Tampilkan postingan dengan label Purwakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Purwakarta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Desember 2022

Dari album foto seorang anggota Keraton Kanoman Cirebon (4)

PENGANTAR

Di antara album foto yang dibeli National Gallery of Australia dari koleksi Leo Haks, ada sebuah buku foto yang oleh NGA diberikan keterangan singkat "Samsoedin Indonesian family album 1930 - 1933". Sepintas isi album ini memang foto-foto keluarga Indonesia, yang berisi gambar dari anak kecil hingga dewasa, ketika di rumah atau sedang bepergian. Si keluarga tampaknya lumayan berada. Mereka memiliki mobil dengan plat nomor D, memiliki anjing ras, dan Samsoedin ini memiliki kamera yang tampaknya dia gunakan untuk mengambil banyak foto yang ada di album ini. Kemudian keluarga ini banyak berpergian, keliling Jawa, ke Bali, ke Palembang, bahkan sampai ke Singapura.

Si penyusun foto memberikan beberapa catatan, sehingga kita masih bisa mengetahui tentang apa foto-foto ini. Di salah satu foto ada keterangan De Koninklijke familie Kanoman, atau "Keluarga Kerajaan Kanoman". Ini menimbulkan dugaan bahwa keluarga yang ditampilkan di album ini adalah keluarga Keraton Kanoman, Cirebon. Dugaan ini diperkuat dengan catatan Samsoedin di foto dia bersama kerabat lelakinya yang diberi catatan 't Kanoman-trio and little brothers. Akhirnya catatan dia di awal album yang menyebutkan namanya, dan nama tempat "Soerabaja", "Bandoeng", "Java", dan "Kanoman" makin mengukuhkan dugaan ini.

Album ini menjadi menarik karena menampilkan golongan berada Indonesia di tahun 1930-an: pakaiannya, pendidikannya, bahasa yang digunakan, kegiatannya, serta pertemanannya. Album ini juga ikut memperlihatkan tempat mana saja yang menjadi tujuan perjalanan atau wisata saat itu. Dari album ini kita juga melihat bahwa Samsoedin ini sangat senang memfoto anak kecil terutama keponakannya, dan dalam beberapa foto juga kaum perempuan termasuk ibu dan saudara-saudara wanitanya. Ada juga foto yang memperlihatkan kunjungan Dr. Khalid Sheldrake ke Bandung. Khalid, yang nama aslinya Bertram William, adalah filantrop Inggris yang masuk Islam dan sempat dinobatkan menjadi Raja Islamestan di wilayah Xinjiang, RRT, sekarang.


Penjelajahan bersama teman-teman sekolah a.l. ke Subang, Gunung Tangkuban Perahu dan Gua (?) Pawon di Bandung, serta Situ Empang di Purwakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kunjungan ke Palembang dan Bali
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kenang-kenangan dari kunjungan ke Bangkalan, Cicalengka, Lamongan, dan menyebarangi Bengawan Solo melalui jembatan Babat-Widang di Tuban
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Foto keluarga a.l. di Jubileumspark Bandung dan Singapura
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kebun binatang Darmo di Surabaya dan berburu banteng di Tomo/Buahdua, Sumedang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Samsoedin dalam pakaian Bali, ayah-ibunya, serta sanak saudaranya, serta foto dari kunjungan ke Malang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
 
Waktu: di sekitar tahun 1930
Tempat: Bali, Bandung, Bangkalan, Cirebon, Lamongan, Malang, Palembang, Purwakarta, Singapura, Subang, Sumedang, Surabaya, Tuban
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: a.l. Samsudin
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 28 Februari 2018

Serangan pejuang kemerdekaan atas jalur kereta api: Purwakarta, 22 Oktober 1948 (5)

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 23 Oktober 1948
Tempat: Bendul, Purwakarta
Tokoh:
Peristiwa: Pada tanggal 22 Oktober 1948 sekitar pukul 16:50 para pejuang kemerdekaan sekali lagi menyabot jalur kereta Jakarta-Bandung di wilayah Bendul, Purwakarta. Setelah rangkaian kereta terlempar keluar jalur, sekitar 50 pejuang menyerbu menyerang tentara Belanda yang berada di gerbong-gerbong. Delapan tentara Belanda tewas, dan 23 terluka akibat serangan ini. Foto diambil sehari sesudahnya pada tanggal 23 Oktober 1948, memperlihatkan kerumunan warga di sekitar lokomotif yang terguling.
Fotografer: H. Wakker
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Senin, 26 Februari 2018

Serangan pejuang kemerdekaan atas jalur kereta api: Purwakarta, 22 Oktober 1948 (4)

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 23 Oktober 1948
Tempat: Bendul, Purwakarta
Tokoh:
Peristiwa: Pada tanggal 22 Oktober 1948 sekitar pukul 16:50 para pejuang kemerdekaan sekali lagi menyabot jalur kereta Jakarta-Bandung di wilayah Bendul, Purwakarta. Setelah rangkaian kereta terlempar keluar jalur, sekitar 50 pejuang menyerbu menyerang tentara Belanda yang berada di gerbong-gerbong. Delapan tentara Belanda tewas, dan 23 terluka akibat serangan ini. Foto diambil sehari sesudahnya pada tanggal 23 Oktober 1948, memperlihatkan kerumunan warga dan milisi pro-Belanda di lokasi kejadian.
Fotografer: H. Wakker
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Sabtu, 24 Februari 2018

Serangan pejuang kemerdekaan atas jalur kereta api: Purwakarta, 22 Oktober 1948 (3)

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 23 Oktober 1948
Tempat: Bendul, Purwakarta
Tokoh:
Peristiwa: Pada tanggal 22 Oktober 1948 sekitar pukul 16:50 para pejuang kemerdekaan sekali lagi menyabot jalur kereta Jakarta-Bandung di wilayah Bendul, Purwakarta. Setelah rangkaian kereta terlempar keluar jalur, sekitar 50 pejuang menyerbu menyerang tentara Belanda yang berada di gerbong-gerbong. Delapan tentara Belanda tewas, dan 23 terluka akibat serangan ini. Foto diambil sehari sesudahnya pada tanggal 23 Oktober 1948, memperlihatkan lubang-lubang peluru para pejuang yang merobek kaca dan gerbong kereta.
Fotografer: H. Wakker
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Kamis, 22 Februari 2018

Serangan pejuang kemerdekaan atas jalur kereta api: Purwakarta, 22 Oktober 1948 (2)

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 23 Oktober 1948
Tempat: Bendul, Purwakarta
Tokoh:
Peristiwa: Pada tanggal 22 Oktober 1948 sekitar pukul 16:50 para pejuang kemerdekaan sekali lagi menyabot jalur kereta Jakarta-Bandung di wilayah Bendul, Purwakarta. Setelah rangkaian kereta terlempar keluar jalur, sekitar 50 pejuang menyerbu menyerang tentara Belanda yang berada di gerbong-gerbong. Delapan tentara Belanda tewas, dan 23 terluka akibat serangan ini. Foto diambil sehari sesudahnya pada tanggal 23 Oktober 1948, memperlihatkan gerbong yang keluar rel, beberapa bagian kereta yang rusak termasuk terkena tembakan, beberapa senjata yang ditemukan, dan milisi pro-Belanda yang menjaga lokasi kejadian.
Fotografer: H. Wakker
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Selasa, 20 Februari 2018

Serangan pejuang kemerdekaan atas jalur kereta api: Purwakarta, 22 Oktober 1948 (1)

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 23 Oktober 1948
Tempat: Bendul, Purwakarta
Tokoh:
Peristiwa: Pada tanggal 22 Oktober 1948 sekitar pukul 16:50 para pejuang kemerdekaan sekali lagi menyabot jalur kereta Jakarta-Bandung di wilayah Bendul, Purwakarta. Setelah rangkaian kereta terlempar keluar jalur, sekitar 50 pejuang menyerbu menyerang tentara Belanda yang berada di gerbong-gerbong. Delapan tentara Belanda tewas, dan 23 terluka akibat serangan ini. Foto diambil sehari sesudahnya pada tanggal 23 Oktober 1948, dan memperlihatkan rangkaian kereta dari jarak agak jauh.
Fotografer: H. Wakker
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Minggu, 18 Februari 2018

Serangan pejuang kemerdekaan atas jalur kereta api: Purwakarta, 21 Agustus 1948 (2)

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 22 Agustus 1948
Tempat: Bendul, Purwakarta
Tokoh:
Peristiwa: Pada tanggal 21 Agustus 1948 sekitar pukul 22:20 para pejuang kemerdekaan menyabot jalur kereta Jakarta-Bandung di wilayah Bendul, Purwakarta. Aksi ini mengakibatkan rangkaian gerbong terlempar keluar jalur, dan beberapa gerbong termasuk lokomotif jatuh ke jurang sedalam 15 meter. Dikabarkan peristiwa ini memakan korban 5 tewas dan 7 cedera. Foto diambil sehari sesudahnya pada tanggal 22 Agustus1948.
Fotografer: H. Wakker
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Jumat, 16 Februari 2018

Serangan pejuang kemerdekaan atas jalur kereta api: Purwakarta, 21 Agustus 1948 (1)

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 22 Agustus 1948
Tempat: Bendul, Purwakarta
Tokoh:
Peristiwa: Pada tanggal 21 Agustus 1948 sekitar pukul 22:20 para pejuang kemerdekaan menyabot jalur kereta Jakarta-Bandung di wilayah Bendul, Purwakarta. Aksi ini mengakibatkan rangkaian gerbong terlempar keluar jalur, dan beberapa gerbong termasuk lokomotif jatuh ke jurang sedalam 15 meter. Dikabarkan peristiwa ini memakan korban 5 tewas dan 7 cedera. Foto diambil sehari sesudahnya pada tanggal 22 Agustus1948.
Fotografer: H. Wakker
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Selasa, 17 Oktober 2017

Perayaan 50 tahun bertahtanya Ratu Wilhelmina, 1948

Lomba gigit koin di alun-alun Banyumas
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Pawai masyarakat Alor Timur
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Pawai anak-anak di Purwakarta
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Upacara di istana Gubernur-Jenderal
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 6 September 1948
Tempat: Alor, Banyumas, Jakarta, Purwakarta
Tokoh:
Peristiwa: Pada tanggal 6 September 1948 warga Belanda merayakan 50 tahun bertahtanya Ratu Wilhelmina, termasuk di wilayah yang dikuasai Belanda di Indonesia. Wilhelmina sendiri, dengan perayaan 50 tahun ini, menjadi penguasa Belanda terlama dalam sejarah.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Kamis, 18 Mei 2017

TNI hijrah dari Purwakarta (11): Prajurit TNI yang diangkut dengan truk

PENGANTAR

Perundingan Renville menghasilkan keputusan yang diperdebatkan: di satu sisi, Belanda mengakui secara resmi eksistensi Republik Indonesia; di sisi lain, Republik Indonesia hanya diakui di Yogyakarta serta sebagian dari wilayah Banten, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Salah satu konsekuensinya adalah bahwa pasukan TNI harus hengkang dari luar wilayah itu. Maka dimulailah proses perpindahan pejuang TNI secara besar-besaran yang dikenal dengan istilah hijrah.

Banyak wilayah di Jawa Barat menjadi tempat awal proses hijrah. Pasukan TNI berkumpul a.l. di Cianjur, Cicurug, Ciwidey, Kuningan, Purwakarta, dan Sukabumi untuk meninggalkan kampung halaman dan tempat perjuangan menuju Jawa Tengah. Tapi bukan hanya dari Jawa Barat, proses hijrah juga tercatat terjadi di Sumatera Selatan (pangkalan udara Karang Endah, Gelumbang, Muara Enim), Jawa Tengah (Banyumas, Kroya), dan Jawa Timur (Bangil).

Pihak Belanda lumayan banyak membuat foto dari peristiwa ini. Betapa tidak, inilah kesempatan Belanda untuk mendokumentasikan pejuang TNI tanpa harus takut adanya baku tembak.

Kita akan lihat bagaimana pasukan TNI sebagian besar berperlengkapan seadanya, bahkan sering tanpa alas kaki. Tapi ini semua tidak menghalangi mereka untuk berbaris dengan bangga memasuki area permulaan hijrah. Ini akan sangat mendukung pernyataan bahwa TNI itu memang "berasal dari rakyat".

Beberapa foto lain akan memperlihatkan bagaimana beragamnya senjata TNI. Senjata-senjata itu harus diserahkan ke pihak Belanda sebelum proses hijrah dimulai. Kita akan lihat senapan dan mitraliur, granat dan ranjau, hingga ke pedang samurai Jepang, bahkan sampai ke ban-ban mobil untuk diserahkan ke pihak Belanda.

Kita juga akan lihat bahwa pasukan TNI bukan hanya lelaki, tetapi juga dari kaum perempuan. Ini sangat menarik buat pihak Belanda sehingga mereka membuat beberapa foto dari para pejuang wanita ini. Selain pejuang wanita, Belanda juga mencatat bahwa ada juga pejuang TNI yang masih bisa dikategorikan sebagai anak-anak. Selain itu, juru foto Belanda memperlihatkan bagaimana isteri dan keluarga pejuang TNI rela ikut meninggalkan kampung halaman mereka menuju wilayah baru yang boleh jadi tidak pernah mereka kenal atau lihat sebelumnya.

Selanjutnya, di beberapa foto akan kita lihat bagaimana pejuang TNI bisa ngobrol santai dengan pasukan Belanda, malah berfoto bersama sambil tersenyum. Suatu hal yang boleh jadi tak terbayangkan sebelumnya ketika kedua belah pihak masih saling bertempur.

Selamat menyimak bagian dari sejarah kita ini!

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 8 Februari 1948
Tempat: Purwakarta (Jawa Barat)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: H. Wakker
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Selasa, 16 Mei 2017

TNI hijrah dari Purwakarta (10): Suasana stasiun Purwakarta menjelang pemberangkatan pasukan TNI

PENGANTAR

Perundingan Renville menghasilkan keputusan yang diperdebatkan: di satu sisi, Belanda mengakui secara resmi eksistensi Republik Indonesia; di sisi lain, Republik Indonesia hanya diakui di Yogyakarta serta sebagian dari wilayah Banten, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Salah satu konsekuensinya adalah bahwa pasukan TNI harus hengkang dari luar wilayah itu. Maka dimulailah proses perpindahan pejuang TNI secara besar-besaran yang dikenal dengan istilah hijrah.

Banyak wilayah di Jawa Barat menjadi tempat awal proses hijrah. Pasukan TNI berkumpul a.l. di Cianjur, Cicurug, Ciwidey, Kuningan, Purwakarta, dan Sukabumi untuk meninggalkan kampung halaman dan tempat perjuangan menuju Jawa Tengah. Tapi bukan hanya dari Jawa Barat, proses hijrah juga tercatat terjadi di Sumatera Selatan (pangkalan udara Karang Endah, Gelumbang, Muara Enim), Jawa Tengah (Banyumas, Kroya), dan Jawa Timur (Bangil).

Pihak Belanda lumayan banyak membuat foto dari peristiwa ini. Betapa tidak, inilah kesempatan Belanda untuk mendokumentasikan pejuang TNI tanpa harus takut adanya baku tembak.

Kita akan lihat bagaimana pasukan TNI sebagian besar berperlengkapan seadanya, bahkan sering tanpa alas kaki. Tapi ini semua tidak menghalangi mereka untuk berbaris dengan bangga memasuki area permulaan hijrah. Ini akan sangat mendukung pernyataan bahwa TNI itu memang "berasal dari rakyat".

Beberapa foto lain akan memperlihatkan bagaimana beragamnya senjata TNI. Senjata-senjata itu harus diserahkan ke pihak Belanda sebelum proses hijrah dimulai. Kita akan lihat senapan dan mitraliur, granat dan ranjau, hingga ke pedang samurai Jepang, bahkan sampai ke ban-ban mobil untuk diserahkan ke pihak Belanda.

Kita juga akan lihat bahwa pasukan TNI bukan hanya lelaki, tetapi juga dari kaum perempuan. Ini sangat menarik buat pihak Belanda sehingga mereka membuat beberapa foto dari para pejuang wanita ini. Selain pejuang wanita, Belanda juga mencatat bahwa ada juga pejuang TNI yang masih bisa dikategorikan sebagai anak-anak. Selain itu, juru foto Belanda memperlihatkan bagaimana isteri dan keluarga pejuang TNI rela ikut meninggalkan kampung halaman mereka menuju wilayah baru yang boleh jadi tidak pernah mereka kenal atau lihat sebelumnya.

Selanjutnya, di beberapa foto akan kita lihat bagaimana pejuang TNI bisa ngobrol santai dengan pasukan Belanda, malah berfoto bersama sambil tersenyum. Suatu hal yang boleh jadi tak terbayangkan sebelumnya ketika kedua belah pihak masih saling bertempur.

Selamat menyimak bagian dari sejarah kita ini!

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 5 Februari 1948
Tempat: Purwakarta (Jawa Barat)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: H. Wakker
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: