Tampilkan postingan dengan label Padang Panjang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Padang Panjang. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Agustus 2022

Aceh, Minangkabau, dan Priangan di tahun 1880-an dalam koleksi foto Woodbury and Page (1)

Kawasan Batutulis, Bogor, dengan latar belakang Gunung Gede
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kawasan pesisir di Lubuk Begalung, Padang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pantai Muaro Padang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jembatan beratap di Padang Panjang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Perkebunan teh Parakansalak, Sukabumi
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Waktu: 1880-an
Tempat: Bogor, Padang, Padang Panjang, Sukabumi
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Woodbury and Page
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Jumat, 25 September 2020

Kartu pos kuno tentang Minangkabau

Padang Panjang, antara 1895 dan 1904: Memajang harimau hasil buruan
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Mengangkut harimau hasil buruan
(klik untuk memperbesar | © G. Kling / AVS)
Mesjid di Koto Baru dekat Bukittinggi
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Mesji di pesawahan kampung Tabu, Palembayan, Agam
(klik untuk memperbesar | © C. Nieuwenhuis / AVS)
Lembah Harau
(klik untuk memperbesar | © Tjan Djoe Sien / AVS)
Waktu:
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar/foto: G. Kling / C. Nieuwenhuis / Tjan Djoe Sien
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 31 Agustus 2018

Warga Tionghoa di masa perang kemerdekaan (26): Kerusakan dan pengungsian di Palembang dan sekitar Padang

Pengantar: Kerusuhan 1998 termasuk bagian paling hitam di dalam sejarah hubungan warga "pribumi" dan Tionghoa di Indonesia. Peristiwa ini memicu munculnya era reformasi yang kemudian memberikan banyak kemajuan di dalam hubungan ini.

Harus diakui, peristiwa di tahun 1998 bukanlah yang pertama. Kekurang-harmonisan ini sudah ada puluhan tahun sebelumnya, termasuk di masa perang kemerdekaan. Blog ini sebelumnya sudah memperlihatkan perusakan pada harta benda warga Tionghoa yang dilakukan pejuang kemerdekaan di beberapa tempat, dan bagaimana Belanda dipandang sebagai pelindung warga Tionghoa dan terlibat dalam pembentukan milisi Tionghoa bersenjata yang berseteru dengan para pejuang.

Sebagian dari kita boleh jadi berpendapat "Ah, sudahlah, itu masa lalu. Tidak diusah diungkit-ungkit, hanya akan membuka luka dan borok lama. Kita lihat ke depan saja agar ada hubungan yang lebih harmonis." Pendapat seperti ini mengimplikasikan bahwa kita sebaiknya menutup sejarah yang tidak enak didengar. Di sini ada kemungkinan bahwa generasi ke depan, dari semua pihak baik "pribumi" maupun Tionghoa, tidak mencernai apa yang telah terjadi sebelumnya, dan menghadapi risiko akan mengulang apa yang justru seharusnya dihindari.

Penyelidikan sejarah secara jernih, tanpa generalisasi, tanpa praduga, tanpa emosi, diharapkan bisa menjadi bahan yang berharga agar kita, semua, bisa belajar dari masa lalu. Gambar-gambar berikut mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi ke arah sana.

Kehancuran di area pecinan Palembang
(klik untuk memperbesar | © W.F.J. Pielage / spaarnestad)
Kerusakan di pasar Padang Panjang (?) yang berdekatan dengan pemukiman warga Tionghoa
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
4 Juni 1948: Sekitar 240 warga Tionghoa dari Painan (Sumatera Barat) diungsikan ke Padang
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 1948, masa perang kemerdekaan
Tempat: Palembang, Padang Panjang, Padang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief / Spaarnestad Photo
Catatan:

Senin, 04 Juli 2016

Kemiskinan semasa perang kemerdekaan (2): Garut, Purwakarta, Padang Panjang

PENGANTAR

Kemiskinan di negeri kita ada di sebelum kemerdekaan, di saat perang kemerdekaan, setelah perang kemerdekaan, di masa pemerintahan Soekarno, Soeharto, dan boleh jadi hingga sekarang ini.
Situasi rakyat miskin semasa perang tetapi lebih memilukan karena orang lain memiliki prioritas lain daripada memperhatikan mereka. Dan foto-foto rakyat miskin di masa perang menjadi lebih memiliki nilai propaganda karena publik luar dengan mudah mengasosiasikannya dengan perang, dan bisa menganggapnya sebagai dampak dari peperangan, yang bisa jadi benar.

Foto-foto berikut akan memperlihatkan rakyat miskin kita semasa perang kemerdekaan.

Garut
(klik untuk memperbesar | © Th. van de Burgt / gahetna)
Purwakarta, 31 Agustus 1948
(klik untuk memperbesar | © H. Wakker / gahetna)
Padang Panjang, 22 Desember 1948
(klik untuk memperbesar | © J. Steggerda / gahetna)
Padang Panjang, 22 Desember 1948
(klik untuk memperbesar | © J. Steggerda / gahetna)
Waktu: 1948
Tempat: Garut, Purwakarta, Padang Panjang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Th. van de Burgt / H. Wakker / J. Steggerda
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Selasa, 04 November 2014

Beberapa bangunan tradisional Minangkabau di awal abad ke-20

Surau di Padang
(klik untuk memperbesar | C. Nieuwenhuis © gahetna)
Rumah gadang di Padang Panjang
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Lumbung padi di Padang
(klik untuk memperbesar | C. Nieuwenhuis © gahetna)
Waktu: awal abad ke-20
Tempat: Padang, Padang Panjang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: C. Nieuwenhuis
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

UPDATE 4 Februari 2016:
Foto di bawah ini dipindah ke posting tanggal 5 Februari 2016 atas koreksi dari seorang pembaca (lihat komentar).

(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Rabu, 17 Juli 2013

Padang Panjang di sekitar tahun 1899/1900

(klik untuk memperbesar)
Waktu: 1899/1900
Tempat: Padang Panjang
Diambil dari buku "Auf Java und Sumatra. Streifzüge und Forschungsreisen im Lande der Malaien" karya pakar botanika Jerman, Karl Friedrich Georg Giesenhagen, yang terbit tahun 1902. Buku ini bisa dibaca/diunduh dari Internet Archive.