Tampilkan postingan dengan label 1923. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1923. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Oktober 2023

Hindia-Belanda dalam foto stereoskopi (12)

PENGANTAR
Di akhir abad ke-19 foto stereoskop cukup populer untuk melihat foto dengan kesan tiga dimensi. Teknik yang digunakan saat itu adalah dengan membuat dua foto dengan sudut pengambilan yang sedikit berbeda. Kemudian kedua foto ini disandingkan, dan dilihat dengan menggunakan alat bersekat yang memisahkan pandangan mata kiri dan kanan. Gambar di kiri memperlihatkan contoh alat ini.

Wilayah Hindia-Belanda pun tak luput dari mode fotografi ini. Seri berikut akan menampilkan beberapa motif foto dari Hindia-Belanda yang ada di koleksi penggemar stereoskopi.

Para pegawai dapur Hotel Joling atau Hotel Schwartz di Palembang (sekarang kantor Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Para pelayan Hotel Joling atau Hotel Schwartz di Palembang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Membajak lahan di Pujun, Kapuas Tengah
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1923: Para pekerja yang dipaksa membangun jembatan di Rambang Idup (?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Perkampungan di Pulau Pinang (Lahat atau Tapin?)
(klik untuk memperbesar | © W. van Wessem / NGA)

Waktu: a.l. 1923
Tempat: a.l. Kapuas Tengah, Palembang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: a.l. W. van Wessem
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Jumat, 04 Agustus 2023

Aneka foto dari zaman Belanda karya para juru foto yang belum teridentifikasi (27)

Di bagian dalam sebuah pabrik gula, kemungkinan bagian bengkel
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1923: Kantor Malang Stoomtram Maatschappij, perusahaan kereta api yang beroperasi di wilayah Malang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1935: Sebuah kantor perusahaan Tionghoa dengan 2 orang berpakaian tradisional, dan 1 berpakaian Barat
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Berburu banteng
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Berburu banteng
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1923, 1935
Tempat: Jawa (a.l. Malang)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 09 Februari 2022

Dari arsip Atlas Van Stolk: Sebuah kongsi dagang Tionghoa di Jakarta, 1923

Kantor kongsi dagang Lie Kwe Kie (?)
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Para pegawai kongsi; kalender menunjukkan tanggal 9 Mei 1923
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Contoh barang yang diperdagangkan kongsi
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1923
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 24 Juni 2021

Poster menyambut seperempat abad penobatan Ratu Wilhelmina, 1923

(klik untuk memperbesar | © Johan Isings / AVS)

Waktu: 1923
Tempat: lukisan dibuat di Belanda
Tokoh: Wilhelmina Helena Pauline Maria (Ratu Belanda, digambarkan di batu marmer di lukisan di atas)
Peristiwa: Poster di atas menyambut 25 tahun bertahtanya Wilhelmina sebagai Ratu Belanda, dan memuat banyak perlambang. Nona Belanda kali ini ditampilkan ada dua. Yang di sebelah kanan menyambut masyarakat Belanda yang a.l diwakili oleh kalangan bangsawan, militer, cendekiawan, masyarakat pedesaan, pekerja, pelaut, dll. dengan persembahan karya kebanggaan Belanda a.l. kapal laut dan lukisan. Yang di sebelah kanan, dengan latar belakang pepohonan, menyambut warga Nusantara seperti orang Jawa, Aceh, Minang, Bali, dan Dayak dengan didampingi (atau dijaga?) tentara KNIL dan pejabat kolonial Belanda. Persembahan dari arah kanan bentuknya adalah gamelan, kerajinan tangan, tenunan, dan buah-buahan.
Juru foto/gambar: Johan Isings
Sumber / Hak cipta: C.C. Callenbach | Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 25 Januari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1903-1923

De Amsterdammer, 1 November 1903
(klik untuk memperbesar | © Johan Braakensiek / Universiteit Leiden)

Karikatur ini menggambarkan Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz menyambut kedatangan Merkurius, dewa perdagangan Romawi, di pelabuhan Sabang, yang menyusul Mars, dewa perang Romawi, yang sudah ada di sana. Karikatur ini bisa ditafsirkan bahwa dari awal Belanda memang memiliki motivasi ekonomi di dalam usahanya untuk menguasai Aceh.

De Amsterdammer, 26 Januari 1908
(klik untuk memperbesar | © Johan Braakensiek / Universiteit Leiden)

Karikatur di atas berasal dari era ketika para seniman besar Belanda di bidang pertunjukan pada mendatangi wilayah Nusantara. Nama-nama yang ditampilkan a.l. Louis Bouwmeester, Anton Kimmel, dan Albert Vogel. Mbok Indonesia yang merasa heran bertanya kepada Nona Belanda apakah mereka itu anak-anaknya. Nona Belanda menjawab bahwa mereka itu sekedar pencari emas.

(klik untuk memperbesar | © Louis Raemaekers / AVS)

Karikatur ini muncul antara tahun 1914 dan 1918 dan menggambarkan bagaimana seorang agen Jerman merayu rakyat Indonesia dengan menjanjikan senjata dan uang untuk mengenyahkan penjajah Belanda. Bahwa Jerman mencoba membangkitkan perlawanan rakyat Indonesia untuk mengusir Belanda, ini adalah hal yang tampkanya jarang disinggung sejarah.

(klik untuk memperbesar | © Piet van der Hem / AVS)

Karikatur ini muncul di tahun 1923, di saat Belanda melakukan banyak pengetatan anggaran. Tetapi, sebuah undang-undang dengan nama de Vlootwet (Undang-undang Armada) disahkan, guna mempertangguh kekuatan laut Belanda di wilayah Nusantara. Tampaknya saat itu Belanda sudah menyadari bahwa wilayah Nusantara dengan banyak pulau dan periarannya memerlukan armada laut yang tangguh. Boleh jadi Belanda juga sudah melihat bahwa kekuatan laut Jepang bisa menjadi ancaman serius; sebuah pandangan yang kemudian terbukti benar.

Waktu: 1903, 1908, 1918, 1923
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke beberapa peristiwa di Nusantara
Tokoh: Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek | Louis Raemaekers | Piet van der Hem
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk | Universiteit Leiden
Catatan:

Kamis, 02 Juli 2020

Pejabat Belanda, pembesar Tionghoa, dan pemuka warga Palembang di awal abad ke-20

1907: Pemuka warga Palembang dengan pakaian tradisional
(klik untuk memperbesar | © C. Nieuwenhuis / NGA)

21 Agustus 1923(?): Kemungkinan di sebuah acara pembukaan sebuah fasilitas
(klik untuk memperbesar | © Tjioe Kian Hoeat / NGA)

21 Agustus 1923(?): Kemungkinan di sebuah acara pembukaan sebuah fasilitas
(klik untuk memperbesar | © Tjioe Kian Hoeat / NGA)

21 Agustus 1923(?): Kemungkinan di sebuah acara pembukaan sebuah fasilitas
(klik untuk memperbesar | © Tjioe Kian Hoeat / NGA)

1924: Raden Haji Abdulroni
(klik untuk memperbesar | © M.A. Yamato / NGA)

Waktu:  1907, 1923, 1924
Tempat:  Palembang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:  C. Nieuwenhuis / M.A. Yamato / Tjioe Kian Hoeat
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 02 April 2019

Para bangsawan Nusantara di Belanda dalam rangkaian peringatan 25 tahun bertahtanya Ratu Wilhelmina, 1923

Kunjungan ke pabrik mobil di Trompenburg. Nomor 1 adalah GBPH Suryawijaya, nomor 2 adalah Sultan Bulungan, Maulana Muhammad Kasim Al-Din.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
KGPH Kusumoyudo dalam seragam kolonel KNIL di Apeldoom
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
KRT Rajiman Wedyodiningrat (kiri) dan KGPH Kusumoyudo (tengah) di Apeldoom
(klik untuk memperbesar | © Willem van de Poll / spaarnestad)

Waktu: 1923
Tempat: Belanda
Tokoh: KGPH Kusumoyudo (putra Pakubuwono XII), KRT Rajiman Wedyodiningrat (kerabat Keraton Solo, kelak menjadi Ketua BPUPKI), GBPH Suryawijaya (putera Hamengkubuwono VIII dari BRA Rukmi Aningdiya), Maulana Muhammad Kasim Al-Din (Sultan Bulungan)
Peristiwa:
Fotografer: Willem van de Poll (foto ketiga)
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan: Lihat juga posting sebelum ini.

Minggu, 20 Mei 2018

Budi daya kina di Jawa Barat pada awal abad ke-20

1907
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1923
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Cinyiruan, 1931
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1907, 1923, 1931
Tempat: Jawa Barat
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Jumat, 29 September 2017

Ketika hubungan Jepang-Belanda masih baik sebelum Perang Dunia II

Bukittinggi 1923: Acara pengumpulan dana untuk korban gempa bumi dahsyat Kanto
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Jakarta 1936: Konsul Jenderal Jepang di Batavia, Koshida Saichiro (kiri) dan penggantinya Ishizawa Yutaka (kanan)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Jakarta 1937: Duta Jepang di Hindia-Belanda, Kuwashima (duduk kedua dari kanan) bersama para pembesar Belanda
(klik untuk memperbesar | © Kolff & Co, G. / gahetna)
Bogor, Januari 1937: Parade warga Jepang di depan Istana Bogor dalam menyambut pernikahan Putri Juliana dan Pangeran Bernhard
(klik untuk memperbesar | © Kolff & Co, G. / gahetna)

Waktu: 1923, 1936, 1937
Tempat: Bogor, Bukittinggi, Jakarta
Tokoh:
Peristiwa: Bebeapa foto dari hubungan Jepang dan Hindia-Belanda ketika Belanda tampaknya belum menduga bahwa Jepang memiliki keinginan untuk menguasai Hindia-Belandadan mendepak Belanda dari Nusantara.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Minggu, 31 Juli 2016

Stasiun Radio Malabar Bandung (2): 1923-1933

Peresmian stasiun Malabar oleh Gubernur Jenderal Dirk Fock, 23 Mei 1923
(klik untuk memperbesar | © fotoleren/spaarnestad)
Para peserta peresmian stasiun Malabar, 23 Mei 1923
(klik untuk memperbesar | © fotoleren/spaarnestad)
Ruangan di stasiun Malabar, dengan alat dengar dan bicara, 1933
(klik untuk memperbesar | © fotoleren/spaarnestad)
Interior stasiun Malabar, 1933
(klik untuk memperbesar | © fotoleren/spaarnestad)
Waktu: 1923, 1933
Tempat: Bandung
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo / Fotoleren
Catatan: Pada saat itu Stasiun Radio Malabar merupakan sebuah sensasi teknologi karena merupakan stasiun komunikas tercanggih dan terkuat di belahan bumi bagian Selatan. Belanda memerlukan sarana ini agar bisa berkomunikasi langsung tanpa kabel dengan Hindia-Belanda. Tidak mengherankan, Jepang menjadikan stasiun ini sebagai target serangan utama di saat Perang Dunia II. Perang kemerdekaan membawa kerusakan berikutnya kepada stasiun ini; yang hingga sekarang hanya tinggal nama dan kenangan.

Sabtu, 23 Juli 2016

Pangeran Jogjakarta GBPH Suryawijaya di Belanda, 1923

(klik untuk memperbesar | © fotoleren/spaarnestad)
(klik untuk memperbesar | © fotoleren/spaarnestad)
GBPH Suryawijaya (kiri) bersama Kanjeng Raden Tumenggung Suryowinoto (kanan)
(klik untuk memperbesar | © Willem van de Poll / fotoleren/spaarnestad)
 Waktu: 1923
Tempat: Belanda
Tokoh: GBPH Suryawijaya (putera Hamengkubuwono VIII dari BRA Rukmi Aningdiya)
Peristiwa: GBPH Suryawijaya berkunjung ke Belanda mewakili Kesultanan Jogjakarta di dalam perayaan 25 tahun bertahtanya Ratu Wilhelmina.
Fotografer: Willem van de Poll (foto ketiga)
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo / Fotoleren
Catatan: GBPH Suryawijaya menulis naskah "Cathetan Tindakan dhateng Nagari Walandi ing Tahun 1923-1924" tentang perjalanannya ke Belanda ini.

Kamis, 14 Januari 2016

Minggu, 07 Juni 2015

Peresmian tugu peringatan Pangeran Aria Suriaatmaja di Sumedang, 1923

(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 1 Juni 1923
Tempat: Sumedang
Tokoh:
Peristiwa: Peresmian tugu peringatan untuk bupati Sumedang, Pangeran Aria Suriaatmaja. Suriaatmaja wafat di Mekkah dua tahun sebelumnya, yaitu 1 Juni 1921.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Kamis, 30 April 2015

Gundukan padi hasil panen di Bogor, 1923

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 1923
Tempat: Bogor
Tokoh:
Peristiwa: Petani dengan hasil panen yang menggunung, dan para wanita yang menumbuk padi di lesung.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Sabtu, 16 Agustus 2014

Pakubuwono X dalam beberapa foto (2)

Pakubuwono X turun dari kapal Belanda "Coen" bersama salah satu puteranya, KPGH Kusumayuda, 1923
(klik untuk memperbesar (c) gahetna)
Pakubuwono X bersantai dikelilingi beberapa monyet, 1924
(klik untuk memperbesar (c) gahetna)
Pakubuwono X dan sebagian keluarga menaiki kapal uap Belanda "Prins der Nederlanden", 1925
(klik untuk memperbesar (c) gahetna)
Pakubuwono X dalam acara Grebeg Maulud, 1926
(klik untuk memperbesar (c) gahetna)
Waktu: 1923-1926
Tempat: Solo, Jawa Tengah
Tokoh: Pakubuwono X (Raja Kasunanan Surakarta)
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief