Tampilkan postingan dengan label Negara Pasundan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Negara Pasundan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Oktober 2025

Sidang Parlemen Negara Pasundan di Bandung, 1948

Suasana di sebuah sidang parlemen Negara Pasundan yang tampak dihadiri seorang Belanda berseragam militer
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebagian dari peserta sidang yang tampil dalam berbagai jenis pakaian termasuk seragam ketentaraan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1948
Tempat: Bandung
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 22 November 2020

Karikatur Belanda yang kritis atas pembentukan negara-negara "boneka" federal, 1947-1949

Salah satu cara Belanda dalam mempertahankan kekuasaan di Indonesia, atau paling tidak memegang pengaruh atau malah kendali atas beberapa wilayah, adalah dengan membentuk negara-negara federal, terutama di luar Jawa. Kelihatannya Belanda ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Republik Indonesia hanyalah negara orang Jawa, atau malah hanya sebagian orang Jawa. Karikatur-karikatur di bawah ini memperlihatkan bahwa di Belanda sendiri ide ini dipertanyakan.

De Groene Amsterdammer, 31 Mei 1947
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur ini memperlihatkan bahwa Belanda, digambarkan sebagai 3 orang di belakang layar, mengatur seorang dalang untuk memperlihatkan besarnya "Negara Pasundan", yang sejatinya hanyalah bayangan dari sebuah wayang.

De Vlam, 15 Agustus 1947
(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Karikatur ini memperlihatkan bagaimana Van Mook membuat Konferensi Malino dengan memilah-milah Indonesia menjadi Bangka, Belitung, Indonesia Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dsb. dengan merangkul tokoh-tokoh yang dia sukai. Sementara Republik Indonesia, digambarkan dengan Sutan Sjahrir, sama sekali tidak diperhatikan, dan tampak gusar dengan aksi Van Mook ini.

De Vlam, 23 Januari 1949
(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Karikatur ini menggambarkan bagaimana banteng Indonesia, yang sebenarnya kuat, terikat oleh perjanjian Linggarjati. Keterbatasan ruang gerak ini dimanfaatkan oleh Van Mook untuk mengganggu sang banteng dengan menembakkan peluru-peluru "negara federal", seperti Bangka, Belitung, Jawa Barat, Kaimantan, Madura, Minangkabau, dan Palembang sementara Aceh, Ambon, dan Bali siap ditembakkan.

Waktu: 1947, 1949
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke kejadian di Indonesia
Tokoh: Hubertus Johannes van Mook (Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda), Sutan Sjahrir (Perdana Menteri RI)
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan | Wim van Wieringen
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 21 Oktober 2020

Foto para politisi Indonesia dari koleksi Anefo 1946-1948: Sebagian tokoh Republik Indonesia Serikat

Tengku Dzulkarnain (petinggi Negara Sumatera Timur)
(klik untuk memperbesar | Anefo / AVS)

Jumhana Wiriaatmaja (Perdana Menteri Negara Pasundan)
(klik untuk memperbesar | Anefo / AVS)

Anak Agung Gde Agung (Perdana Menteri Negara Indonesia Timur)
(klik untuk memperbesar | Anefo / AVS)

Tengku Mansyur (Wali Negara Sumatera Timur)
(klik untuk memperbesar | Anefo / AVS)


Waktu: 1948 atau sebelumnya
Tempat: ?
Tokoh: Tengku Dzulkarnain, Jumhana Wiriaatmaja, Anak Agung Gde Agung, Tengku Mansyur
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: (1) Anak Agung dan Jumhana kemudian menerima Negara Kesatuan Republik Indonesia dan aktif sebagai diplomat di luar negeri; (2) Foto Tengku Dzulkarnain dan Tengku Mansyur pernah dimuat di posting ini dalam ukuran yang lebih kecil.

Rabu, 06 Agustus 2014

Republik Indonesia Serikat (7) - Negara Pasundan

Pengantar: Sejarah Indonesia tentang masa tahun 1949-1950 akan menyebut kata RIS alias Republik Indonesia Serikat. Tetapi kita tidak banyak menemukan bahasan tentang hal itu. Boleh jadi karena negeri-negeri federasi ini dianggap negara boneka buatan Belanda, dan tokoh-tokohnya dipandang sebagai kaki tangan Belanda di dalam usaha mereka mempertahankan kendali mereka atas Indonesia.

Seri posting kali ini akan menampilkan beberapa foto yang berkenaan dengan RIS ini. Mudah-mudahan ini bisa berkontribusi di dalam menggali bagian sejarah Indonesia yang tampak terlantarkan ini.


Negara Pasundan

Presiden Negara Pasundan, R.A.A. M.M. Suria Kartalegawa (kiri) beserta "Menteri Penerangan" Kustomo, dalam proklamasi pendirian Negara Pasundan di Bandung, 4 Mei 1947, yang dimotori Partai Rakyat Pasundan.
[klik untuk memperbesar (c) gahetna]
Wali Negara Pasundan, R.A.A. Wiranatakusumah, berkunjung ke Purwakarta, dan disambut oleh murid sekolah menengah Purwakarta, 13 Agustus 1948 (?).
(c) gahetna

Waktu: 1947
Tempat: Bandung, Purwakarta
Tokoh: R.A.A. Wiranatakusumah (Wali Negara Pasundan), R.A.A. M.M. Suria Kartalegawa (Presiden Negara Pasundan)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal
Catatan: