Senin, 31 Maret 2025

Dari Papua sampai ke Aceh: Nusantara dalam sketsa keluaran tahun 1883 (10)

Sebuah penginapan di Jawa
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Tiga penjaga malam di Jakarta, dengan kentongan, galah penangkap maling, serta kendi air
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Dua perempuan, salah satunya memainkan gambang
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Ikat kepala pria Jawa (kiri) dan Melayu (kanan)
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Lihat juga posting 1, 2, dan 3 sebelum ini.

Minggu, 30 Maret 2025

Persiapan Hindia-Belanda menghadapi Perang Dunia II: Kegiatan di sebuah tangsi KNIL (1)

Lapangan upacara
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Barisan para perwira pada saat upacara
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Para anggota KNIL bersiap keluar dari tangsi
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Para perwira dengan kelewang di pinggang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1942 atau sebelumnya
Tempat: Bandung (?)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 29 Maret 2025

Dari Papua sampai ke Aceh: Nusantara dalam sketsa keluaran tahun 1883 (9)

Salah satu sudut kota Jakarta
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Perempatan Harmoni dengan "lapak" penjahit Perancis ternama di Jakarta ketika itu, Oger Frères, di sebalah kanan
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Sebuah jalan di Jakarta yang kemungkinan sekarang menjadi Jalan Gajah Mada/Hayam Wuruk
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Sebuah kampung di, saat itu pinggiran, Jakarta
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Lihat juga posting 1, 2, dan 3 sebelum ini.

Jumat, 28 Maret 2025

Wajah anggota milisi "Landstorm" dan "Stadswacht" bernama P. F. de Rochemont, 1932-1941

Bandung, 1932: P. F. de Rochemont (tengah belakang) bersama para anggota KNIL
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Jakarta, 1940: Sebuah kesatuan milisi Landstorm dengan P. F. de Rochemont berada di nomor 6 dari kanan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Jakarta, 1940: Kesatuan Landstorm di markas mereka di Kramat; P. F. de Rochemont berdiri nomor 2 dari kanan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Semarang, 1941: P. F. de Rochemont dalam seragam Stadswacht bersama anak dan istri di
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Semarang, 1941: Sersan P. F. de Rochemont bersama istri
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)


Waktu: 1932, 1940, 1941
Tempat: Bandung, Jakarta, Semarang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 27 Maret 2025

Dari Papua sampai ke Aceh: Nusantara dalam sketsa keluaran tahun 1883 (8)

Sebuah rumah orang Eropa di Jakarta (Jatinegara?)
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Kemungkinan Kali Besar di Jakarta
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Kawasan pohon beringin yang sekarang merupakan bagian dari Kebun Raya Bogor
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Arak-arakan mengiring sepasang pengantin di Jakarta
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Lihat juga posting 1, 2, dan 3 sebelum ini.

Rabu, 26 Maret 2025

Persiapan Hindia-Belanda menghadapi Perang Dunia II: Kesatuan paramiliter "Landstorm" dan "Stadswacht", 1940

Markas kesatuan Landstorm di kawasan Kramat, Jakarta
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Latihan kemiliteran kesatuan Landstorm di sekitar Jakarta
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Sebuah kesatuan Stadswacht berfoto bersama seusai latihan, sebagian di antaranya ditemani istri dan keluarganya, termasuk yang berwajah lokal
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)


Waktu: 1940
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga posting ini dan ini sebelumnya.

Selasa, 25 Maret 2025

Dari Papua sampai ke Aceh: Nusantara dalam sketsa keluaran tahun 1883 (7)

Alat transportasi zaman dulu untuk para pembesar, orang kaya, dan kemudian warga Belanda: tandu
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Istana Gubernur Jenderal Hindia-Belanda yang kelak menjadi Istana Bogor
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Taman yang sekarang menjadi Kebun Raya Bogor
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Tarian dengan menggunakan keris
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Lihat juga posting 1, 2, dan 3 sebelum ini.

Senin, 24 Maret 2025

Persiapan Hindia-Belanda menghadapi Perang Dunia II: Kapal perang "De Ruyter" dan "Sumatra, serta kapal selam "K XVIII"

Kapal perang "Sumatra" beserta segenap awaknya di Surabaya yang saat itu sedang direparasi (serangan Jepang kemudian keburu datang sehingga kapal ini dicoba diselamatkan dengan dilarikan ke Sri Lanka dan kemudian ke Inggris)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Para perwira kapal selam "K XVIII" di perairan sekitar Surabaya (kelak kapal ini berhasil menenggelamkan beberapa kapal militer Jepang, sebelum kemudian rusak berat terkena serangan Jepang)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Salah satu kapal perang andalan Belanda, "De Ruyter", kemungkinan dalam latihan di sekitar Tanjung Priuk (kapal ini menjadi kapal pemimpin dalam Perang Laut Jawa, dan ditenggelamkan Jepang bersama dengan komandannya, Laksamana Karel Doorman)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1942 atau sebelumnya
Tempat: Jakarta, Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 23 Maret 2025

Dari Papua sampai ke Aceh: Nusantara dalam sketsa keluaran tahun 1883 (6)

Pertunjukan tari ronggeng (?) di bawah pohon beringin dengan disaksikan khalayak ramai di Bogor
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Sebuah kampung (di Jawa?)
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Pertunjukan gamelan di sebuah pendopo
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Sebuah keluarga dengan dua anak (kemungkinan di Jakarta)
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Lihat juga posting 1, 2, dan 3 sebelum ini.

Sabtu, 22 Maret 2025

Presiden Negara Indonesia Timur, Cokorda Gde Raka Sukawati, di sekitar tahun 1947

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
 
Waktu: 1947
Tempat: ?
Tokoh: Cokorda Gde Raka Sukawati (bangsawan Bali yang menjadi Presiden Negara Indonesia Timur pertama dan satu-satunya)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 21 Maret 2025

Dari Papua sampai ke Aceh: Nusantara dalam sketsa keluaran tahun 1883 (5)

Sebuah mesjid di Ambon dengan atap rumbia dan konstruksi berbasis kayu
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Sebuah rumah warga Belanda/Eropa di Ternate dengan dua wanita membawa kipas di halamannya
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Senjata dan perabotan warga Papua
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Bangunan keramat warga Teluk Doreh di Manokwari
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Lihat juga posting 1, 2, dan 3 sebelum ini.

Kamis, 20 Maret 2025

Konferensi Asia-Afrika 1955: Pemandangan di dalam dan sekitar Gedung Merdeka

Suasana konferensi di dalam Gedung Merdeka
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Gedung Merdeka dengan penjagaan ketat aparat keamanan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Salah satu pertigaan Gedung Merdeka, dengan barisan tentara penabuh genderang di latar belakang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Khalayak menyaksikan barisan tentara penabuh genderang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: April 1955
Tempat: Bandung
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga rangkaian foto yang dimuat mulai posting tanggal 30 September 2013 hingga 17 November 2013.

Rabu, 19 Maret 2025

Dari Papua sampai ke Aceh: Nusantara dalam sketsa keluaran tahun 1883 (4)

Wajah dua pria asal Pulau Seram
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Desa Waru di pesisir Pulau Seram
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Salah satu sudut pantai di Ambon
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Jembatan di Desa Batu Merah di Ambon
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Lihat juga posting 1, 2, dan 3 sebelum ini.

Selasa, 18 Maret 2025

Perkebunan teh "Pangerango" di Sukabumi di sekitar awal tahun 1950-an - 4: Tampak dekat para pegawai dan perpisahan

Perkebunan teh "Pangerango" didirikan perusahaan "H.G.Th. Crone" di sekitar akhir abad ke-19/awal abad ke-20 di Pasir Datar, sebuah desa di kaki Gunung Pangrango, yang sekarang masuk Kecamatan Caringin, Sukabumi. "Henrich Gottfried Theodor Crone" sendiri merupakan sebuah usaha dagang di Amsterdam yang mengimpor hasil bumi dari Hindia-Belanda dan menjualnya di Eropa. Foto-foto berikut tidak mencantumkan tanggal, dan hanya berisi keterangan singkat. Jadi kemungkinan foto-foto ini berisi hal-hal ini:

  • Wajah area perkebunan setelah pemilik Belanda-nya kembali menyusul selesainya Perang Kemerdekaan dan adanya pengakuan kedaulatan dari Belanda terhadap Republik Indonesia.
  • Usaha membangun kembali bangunan pabrik yang tampaknya sebelumnya dibumihanguskan para pejuang kemerdekaan.
  • Wajah warga sekitar yang bekerja di pabrik teh.
  • Wajah para pegawai, termasuk bagian keamanan yang bersenjata api ketika suasana paska-pengakuan kedaulatan situasi masih dianggap belum stabil.
  • Foto perpisahan yang kemungkinan muncul setelah Soekarno menyerukan nasionalisasi aset-aset yang sebelumnya dikuasai dan dijalankan orang dan perusahaan Belanda.

Teh yang sudah dikemas dengan merek Pangerango dan Crone, dikelilingi pekerja dan pegawai
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pegawai keuangan di mejanya yang diisi a.l. dengan mesin tik dan brankas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pos keamanan dengan pedang dan deretan senjata api
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Komandan jaga dan pegawai keuangan di dekat sebuah truk
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
1956: Acara perpisahan di Hotel Preanger
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1950-an
Tempat: Bandung, Desa Pasir Datar (Sukabumi)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: