Tampilkan postingan dengan label Sungai Cisadane. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sungai Cisadane. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Agustus 2026

Berbagai foto semasa Perang Kemerdekaan dari koleksi tentara Belanda bernama Bob van Dijk (20)

PENGANTAR

Bob van Dijk adalah seorang tentara Belanda dari kesatuan zeni yang diterjunkan ke Nusantara, terutama di wilayah Jawa Timur, semasa Perang Kemerdekaan. Bob tampaknya menggemari fotografi, dan kamera fotonya banyak mengabadikan suasana sejak di berangkat dari Belanda melalui berbagai tempat dan pelabuhan sebelum akhirnya tiba di Hindia-Belanda. Blog ini akan mencoba untuk memperlihatkan karya-karya Bob ini yang a.l. banyak didominasi oleh suasana sehari-hari seorang tentara Belanda ketika bertugas di Indonesia.

Bob juga banyak membuat jepretan ketika dia bertugas di lapangan. Koleksi dia juga berisi beberapa foto dari medan pertempuran yang tampaknya merupakan karya jurnalis perang profesional seperti Hugo Wilmar. Secara keseluruhan, koleksi ini lumayan menarik karena memperlihatkan suasana sehari-hari semasa Perang Kemerdekaan dari sudut pandang seorang tentara Belanda.


Pemandangan ke sebuah kali di Surabaya, difoto dari sebuah mobil, dengan rangka mobil menjadi frame gelap yang mengelilingi objek foto
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tampaknya Bob juga memfoto ulang (?) beberapa kartu pos tentang pemandangan di sekitar Bogor, seperti Gunung Salak dengan pemukiman di mesjid di latar depan …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… atau Sungai Cisadane (?) dengan debit air besar serta kanalisasi yang rapi, dengan Gunung Salak di latar belakang …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… atau Kali Ciliwung dengan jembatannya yang berada di sekitar Kebun Raya Bogor
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah foto udara tanpa informasi sama sekali; tetapi kemungkinan besar dari Surabaya dengan keterangan seperti di bawah ini…
 (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar)

Waktu: semasa perang kemerdekaan, kartu pos mungkin berasal dari masa sebelum Jepang masuk ke Nusantara
Tempat: Bogor, Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Bob J. van Dijk, kecuali kartu pos
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 05 Maret 2025

Lukisan dari tahun 1830 tentang Anyer dan Bogor untuk mengenang Thomas Stamford Raffles dan kekuasaan Inggris di Jawa

Enam warga Inggris, dua di antaranya wanita, menyeberangi Sungai Cisadane di sekitar Batutulis, dengan latar belakang Gunung Salak
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Gedung yang kelak menjadi Istana Bogor, saat itu dengan bendera Union Jack, dengan latar belakang Gunung Gede, dan latar depan Sungai Cisadane
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Taman yang kelak menjadi Kebun Raya Bogor, dengan Gunung Gede di latar belakang, dan Sungai Ciliwung di kiri tengah
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Pemandangan di sekitar tugu yang didirikan di Anyer untuk mengenang Charles Allan Cathcart, seorang bangsawan Inggris yang ditunjuk menjadi duta untuk Tiongkok, tetapi meninggal dalam perjalanan di Selat Bangka, dan kemudian dimakamkan di Anyer
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1830
Tempat terbit: London
Tempat yang ditampilkan: Anyer, Bogor
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Lukisan-lukisan ini tampaknya diambil dari buku karya istri Raffles, Sophia, yang berjudul Memoir of the life and public services of Sir Thomas Stamford Raffles: particularly in the government of Java, 1811-1816, and of Bencoolen and its dependencies, 1817-1824: with details of the commerce and resources of the Eastern archipelago, and selections from his correspondence.

Kamis, 21 Maret 2024

Warga Tionghoa di masa perang kemerdekaan (30): Pengungsian di Serpong, 1946

Pengantar: Kerusuhan 1998 termasuk bagian paling hitam di dalam sejarah hubungan warga "pribumi" dan Tionghoa di Indonesia. Peristiwa ini memicu munculnya era reformasi yang kemudian memberikan banyak kemajuan di dalam hubungan ini.

Harus diakui, peristiwa di tahun 1998 bukanlah yang pertama. Kekurang-harmonisan ini sudah ada puluhan tahun sebelumnya, termasuk di masa perang kemerdekaan. Blog ini sebelumnya sudah memperlihatkan perusakan pada harta benda warga Tionghoa yang dilakukan pejuang kemerdekaan di beberapa tempat, dan bagaimana Belanda dipandang sebagai pelindung warga Tionghoa dan terlibat dalam pembentukan milisi Tionghoa bersenjata yang berseteru dengan para pejuang.

Sebagian dari kita boleh jadi berpendapat "Ah, sudahlah, itu masa lalu. Tidak diusah diungkit-ungkit, hanya akan membuka luka dan borok lama. Kita lihat ke depan saja agar ada hubungan yang lebih harmonis." Pendapat seperti ini mengimplikasikan bahwa kita sebaiknya menutup sejarah yang tidak enak didengar. Di sini ada kemungkinan bahwa generasi ke depan, dari semua pihak baik "pribumi" maupun Tionghoa, tidak mencernai apa yang telah terjadi sebelumnya, dan menghadapi risiko akan mengulang apa yang justru seharusnya dihindari.

Penyelidikan sejarah secara jernih, tanpa generalisasi, tanpa praduga, tanpa emosi, diharapkan bisa menjadi bahan yang berharga agar kita, semua, bisa belajar dari masa lalu. Gambar-gambar berikut mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi ke arah sana.

Pasukan Belanda yang datang ke Serpong
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pasukan Belanda menyeberangi Sungai Cisadane
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pasukan Belanda yang didominasi wajah lokal
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Warga Tionghoa Serpong di antara kendaraan militer Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pembagian makanan kaleng oleh militer Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 8 Juni 1946
Tempat: Serpong
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga posting terkait sebelum ini.

Selasa, 03 Mei 2022

Dari sebuah album foto tentang wilayah Priangan di sekitar tahun 1938 (5)

Danau Gunting di Kebun Raya Bogor
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jembatan Batutulis dengan latar belakang Gunung Salak, Bogor
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Panen singkong
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sungai Cisadane dengan latar belakang Gunung Salak, Bogor
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1938
Tempat: Bogor
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Wijnand Elbert Kerkhoff
Sumber / Hak cipta: Officieele Vereeniging voor Toeristenverkeer / National Gallery of Australia
Catatan:

Jumat, 01 Oktober 2021

Foto-foto dari "Album van Java" tentang Jawa-Maluku-Sulawesi menjelang akhir abad ke-19 (6)

PENGANTAR

Walter Bentley Woodbury dan James Page adalah dua orang Inggris yang menjadi salah dua perintis dunia fotografi profesional di Hindia-Belanda. Studio foto yang mereka dirikan di Batavia menjadi teladan bagi fotografer lain untuk mendirikan hal yang sama di Padang, Semarang, Surabaya, dan kota-kota lain di Nusantara. Blog ini sudah menampilkan banyak karya keluaran dari studio ini.

(klik untuk memperbesar | © NGA)

Di sekitar tahun 1890 studio ini mengeluarkan album dengan judul Album van Java, yang sejatinya juga berisi foto-foto dari Maluku dan Sulawesi juga. Ada kemungkinan pemesan album ini memang aktif atau pernah berkunjung ke wilayah-wilayah ini. Album ini berisi 42 foto, yang 40 di antaranya akan ditampilkan di sini sesuai nomor urut; 2 lainnya tidak tersedia di koleksi yang dipublikasikan oleh National Gallery of Australia ini. Tiap foto memiliki catatan tulisan tangan sehingga memudahkan kita untuk mengidentifikasi objek foto.


30. Warga Minahasa (1868)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
31. Danau Tondano di Minahasa (1868)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
32. Surabaya, kemungkinan di area pelabuhan (1868)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
33. Salah satu pojok Surabaya (1868)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
34. Seorang pria Makassar di depan pohon tua
(klik untuk memperbesar | © NGA)
35. Sungai Cidani/Cisadane (1868)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1868
Tempat (d.a.k.b.): Minahasa (2x), Surabaya (2x), Makassar, Jawa Barat
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 07 Juli 2021

Dari buku foto tentang Bogor terbitan Carl Lang (3): Bangunan zaman kolonial, 1883

PENGANTAR

Di awal tahun 1880-an penerbit Carl Lang di Bogor mengeluarkan sebuah buku berisi 24 foto tentang wilayah Bogor. Salah satu eksemplarnya terkumpul ke kolektor Leo Haks dalam kondisi bagus, dan kemudian menjadi khazanah dari National Gallery of Australia, yang akan ditampilkan di blog ini.

(klik untuk memperbesar | © NGA)(klik untuk memperbesar | © NGA)

13. Residentiekantoor, sekarang Gedung Karesidenan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
14. Gedung Societeit, sekarang sudah tidak ada
(klik untuk memperbesar | © NGA)
15. Hotel du Chemin de Fer, sekarang digunakan sebagai kantor polisi
(klik untuk memperbesar | © NGA)
16. Tangsi militer di Pabaton, sekarang kawasan Kodim dan Zeni
(klik untuk memperbesar | © NGA)
17. Jalan menuju Hotel Bellevue, dengan latar belakang Gunung Salak
(klik untuk memperbesar | © NGA)
18. Pemandangan dari Hotel Bellevue ke arah Sungai Cisadane dan Gunung Salak
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: antara 1880-1883
Tempat: Bogor
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Carl Lang | National Gallery of Australia
Catatan: Bandingkan foto no. 17 dengan foto ini yang dibuat sekitar tahun 1915.

Sabtu, 15 Mei 2021

Aneka wajah Nusantara dari album foto keluaran Toeristenbond voor Nederland terbitan 1911: 1-6

PENGANTAR

Di rangkaian posting sebelumnya blog ini menampilkan foto-foto dari album keluaran penerbit Kleynenberg & Co. dari tahun 1912-1914. Album yang berisi 150 foto ini menyajikan wajah-wajah Nusantara dari berbagai pelosok. Sebelumnya, di tahun 1911, Toeristenbond voor Nederland juga mengeluarkan album yang mirip. Album keluaran jawatan pariwisata Belanda ini berisi 100 foto yang juga menampilkan berbagai wajah Nusantara.

Isi album ini didominasi oleh foto karya Jean Demmeni, seorang fotografer campuran Perancis-Madura yang lahir di Padang Panjang dan banyak aktif di wilayah Minangkabau. Tidak mengherankan apabila hampir setengah dari album ini berisi foto dari wilayah Sumatera Barat.

Berbeda dengan album foto Kleynenberg yang mencakup banyak wilayah, album Toeristenbond ini masih membatasi tambahan liputan ke Jawa dan sedikit Sumatera Utara, di samping Sumatera Barat. Meski demikian, album ini tetap menarik karena mengindikasikan aspek warga Nusantara yang, paling tidak menurut khalayak Belanda saat itu, menarik untuk dicermati dari sudut pandang pariwisata.

Blog ini akan menampilkan ke-100 foto ini berurut sesuai nomornya. Foto-foto yang pernah dimuat sebelumnya, dalam konteks lain, akan diberi catatan.


1. Kawasan Pecinan di Pintu Kecil, Jakarta
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
2. Kebun Raya Bogor: Telaga bunga teratai yang saat itu diberi nama Victoria Regia
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
3. Kebun Raya Bogor: Kumpulan pohon pandan
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
4. Kebun Raya Bogor: Telaga yang saat itu diberi nama Nymphia
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
5. Kebun Raya Bogor: Jalan yang diapit pepohonan beringin
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
6. Sungai Cisadane dengan latar belakang Gunung Salak
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: album foto terbit tahun 1911, foto-fotonya tentunya dibuat sebelum itu
Tempat (d.a.k.b.): Jakarta, Bogor (5 kali)
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Jean Demmeni (kecuali no. 4?)
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: Foto no. 6 kemudian menjadi motif untuk poster pariwisata dari Vereeniging Toeristen Verkeer te Batavia yang pernah dimuat di posting ini.

Selasa, 17 November 2020

Dari album foto C.B. Nieuwenhuis tentang Bogor dan Minangkabau: Sekitar Kebun Raya Bogor

PENGANTAR

Christiaan Benjamin Nieuwenhuis termasuk orang yang berjasa mengabadikan banyak wajah Nusantara zaman dulu dan mewariskannya ke dunia sepeninggalnya. Blog ini sudah memuat beberapa foto karya orang Belanda yang wafat di Padang ini.

(klik untuk memperbesar | © NGA)

Salah satu kumpulan dari foto-foto jepretan dia adalah sebuah album berjilid merah di atas ini, yang berisi 30 foto, 6 di antaranya tentang Bogor dan sisanya mengenai Minangkabau. Blog ini akan menampilkannya di sini.


Paleis te Buitenzorg, kelak Istana Bogor
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah gazebo di Kebun Raya Bogor
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Beberapa bocah di Kebun Raya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pepohonan di Kebun Raya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Dua lelaki berpose di Kebun Raya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jembatan Batutulis
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1890, kecuali foto terakhir sekitar 1900
Tempat: Bogor
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: C.B. Nieuwenhuis
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Foto terakhir pernah dimuat di posting ini (dalam skala-abu dan hampir tanpa halaman album).