Tampilkan postingan dengan label Majalengka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Majalengka. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Desember 2019

Peninggalan purbakala dari bagian tenggara Jawa Barat: Sekitar Gunung Ciremai

PENGANTAR

Pada tahun 1863-1864 Isidore van Kinsbergen menerbitkan sebuah album berjudul Oudheden van Java, op last der Ned. Indische regering, onder toezigt van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang berisi foto-foto peninggalan purbakala di Jawa, dari wilayah Banten hingga ke Jawa Timur.


Candi, arca, dan situs purbakala dari bagian tengah dan timur pulau Jawa umumnya sudah sangat terkena, banyak dibahas, dan menjadi objek wisata hingga sekarang. Berbeda dengan peninggalan purbakala di bagian barat, yang tampaknya tidak mendapat perhatian sebesar di bagian tengah dan timur.

Seri foto berikut akan mencoba untuk memperlihatkan apa yang sudah didokumentasikan oleh van Kinsbergen lebih dari 100 tahun lalu, dengan harapan mudah-mudahan tidak membuat kita lupa akan peninggalan nenek moyang ini.


Peta di bawah memperlihatkan situs-situs tempat ditemukannya benda-benda purbakala di bagian tenggara Jawa Barat, yang sekarang meliputi wilayah Ciamis, Garut, Kuningan, Majalengka, dan Tasikmalaya.
(klik untuk memperbesar)

Empat patung pra-Hindu/Buddha di Kertawangunan, Kuningan; paling kiri dan kanan kemungkinan menggambarkan perempuan, sementara dua di tengah laki-laki dengan penis menonjol
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Patung-patung pra-Hindu/Buddha di Pasir Aki-aki di kaki Gunung Ciremai
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Yoni dan Lingga di Gunung Bitung, Cikijing (Majalengka)
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Dua yoni di Batu Cupu, Kuningan
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Dua Nandi tanpa kepala di Batu Cupu, Kuningan
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Patung gajah di Kertawangunan, Kuningan
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)

Waktu: 1864
Tempat: Kuningan, Majalengka
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Tropenmuseum
Catatan: Foto pertama dan terakhir sebelumnya dimuat di posting ini, yang mengambil sumber dari Universiteit Leiden. Lihat juga posting yang lebih tua.

Senin, 29 Oktober 2018

Album foto para penguasa daerah di tahun 1860-an: Bupati Bandung, Karawang, dan Majalengka

Bupati Bandung R.A.A. Wiranatakusumah
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Bupati Karawang
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Bupati Majalengka Raden Tumenggung Suraadiningrat beserta istri dan seorang ponggawa
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)

Waktu: 1866 (dua foto bawah), 1867 (foto atas)
Tempat: Bandung, Karawang, Majalengka
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Tropenmuseum
Catatan: Foto-foto ini adalah bagian dari sebuah album dengan judul "Cabinet-Portret" dari seri "Portretten van Indonesiƫrs" yang dikeluarkan oleh K. Buwalda di Surabaya di akhir tahun 1860-an.

Sabtu, 14 April 2018

Dewan pemerintahan daerah (regentschapsraad) di zaman Belanda: Majalengka, 1926

PENGANTAR

Dimulai di pertengahan tahun 1920-an pemerintah Hindia-Belanda membentuk regentschapsraad (dewan pemerintahan daerah) di beberapa wilayah. Meski kewenangannya tidak besar, dan juga keanggotaannya tidak ditentukan rakyat, ini termasuk langkah maju di dalam menampung aspirasi warga jajahan, sebagaimana halnya pembentukan Volksraad beberapa tahun sebelumnya. Berdasarkan foto-foto yang tersedia, dewan pemerintahan daerah ini kelihatannya hanya dibentuk di wilayah Banten, Jakarta, Jawa Barat, dan sebagian kecil Jawa Tengah.

Yang menarik dari foto-foto ini adalah keanggotaan dewan dan bagaimana pakaian yang dikenakan menunjukkan latar belakangnya. Warga Belanda tentunya berpakaian a la Barat; dan tanpa tutup kepala. Jumlah warga Belanda ini umumnya sedikit, kecuali di daerah yang menjadi tempat favorit mereka tinggal, seperti Jakarta, Bandung, atau Garut.

Warga lokal memiliki keanekaragaman dalam hal berpakaian. Kelompok priyayi umumnya mengenakan blangkon, baju adat, serta kain batik untuk bawahannya. Warga yang mendapat pendidikan Barat sudah mengenakan pakaian a la Barat, misalnya bercelana panjang, berjas, berdasi, dan tanpa tutup kepala. Kaum bangsawan yang mengenyam pendidikan modern berada di tengah-tengah: tetap mengenakan blangkon dan baju adat, tetapi menambahinya dengan dasi, baik yang panjang maupun kupu-kupu; bawahannya bisa celana atau kain tradisional. Di samping itu ada juga kelompok ulama atau saudagar Muslim yang mengenakan serban atau peci, baju jas tertutup atau jubah panjang, dengan bawahan kain sarung atau celana panjang.

Hampir semua yang muncul di foto adalah laki-laki. Ada beberapa wanita kulit putih, serta perempuan berkebaya di foto tertentu; tapi tidak jelas apakah mereka anggota dewan juga, atau istri dari salah satu anggota dewan.

Dewan pemerintahan daerah Majalengka, 1926
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: antara 1926-1929
Tempat: Majalengka
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Selasa, 28 Maret 2017

Coretan para pejuang di Majalengka dan Sukabumi semasa Aksi Polisionil 1, 1947

Majalengka: "Belanda Soedah Menjerah - Kembalikan Si Reken"
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Sukabumi: "Merdeka - Sabarlah Sdr2 Sekalian - Djangan Menoeroetkan Nafsoe"
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Waktu: Juli 1947
Tempat: Majalengka, Sukabumi
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Hugo Wilmar (foto bawah)
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief (foto atas) & Spaarnestad Photo (foto bawah)
Catatan: "Si Reken" kemungkinan adalah seorang perempuan yang dikabarkan diculik Belanda semasa perang kemerdekaan.


UPDATE 2 Januari 2020
Foto nomor 2 dalam ukuran yang lebih besar:

(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Spaanerstad)