Tampilkan postingan dengan label kuburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuburan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Agustus 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang area kuburan di Tidore

Kemungkinan area pemakaman petinggi Kesultanan Tidore dengan latar belakang Gunung Kie Matubu
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1858
Tahun peristiwa: abad ke-19
Tempat terbit: kemungkinan Belanda
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: G.J. Bos yang menyadur dari J.T. Bik
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Senin, 03 Agustus 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang kuburan Tionghoa di Ambon

(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1833
Tahun peristiwa: abad ke-19
Tempat terbit: Perancis
Tokoh:
Deskripsi: Lukisan yang memperlihatkan seorang pria bule melukis pemandangan di area pemakaman Tionghoa di Ambon, dengan dipayungi seorang wanita lokal. Seorang pria Tionghoa tampak berbincang dengan seorang lelaki bule lain yang memegang senapan.
Juru foto/gambar: Alexis Noel yang menyadur karya Sainson
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Rabu, 22 Juli 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang tugu Charles Allan Cathcart di Anyer

(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1835
Tahun peristiwa: tahun 1830-an
Tempat terbit: Inggris
Tokoh:
Deskripsi: Charles Allan Cathcart adalah seorang bangsawan dan politisi Inggris yang ditunjuk oleh Raja George III untuk menjadi duta Kerajaan Inggris di Tiongkok. Dalam pelayaran dari India menuju Tiongkok, Cathcart meninggal di Selat Bangka dalam usia 28 tahun di tahun 1788. Awak kapal yang membawanya berbalik menuju Jawa dan berlabuh di Anyer untuk memakamkannya dan mendirikan sebuah monumen pengenang. Lukisan di atas memperlihatkan tugu berwarna putih dengan latar belakang pepohonan dan perbukitan di sekitar Anyer.
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: 1) Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini. 2) Versi tidak berwarna dari gambar di atas pernah dimuat di posting ini.

Selasa, 23 Juni 2026

Pencarian jenazah korban pembantaian Jepang di Laha, Ambon, 1945 (3)

Di akhir Januari dan awal Februari 1942 Sekutu berusaha menahan gerak maju pasukan Jepang di Ambon dengan mengerahkan sekitar 2.600 personel KNIL dan 1.100 prajurit Australia. Kekuatan Jepang dengan lebih dari 5.000 tentara tetapi tidak terbendung; mereka berhasil mencerai-beraikan posisi Sekutu dalam pertempuran yang dikenang sebagai Battle of Ambon.

Lebih dari 2.000 prajurit KNIL dan Australia ditahan atau menyerahkan diri. Militer Jepang memilih acak sekitar 300 dari mereka dan membantainya dengan cara dibayonet, disiksa, atau malah dipenggal kepala; dan kemudian membuang atau menguburkan jenazahnya di sekitar pangkalan udara di Laha, yang sekarang menjadi Bandara Pattimura. Peristiwa ini dicatat pihak Australia sebagai massacre of Laha.

Di September 1945, setelah Jepang kalah perang, pihak Australia berusaha mencari jasad dan sisa-sisa dari korban pembantaian ini. Hanya 71 yang ditemukan.

Tulang belulang dan tengkorak yang mengindikasikan adanya kekejaman sebelum atau pada saat eksekusi
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Serakan tulang rusuk dari korban pembantaian
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan September 1945
Tempat: kemungkinan Laha (Ambon)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Catatan asli foto menyebut tanggal "23 November 1946", tetapi ada kemungkinan kedua foto di atas merupakan dari foto-foto yang pernah dimuat di posting ini sebelumnya.

Minggu, 19 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (21)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Makam Sultan Palembang, Mahmud Badaruddin II, di Ternate yang menjadi tempat pembuangan pahlawan yang melawan usaha Belanda menguasai Kesultanan Palembang. Rappard dipastikan membuat lukisan ini berdasarkna foto yang beredar sebelumnya (lihat di sini).
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Istana Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan yang sekarang menjadi Museum "Balla' Lompoa" atau "Balla' Lompoa ri Sungguminasa". Bangunan ini sepenuhnya menggunakan konstruksi kayu, dengan lantai yang lumayan tinggi dari permukaan tanah. Sebuah tangga beratap menjadi akses tunggal untuk keluar masuk dari dan menuju bagian dalam dari istana ini.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah jalan di Ambon yang tampaknya berada di kawasan warga berada. Ini terlhat dari bangunan tembok bercat putih, yang meski tidak beratap genting tetap berukuran relatif besar dan membutuhkan banyak tiang penyangga. Seorang Belanda dengan pakaian perlenta tampak berjalan, di antara tukang sapu jalan, seorang ibu yang menggendong anak, dan pedagang pikul yang menawarkan jualannya ke seorang pria di sebuah rumah.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Suasana di perairan Pulau Ternate yang memperlihatkan pemukiman di pesisir serta perahu dan kapal layar yang meramaikan lalu lintas laut di sekitar pulau ini. Di latar belakang tampak kepulan asap keluar dari Gunung Gamalama
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Sabtu, 27 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (10)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Bogor: Sebuah warung yang menjajakan nasi beserta pisang. Seorang pelanggan tampak duduk menunggu makanannya, sementara seorang pelanggan lain minum langsung dari kendi. Di latar tengah tampak seorang pemikul dan seorang perempuan berpayung yang mengindikasikan sebuah kawasan dengan cahaya matahari yang tak banyak terhalangi.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Bogor: Seorang pemikul menyusuri jalan mendaki yang dibuat dengan membelah gundukan yang tinggi di tepi sebuah sungai berbatu dan pesawahan 
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Bogor: Memetik buah kopi yang memerah di sebuah perkebunan, dengan berdiri menggunakan tangan, memakai galah, atau menaiki tangga, dan juga meminta bantuan seorang anak kecil sebagai pemungut 
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Bogor: Dua wanita berkebaya putih dan berkain serta membawa payung kertas dan mengenakan selop, yang menunjukkan posisi sosial mereka yang tinggi, mendatangi seorang wanita lokal yang duduk menenun di dipan di halaman sebauh rumah bambu. Satu dari wanita bekebaya putih bisa dipastikan merupakan perempuan Belanda.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Kuburan Belanda di Kebun Raya Bogor: Seorang penyapu tampak membersihkan kawasan pemakaman yang sampai sekarang masih lumayan terawat dengan susunan prasasti yang tidak jauh berbeda dari yang ditampilkan di gambar di atas
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 25 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (9)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Bogor: Aktivitas warga di sebuah sungai kecil di tepi sebuah perkampungan. Seorang wanita tampak memeras pakaian, di dekat sekeranjang baju dan seorang wanita lain yang duduk bersimpuh. Sementara itu seorang wanita lain tampak pulang membawa pakaian dan menuntun anaknya.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Bogor: Sebuah tempat penggilingan padi yang menggunakan batu. Tiga lelaki tampak melakukan aktivias berbeda-beda di penggilingan ini: ada yang memecahkan bilah kayu, menebar bulir padi untuk dilindas roda batu penggiling, dan ada yang memegang tanaman padi untuk digiling.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Kedungbadak, Bogor: Sebuah gundukan batu yang memecah aliran sungai dan dimanfaatkan sebagai tempat penyeberangan dengan jembatan yang teediri dari dua ruas. Gunung Pangrango tampak berada di latar belakang, sementara kereta dan orang tampak melalui jalur penyeberangan ini.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Bogor: Empat pria memikul keranda menuju kawasan kuburan yang dipenuhi pohon kamboja, sementara seorang pria lain di belakang memayungi jenazah yang ada di dalamnya. Seorang ulama berjalan paling depan dengan mengenakan sorban dan jubah serta membawa sebuah kitab. Tidak ada perempuan di prosesi ini, dan semua lelaki mengenakan atasan penutup dada.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Bogor: Sebuah pemandangan dengan latar belakang kawasan Gunung Gede dan Pangrango. Sebuah jembatan gantung dari bambu dengan konstruksi segitiga tampak menjadi jalur lalu lintas warga, yang umumnya membawa padi, untuk menyeberangi sebuah sungau berbatu. Di tepi jembatan ada sebuah warung yang dijaga seorang perempuang yang tampak sedang melayani seorang pelanggan. Dua perempuan di gambar ini mengenakan atasan khas Pasundan saat itu, yaitu kebaya yang panjang hingga ke bawah lutut.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 21 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (7)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Sebuah toko di Jakarta yang menjual aneka barang a.l. porselan, lampu gantung, lampu duduk, jam dinding, lukisan, dll. Toko tampak dijaga oleh seorang yang berwajah dan berpakaian lokal, sementara para pengunjung berkulit putih dan mengenakan pakaian perlente, yang mengindikasikan bahwa ini merupakan sebuah toko berkelas.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Seorang wanita Belanda berkebaya, yang tampaknya menghuni sebuah gedung mewah dengan lahan yang luas, membeli ayam hidup dari pedagang yang datang. Si pedagang kemungkinan adalah pria yang berlutut dan membawa golok. Pria yang berdiri di tengah bisa merupakan orang yang memikul ayam, atau juga pembantu atau tukang kebun di rumah itu.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Pesta dansa warga Belanda di depan sebuah rumah bergaya kolonial, kemungkinan di Jakarta. Tarian yang dibawakan oleh warga kulit putih ini diiringi musik terompet dan genderang yang dilantunkan warga lokal. Warga lokal pula yang membawa penerangan dalam bentuk obor, sekaligus menjadi penonton yang berkerumun.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Seorang biarawati berdiri di di dekat patung pastor Henricus van der Grinten di area kuburan Belanda di Tanahabang. Kompleks pemakaman ini sekarang menjadi Museum Taman Prasasti. Pastor Henricus sendiri a.l. dikenal sebagai misionaris yang aktif menyebarkan ajaran Kristiani di wilayah Jakarta.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah adegan yang boleh jadi lumayan romantis: Di malam bulan purnama, tampak seorang pemuda bersandar di sebuah pohon memainkan seruling. Kemungkinan lagu yang dia lantunkan adalah nada-nada yang dia persembahkan ke wanita pujaannya yang tampak mengintip dari jendela terbuka di sebelah kanan.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Selasa, 09 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (1)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Reruntuhan Candi Borobudur mendapat kunjungan dari tiga orang
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Kesibukan pelayaran di Kepulauan Banda, dengan Gunung Api di sebelah kiri, serta Pulau Banda Neira dengan Benteng Belgica-nya di sebelah kanan
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah kapal bersandar di pelabuhan Makassar sementara beberapa sosok orang tampak beraktivitas di kawasan pelabuhan
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Tiga warga Minang, di antaranya menggiring pedati, terlukis dengan latar belakang Gunung Marapi
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Benteng Rotterdam di Makassar dengan beberapa pohon rimbun di latar depan, serta sebuah kuburan Belanda di lapangan depan benteng
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 25 Agustus 2025

Jakarta sekitar September 1945, ketika Republik Indonesia baru berumur beberapa hari (7)

Penguburan kembali para warga kulit putih yang dieksekusi Jepang di masa perang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah kuburan warga kulit putih di tempat tak terawat, kemungkinan akan dipindahkan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah bangunan yang sebelumnya digunakan pemerintahan pendudukan Jepang tampak kosong dan ditinggalkan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Bagunan yang sebelumnya digunaka oleh Hudoosan Kanrikoodan (Badan pengawas barang-tetap) tampak ditelantarkan, menyisakan gundukan pasir (bekas lapisan pertahanan?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Bangunan yang kelak menjadi Istana Negara tampak masih dijaga tentara Jepang, mengindikasikan masih adanya petinggi Jepang yang tinggal atau berkantor di sana
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: (kemungkinan besar) H. Ripassa
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga seri foto yang dibuat oleh H. Ripassa tentang Jakarta di sekitar September dan Oktober 1945 yang dimulai di posting ini.

Sabtu, 23 Agustus 2025

Jakarta sekitar September 1945, ketika Republik Indonesia baru berumur beberapa hari (6)

Tulang belulang warga kulit putih yang dieksekusi Jepang dibawa dengan mobil menuju Ancol
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Penggalian liang lahat di Ancol untuk menampung penguburan kembali para warga kulit putih yang dieksekusi Jepang di masa perang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Ereveld Ancol, tempat penguburan kembali para korban eksekusi Jepang yang sebelumnya terpencar di berbagai tempat dan tak terpelihara
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tiga keranda sederhana dari bambu yang membawa sisa-sisa jenazah warga kulit putih korban eksekusi Jepang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dua sisa jenazah, dengan dua kayu salib, siap dimakamkan kembali di tempat yang lebih terhormat di Ereveld Ancol
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: (kemungkinan besar) H. Ripassa
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga seri foto yang dibuat oleh H. Ripassa tentang Jakarta di sekitar September dan Oktober 1945 yang dimulai di posting ini.

Kamis, 21 Agustus 2025

Jakarta sekitar September 1945, ketika Republik Indonesia baru berumur beberapa hari (5)

Sebuah trem jurusan Jakarta Kota dengan coretan para pemuda yang berbunyi ""Kami bangsa Indonesia maoe damai - Pemoeda, darahmoe panas, kemaoeanmoe ke[ras]" "
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sisa mural propaganda Jepang dengan teks "Benteng perjoeangan Djawa - Jakin menang! Pasti menang!"
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Rangkaian kereta yang sudah dipenuhi jejalan penumpang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sisa mural propaganda Jepang dengan teks "Bikin kapal! Alat pembela Asia Timoer Raja"
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah gundukan tanah yang kemungkinan menjadi kuburan dari warga kulit putih yang dieksekusi Jepang di saat perang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: (kemungkinan besar) H. Ripassa
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga seri foto yang dibuat oleh H. Ripassa tentang Jakarta di sekitar September dan Oktober 1945 yang dimulai di posting ini.

Jumat, 15 Agustus 2025

Jakarta sekitar September 1945, ketika Republik Indonesia baru berumur beberapa hari (2)

Seorang prajurit Australia mengamati sebuah gundukan tanah yang menjadi kuburan dari kemungkinan seorang warga kulit putih yang dieksekusi Jepang di saat perang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang prajurit Australia (kiri), tampaknya ditemani seorang penerjemah (kanan) menanyai seorang warga (tengah), kemungkinan tentang lokasi yang digunakan Jepang untuk mengubur korban-korban eksekusi
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Berdasarkan tulisan Kanji-nya kemungkinan ini adalah rumah atau gedung yang menjadi markas polisi militer Kempetai
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah tempat yang tampaknya menjadi tempat penumpukan mobil-mobil curian/terlantar (lihat posting berikutnya); teks dalam huruf Latin berbunyi "Outo2 ini di tjuri orang maka kalau ada mempoenja sendiri datang ke kantor Kenpeitai [?] kembali"
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah trem jalur 2 jurusan ?-Menteng, yang sudah diberi gambar bendera Merah Putih, tanda palang merah, serta coretan yang ditujukan ke pihak Belanda: "Don't touch our national symbol, it would be plain suicide" atau "Jangan sentuh simbol bangsa kami, itu sama saja dengan bunuh diri". 
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: (kemungkinan besar) H. Ripassa
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga seri foto yang dibuat oleh H. Ripassa tentang Jakarta di sekitar September dan Oktober 1945 yang dimulai di posting ini.

Rabu, 06 Agustus 2025

Kumpulan beberapa ilustrasi zaman dulu tentang Nusantara (3)

Berbagai jenis perahu dan kapal serta peralatan yang digunakan nelayan untuk menangkap ikan
[P.A. van der Lith, 1875, Amsterdam]
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Edisi lain dari gambar di atas
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
D.ki.k.ka. serta d.at.k.ba.
Kampung di Manila (!)
Warga Arafuru
Desa warga Melayu
Pengantin, bangsawan, dan prajurit di Jawa
Reruntuhan Borobudur
Warga Dayak di sebuah pesisir
Warga Timor
Sebuah kampung di Timor
Kuburan di Ambon
Sebuah desa di Jawa
[1850, Jerman]
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1850, 1875
Tempat terbit: Amsterdam, Jerman
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: a.l. P.A. van der Lith
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: