Tampilkan postingan dengan label penghulu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penghulu. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Juni 2021

Aneka wajah Nusantara dari album foto keluaran Toeristenbond voor Nederland terbitan 1911: 61-66

PENGANTAR

Di rangkaian posting sebelumnya blog ini menampilkan foto-foto dari album keluaran penerbit Kleynenberg & Co. dari tahun 1912-1914. Album yang berisi 150 foto ini menyajikan wajah-wajah Nusantara dari berbagai pelosok. Sebelumnya, di tahun 1911, Toeristenbond voor Nederland juga mengeluarkan album yang mirip. Album keluaran jawatan pariwisata Belanda ini berisi 100 foto yang juga menampilkan berbagai wajah Nusantara.

Isi album ini didominasi oleh foto karya Jean Demmeni, seorang fotografer campuran Perancis-Madura yang lahir di Padang Panjang dan banyak aktif di wilayah Minangkabau. Tidak mengherankan apabila hampir setengah dari album ini berisi foto dari wilayah Sumatera Barat.

Berbeda dengan album foto Kleynenberg yang mencakup banyak wilayah, album Toeristenbond ini masih membatasi tambahan liputan ke Jawa dan sedikit Sumatera Utara, di samping Sumatera Barat. Meski demikian, album ini tetap menarik karena mengindikasikan aspek warga Nusantara yang, paling tidak menurut khalayak Belanda saat itu, menarik untuk dicermati dari sudut pandang pariwisata.

Blog ini akan menampilkan ke-100 foto ini berurut sesuai nomornya. Foto-foto yang pernah dimuat sebelumnya, dalam konteks lain, akan diberi catatan.


61. Gunung Singgalang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
62. Keluarga Minang di depan rumah gadang di Koto Gadang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
63. Pesilat Minangkabau bersenjata kerambit
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
64. Sepasang pengantin Minangkabau bersama pendamping di Tilatang, Agam
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
65. Pertemuan para penghulu Minang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
66. Sekolah warga Minang di Tilatang, Agam
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: album foto terbit tahun 1911, foto-fotonya tentunya dibuat sebelum itu
Tempat: Sumatera Barat
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Jean Demmeni
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: Edisi lain dari foto no. 63 pernah dimuat sebelumnya di posting ini; no. 64 di posting ini.

Rabu, 19 Agustus 2020

Dari ekspedisi di Sumatera Tengah 1877-1879: Wajah warga dan penghulu Alahan Panjang

PENGANTAR

Pada tahun 1873 Belanda mendirikan Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap (Masyarakat Ilmu Bumi Kerajaan Belanda), mengikuti langkah serupa yang sebelumnya dilakukan oleh Perancis, Inggris, Jerman, dan Rusia. Ekspedisi besar pertama organisasi ini berlangsung empat tahun kemudian, yaitu penjelajahan di Midden-Sumatra ("Sumatera Tengah"), yang berlangsung dari tahun 1877 hingga 1879. Ekspedisi ini dilaksanakan oleh sebuah tim yang terdiri dari Arend Ludolf van Hasselt, Daniël David Veth, Johannes François Snelleman, serta Johannes Schouw Santvoort, dengan ditemani pendamping lokal.

Peta ekspedisi, dengan tambahan info tentang lokasi fotonya akan ditampilkan di blog ini (ikon biru), dan lokasi lain sebagai patokan (ikon merah)
(klik untuk memperbesar)

Peta di atas ini, dalam garis-garis merah, menunjukkan rute penjelajahan yang dilakukan oleh tim ini, yang mencakup wilayah Sumatera Barat, Jambi, dan Sumatera Selatan. Tim ini selain mengamati aspek geografi dan geologi dari tempat-tempat yang dijelajahi, juga mendokumentasikan aspek lain seperti flora dan fauna, hingga etnografi dan adat istiadat. Situs archive.org mengarsipkan publikasi-publikasi hasil penjelajahan ini, dalam bahasa Belanda.

Selain itu, ada juga album foto yang memuat 145 foto, yang sayangnya tidak ada di situs archive.org tsb. Untungnya, National Gallery of Australia, memiliki salah satu eksemplar dari album ini, meskipun beberapa halaman di antaranya hilang. Blog ini akan menampilkan foto-foto dari album ini, sejauh mungkin dalam format lembar aslinya, dengan warna yang sudah menguning.

(klik untuk memperbesar | © NGA)

Beruntung pula, Universiteit Leiden memiliki pula koleksi foto-foto ini, meskipun tampaknya dalam bentuk satuan, tidak dalam bentuk album. Bahkan, Universiteit Leiden tampaknya memiliki akses ke foto-foto lain dari ekspedisi ini yang tidak masuk ke dalam album. Blog ini pun akan menampilkannya, kali ini dalam format skala-abu. Lokasi-lokasi yang fotonya ditampilkan akan ditandai dengan ikon biru di peta di atas.


Foto dari album Daniel Veth:
Halaman kedua yang berisi potret
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Penghulu Kepala Alahan Panjang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pria dari Alahan Panjang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pria tua dari Alahan Panjang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Istri dari mantri (kopi?) Alahan Panjang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Wanita tua dari Alahan Panjang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Wanita muda dari Alahan Panjang
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Foto dari arsip Universiteit Leiden:
Pria dari Alahan Panjang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Istri dari mantri (kopi?) Alahan Panjang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Penghulu Kepala Alahan Panjang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Pria tua dari Alahan Panjang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Wanita muda dari Alahan Panjang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Wanita tua dari Alahan Panjang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: antara 1877 dan 1879
Tempat: Alahan Panjang (Solok)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia / Universiteit Leiden
Catatan:

Kamis, 04 Juni 2020

Wajah beberapa sekolah di zaman Belanda

Sebuah sekolah menengah untuk warga Belanda dan lokal. Sebagian murid pria lokal tampak mengenakan blankon, kain, dan tanpa alas kaki.
(klik untuk memperbesar | © L. Che Ian / NGA)
Sebuah sekolah untuk berbagai jenjang usia yang tampaknya khusus untuk pemuda lokal (kalau diasumsikan bahwa para perempuan Belanda adalah keluarga dari tenaga pengajar). Pakaian para pelajar sudah merupakan campuran dan kombinasi dari elemen Barat dan lokal.
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sekolah Zendings (misi) di Kuranga, Tomohon
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Purwokerto, antara 1930-1935: Pembukaan sekolah untuk anak perempuan di Mardikenya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah sekolah khusus untuk anak-anak perempuan, kemungkinan di Jawa Barat berdasarkan model kebayanya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah sekolah sangat sederhana di Bogor
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Waktu: tidak ada informasi tentang waktu pengambilan foto, kecuali foto nomor 4, tapi bisa dipastikan sudah di abad ke-20 sebelum zaman Jepang
Tempat: Bogor, Purwokerto, Tomohon
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Sabtu, 19 Oktober 2019

Tiga sketsa Minangkabau zaman dulu

Perempuan pegunungan Minangkabau; judul di bawahnya Maleische vrouwen enn bezeok afflegende
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)
Bukittinggi 1874
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)
Penghulu XIII Kota
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)

Waktu: abad ke-19
Tempat: Minangkabau
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Zwiggelaar Auctions
Catatan:

Kamis, 13 Juni 2019

Suasana sidang pengadilan di Indramayu di tahun 1902

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: antara 1901-1902
Tempat: kemungkinan Indramayu
Tokoh:
Peristiwa: Foto ini memperlihatkan contoh suasana sidang pengadilan di pulau Jawa di awal abad ke-20. Sidang dipimpin oleh seorang Belanda yang duduk di tengah (di sini Mr. J.M.Ch.E. le Rütte). Terdakwa duduk di hadapannya (di sini berbaju putih), diapit oleh dua saksi yang juga duduk di lantai. Panitera duduk di sebelah ketua sidang (berkerah putih), di sebelahnya adalah jaksa penuntut (di sini Raden Sujalma), yang didampingi oleh seorang penghulu (memakai sorban). Duduk di sisi lain dari meja persidangan adalah dua orang anggota Landraad (Dewan Daerah) dengan pakaian kebesaran. Sidang dijaga oleh empat ponggawa yang berdiri di sekitar meja.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Selasa, 11 Juni 2019

Bupati Garut, RAA Wiratanudatar VII bersama para wedana dan aparat pemerintahannya, 1902

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: antara 1901-1902
Tempat: Garut
Tokoh: Raden Adipati Aria Wiratanudatar VII (Bupati Garut 1871-1915; berdiri paling depan)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Sabtu, 23 Juni 2018

Para bupati wilayah Priangan berkumpul di Bandung, 1912

Duduk di kursi d.ki.k.ka.: R.T. Wiratatuningrat, R.A.A. Wiratanudatar VII, R.A.A. Suriaatmaja, R.A.A. Martanegara, R.D. Natakusumah (?)
(klik untuk memperbesar | © Charls & Co / Universiteit Leiden)

Waktu: 1912
Tempat: Bandung
Tokoh: Raden Tumenggung Wiratanuningrat (bupati Sukapura 1908-1937), Raden Adipati Aria Wiratanudatar VII (bupati Garut 1871-1915), Raden Adipati Aria Suriaatmaja (bupati Sumedang 1882-1919), Raden Adipati Aria Martanegara (bupati Bandung 1893-1918), Raden Demang Natakusumah (bupati Cianjur 1910-1912)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: Sukapura kemudian berganti nama menjadi Tasikmalaya; R.A.A. Suriaatmaja kemudian mendapat gelar "Pangeran".

Kamis, 21 Juni 2018

Pelantikan R.A.A. Suriadiningrat sebagai bupati Cianjur, 1920

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1920
Tempat: Cianjur
Tokoh: R.A.A. Suriadiningrat (bupati Cianjur 1920-1932), W.P. Hillen (residen Priangan)
Peristiwa: Pelantikan Suriadiningrat sebagai bupati Cianjur oleh residen Priangan, W.P. Hillen
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Sabtu, 12 Mei 2018

Wajah penghulu urusan agama di Priangan pada zaman Belanda, 1915

Haji Mustapa dan Raden Haji Muhamad Rusdi
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Raden Haji Muhamad Rusdi
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: 1915
Tempat: Jawa Barat
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: