Tampilkan postingan dengan label Arab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arab. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Agustus 2026

Dari Padang sampai ke Banda: Lukisan pemandangan Nusantara karya Charles William Meredith van de Velde, 1844 (9 - Makassar tambahan)

Charles William Meredith van de Velde (1818-1898) tampaknya seorang dengan berbagai bakat dan kemampuan. Dia pernah menjadi perwira angkatan laut, tentara bayaran, pembuat peta, anggota palang merah, hingga misionaris. Salah satu keahlian dia adalah menangkap keindahan alam dari tempat yang dia kunjungi, dan menuangkannya ke atas kanvas. Dia terkenal sebagai pembuat peta Palestina di pertengahan abad ke-19, serta pelukis kota dan tempat di Palestina yang dia singgahi. Sebelumnya, dia juga mengabadikan banyak tempat di Nusantara dalam beberapa karya lukisannya, yang akan kita lihat di seri berikut ini.
Kampung Melayu di Makassar yang ramai dengan orang berbusana lokal, Arab, Eropa, serta Tionghoa, dan tampaknya menjadi tempat transaksi perdagangan untuk saudagar dari banyak tempat
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)
Benteng Rotterdam di Makassar dengan latar belakang tiang-tiang kapal layar dan latar depan pria-pria Eropa
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1844
Tahun peristiwa: abad ke-19
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Paul Lauters yang menyalin dari karya Charles William Meredith van de Velde
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: 1) Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini. 2) Versi berwarna dari lukisan nomor 2 pernah dimuat di posting ini.

Rabu, 12 November 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (11)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Hardouin menggambarkan seorang saudagar Arab yang tiba di sebuah pelabuhan di Jawa. Dia mengenakan baju tradisionalnya, termasuk sandal khasnya. Dia ditemani oleh seorang bujang yang membawa kotak barang milik si saudagar.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI sangat bagus dalam menampilkan detail dari pakaian yang dikenakan dua orang ini. Mulai dari serban, jubah bergaris, rompi dengan ornamen, hingga ke baju dan celana si bujang berikut sarungnya.
(klik untuk memperbesar)
Secara harfiah, judul yang diberikan Hardouin adalah "seorang budak yang sedang mandi". Tetapi yang ditampilkan kemungkinan adalah seorang pembantu, atau malah seorang wanita biasa. Saat itu mandi di sungai adalah hal yang lumrah dilakukan, dan tradisi ini masih ada hingga sekarang di beberapa tempat.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
AI lumayan bagus dalam menampilkan si perempuan yang sedang mandi ini sehingga terkesan sangat realistis. AI juga menggambarkan tangga kayu yang di pijak, tonggak kayu di mana dua helai pakaian menumpuk, hingga ke susunan bata yang menjadi tangga menuju ke sungai. Menariknya, AI mengubah posisi mandi si perempuan lain, dan memindahkan si lelaki dari tepi air menjauh ke atas; boleh jadi agar hasil akhirnya tidak terlalu kontroversial.
(klik untuk memperbesar)
 
Tahun terbit: 1855
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 15 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (4)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Sebuah kereta yang ditarik empat kuda, dengan sepasang kusir dan sepasang pengawal memasuki halaman gedung yang kelak menjadi Istana Merdeka di Jakarta
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Dua orang kulit putih di depan monumen Pieter Erberverd, yang oleh warga Jakarta disebut si Pangeran Pecah Kulit. Pieter Erberverd adalah pria keturunan Jerman yang dituding VOC berencana berbuat makar untuk menggulingkan pemerintahan, dan kemudian dihukum dengan ditarik oleh empat kuda ke empat arah yang berbeda yang menghancurkan badannya
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Suasana di dalam trem yang ditarik kuda di Jakarta: tampak warga kulit putih duduk bercampur dengan orang Arab, Tionghoa bertaucang dan "berkumis Pai Mei", pasangan Indonesia bagian timur, serta warga asli Jakarta
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Dua pedagang Tionghoa menjajakan kain ke seorang perempuan yang tampaknya sangat berada. Karena di kiri belakang tampak Gereja Immanuel (saat itu Willemskerk), maka area berumput hijau adalah kawasan yang kemudian menjadi Lapangan Monas sekarang, dan rumah gedung ini kemungkinan besar berada di Jalan Merdeka Barat sekarang
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Arak-arakan warga Tionghoa yang merayakan Cap Go Meh dan menjadi tontonan warga; apabila diperhatikan, barisan panjang ini tampak didominasi oleh warga berwajah pribumi
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 25 Juni 2023

Aneka foto dari zaman Belanda karya para juru foto yang belum teridentifikasi (7)

Jakarta, 1885-1895: Foto studio seorang pemuda membelah kelapa
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jakarta, 1885-1895: Foto studio seorang pemudi membelah kelapa
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1900: Seorang pendatang Arab
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jawa: Sebuah rumah dengan pendopo besar dan halaman luas
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Bogor: Sekitar jembatan Batutulis (di sebelah kiri)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1895, 1900
Tempat: Jawa (a.l. Bogor, Jakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 14 Agustus 2019

Gambar-gambar akan Peladjaran dan KasoekaƤn Anak-anak dan Iboe-bapanja (5)

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Buku Gambar-gambar akan Peladjaran dan KasoekaƤn Anak-anak dan Iboe-bapanja pertama kali diterbitkan di tahun 1870, jadi lebih dari 100 tahun lalu. Buku ini terdiri dari 2x24 halaman yang berisi gambar-gambar berwarna dengan teks berbahasa Melayu Jakarta, disertai dengan terjemahan dalam bahasa Belanda. Tampaknya buku ini digemari masyarakat, sehingga harus menjalani beberapa kali cetak ulang, dan sisa-sisa peninggalannya sampai sekarang masih tersedia di perpustakan, museum, atau toko buku antik.

Jika kita mengamati buku ini sekarang, ada lumayan banyak hal yang bisa menjadi catatan kita tentang suasana di tanah air menjelang akhir abad ke-19 . Mulai dari penggunaan bahasa sebelum adanya nama Bahasa Indonesia, tradisi masyarakat saat itu, cara berpakaian, hal-hal yang dianggap penting saat itu, posisi orang Belanda, suasana warga Tionghoa, hingga ke peranan warga Arab, dsb.

(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Halaman 17 berkaitan dengan kerbau dan pemanfaatannya.
Kandang karbo … kandang kerbau
Meloekoe … meluku (=membajak)
Pedati … pedati
SĆØrĆØt tebangan … menyeret tebangan (pohon)

(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Halaman 18 menampilkan kegiatan anak-anak dan orang dewasa atau profesinya, serta pedagang dari etnik Arab dan Tionghoa. Gambar orang menggotong penyu lumayan mirip dengan sebuah foto tua yang pernah dimuat di blog ini.
Angon karbo … menggembala kerbau
Main goendoe … bermain kelereng
Mengantar … mengantar/membawa (upeti)
Pikoel koera-koera … memikul kura-kura
Tjat toedoeng … mencat caping
Tjina toekang babi … Tionghoa pedagang (daging) babi
Toekang laksa … tukang laksa
Toekang minatoe … tukang penatu
Toewan Said … pedagang Arab

(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Halaman 19: Di akhir abad ke-19 wilayah Nusantara belum mengenal radio, telepon, apalagi televisi dan sarana komunikasi yang lebih modern lagi. Telegrafi sudah dikenal, tetapi kemungkinan pemakaiannya masih terbatas, misalnya hanya untuk jalur kereta api yang saat itupun baru dirintis pembangunannya. Walhasil, media komunikasi yang utama adalah pos.
Sementara itu, transportasi bermotor belum muncul; jadi belum ada mobil apalagi pesawat terbang. Maka, metode pengantaran pos masih menggunakan cara yang sudah dipakai beratus-ratus tahun, yaitu menggunakan kereta kuda, atau hanya kuda untuk pos yang sifatnya segera atau kilat.
Boekoe soerat … buku (register) surat
Kahar pos … kereta pos (2 kuda)
Kahar pos … kereta pos (4 kuda)
Kartoe pos … kartu pos
Naik goenoeng … naik gunung
Pos toenggang koeda … pos tunggang kuda (kilat)
Soerat … surat
Toekang pos … tukang pos
Toeroen goenoeng … turun gunung

(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Halaman 20: Seperti disebut di atas, transportasi jarak jauh masih mengandalkan kuda. Halaman ini memperlihatkan hal dan peran yang terkait dengan sarana perhubungan ini; yang tampaknya terkait dengan kalangan berada saja. Perlu pula dicatat dari dua halaman terakhir ini bahwa tampaknya kusir dan loper (pengawal, asisten) tampaknya memiliki topi seragam tersendiri yang dibedakan dengan warna.
ƈmbĆØr … ember (untuk minum kuda dan rumput)
Ganti koeda … mengganti kuda
Koentji karĆØta … kunci kereta
Koesir … kusir
Lopor minta presĆØn … loper meminta persen (tip)
Tjilaka … kecelakaan



Waktu: akhir abad ke-19
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Tropenmuseum
Catatan:

Rabu, 19 September 2018

Wajah warga Arab di Hindia-Belanda di sekitar tahun 1901

Syekh Salim bin Mutlak Alkatiri, pedagang berlian di Surabaya
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
Syekh Salim bersama bocah Arab
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
Dua lelaki Arab dengan peci dan pakaian a la Eropa
(klik untuk memperbesar | © KITLV)

Waktu: antara 1901-1902
Tempat: Surabaya (dua foto pertama)
Tokoh: 
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Rabu, 25 Juli 2018

Manusia di Jawa dan sekitarnya dalam lukisan warna Ernest Hardouin: pendatang

PENGANTAR

Foto-foto hitam-putih dari zaman dulu tidak mengabarkan warna sebenarnya di balik skala abu-abu yang ditampilkan. Warna langit, daun, atau rumput tentu mudah ditebak; tetapi warna pakaian tidak semudah itu untuk diterka. Untung ada gambar warna-warni dari para pelukis zaman dulu. Tentu saja selalu ada kemungkinan bahwa si pelukis menampilkan warna pilihan dia yang berbeda dari yang sebenarnya, tapi paling tidak gambar seperti ini bisa memberikan bayangan tentang seperti apa zaman kelihatannya.

Salah satu pelukis itu adalah Ernest Hardouin yang mewariskan beberapa gambar dari sekitar tahun 1850-an. Hardouin tampak sudah menggambarkan proporsi manusia di Nusantara yang mendekati kenyataan, alias pendek; tidak seperti pelukis Eropa sebelumnya yang cenderung menampilkan manusia Nusantara jangkung seperti orang Eropa. Namun Hardouin kelihatannya menggambarkan orang di Jawa sehat-sehat atau cukup gizi; tidak kurus, ceking, atau tidak berisi. Boleh jadi Hardouin ingin menampilkan manusia yang estetis; bagaimanapun juga badan kurus kerontang bukanlah hal yang indah dipandang.

Selamat menikmati lukisan Hardouin!

Saudagar Arab
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Pendeta Tionghoa
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Pemain "kong a hian"
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Serdadu dari Afrika
Catatan: Belanda mengerahkan tentara seperti ini untuk melawan Pangeran Diponegoro dan para prajuritnya.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Orang Eropa
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: 1850-an
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer/Pelukis: Ernest Hardouin
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Minggu, 25 Maret 2018

Dewan pemerintahan daerah (regentschapsraad) di zaman Belanda: Bogor, 1926

PENGANTAR

Dimulai di pertengahan tahun 1920-an pemerintah Hindia-Belanda membentuk regentschapsraad (dewan pemerintahan daerah) di beberapa wilayah. Meski kewenangannya tidak besar, dan juga keanggotaannya tidak ditentukan rakyat, ini termasuk langkah maju di dalam menampung aspirasi warga jajahan, sebagaimana halnya pembentukan Volksraad beberapa tahun sebelumnya. Berdasarkan foto-foto yang tersedia, dewan pemerintahan daerah ini kelihatannya hanya dibentuk di wilayah Banten, Jakarta, Jawa Barat, dan sebagian kecil Jawa Tengah.

Yang menarik dari foto-foto ini adalah keanggotaan dewan dan bagaimana pakaian yang dikenakan menunjukkan latar belakangnya. Warga Belanda tentunya berpakaian a la Barat; dan tanpa tutup kepala. Jumlah warga Belanda ini umumnya sedikit, kecuali di daerah yang menjadi tempat favorit mereka tinggal, seperti Jakarta, Bandung, atau Garut.

Warga lokal memiliki keanekaragaman dalam hal berpakaian. Kelompok priyayi umumnya mengenakan blangkon, baju adat, serta kain batik untuk bawahannya. Warga yang mendapat pendidikan Barat sudah mengenakan pakaian a la Barat, misalnya bercelana panjang, berjas, berdasi, dan tanpa tutup kepala. Kaum bangsawan yang mengenyam pendidikan modern berada di tengah-tengah: tetap mengenakan blangkon dan baju adat, tetapi menambahinya dengan dasi, baik yang panjang maupun kupu-kupu; bawahannya bisa celana atau kain tradisional. Di samping itu ada juga kelompok ulama atau saudagar Muslim yang mengenakan serban atau peci, baju jas tertutup atau jubah panjang, dengan bawahan kain sarung atau celana panjang.

Hampir semua yang muncul di foto adalah laki-laki. Ada beberapa wanita kulit putih, serta perempuan berkebaya di foto tertentu; tapi tidak jelas apakah mereka anggota dewan juga, atau istri dari salah satu anggota dewan.

Dewan pemerintahan daerah Bogor, 1926
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Dewan pemerintahan daerah Bogor, 1926
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: antara 1926-1929
Tempat: Bogor
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: Ada kemungkinan dewan ini juga memiliki perwakilan dari warga keturunan Arab.