Tampilkan postingan dengan label Pieter Sjoerds Gerbrandy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pieter Sjoerds Gerbrandy. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Agustus 2024

Pertemuan warga Belanda penentang Republik Indonesia di Den Haag, 27 September 1947

Para peserta yang memenuhi gedung perkumpulan. Spanduk di samping bendera Belanda bertuliskan "Republik Indonesia berarti kungkungan, kekacauan, dan kesengsaraan. Berunding dengan gerombolan ini merupakan perkhianatan."
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Salah seorang pembicara yang merupakan penentang Republik Indonesia, politisi dari Partai Katolik dan mantan Menteri Urusan Tanah Jajahan, Charles Joseph Ignace Marie Welter
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pembicara lain yang sangat anti Republik Indonesia, mantan perdana menteri Belanda, Pieter Sjoerds Gerbrandy
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 27 September 1947
Tempat: Den Haag
Tokoh: lihat deskripsi di atas
Peristiwa: Pertemuan warga Belanda penentang Republik Indonesia
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 26 November 2020

Karikatur Belanda tentang Pieter Gerbrandy, mantan PM Belanda penentang Republik Indonesia, pendukung RMS

Pieter Sjoerds Gerbrandy adalah Perdana Menteri Belanda di pengasingan ketika Jerman Nazi menduduki Belanda semasa Perang Dunia II. Pengalaman dikuasai bangsa lain ini rupanya tidak berbekas di Pieter Gerbrandy; ketika Jerman kalah perang, kemudian Ratu dan pemerintah Belanda kembali ke tanah air mereka dari pengasingan, dan rakyat Indonesia menyatakan diri merdeka, Gerbrandy adalah tokoh yang sangat gigih menentang kemerdekaan Indonesia. Ketika penghujung 1949 sudah memperlihatkan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak dapat dibendung, Gerbrandy di tahun 1950 menyatakan dukungan atas pembentukan Republik Maluku Selatan.

Satu posting sebelum ini sudah menunjukkan sikap politisi Belanda ini dalam karikatur. Kali ini ada tambahan empat karikatur lagi tentang mantan Menteri Urusan Jajahan ini; semuanya karya dari karikaturis Leo Jordaan.

Het Parool, 18 Juni 1947
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Karikatur ini menyebut Gerbrandy salah mengambil cerutu, yang meledak di mulutnya, dan mengeluarkan asap berbunyi "Resolusi Partai Buruh: Jangan ada kekerasan di Indonesia". Tampaknya ada usaha Gerbrandy di parlemen Belanda yang justru malah menggolkan sikap Partai Buruh yang memang relatif lebih bersahabat dengan Indonesia.

De Groene Amsterdammer, 24 Januari 1948
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Tahun 1948 adalah masa kepopuleran Mahatma Gandhi dengan gerakan damainya, serta jubah putih sederhana, serta kambing. Karikatur di atas memperlihatkan bagaimana para tokoh dunia ingin dianggap pecinta damai seperti Gandhi, termasuk Harry Truman, Joseph Stalin, Winston Churchill, dan Charles de Gaulle. Gerbrandy pun ingin dianggap sama; hanya saja mukanya tidak bersahabat, malah kambingnya pun berwajah garang, dan tulisan yang dia usung memang keinginannya: "Pokoknya ke (=merebut) Jogja!".

Het Parool, 5 Mei 1948
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Ketidakpuasan Gerbrandy atas politik Belanda mengenai suasana di Indonesia membuat dia menggugat hal ini sebagai pelanggaran atas konstitusi. Sikap ini dikarikaturkan oleh Leo Jordaan dengan menggambarkan Gerbrandy sebagai Don Quichot yang akan memerangi kincir angin, dengan ditemani oleh politikus dari Partai Katolik, Charles Welter, yang mengambil posisi Sancho Panza.

Vrij Nederland, 14 Oktober 1950
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Ketika Republik Maluku Selatan dikumandangkan, Gerbrandy adalah tokoh yang menyerukan bantuan bersenjata untuk RMS. Karikatur di atas menggambarkan Gerbrandy sebagai sukarelawan pertama yang siap membantu RMS, dengan pakaian militer model kuno (kemungkinan menggambarkan bahwa dia masih memimpikan masa lalu), gombrang (kemungkinan menyimbolkan bahwa dia membesar-besarkan realita), dan bertumpu pada bantal (kemungkinan bahwa dia perlu penopang semu untuk kelihatan layak dilihat).

Waktu: 1947, 1948, 1950
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa di Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 04 Desember 2019

Para tokoh Belanda penentang perundingan Linggarjati dalam karikatur, 1946

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Beberapa kalangan di Belanda menentang perjanjian Linggarjati. Bagi mereka, perjanjian ini merupakan kekalahan bagi Belanda karena Republik Indonesia diakui secara hukum. Salah seorang penentang adalah Laksamana Conrad Helfrich, yang namanya terkenal karena kesatuan kapal selamnya di minggu-minggu pertama perang melawan Jepang di perairan Hindia-Belanda berhasil menenggelamkan lebih banyak kapal perang Jepang daripada kesatuan laut Inggris dan Amerika semasa perang secara keseluruhan.

Laksamana kelahiran Semarang ini digambarkan berada di kapal selam dan berteriak "Tembakkan torpedo ke kapal itu!" untuk menghalangi sebuah kapal penumpang bernama Cheribon yang merupakan simbol dari perundingan Linggarjati.

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Tokoh lain penentang perundingan Linggarjati adalah mantan PM Belanda, Pieter Sjoerds Gerbrandy, dan politisi dari Partai Katolik, Charles Welter, yang kelak menjadi ketua parlemen Belanda. Di karikatur di atas, Gerbrandy dan Welter digambarkan mengendap-endap bersama seorang tokoh lain bernama Marchant, yang bersama-sama tampaknya akan menyabot sebuah tenda berbendera "Lingga[d]jati".

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Karikatur di atas berjudul "[Perjanjian] Linggarjati ditandatangani" dan ada sebuah jembatan yang menghubungkan Belanda dan Indonesia. Namun, di bawah tampak berang-berang berwajah Gerbrandy tampak berkeliaran dan siap atau malah sedang menggeregoti tiang-tiang jembatan ini. Tulisan di bawah berbunyi "Sekarang, hati-hati dengan hewan pengerat!" Gerbrandy memang sangat menentang adanya Indonesia yang terpisah dari Kerajaan Belanda. Belakangan, dia mendukung Republik Maluku Selatan.

Waktu: 1946
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer / juru gambar: Leo Jordaan (nomor 2 dan 3)
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

UPDATE 9 November 2020: Karikatur nomor 2 dan 3 dalam versi yang lain

Karikatur karya Leo Jordaan ini terbit di Het Parool edisi 23 April 1947
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Karikatur karya Leo Jordaan ini terbit di Het Parool edisi 25 Maret 1947
(klik untuk memperbesar | © AVS)