera Belanda, dan oleh tangan dengan tera Singa Belanda; dan bahwa hanya Partai Komunis Belanda yang berjuang untuk mereka, dan karenanya menyeru rakyat Belanda agar memilih Louis de Visser, Ketua Partai Komunis Belanda saat itu.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Pemberontakan kapal perang De Zeven Provinciën di perairan Hindia-Belanda di bulan Februari 1933 menggoncang dunia politik Belanda yang tidak menyangkan akan adanya pembangkangan dari kalangan bersenjata di wilayah Hindia-Belanda terhadap pemerintah Belanda. Dalam pemilihan umum parlemen Belanda tahun 1933 kalangan komunis Belanda menggunakan peristiwa ini untuk menyerukan lepasnya Indonesia dari (kekuasaan) Belanda, dan mengutip ucapan Karl Marx (tapi dengan menampilkan siluet Lenin) bahwa "Suatu bangsa tidak akan bebas selama ia menindas bangsa lain".

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Posisi yang berbeda dipegang oleh Partai Anti-Revolusioner. Dalam pemilihan umum Belanda tahun 1948, di tengah konflik bersenjata di Indonesia, partai Protestan konservativ yang a.l. dimotor oleh ini menyatakan bahwa yang harus ditegakan di Hindia-Belanda adalah hukum (Belanda) dan bukan kekacauan yang ditimbulkan oleh Republik (Indonesia).

Waktu: 1929, 1933, 1948
Tempat: poster di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke hal terkait Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 27 Januari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1925-1929

De Groene Amsterdammer, 1925
(klik untuk memperbesar | © Johan Braakensiek / AVS)

Perkembangan faham komunis di Hindia-Belanda di tahun 1920-an membuat gusar beberapa pihak di Belanda. Pertemuan PKI pada tahun 1925 (di Jakarta?), yang a.l. menyerukan penumbangan pemerintahan penjajahan Belanda, menjadi catatan buat beberapa kalangan Belanda. Karikatur di atas menyuarakan bahwa apa yang ditabur oleh kaum komunis akan diikuti oleh kematian.

Januari/Februari 1925
(klik untuk memperbesar | © Louis Raemaekers / AVS)

Pulau Jawa di abad ke-19 dan awal abad ke-20 merupakan salah satu wilayah penyebaran candu. Karikatur di atas mengkritik pemerintah Belanda yang membiarkan kerusakan akibat ganja meraja lela demi keuntungan 40 juta Gulden per tahun.

De Telegraaf, 19 September 1929
(klik untuk memperbesar | © Louis Raemaekers / AVS)

Para pemilik perkebunan di Hindia-Belanda, sejak tahun 1880, memiliki hak untuk menjatuhkan poenale sanctie (sanksi hukuman) kepada para pekerja atau kulinya jika dianggap malas, melakukan penghinaan, atau berusaha kabur dari perkebunan. Hukuman dera merupakan sanksi yang banyak diterapkan. Di tahun 1929 tampaknya ada pekerja yang tewas gara-gara hukuman ini, dan memicu perdebatan tentang perlakuan terhadap para kuli. Karikatur di atas menggambarkan bahwa di atas kepala pemilik perkebunan sekarang bergantung pedang Damokles, yang suatu saat bisa tiba-tiba lepas dari tali tipisnya dan jatuh mengenai si pemilik perkebunan.

De Telegraaf, 31 Oktober 1929
(klik untuk memperbesar | © Louis Raemaekers / AVS)

Pemerintah penjajahan Hindia-Belanda akhirnya mengeluarkan aturan yang lebih melindungi para kuli. Sekitar sebulan setelah kematian seorang kuli akibat poenale sanctie, sanksi hukuman seperti ini dilarang, tapi sementara hanya untuk pekerja yang sudah usai masa kontraknya dan kemudian memperpanjangnya.

Waktu: 1925, 1929
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa di Hindia-Belanda
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek | Louis Raemaekers
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Selasa, 05 Januari 2021

Poster iklan pariwisata Hindia-Belanda, 1925-1937

Come and see Netherland India
Iklan keluaran Jawatan Pariwisata Batavia, antara 1925 dan 1929
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Iklan keluaran Persatuan Pariwisata Batavia, antara 1925 dan 1934
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Visit Java Bali
Iklan keluaran Jawatan Penerangan Pariwisata Batavia, 1937
(klik untuk memperbesar | © AVS)


Waktu: 1929, 1934, 1937
Tempat: 
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Selasa, 08 Desember 2020

Iklan perjalanan kapal laut dari Hamburg ke Hindia Belanda, 1929

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Sebuah iklan dari perusahaan pelayaran kapal uap Jerman-Australia, yang menawarkan rute Hamburg-Amsterdam-Belawan-Jakarta-Cirebon-Semarang-Surabaya-Makassar dan kembali melalui Cilacap-Padang-Rotterdam-Antwerpen.

Waktu: antara 1920 dan 1929
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Minggu, 13 September 2020

Kartu pos kuno tentang berbagai daerah

1900-1904: Sumur minyak di Kalimantan Timur
(klik untuk memperbesar | © Rob. Hennemann & Co. / AVS)

1900-1904: Perkampungan warga Bali di Lombok
(klik untuk memperbesar | © Gebr. van Straaten / AVS)

1920-1929: Borobudur
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Kampung Ketang, Manado
(klik untuk memperbesar | © Gebr. Que / AVS)

Waktu: antara 1900 dan 1904 (nomor 1 & 2), 1920 dan 1929 (nomor 3)
Tempat: Kalimantan Timur, Lombok, Magelang, Manado
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar/foto: Rob. Hennemann & Co. / Gebr. van Straaten / ? / Gebr. Que
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 07 September 2020

Kartu pos kuno tentang Ambon

1895-1904: Jalan Gereja
(klik untuk memperbesar | © AVS)
1895-1904: De Esplanade
(klik untuk memperbesar | © AVS)
1895-1904: Pecinan
(klik untuk memperbesar | © AVS)
1895-1904: Pecinan
(klik untuk memperbesar | © AVS)
1905-1914: Pecinan
(klik untuk memperbesar | © AVS)
1920-1929: Air terjun Batu Gantung
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Waktu: antara 1895-1904,  1905-1914, 1920-1929
Tempat: Ambon
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar/foto: K.D. Que / Ambonsche Drukkerij / Gebroeders Que / Que Team Sio
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: Foto nomor 3 pernah dimuat di posting ini dalam ukuran yang lebih kecil.

Rabu, 22 Juli 2020

Dari kunjungan Gubernur Jenderal Perancis di Indochina, Pierre Pasquier, ke pabrik gula Comal 1929: Perumahan karyawan lokal

PENGANTAR

Pada tanggal 15 April 1929 Gubernur Jenderal Perancis di Indochina, Pierre Pasquier, mengadakan lawatan ke pabrik gula Comal, Pemalang. Kemungkinan besar, pemerintahan jajahan Perancis ingin melihat sejauh mana industri gula di Hindia-Belanda bisa dicontoh di wilayah yang sekarang merupakan kawasan Kamboja, Laos, Vietnam, dan sebagian Tiongkok.

(klik untuk memperbesar | © NGA)

Sebagai oleh-oleh, pemerintah Hindia-Belanda memberikan sebuah album foto berbahasa Perancis ke Pierre Pasquier, yang berisi foto-foto dari pabrik gula Comal ini beserta fasilitas penunjangnya. Isi dari album foto ini akan ditampilkan di seri posting berikut ini.

(klik untuk memperbesar | © NGA)

Tidak diketahui sejauh mana Pasquier menerapkan hasil kunjungan ini negeri jajahannya. Pasquier tewas lima tahun setelah lawatan ini dalam sebuah kecelakaan pesawat terbang.

Salah satu pojok pemukiman pekerja lokal
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Contoh rumah seorang pekerja lokal
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Seorang pekerja lokal bersama istri dan anak-anaknya
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Rumah kepala kampung pemukiman pekerja lokal
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1929
Tempat: Comal (Pemalang)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: