Tampilkan postingan dengan label kuli. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuli. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (1)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Seorang pemuka warga Priangan dalam pakaian berburu. Pakaian ini terdiri dari topi caping pipih di atas blangkon, kemudian naju kebesaran berkerah tinggi dengan banyak ornamen keemasan, serta kain batik yang dikencangkan dengan kain bebat di pinggang. Dia juga memakai semacam pelindung betis dan kaki berwarna merah-kuning, tapi tanpa alas kaki. Kudanya kemungkinan besar yang sedang dipegang pawangnya di sebelah kiri.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI yang cukup mendekati komposisi aslinya, meski alas kakinya memiliki variasi.
(klik untuk memperbesar)
Seorang kuli, kemungkinan di sebuah gudang barang di kawasan pecinan, berdasarkan model bangunan yang berada di latar belakang. Kuli ini duduk di atas sebuah kotak kayu, sementara seorang rekannya tampak berbincang dengan seorang yang berbaju lebih perlente yang mengindikasikan posisi sosial yang lebih tinggi.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI ini secara keseluruhan bisa menangkap apa yang ditampilkan Hardouin di lukisannya. Hanya saja AI membaca "FH" bukan "EH" di kotak yang diduduki sang kuli, dan mengubah font-nya. Kemudian AI juga menempatkan kaki si kuli menapak di tanah, bukan menggantung, serta mengubah postur tangan kirinya. AI juga menambah genteng di bangunan di sebelah kiri belakang yang sejatinya tidak ada di lukisan.
(klik untuk memperbesar)

Tahun terbit: sekitar 1855 
Tempat terbit: Paris 
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Jumat, 19 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (6)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Dua kuli memikul barang melewati sebuah jembatan dengan latar belakang pemukiman khas pecinan; kemungkinan ini menunjukkan wilayah Pintu Kecil, Jakarta
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Hotel Marine di Molenvliet (sekarang Jalan Gajahmada) yang ada sejak tahun 1830-an; hotel ini berhenti beroperasi 5 tahun setelah lukisan ini diterbitkan, dan berbagai bangunan telah menggantikannya hingga sekarang
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Monumen Michiels di Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng) yang didirikan di tahun 1855 untuk mengenang Jenderal KNIL Andreas Victor Michiels dan para serdadu KNIL yang gugur di Hindia-Belanda; Michiels adalah komandan KNIL yang menyerang a.l. Jambi, Bonjol, Kuta, serta Singkil, dan ditewaskan di tahun 1849 oleh pasukan pimpinan Ratu Klungkung, Dewa Agung Istri Kanya
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Suasana di gardu malam di Jakarta, dengan dua ronda yang tertidur, sementara yang berada di luar memegang lembing tampak hanya setengah terjaga; kentongan dan dua alat penangkap pencuri terlihat di sekitar gardu
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Keramaian di sebuah kawasan pecinan di Jakarta dengan delman, pedagang keliling, dan pedagang jongkok menghiasa pemandangan jalan, sementara di depan satu rumah tampak sebuah transaksi sedang berlangsung
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 11 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (2)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Acara rampogan sima yang menempatkan harimau Jawa di lapangan yang dikelilingi para pria bersenjata tombak. Tradisi yang mempercepat kepunahan jenis satwa ini kemudian dilarang pemerintah Hindia-Belanda di tahun 1905.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Air terjun Bantimurung di luar Maros, Sulawesi Selatan, yang penampakan kininya, terlepas dari keramaian pengunjung sekarang, masih sangat mirip dengan yang terlukis di atas.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Stadhuis van Batavia, yang menjadi balaikota Jakarta dari tahun 1627 hingga 1913; sekarang menjadi Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Kesibukan di kawasan pecinan di Jakarta dengan rumah-rumah yang khas kawasan pecinan, sementara kubah Gereja Imanuel tampak menjulang di kanan belakang
 (klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Dua kuli mengangkut barang dengan melalui Gerbang Amsterdam di Jakarta, sementara sebuah trem berkuda mengikuti jalur rel mengitari ikon yang sekarang sudah hilang ini
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis) 
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 13 Agustus 2025

Jakarta sekitar September 1945, ketika Republik Indonesia baru berumur beberapa hari (1)

Seorang tentara Jepang bersenjata terhunus menjaga sebuah kawasan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Bongkar muat barang bantuan kemanusiaan dari Tanjung Priuk …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… menuju lokasi-lokasi yang menjadi tempat penahanan warga Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Salah satu kapal pertama di Tanjung Priuk yang mengangkut barang bantuan kemanusiaan …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… yang terutama ditujukan bagi warga Belanda yang selama perang disekap oleh pihak Jepang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: (kemungkinan besar) H. Ripassa
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga seri foto yang dibuat oleh H. Ripassa tentang Jakarta di sekitar September dan Oktober 1945 yang dimulai di posting ini.

Selasa, 16 April 2024

Suasana di pelabuhan Makassar setelah Belanda kembali datang menyusul kalah perangnya Jepang (2), 1945

Anak-anak Makassar mandi di laut
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kegiatan bongkar muat yang mulai berjalan lagi …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… serta proses transaportasi dari dan menuju pelabuhan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Suasana di pelabuhan dengan atap beberapa bangunan masih memperlihatkan sisa-sisa pertempuran
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Makassar
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 15 Juni 2022

Pertambangan timah di Bangka-Belitung, 1936

Pemuatan timah ke kapal, Belitung
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dredger bernama Sergang pertambangan di Bangka
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Foto udara atas kawasan pertambangan di Pangkalpinang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Penambangan timah di bawah tanah di Kelapa Kampit, Belitung
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kapal dredger bernama Doejoeng di perairan Belitung
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tangga penghubung di pertambangan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1936
Tempat: Bangka, Belitung
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 23 Desember 2021

Aneka wajah Nusantara dalam lukisan Josias Rappard, 1888 (2)

Pintu Kecil (?)
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Gerbang Amsterdam
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Kawasan pecinan di Pintu Besar (?)
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Trem kuda di Jakarta dengan penumpang dari aneka bangsa: kulit putih, Arab, Tionghoa, lokal
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1888
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Josias Rappard
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 13 Agustus 2021

Dua lukisan karya Ernest Hardouin tentang Jakarta, sekitar 1854

Balaikota
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Kali Besar, tempat pertemuan usaha antara orang Eropa, Londo Item, Tionghoa, dan pribumi
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: lukisan dibuat antara tahun 1840 dan 1854
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Ernest Hardouin
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: Lukisan lain karya Ernest Hardouin bisa ditemukan di posting ini.

Jumat, 23 April 2021

Aneka wajah Nusantara dari album foto keluaran Kleynenberg & Co terbitan 1912-1914 (28)

PENGANTAR

Di sekitar tahun 1912-1914 penerbit Kleynenberg & Co. mengeluarkan album berisi 170 foto tentang jajahan Belanda. 150 di antaranya berasal dari Hindia-Belanda, sisanya dari Suriname. Kebanyakan foto-fotonya kemungkinan dibuat di awal abad ke-20, beberapa di antaranya berasal dari fotografer terkenal seperti Jean Demmeni (fotografer kelahiran Padang Panjang, campuran Perancis dan Madura), Christiaan Nieuwenhuis (mantan KNIL yang beralih jadi fotografer, menetap dan meninggal di Padang), Carl Kleingrothe (orang Jerman yang menjadi fotografer di Medan), atau Cassian Kephas (fotografer lokal yang autodidak), dsb.

Album ini menjadi menarik karena merupakan kompilasi keanekaragaman wajah Nusantara saat itu: dari pantai hingga ke pegunungan, dari Aceh hingga ke Papau, dari warga Dayak hingga ke warga Timor, dari perkebunan hingga ke industri tambang. Tak ketinggalan pula aneka macam bangunan mulai dari gua yang masih jadi tempat tinggal hingga ke rumah besar dan keraton. Dari candi, gereja, mesjid, hingga ke pura. Juga dari nelayan, petani, hingga ke penyepuh emas; serta dari bermain kartu, menenun kain hingga ke pacuan kuda.

Tentu tak mungkin semuanya terangkum hanya dalam beberapa foto; tetapi album ini berhasil menunjukkan satu sisi dari keanekaragaman ini.

Blog ini akan menampilkan 150 foto ini; beberapa di antaranya, terutama foto yang populer, pernah ditampilkan sebelumnya secara sendiri-sendiri. 42 foto pertama akan berasal dari yang tersedia di arsip Atlas Van Stolk, ini dipilih karena umumnya sudah menguning sehingga kental kesan kunonya; sisanya dari koleksi Universitas Leiden.


142. Pelabuhan Tanjung Priuk
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
143. Lori pengangkut kayu di Jawa
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
144. Tambang emas di Rejang Lebong, Bengkulu
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
147. Gudang perkebunan tembakau yang meliputi a.l. Beji dan Kiringan di Tulung, Klaten
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
148. Pekerja Tionghoa membabat hutan untuk pembukaan lahan bagi perkebunan tembakau di wilayah Deli
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
150. Perkebunan kina, kemungkinan di Jawa Barat
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: album foto terbit antara tahun 1912 dan 1914, kemungkinan foto-fotonya sudah lebih tua lagi
Tempat (d.a.k.b.): Jakarta, Jawa, Rejang Lebong, Klaten, Deli, Jawa Barat
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Kleynenberg & Co (Haarlem) / Universiteit Leiden
Catatan: Edisi lain dari foto no. 142 pernah dimuat di posting ini, dan no. 148 di posting ini.

Senin, 17 Agustus 2020

Dari ekspedisi di Sumatera Tengah 1877-1879: Pemuka masyarakat Alahan Panjang dan warga lokal pendamping penjelajahan

PENGANTAR

Pada tahun 1873 Belanda mendirikan Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap (Masyarakat Ilmu Bumi Kerajaan Belanda), mengikuti langkah serupa yang sebelumnya dilakukan oleh Perancis, Inggris, Jerman, dan Rusia. Ekspedisi besar pertama organisasi ini berlangsung empat tahun kemudian, yaitu penjelajahan di Midden-Sumatra ("Sumatera Tengah"), yang berlangsung dari tahun 1877 hingga 1879. Ekspedisi ini dilaksanakan oleh sebuah tim yang terdiri dari Arend Ludolf van Hasselt, Daniël David Veth, Johannes François Snelleman, serta Johannes Schouw Santvoort, dengan ditemani pendamping lokal.

Peta ekspedisi, dengan tambahan info tentang lokasi fotonya akan ditampilkan di blog ini (ikon biru), dan lokasi lain sebagai patokan (ikon merah)
(klik untuk memperbesar)

Peta di atas ini, dalam garis-garis merah, menunjukkan rute penjelajahan yang dilakukan oleh tim ini, yang mencakup wilayah Sumatera Barat, Jambi, dan Sumatera Selatan. Tim ini selain mengamati aspek geografi dan geologi dari tempat-tempat yang dijelajahi, juga mendokumentasikan aspek lain seperti flora dan fauna, hingga etnografi dan adat istiadat. Situs archive.org mengarsipkan publikasi-publikasi hasil penjelajahan ini, dalam bahasa Belanda.

Selain itu, ada juga album foto yang memuat 145 foto, yang sayangnya tidak ada di situs archive.org tsb. Untungnya, National Gallery of Australia, memiliki salah satu eksemplar dari album ini, meskipun beberapa halaman di antaranya hilang. Blog ini akan menampilkan foto-foto dari album ini, sejauh mungkin dalam format lembar aslinya, dengan warna yang sudah menguning.

(klik untuk memperbesar | © NGA)

Beruntung pula, Universiteit Leiden memiliki pula koleksi foto-foto ini, meskipun tampaknya dalam bentuk satuan, tidak dalam bentuk album. Bahkan, Universiteit Leiden tampaknya memiliki akses ke foto-foto lain dari ekspedisi ini yang tidak masuk ke dalam album. Blog ini pun akan menampilkannya, kali ini dalam format skala-abu. Lokasi-lokasi yang fotonya ditampilkan akan ditandai dengan ikon biru di peta di atas.


Foto dari album Daniel Veth:
Halaman pertama yang berisi potret
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Mantri kopi Alahan Panjang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Bujang kuda ekspedisi
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kuli angkut ekspedisi
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kuli angkut ekspedisi
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jaksa Alahan Panjang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Juru tulis ekspedisi
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Foto dari arsip Universiteit Leiden:
Mantri kopi Alahan Panjang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Kuli angkut ekspedisi
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Kuli angkut ekspedisi
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Bujang kuda ekspedisi
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Jaksa Alahan Panjang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Juru tulis ekspedisi
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: antara 1877 dan 1879
Tempat:  Alahan Panjang (Solok)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia / Universiteit Leiden
Catatan:


UPDATE 24 Agustus 2020: Tambahan sketsa

Pendamping ekspedisi dari warga lokal dengan nama-nama julukan Si Pakan, Si Angkat, Si Gai, Si Dulah, Si Mail, Si Jemam, Si Mageh, dan Si Akal
(klik untuk memperbesar)

Lembah Harau, salah satu tempat yang dikunjungi tim penjelajahan
(klik untuk memperbesar)

Meski lokasi utama yang dikunjungi tim penjelajahan adalah Sumatera Barat, Jambi, dan Sumatera Selatan, mereka sempat juga meninjau Lebong di Bengkulu
(klik untuk memperbesar)