Tampilkan postingan dengan label Sutan Sjahrir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sutan Sjahrir. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Februari 2024

AI-Colorizing: Sutan Sjahrir, 1948

(klik untuk memperbesar)

Pewarnaan foto hitam putih dengan bantuan kecerdasan buatan. Foto asli bisa dilihat di posting ini.

Waktu: 1948 atau sebelumnya
Tempat: kemungkinan Jakarta
Tokoh: Sutan Sjahrir (salah satu pendiri Republik Indonesia, Perdana Menteri pertama)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta:
Catatan:

Sabtu, 13 November 2021

Penandatangan hasil perundingan Linggarjati, 1946 (tambahan foto 2)

Amir Syarifudin, Mohammad Roem, F. de Boer (?), Sutan Sjahrir, Willem Schermerhorn, Van Mook, Max van Poll
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Adnan Kapau Gani dan Susanto
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 15 November 1946
Tempat: Linggarjati (Kuningan)
Tokoh:
  • Adnan Kapau Gani (kelak Wakil Perdana Menteri)
  • Hubertus Johannes van Mook (Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda)
  • Mohammad Roem (Menteri Dalam Negeri)
  • Amir Syarifuddin Harahap (Menteri Pertahanan)
  • Willem Schermerhorn (politisi mantan Perdana Menteri Belanda)
  • Maximus Josephus Maria van Poll (politisi)
  • Sutan Sjahrir (Perdana Menteri RI)
  • F. de Boer (politisi liberal Belanda)
  • Susanto
Peristiwa: penandatangan hasil perundingan Linggarjati
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 11 November 2021

Penandatangan hasil perundingan Linggarjati, 1946 (tambahan foto 1)

Mohammad Roem dan Willem Schermerhorn
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Sutan Sjahriri dan Willem Schermerhorn
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 15 November 1946
Tempat: Linggarjati (Kuningan)
Tokoh: Mohammad Roem (Menteri Dalam Negeri); Sutan Sjahrir (Perdana Menteri); Willem Schermerhorn (politikus mantan Perdana Menteri Belanda)
Peristiwa: penandatangan hasil perundingan Linggarjati
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Selasa, 09 November 2021

Para politisi Indonesia dan Belanda di perundingan Linggarjati, 1946

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Dari kiri ke kanan:
  • Johannes Leimena (kelak Menteri Kesehatan)
  • Adnan Kapau Gani (kelak Wakil Perdana Menteri)
  • Hubertus Johannes van Mook (Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda)
  • Mohammad Roem (Menteri Dalam Negeri)
  • Amir Syarifuddin Harahap (Menteri Pertahanan)
  • Willem Schermerhorn (politisi mantan Perdana Menteri Belanda)
  • Maximus Josephus Maria van Poll (politisi)
  • Sutan Sjahrir (Perdana Menteri RI)
  • F. de Boer (politisi liberal Belanda)
  • Sudarsono (Menteri Sosial)
  • Ali Budiarjo (sekretaris delegasi Indonesia)
Waktu: 11/12 November 1946
Tempat: Linggarjati (Kuningan)
Tokoh: l.d.a.
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Minggu, 31 Januari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1946-1947

De Groene Amsterdammer, 16 Februari 1946
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur ini berasal dari masa ketika Belanda berusaha memulihkan kekuasaan di Indonesia, sementara rakyat Indonesia mencoba mendirikan pemerintahan sendiri yang berdaulat. Situasi ini digambarkan seperti di pertunjukan sirkus. Profesor Johann Logemann, saat itu Menteri Urusan Tanah Jajahan, digambarkan sudah melepaskan Van Mook, tokoh kelahiran Semarang yang ditunjuk menjadi Letnan Gubernur Jenderal. Tetapi Sutan Sjahrir, saat itu Perdana Menteri, tampak belum di posisi yang siap menyambut Van Mook. Para penonton tampak terlihat tegang untuk melihat kelanjutan dari adegan ini.

Elseviers Weekblad, 9 November 1946
(klik untuk memperbesar | © Eppo Doeve / AVS)

Karikatur ini mengenang Eduard Douwes Dekker dan mengutip ucapan Multatuli: "Baiklah, baiklah! Tapi ... rakyat Jawa dianiaya!", serta menggambarkan bagaimana rakyat jelata harus memikul beban yang berat, sementara kaum priyayi dan berada hanya menyaksikan.

De Groene Amsterdammer, 7 Desember 1946
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur ini tampaknya menggambarkan reaksi sebagian kalangan di Belanda yang menolak Perjanjian Linggarjati, antara lain kelompok Indiƫ in Nood, Partij voor de Vrijheid, Nationale Jonge Verbond, serta pers liberal, yang dianggap mencoba menahan lajunya jam.

Het Parool, 2 Juli 1947
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur ini muncul ketika Aksi Polisionil 1 diluncurkan dan konflik bersenjata antara Belanda dan pejuang kemerdekaan pecah menjadi perang. Presiden AS, Harry Truman, digambarkan sebagai polisi yang mencoba melerai perkelahian antara Belanda dan Indonesia, dan menawarkan bantuan keuangan bagi yang mengikuti arahan dia.

Elsevier, Juli/September 1947
(klik untuk memperbesar | © Eppo Doeve / AVS)

Kaikatur ini menggambarkan kelesuan para pedagang Tionghoa di masa Aksi Polisionil 1. Perang terbuka yang pecah telah membuat warung, toko, dan perdagangan menjadi sepi.

Waktu: 1946, 1947
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa di Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Eppo Doeve | Leo Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Minggu, 22 November 2020

Karikatur Belanda yang kritis atas pembentukan negara-negara "boneka" federal, 1947-1949

Salah satu cara Belanda dalam mempertahankan kekuasaan di Indonesia, atau paling tidak memegang pengaruh atau malah kendali atas beberapa wilayah, adalah dengan membentuk negara-negara federal, terutama di luar Jawa. Kelihatannya Belanda ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Republik Indonesia hanyalah negara orang Jawa, atau malah hanya sebagian orang Jawa. Karikatur-karikatur di bawah ini memperlihatkan bahwa di Belanda sendiri ide ini dipertanyakan.

De Groene Amsterdammer, 31 Mei 1947
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur ini memperlihatkan bahwa Belanda, digambarkan sebagai 3 orang di belakang layar, mengatur seorang dalang untuk memperlihatkan besarnya "Negara Pasundan", yang sejatinya hanyalah bayangan dari sebuah wayang.

De Vlam, 15 Agustus 1947
(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Karikatur ini memperlihatkan bagaimana Van Mook membuat Konferensi Malino dengan memilah-milah Indonesia menjadi Bangka, Belitung, Indonesia Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dsb. dengan merangkul tokoh-tokoh yang dia sukai. Sementara Republik Indonesia, digambarkan dengan Sutan Sjahrir, sama sekali tidak diperhatikan, dan tampak gusar dengan aksi Van Mook ini.

De Vlam, 23 Januari 1949
(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Karikatur ini menggambarkan bagaimana banteng Indonesia, yang sebenarnya kuat, terikat oleh perjanjian Linggarjati. Keterbatasan ruang gerak ini dimanfaatkan oleh Van Mook untuk mengganggu sang banteng dengan menembakkan peluru-peluru "negara federal", seperti Bangka, Belitung, Jawa Barat, Kaimantan, Madura, Minangkabau, dan Palembang sementara Aceh, Ambon, dan Bali siap ditembakkan.

Waktu: 1947, 1949
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke kejadian di Indonesia
Tokoh: Hubertus Johannes van Mook (Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda), Sutan Sjahrir (Perdana Menteri RI)
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan | Wim van Wieringen
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 19 Oktober 2020

Foto para politisi Indonesia dari koleksi Anefo 1946-1948: Yang sedang atau kelak akan menjabat perdana menteri atau wakilnya

Mohammad Roem
(klik untuk memperbesar | Anefo / AVS)

Sutan Sjahrir
(klik untuk memperbesar | Anefo / AVS)

Muhammad Natsir
(klik untuk memperbesar | Anefo / AVS)

Djuanda Kartawidjaja
(klik untuk memperbesar | Anefo / AVS)

Waktu: 1948 atau sebelumnya
Tempat: ?
Tokoh (jabatan pada saat difoto): Mohammad Roem (Menteri Dalam Negeri), Sutan Sjahrir (Perdana Menteri), Muhammad Natsir (Menteri Penerangan), Djuanda Kartawidjaja (Menteri Perhubungan)
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 04 Mei 2020

Soekarno dalam karikatur Belanda: 1931-1947

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Ini mungkin karikatur terawal yang menampilkan Soekarno. Gambar ini dimuat di harian De Notenkraker terbitan 1 Augustus 1931. Setahun sebelumnya Soekarno mengeluarkan pledoi "Indonesia menggugat" yang ditulisnya di penjara. Menteri Urusan Jajahan, Simon de Graaff, menyangkal adanya tahanan politik, dan dikutip menyebut "Kami tidak memiliki tahanan politik, hanya keadilan yang kokoh tertanam di sanubari."

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Harian Metro terbitan 26 Oktober 1945 menampilkan karikatur Soekarno di halaman depan dengan judul "Soekarno membebaskan Hindia[-Belanda]". Soekarno digambarkan mencoba membebaskan seorang perempuan terikat, perlambang Hindia-Belanda ("Mbok Indonesia"), dengan langsung menebang pohonnya, bukan membuka tali pengikatnya.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Karikatur terbitan 16 November 1946 menampilkan pertandingan bola, antara Soekarno, bersama Muhammad Hatta dan Sutan Sjahrir, di satu tim, melawan tim politisi Belanda a.l. yang terdiri dari Schermerhorn, van Mook, van Roijen (?), van Verduynen, dan Lampson. Yang menjadi objek tendang dan permainan adalah mahkota Kerajaan Belanda.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Karikatur keluaran 5 Juli 1947 ini menampilkan bagaimana Soekarno dan van Mook, yang sedang berdebat tentang (Perjanjian) Linggarjati, kaget ketika Amerika Serikat, dilambangkan dengan Paman Sam, datang bergabung dengan berkata "Hello boys! Aku datang untuk menengahi."

Waktu: 1931, 1945, 1946, 1947
Tempat:
Tokoh: Soekarno (pejuang kemerdekaan, kemudian Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa:
Karikaturis: Wybo Meyer, Marten Toonder, Eppo Doeve, Leendert Jurriaan Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 14 Maret 2020

Kedatangan jenazah Sutan Sjahrir di bandara Schiphol, 1966 (2)

PENGANTAR

Blog ini banyak memuat foto yang memperlihatkan andil Sutan Sjahrir dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Salah satu tragedi dalam sejarah republik ini adalah bahwa Sjahrir kemudian harus mengasingkan diri jauh dari negeri kelahirannya, dan menghembuskan nafas terakhirnya di negeri orang.

Ketika pemerintahan Soekarno mulai akhir 1950-an makin menunjukkan sifat otoriter, beberapa tokoh yang dianggap tidak sepaham dengan Soekarno ditangkap dan dipenjara, termasuk Sjahrir di tahun 1962. Kesehatan Perdana Menteri pertama ini memburuk di dalam tahanan, dan Sjahrir mengalami stroke di tahun 1965. Pahlawan yang mendapat julukan "Bung Kecil" ini —karena badannya memang tidak tinggi— kemudian mendapat izin untuk meninggalkan Indonesia menuju Swiss, dengan alasan demi perawatan kesehatan.

Di Swiss ini pula, Sjahrir beberapa bulan kemudian, tepatnya tanggal 9 April 1966, meninggal dunia, tanpa sempat melihat kembali negeri yang kemerdekaannya dia perjuangkan. Jenazahnya diterbangkan dari Zurich ke Belanda, seperti yang akan ditampilkan di posting ini.

Jasad Sutan Sjahrir diturunkan dari pesawat ke mobil jenazah ...
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
... kemudian dari mobil jenazah dipindahkan menuju ruang persemayaman ...
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
... dengan disaksikan oleh warga masyarakat yang berdatangan ke bandara
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
Poppy Sjahrir menerima ucapan belasungkawa ...
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
... termasuk dari Prof. Willem Schermerhorn ...
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
... mantan Perdana Menteri Belanda yang merupakan "lawan" Sutan Sjahrir di perundingan Linggarjati
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)

Waktu: 17 April 1966
Tempat: Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda
Tokoh: Willem Schermerhorn (Perdana Menteri Belanda 1945-1946 di saat awal pergolakan kemerdekaan Indonesia)
Peristiwa:
Fotografer: Ben Hansen (foto no. 1), Cor Mulder (foto no. 4-6)
Sumber / Hak cipta: Het Geheugen van Nederland / ANP Historisch Archief
Catatan: Sebelumnya di posting ini disebutkan bahwa istri Sjahrir di atas adalah "Maria Duchateau"; padahal seharusnya Siti Wahjunah Saleh (Poppy Sjahrir). Dengan ini informasi tsb. dibetulkan.

Kamis, 12 Maret 2020

Kedatangan jenazah Sutan Sjahrir di bandara Schiphol, 1966 (1)

PENGANTAR

Blog ini banyak memuat foto yang memperlihatkan andil Sutan Sjahrir dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Salah satu tragedi dalam sejarah republik ini adalah bahwa Sjahrir kemudian harus mengasingkan diri jauh dari negeri kelahirannya, dan menghembuskan nafas terakhirnya di negeri orang.

Ketika pemerintahan Soekarno mulai akhir 1950-an makin menunjukkan sifat otoriter, beberapa tokoh yang dianggap tidak sepaham dengan Soekarno ditangkap dan dipenjara, termasuk Sjahrir di tahun 1962. Kesehatan Perdana Menteri pertama ini memburuk di dalam tahanan, dan Sjahrir mengalami stroke di tahun 1965. Pahlawan yang mendapat julukan "Bung Kecil" ini —karena badannya memang tidak tinggi— kemudian mendapat izin untuk meninggalkan Indonesia menuju Swiss, dengan alasan demi perawatan kesehatan.

Di Swiss ini pula, Sjahrir beberapa bulan kemudian, tepatnya tanggal 9 April 1966, meninggal dunia, tanpa sempat melihat kembali negeri yang kemerdekaannya dia perjuangkan. Jenazahnya diterbangkan dari Zurich ke Belanda, seperti yang akan ditampilkan di posting ini.

Warga yang berdatangan ke bandara Schiphol ...
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
... untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Sutan Sjahrir
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
Selain warga, datang juga tokoh-tokoh masyarakat ke bandara Schiphol
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
Siti Wahjunah Saleh (Poppy Sjahrir), istri mendiang Sjahrir, turun dari pesawat ...
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
... disambut Dubes RI untuk Belanda Soedjarwo Tjondronegoro
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
Masyarakat memasuki gedung yang digunakan untuk pemberian penghormatan kepada Sutan Sjahrir
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)

Waktu: 17 April 1966
Tempat: Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Ben Hansen (foto 1-5)
Sumber / Hak cipta: Het Geheugen van Nederland / ANP Historisch Archief
Catatan: Sebelumnya di posting ini disebutkan bahwa istri Sjahrir di atas adalah "Maria Duchateau"; padahal seharusnya Siti Wahjunah Saleh (Poppy Sjahrir). Dengan ini informasi tsb. dibetulkan.

Kamis, 28 November 2019

Pamflet dukungan atas Indonesia di Belanda, 1945

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / Historisch Centrum Leeuwarden)
"Surabaya! Gencatan senjata di Indonesia. Jangan ada granat, cukup berunding! Membombardir kota terbuka adalah tindakan pengecut. Kita orang Belanda, dan bukan Nazi!". Kemungkinan besar pamflet ini muncul sebagai reaksi atas pertempuran 10 November 1945.

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2)
Sebuah pamflet dengan judul "Bangsa yang merdeka" menampilkan foto dan berita dari Indonesia, a.l. Soekarno berpidato di Yogyakarta, sementara para pemuda berkumpul mendengarkannya, serdadu Inggris/India bersiaga di Jakarta dan bagaimana mereka menandu seorang pemuda yang tertembak, serta pertemuan Sutan Sjahrir dengan van Mook yang ditengahi oleh Jenderal Christison di bulan Desember 1945.

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah pamflet dari Partai Buruh dari tahun 1946 yang berbunyi "Tiga juta pemilih menuntut dari Belanda dan Indonesia implementasi penuh dari [hasil perjanjian] Linggarjati sekarang!"

Waktu: 1945, 1946
Tempat: Belanda, Jakarta, Yogyakarta
Tokoh: Soekarno (Presiden RI), Sutan Sjahrir (Perdana Menteri RI), Hubertus van Mook (Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda), Letnan Jenderal Philip Christison (Panglima Sekutu untuk wilayah Asia Tenggara)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / Historisch Centrum Leeuwarden / 
Catatan:

Selasa, 02 Juli 2019

Pertemuan Sutan Sjahrir dengan PM Belanda, Louis Beel, 1947

Louis Beel, Jan Jonkman, dan Sutan Sjahrir
(klik untuk memperbesar | © BeeldbankWO2 / NIOD)

Waktu: sekitar Mei 1947
Tempat: kemnungkinan Jakarta
Tokoh: Sutan Sjahrir (diplomat perunding Indonesia), Louis Joseph Maria Beel (Perdana Menteri Belanda), Jan Anne Jonkman (Menteri Urusan Jajahan)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga posting sebelum ini.

Jumat, 28 Juni 2019

Sutan Sjahrir dan Jenderal Sudirman, 1948

(klik untuk memperbesar | © BeeldbankWO2/ NIOD)

Waktu: 1948 (?)
Tempat: Yogyakarta (?)
Tokoh: Sutan Sjahrir (pejuang kemederkaan di jalur politik dan diplomasi); Jenderal Sudirman (pejuang kemerdekaan di jalur militer dan pertempuran)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 22 Juni 2019

Perundingan antara Indonesia dan Belanda yang ditengahi militer Inggris, 17 November 1945

(klik untuk memperbesar | © BeeldbankWO2/ NIOD)
(klik untuk memperbesar | © BeeldbankWO2/ NIOD)

Waktu: 17 November 1945
Tempat: markas militer Inggris di Jakarta
Tokoh: Sutan Sjahrir (Ketua Delegasi Indonesia; duduk keempat dari kanan), Hubertus van Mook (Ketua Delegasi Belanda; duduk menghadap Sjahrir), Letnan Jenderal Philip Christison (Panglima Sekutu untuk wilayah Asia Tenggara; duduk di tengah)
Peristiwa: Pihak sekutu mencoba meredakan ketegangan antara Republik Indonesia yang baru berdiri dengan Belanda yang ingin menginjakkan kaki lagi, dengan memanggil kedua belah pihak untuk berunding. Militer Inggris, yang mewakili Sekutu di Indonesia, berada di posisi yang tidak mudah. Di satu sisi dianggap melindungi dan diboncengi Belanda, yang membuahkan pertempuran seperti di Surabaya; di sisi lain, dianggap Belanda terlalu mengakui Republik Indonesia.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 20 Juni 2019

Sidang KNIP di Jakarta, 16 Oktober 1945

Sutan Sjahrir berbicara dengan latar belakang Soekarno dan Hatta
(klik untuk memperbesar | © BeeldbankWO2/ NIOD)
Mr. Assaat (Datuk Mudo) berpidato
(klik untuk memperbesar | © BeeldbankWO2/ NIOD)
Pertemuan Soekarno dengan para anggota KNIP
(klik untuk memperbesar | © BeeldbankWO2/ NIOD)

Waktu: 16 Oktober 1948
Tempat: Jakarta
Tokoh: Soekarno (Presiden RI), Muhammad Hatta (Wakil Presiden RI), Sutan Sjahrir (Ketua Badan Pekerja KNIP), Assaat (gelar Datuk Mudo, kelak menjadi Ketua BP-KNIP)
Peristiwa: Sidang pleno KNIP yang merupakan cikal bakal dari Dewan Perwakilan Rakyat.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga posting sebelum ini.

Minggu, 16 Juni 2019

Muhammad Hatta dan Sutan Sjahrir setelah perundingan diplomatik, 1948

Sutan Sjahrir turun dari pesawat militer Amerika yang membawanya kembali ke Jakarta. Di belakangnya tampak Mohammad Roem.
(klik untuk memperbesar | © BeeldbankWO2 / NIOD)
Muhammad Hatta disambut kembali di Jakarta, a.l. oleh Johannes Latuharhary (kedua dari kanan). Di latar belakang tampak pesawat militer berbendera Amerika yang membawa Hatta kembali ke Jakarta.
(klik untuk memperbesar | © BeeldbankWO2 / NIOD)
Hatta dan Sjahrir disambut di aula bandara
(klik untuk memperbesar | © BeeldbankWO2 / NIOD)
Frank Graham (kiri) bersama Sjahrir dan Hatta setelah kedatangan keduanya kembali di Jakarta
(klik untuk memperbesar | © BeeldbankWO2 / NIOD)

Waktu:  16 Januari 1948
Tempat: Jakarta
Tokoh: Muhammad Hatta (Wakil Presiden RI), Sutan Sjahrir (diplomat Indonesia di PBB), Mohammad Roem, (Menteri Dalam Negeri), Johannes Latuharhary (pejuang perintis kemerdekaan Indonesia), Frank Porter Graham (Ketua Komisi Jasa-Jasa Baik PBB)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Foto terakhir pernah dimuat di posting ini dengan ukuran lebih kecil.

Sabtu, 15 Juni 2019

Beberapa foto dari album seorang tentara Belanda, 1948/1949

Ini adalah 4 halaman dari album foto dari seorang tentara Belanda yang tampaknya aktif di Indonesia di masa sekitar Aksi Polisionil 2.

Halaman ini menunjukkan Soekarno, Hatta, dan Sjahrir setelah ditangkap Belanda, dengan judul "Gevangen!" (tertangkap); Soekarno dan Hatta di Maguwo, menunggu diasingkan ke Bangka; serta Gedung Kegubernuran di Jogjakarta yang diberi judul "Paleis van Soekarno" (Istana  Soekarno) setelah diduduki Belanda.
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)
Halaman ini diberi judul "Op weg naar Bangka" (menuju Bangka) yang memperlihatkan Soekarno, Hatta, dan Sjahrir digiring pasukan Belanda ke Maguwo untuk diterbangkan ke pengasingan di Bangka.
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)
Halaman ini menunjukkan barisan tentara NICA yang oleh pemilik album disebut "anjing" (mungkin ironis); seorang prajurit KNIL mengasah kelewang; dan parade panser Belanda.
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)
Halaman ini berisi foto ranjau yang kemungkinan dipasang TNI; kesatuan "Peloppors" sedang makan, yang tampaknya adalah milisi bentukan Belanda yang memerangi bangsanya sendiri; beberapa prajurit Belanda menyeberang sungai; dan foto Ungaran, kemungkinan tempat si tentara pernah bertugas.
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)

Waktu: 1948/1949
Tempat: Jogjakarta, Ungaran
Tokoh: Soekarno (Presiden RI), Muhammad Hatta (Wakil Presiden RI), Sutan Sjahrir (pejuang kemerdekaan di jalur perundingan dan diplomasi)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Zwiggelaar Auctions
Catatan: