Tampilkan postingan dengan label Mbok Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mbok Indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Februari 2021

Sambutan atas penerbangan pertama langsung dari Belanda ke Indonesia, 1925 & 1930

Keberhasilan melakukan penerbangan langsung dari Belanda ke Indonesia di bulan Oktober-November 1924, meskipun dengan banyak pemberhentian dan kendala (lihat posting tentang ini), merupakan hal yang sangat membanggakan warga Belanda. Betapa tidak, ini adalah penerbangan langsung terpanjang di dunia saat itu, dan sebuah pesawat dengan 3 awak membuktikan bahwa jarak 16.000 km bukan halangan untuk sebuah penerbangan langsung.

Tidak mengherankan apabila prestasi ini mendapat banyak perhatian, baik sebelum maupun sesudahnya, yang a.l. akan ditampilkan di bawah ini.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Ketika ketiga awak Fokker N-HACC kembali ke Belanda dari Indonesia, kali dengan pesawat berkode H-NACK, sambutan warga Belanda luar biasa (lihat posting ini). Majalah Het Leven mengeluarkan edisi khusus di bulan April 1925 untuk menyambut peristiwa ini. Sampul majalah memperlihatkan pesawat H-NACC dan bagaimana Nona Belanda dan Mbok Indonesia bisa saling mengulurkan tangan.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Petualangan pesawat Fokker H-NACC telah mengilhami perusahaan biskuit Elder di tahun 1930 untuk membuat permainan papan dengan nama Holland-Indiƫ Spel. Permainan ini dimulai di Amsterdam dengan tujuan Batavia dan kembali ke Amsterdam, dengan melewati kota seperti Athena dan Istanbul, tempat seperti gurun dan awan, serta menempuh bencana seperti badai, pendaratan darurat, hingga ke patah sayap.

Waktu: 1925, 1930
Tempat: Belanda
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 25 Januari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1903-1923

De Amsterdammer, 1 November 1903
(klik untuk memperbesar | © Johan Braakensiek / Universiteit Leiden)

Karikatur ini menggambarkan Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz menyambut kedatangan Merkurius, dewa perdagangan Romawi, di pelabuhan Sabang, yang menyusul Mars, dewa perang Romawi, yang sudah ada di sana. Karikatur ini bisa ditafsirkan bahwa dari awal Belanda memang memiliki motivasi ekonomi di dalam usahanya untuk menguasai Aceh.

De Amsterdammer, 26 Januari 1908
(klik untuk memperbesar | © Johan Braakensiek / Universiteit Leiden)

Karikatur di atas berasal dari era ketika para seniman besar Belanda di bidang pertunjukan pada mendatangi wilayah Nusantara. Nama-nama yang ditampilkan a.l. Louis Bouwmeester, Anton Kimmel, dan Albert Vogel. Mbok Indonesia yang merasa heran bertanya kepada Nona Belanda apakah mereka itu anak-anaknya. Nona Belanda menjawab bahwa mereka itu sekedar pencari emas.

(klik untuk memperbesar | © Louis Raemaekers / AVS)

Karikatur ini muncul antara tahun 1914 dan 1918 dan menggambarkan bagaimana seorang agen Jerman merayu rakyat Indonesia dengan menjanjikan senjata dan uang untuk mengenyahkan penjajah Belanda. Bahwa Jerman mencoba membangkitkan perlawanan rakyat Indonesia untuk mengusir Belanda, ini adalah hal yang tampkanya jarang disinggung sejarah.

(klik untuk memperbesar | © Piet van der Hem / AVS)

Karikatur ini muncul di tahun 1923, di saat Belanda melakukan banyak pengetatan anggaran. Tetapi, sebuah undang-undang dengan nama de Vlootwet (Undang-undang Armada) disahkan, guna mempertangguh kekuatan laut Belanda di wilayah Nusantara. Tampaknya saat itu Belanda sudah menyadari bahwa wilayah Nusantara dengan banyak pulau dan periarannya memerlukan armada laut yang tangguh. Boleh jadi Belanda juga sudah melihat bahwa kekuatan laut Jepang bisa menjadi ancaman serius; sebuah pandangan yang kemudian terbukti benar.

Waktu: 1903, 1908, 1918, 1923
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke beberapa peristiwa di Nusantara
Tokoh: Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek | Louis Raemaekers | Piet van der Hem
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk | Universiteit Leiden
Catatan:

Jumat, 01 Januari 2021

Karikatur karya Leo Jordaan tentang Mbok Indonesia, 1949

Vrij Nederland, 7 Mei 1949
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Di Eropa ada tradisi tiang Mei di mana masyarakat menari bersama di sekeliling sebuah tiang/batang pohon yang dihias. Di bulan Mei 1949 hanya negara kolonial Inggris, diwakili PM Clement Atlee, yang menari senang bersama mantan jajahannya, India; sementara Belanda (diwakili PM Willem Drees) dan Perancis (diwakili PM Robert Schuman) masing-masing harus pusing menghadapi penentangan dari wilayah jajahan Indonesia dan Vietnam.

Vrij Nederland, 14 Mei 1949
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Seminggu kemudian, Willem Drees sudah bisa mencapai beberapa kesepakatan dengan Mbok Indonesia. Namun ini bukan tanpa tantangan: PM Belanda sebelumnya, Louis Beel, tanpa menghindar dan tidak mau tahu tentang pendekatan Belanda-Indonesia ini. Perlu dicatat bahwa ketika kemudian Drees turun sebagai perdana menteri di tahun 1958, dia digantikan oleh Beel.

Waktu: 7 dan 14 Mei 1949
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke konflik Belanda-Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 30 Desember 2020

Karikatur karya Johan Braakensiek tentang Mbok Indonesia, 1905-1920

De Amsterdammer, 3 Desember 1905
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Karikatur ini menggambarkan kebingungan para politisi Belanda melihat rakyat Indonesia tak habis-habisnya beranak pinak. Si Mbok Indonesia bercerita kepada Dirk Fock (kelak menjadi Gubernur Jenderal Hindia-Belanda 1921-1926) dan rekan-rekannya bahwa dia melahirkan kembar empat, sebelumnya kembar tiga, sebelumnya lagi kembar empat, dst. Dirk Fock berkomentar bahwa mereka harus memikirkan pendidikan anak-anak ini, begitu kesempatan kerja, dan aspek lainnya.

De Amsterdammer, 16 Oktober 1908
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Jurnalis Belanda Charles Boissevain mengadakan perjalanan di Hindia-Belanda di tahun 1908 dan mempublikasikannya (a.l. sebagai buku yang terbit tahun 1909). Karikatur di atas menggambarkan bagaimana Mbok Indonesia merasa bahwa dia terlalu banyak didandani atau dipercantik oleh Boissevain sehingga menjauh dari realita. Boissevain menyahut bahwa kalau orang sudah mencintai seorang wanita, dia akan mengusahakan si wanita senantiasa tampak menawan.

De Amsterdammer, 7 November 1915
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Karikatur di atas tampak seperti adegan dari kisah pahlawan super, tapi sejatinya diinsprirasi oleh kisah Perseus yang akan membebaskan Andromeda dari cengkraman naga. Perseus menggambarkan Johan Paul van Limburg Stirum yang baru saja ditunjuk menjadi Gubernur Jenderal Hindia-Belanda yang baru, sementara Andromeda adalah (Mbok) Indonesia, dan naga adalah burokrasi yang tampaknya di saat itu pun sudah menjadi tantangan yang sulit untuk dihadapi seorang gubernur jenderal sekalipun.

De Amsterdammer, 28 Februari 1920
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Karikatur ini terbit dalam rangka menyambut hari kelahiran Multatuli (Eduard Douwes Dekker) yang ke-100, tepatnya 2 Maret 1920. Mbok Indonesia tampak digambarkan memberikan penghormatan kepada penulis yang telah membuka kekejaman penjajahan di Hindia-Belanda melalui karyanya Max Havelaar.

Waktu: 1905, 1908, 1915, 1920
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke persoalan terkait Indonesia (Hindia-Belanda)
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk | Universiteit Leiden
Catatan:

Jumat, 18 Desember 2020

Karikatur-karikatur karya Johan Braakensiek tentang Nona Belanda dan Mbok Indonesia, 1904-1930

Amerika punya Uncle Sam, Inggris memiliki John Bull, dan dari Belanda ada Nederlandse Maagd (Dutch Maiden; Nona Belanda). Nona Belanda ini bisa tampil dalam versi terhormat seperti dewi Romawi, atau versi ndeso dalam pakaian tradisional Belanda.

Para karikaturis Belanda zaman dulu tampaknya juga mencoba mengilustrasikan Hindia-Belanda dalam bentuk seorang perempuan. Perempuan ini bisa mengenakan kain dan kebaya, atau kain kemben. Si Mbok Indonesia ini terkadang langsing, terkadang juga berisi; terkadang terlihat lanjang, atau memiliki banyak anak.

Posting kali ini akan memperlihatkan si Nona Belanda dalam kaitannya dengan Indonesia, atau malah muncul bersamaan dengan si Mbok Indonesia.

De Amsterdammer, 14 Agustus 1904
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

John Bull, yang mengalami konflik di jajahannya di Afrika Selatan, bertemu dengan Nona Belanda, yang masih berperang melawan rakyat Aceh. John Bull menawarkan Nona Belanda untuk meniru cara dia di Afrika Selatan, yaitu dengan membuat kamp konsentrasi serta juga memerangi wanita dan anak-anak. Nona Belanda menampik dengan berujar bahwa dia memerangi musuhnya, tapi tidak menyiksanya.

De Amsterdammer, 16 April 1905
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Perang Jepang melawan Rusia di tahun 1904-1905, yang dimenangkan Jepang, telah membuat Nona Belanda merasa khawatir bahwa posisi Mbok Indonesia terancam. Si Nona berteriak minta pertolongan, yang disambut oleh PM Belanda Abraham Kuyper. Saat itu Belanda tampaknya sudah memiliki firasat bahwa Jepang suatu saat akan datang ke Indonesia.

De Amsterdammer, 20 Agustus 1905
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Louis Frederik Johannes Bouwmeester adalah salah seorang seniman teater dan perfilman Belanda yang terkenal. Di tahun 1905-1906 Bouwmeester meninggalkan Belanda untuk menjalankan bakat seninya di Hindia-Belanda. Kepergian ini membuat Nona Belanda tampak cemburu dan bertanya apakah Bouwmeester sudah merasa menjadi seniman yang terlalu besar untuk ukuran Belanda. Bouwmeester menjawab bahwa ada hal-hal kecil yang mendorongnya pergi, katanya sambil menggandeng tangan Mbok Indonesia.

De Amsterdammer, 14 Oktober 1916
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Karikatur ini memperlihatkan bagaimana berharganya wilayah jajahan Hindia-Belanda buat Nona Belanda, laksana untaian kalung zamrud.

De Amsterdammer, 9 Oktober 1920
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Nona Belanda memperkenalkan Dirk Fock sebagai Gubernur Jenderal Hindia-Belanda yang baru. Sambutan Mbok Indonesia cukup mengagetkan.

1930
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Letusan Gunung Merapi di tahun 1930 menginspirasi Johan Braakensiek untuk memperlihatkan bahwa Nona Belanda bisa menjadi pelindung bagi Mbok Indonesia dan anak-anaknya.

Waktu: 1904, 1905, 1916, 1920, 1930
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa terkait Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk | Universiteit Leiden
Catatan:

Sabtu, 14 November 2020

Karikatur tentang perasaan Belanda bahwa Amerika Serikat dan Jepang mengincar Hindia-Belanda

Ada beberapa karikatur Belanda yang menunjukkan bahwa Belanda merasa wilayah jajahan mereka di Nusantara ini diam-diam diincar oleh Amerika Serikat dan Jepang, dua kekuatan adi daya di Pasifik saat itu. Perasaan terhadap Jepang memang beralasan, karena Jepang sejak akhir abad ke-19 sudah menduduki Formosa, kemudian semenanjung Korea, dan Manchuria. Menarik bahwa Belanda juga merasa Amerika melirik wilayah Nusantara; boleh jadi ada alasan Belanda untuk itu yang sekarang kita tidak tahu.Yang jelas, sangkaan terhadap Jepang terbukti benar ketika di tahun 1942 Jepang berhasil mengusir Belanda dari wilayah Nusantara.

(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur di atas terbit bulan Oktober 1932. Kemungkinan ada peristiwa di Portugal atau Timor Timur yang sempat membuat ada semacam kevakuman kekuasaan di Timor Timur. Tampak Paman Sam, dan militer Jepang menghampiri sambil bertanya kepada Nona Belanda: "Tempat ini kosong?". Si Nona yang duduk di Timor Barat ini menjawab: "Tidak tahu, tapi apakah Tuan-tuan merasa tempat ini pas?"

(klik untuk memperbesar | © Piet van der Hem / AVS)

Karikatur ini terbit sekitar tahun 1939, memperlihatkan Paman Sam dan seorang samurai, tampaknya sama-sama berpura-pura, saling mempersilakan untuk memberikan jalan kepada Srikandi Indonesia.

(klik untuk memperbesar | © Louis Raemaekers / AVS)

Di tahun 1941 ancaman Jepang menjadi realitas. Karikatur di atas berkomentar bagaimana Belanda (singa) memiliki keberanian untuk melawan Jepang (naga), tapi menyayangkan bahwa si singa tidak bisa terbang. Ini tampaknya sudah menyiratkan bahwa Jepang akan lebih unggul.

(klik untuk memperbesar | © Louis Raemaekers / AVS)

Karikatur tahun 1941 ini memperlihatkan bagaimana akhirnya militer Jepang mendarat di Hindia-Belanda. Tetapi dia kaget melihat bagaimana Paman Sam sudah duduk di samping Mbok Indonesia. Jepang-san berteriak: "Aku pikir dia sendirian di sini."

(klik untuk memperbesar | © Charles Boost / AVS)

Ketika Jepang sudah kalah perang, tampaknya Belanda masih merasa bahwa Amerika tetap melirik Indonesia. Karikatur yang terbit tahun 1954 di atas memperlihatkan dua sikap Paman Sam terhadap Belanda: Tersenyum melihat Belanda bergabung di Uni Eropa Barat, tetapi berang melihat Belanda ada di Indonesia.

Waktu: 1932, 1939, 1941, 1954
Tempat: 
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan | Piet van der Hem | Louis Raemaekers | Charles Boost
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 04 Mei 2020

Soekarno dalam karikatur Belanda: 1931-1947

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Ini mungkin karikatur terawal yang menampilkan Soekarno. Gambar ini dimuat di harian De Notenkraker terbitan 1 Augustus 1931. Setahun sebelumnya Soekarno mengeluarkan pledoi "Indonesia menggugat" yang ditulisnya di penjara. Menteri Urusan Jajahan, Simon de Graaff, menyangkal adanya tahanan politik, dan dikutip menyebut "Kami tidak memiliki tahanan politik, hanya keadilan yang kokoh tertanam di sanubari."

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Harian Metro terbitan 26 Oktober 1945 menampilkan karikatur Soekarno di halaman depan dengan judul "Soekarno membebaskan Hindia[-Belanda]". Soekarno digambarkan mencoba membebaskan seorang perempuan terikat, perlambang Hindia-Belanda ("Mbok Indonesia"), dengan langsung menebang pohonnya, bukan membuka tali pengikatnya.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Karikatur terbitan 16 November 1946 menampilkan pertandingan bola, antara Soekarno, bersama Muhammad Hatta dan Sutan Sjahrir, di satu tim, melawan tim politisi Belanda a.l. yang terdiri dari Schermerhorn, van Mook, van Roijen (?), van Verduynen, dan Lampson. Yang menjadi objek tendang dan permainan adalah mahkota Kerajaan Belanda.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Karikatur keluaran 5 Juli 1947 ini menampilkan bagaimana Soekarno dan van Mook, yang sedang berdebat tentang (Perjanjian) Linggarjati, kaget ketika Amerika Serikat, dilambangkan dengan Paman Sam, datang bergabung dengan berkata "Hello boys! Aku datang untuk menengahi."

Waktu: 1931, 1945, 1946, 1947
Tempat:
Tokoh: Soekarno (pejuang kemerdekaan, kemudian Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa:
Karikaturis: Wybo Meyer, Marten Toonder, Eppo Doeve, Leendert Jurriaan Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: