Tampilkan postingan dengan label Lapangan Banteng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lapangan Banteng. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Juni 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang tegalan yang kelak menjadi Lapangan Banteng

Keramaian di Ryswyk, sekarang Lapangan Banteng, di mana warga Eropa dan Tionghoa berjalan dipayungi, menaiki kuda, atau mengendarai kereta kuda
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1844
Tahun peristiwa: abad ke-19
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: aslinya oleh Charles William Meredith van de Velde, diolah lebih lanjut oleh P. Lauters
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: 1) Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini. 2) Versi tidak berwarna dari gambar di atas pernah dimuat di posting ini sebelumnya.

Sabtu, 30 Mei 2026

Penampilan KNIL Darat sebelum Perang Dunia II (3)

16 Desember 1939: Pasukan KNIL menyusuri Kali Sunter
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang serdadu KNIL berlatih menggunakan senapan mesin
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
1 Maret 1927: Kesatuan zeni KNIL memasang lampu sorot yang a.l. bisa digunakan untuk "membidik" potensi serangan udara atau musuh yang mencoba menyerbu dari laut ke pesisir
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
28 Juli 1936: Jenderal Bakker (paling depan berkuda) memeriksa kesiapan Batalion Mobil X di tempat yang kelak menjadi Lapangan Banteng, dengan latar belakang Gereja Katedral
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: a.l. 1927, 1936, 1939
Tempat: a.l. Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 19 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (6)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Dua kuli memikul barang melewati sebuah jembatan dengan latar belakang pemukiman khas pecinan; kemungkinan ini menunjukkan wilayah Pintu Kecil, Jakarta
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Hotel Marine di Molenvliet (sekarang Jalan Gajahmada) yang ada sejak tahun 1830-an; hotel ini berhenti beroperasi 5 tahun setelah lukisan ini diterbitkan, dan berbagai bangunan telah menggantikannya hingga sekarang
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Monumen Michiels di Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng) yang didirikan di tahun 1855 untuk mengenang Jenderal KNIL Andreas Victor Michiels dan para serdadu KNIL yang gugur di Hindia-Belanda; Michiels adalah komandan KNIL yang menyerang a.l. Jambi, Bonjol, Kuta, serta Singkil, dan ditewaskan di tahun 1849 oleh pasukan pimpinan Ratu Klungkung, Dewa Agung Istri Kanya
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Suasana di gardu malam di Jakarta, dengan dua ronda yang tertidur, sementara yang berada di luar memegang lembing tampak hanya setengah terjaga; kentongan dan dua alat penangkap pencuri terlihat di sekitar gardu
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Keramaian di sebuah kawasan pecinan di Jakarta dengan delman, pedagang keliling, dan pedagang jongkok menghiasa pemandangan jalan, sementara di depan satu rumah tampak sebuah transaksi sedang berlangsung
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 13 April 2025

Beberapa wajah KNIL sebelum Perang Dunia 2 melanda Hindia-Belanda (2)

Jakarta, Januari 1942: Rapat para panglima ABDACOM (American-British-Dutch-Australian Command) di bawah pimpinan Jenderal Archibald Percival Wavell, yang dua bulan kemudian terbukti tidak bisa menghadang gerak maju pasukan Jepang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Jakarta, 31 Agustus 1941: Barisan prajurit KNIL Laut
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Parade berkuda para prajurit KNIL di Lapangan Banteng dengan latar belakang Gereja Katedral
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Bandung: Empat serdadu lokal KNIL
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Bandung, 1942: Rapat para perwira Kementerian Perang yang a.l. dihadiri oleh Kolonel R. Bakkers, Mayor P.G. Mantel, dan Major W.P. van Veen (d.ki.k.ka.). P.G. Mantel beberapa minggu kemudian menjadi salah satu perwakilan Hindia-Belanda dalam penyerahan tanpa syarat kepada Jepang di Kalijati.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: a.l. 1941, 1942
Tempat: a.l. Bandung, Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 25 Februari 2025

Dari Padang sampai ke Banda: Lukisan pemandangan Nusantara karya Charles William Meredith van de Velde, 1844 (5b - Jakarta)

Charles William Meredith van de Velde (1818-1898) tampaknya seorang dengan berbagai bakat dan kemampuan. Dia pernah menjadi perwira angkatan laut, tentara bayaran, pembuat peta, anggota palang merah, hingga misionaris. Salah satu keahlian dia adalah menangkap keindahan alam dari tempat yang dia kunjungi, dan menuangkannya ke atas kanvas. Dia terkenal sebagai pembuat peta Palestina di pertengahan abad ke-19, serta pelukis kota dan tempat di Palestina yang dia singgahi. Sebelumnya, dia juga mengabadikan banyak tempat di Nusantara dalam beberapa karya lukisannya, yang akan kita lihat di seri berikut ini.


Keramaian di Ryswyk, sekarang Lapangan Banteng, di mana warga Eropa dan Tionghoa berjalan dipayungi, menaiki kuda, atau mengendarai kereta kuda
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Persimpangan Harmoni, dengan pemandangan warga Erop berkuda atau menaiki kereta, sementara warga lokal berkerumun di beberapa sudut
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Kawasan yang menghubungkan sungai dan laut, kemungkinan di Pintu Besar, yang sibuk dengan perahu nelayan serta perahu angkut beratap datar yang bentuknya masih bisa ditemui hingga sekarang
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1844
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar: Charles William Meredith van de Velde
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Sabtu, 20 Agustus 2022

Persiapan Hindia-Belanda menghadapi Perang Dunia II: Kesatuan infantri KNIL (1)

Kesatuan infantri KNIL di Bandung
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Latihan (?) pemasangan peledak agar jembatan bisa dihancurkan dan tidak bisa dilalui pasukan Jepang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pasukan KNIL melintas sebuah kawasan pecinan di Jakarta
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Apel pasukan KNIL di Waterlooplein (kini Lapangan Banteng) dengan latar belakang Gereja Katedral
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Barisan infantri KNIL, kemungkinan di Jakarta
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: sekitar 1941
Tempat: Bandung, Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Taktik dan ilmu meledakkan jembatan kemudian dipraktekan para pejuang kemerdekaan guna menghadang pasukan Belanda pada saat Aksi Polisionil 1 Juli-September 1947. Catatan Belanda saat itu mengeluhkan dan mengritik tindakan para pejuang ini sebagai aksi perusakan kaum ekstremis.

Sabtu, 25 Desember 2021

Aneka wajah Nusantara dalam lukisan Josias Rappard, 1888 (3)

Hotel Marine di Molenvliet (sekarang Jalan Gajahmada)
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Paleis te Rijswijk, sekarang Istana Negara
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Pedagang Tionghoa menawarkan kain kepada keluarga kaya
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Waterlooplein, sekarang Lapangan Banteng
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1888
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Josias Rappard
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 05 Agustus 2021

Jakarta dalam lukisan Charles Theodore Deeleman, 1859-1860 (2)

PENGANTAR

Charles Theodore Deeleman adalah seorang insinyur Belanda yang memiliki bengkel besi di Batavia. Deeleman lahir di Amsterdam pada tahun 1823, dan wafat di Batavia di tahun 1884. Selain sebagai insinyur, Deeleman juga dikenal sebagai pakar irigasi, dan pelukis. Blog ini akan menampilkan beberapa karyanya.
Dan kalau nama Deeleman sangat mirip dengan kata delman, ini tidak mengherankan. Model atau konstruksi dokar/sado/bendi yang ada di Jakarta dan sekitarnya merupakan kreasi sang insinyur ini.


Gedung pos
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Waterlooplein, sekarang Lapangan Banteng
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Kediaman Panglima KNIL
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: lukisan dibuat antara tahun 1859 dan 1860
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Charles Theodore Deeleman
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Tambahan: Lukisan Deeleman tentang Tugu Michiels yang menjadi bagian dari Waterlooplein, dibuat sebelumnya di tahun 1855.
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Minggu, 01 November 2020

Jakarta tempo doeloe: Beberapa tempat dan hal yang kelak menjadi ikon

Sekitar 1880: Patung Gajah di depan Museum van het Bataviaasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen, kelak Museum Nasional
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Sekitar 1889: Meriam Si Jagur, sebelum pindah ke museum
(klik untuk memperbesar | © NGA)

19 Februari 1889: Koningsplein, atau Lapangan Gambir, kelak menjadi Lapangan Monas
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Sekitar 1889: Areal Kebun Binatang Cikini (dierentuin) sebelum dipindahkan ke Ragunan
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Hotel des Indes
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Gedung Harmonie (kiri) dan lapak penjahit masyhur milik orang Perancis, Oger Frères (kanan)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Cikal bakal Lapangan Banteng
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1880 (foto nomor 1), 1889 (foto nomor 2, 3, 4)
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 12 September 2018

Peleburan TNI ke dalam APRIS: Jakarta, 24 April 1950

Kolonel Taswin (kanan depan) bersama para perwira lain
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Kol. Taswin menyematkan tanda kesatuan APRIS ke pundak seorang mantan KNIL
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Defile kesatuan APRIS yang baru dibentuk
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Kol. Taswin memberikan sambutan didampingi Kol. B.P. de Vries
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 24 April 1950
Tempat: Lapangan Banteng (Jakarta)
Tokoh: Letnan Kolonel Taswin Natadiningrat (perwira TNI, kelak menjadi panglima Kodam Jaya pertama)
Peristiwa: Acara peleburan kesatuan KNIL dan TNI ke dalam APRIS di wilayah militer Jakarta yang antara lain dihadiri dan dipimpin Letkol. Taswin Natadiningrat.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Senin, 14 Januari 2013