Tampilkan postingan dengan label 1952. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1952. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Februari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1949-1952

De Vlam, 26 Maret 1949
(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Salah satu saat paling kelam dalam sejarah Belanda adalah era pendudukan Jerman Nazi di masa Perang Dunia II. Karenanya, membandingkan petinggi sipil dan militer Belanda dengan tokoh Nazi merupakan sindiran yang sangat pedas. Dan ini dilakukan oleh karikaturis Wim van Wieringen.

Pemicunya adalah sanggahan dari para pejabat Belanda atas adanya kekerasan atau malah kejahatan perang yang dilakukan KNIL dan/atau militer Belanda di Indonesia; padahal, laporan tentang itu paling tidak terdengar dari Sulawesi Selatan, Pakishaji, Bondowoso, Karawang, dan Bangka. Wim membandingkan sanggahan ini dengan penyangkalan para tokoh Nazi bahwa mereka tahu adanya pengiriman kaum Yahudi ke kamp pemusnahan.

Wim menggambarkan Komisioner Tinggi untuk Hindia-Belanda, Louis Beel (kelak menjadi PM Belanda), dan Panglima Belanda Jenderal Simon Spoor, berbaris seirama dengan Panglima SS, Heinrich Himmler, dan Menteri Propaganda Jerman, Joseph Goebbels, dan semuanya berteriak dalam bahasa Jerman "Es ist nicht wahr" (Itu tidak benar).

De Vlam, 5 November 1949
(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Penghujung 1949 adalah masa ketika Belanda harus mengakui kedaulatan Indonesia. Karikatur di atas menggambarkan burung garuda yang menjadi terbang bebas meninggalkan sebagian kalangan Belanda yang tampaknya selama ini memiliki beberapa rencana yang terpaksa menjadi batal dan berantakan. Rencana yang terbaca a.l. penangkapan atas ibunda Soekarno, pergerakan tentara, serta rencana atas Papua.

Vrij Nederland, 28 Januari 1950
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Buku sejarah di Indonesia umumnya menyebut pemberontakan APRA sebagai ulah Westerling. Tetapi karikatur di atas menggambarkan bahwa Westerling hanyalah sebagai bidak catur yang dimainkan orang lain. Karikatur ini bertanya: "Wie is de speler?" (Siapa pemainnya/dalangnya?).

Vrij Nederland, 31 Maret 1952
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Pada tanggal 22 Mei 1952, atasa militer Indonesia di Belanda, Kolonel Mas Tirtodarmo Haryono, dikepung dan ditodong dengan pistol oleh 2 orang tak dikenal. Sempat terjadi pergulatan dan tembakan, namun Haryono selamat meskipun kepalanya berdarah terpukul gagang pistol. Karikatur di atas memperlihatkan bagaimana PM Belanda, Willem Drees, bersama Nona (Nyonya?) Belanda harus kaget melihat bahwa di kasur mereka (artinya di negeri mereka) banyak sekali kutu busuk. Menurut catatan atas karikatur ini, pelaku kekerasan atas Haryono bukanlah perorangan, melainkan bagian dari kelompok anti-Indonesia yang terorganisir.

Waktu: 1949, 1950, 1952
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa di Belanda dan Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan | Wim van Wieringen
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 06 Mei 2020

Soekarno dalam karikatur Belanda: 1948-1952

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Januari 1948. Karikatur ini menggambarkan tokoh sosialis Belanda, Koss Vorrink, merobek mahkota Kerajaan Belanda di tengah kehancuran setelah Perang Dunia II. Di latar belakang tampak Soekarno digambarkan bersiap memegang mahkota baru yang terbuat dari tulang belulang.
(klik untuk memperbesar | © AVS)
10 Januari 1948. Karikatur ini diberi judul "Silakan duduk di sini!", menggambarkan bagaimana Soekarno merasa keki karena diberi tempat perundingan kecil bersama wilayah-wilayah federasi buatan Belanda, sementara meja perundingan besar diisi penuh olah para politisi Belanda, Belgia, Australia, dan Amerika (Louis Beel, van Mook, Paul van Zeeland, Richard Kirby, Frank Graham).

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Februari 1949. Karikatur ini menggambarkan Komisaris Tinggi untuk Urusan Hindia-Belanda, Louis Beel, tampak sendirian berteriak-teriak "Halo! Halo!" semantara bayangan besar Soekarno-Hatta ada di latar belakang. Saat itu Soekarno-Hatta dan para pemimpin sipil lain diasingkan di Bangka oleh Belanda setelah Aksi Polisionil 2.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
18 November 1952. Soekarno berbicara di Tanjung Karang bahwa dulu orang menyalahkan Belanda atas hal-hal yang buruk, sekarang (ketika banyak ketidakpuasan dilontarkan daerah ... yang kemudian berujung ke pemberontakan), orang menyalahkan pemerintah pusat di Jakarta atas semua hal yang salah. Karikaturis Leendert Jordaan menggambarkan Soekarno menjadi "kambing hitam baru" yang disambut beberapa politisi Belanda yang juga pernah dikambinghitamkan dalam urusan Hindia-Belanda: van Mook, Louis Beel, dan Willem Drees. Ketiganya menyambut Soekarno "Silakan masuk, selamat datang."


Waktu: 1948, 1949, 1952
Tempat:
Tokoh: Soekarno (Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa:
Karikaturis: Karel Thole (#1), Leendert Jurriaan Jordaan (#2,4,5), Wim van Wieringen (#3)
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Minggu, 13 Januari 2019

Peristiwa 17 Oktober 1952: Pengunjuk rasa dan tentara di Istana Merdeka

(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 17 Oktober 1952
Tempat: Istana Merdeka (Jakarta)
Tokoh:
Peristiwa: Di tahun 1952 TNI merasa bahwa para politisi, dengan didiamkan atau malah didukung Presiden Soekarno, terlalu mencampuri urusan internal tentara. Sebuah unjuk rasa dicetuskan, dan tentara termasuk kesatuan tank bergerak ke Istana dengan alasan untuk melindunginya, tetapi dengan moncong meriam diarahkan ke Istana.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Peristiwa yang mirip terulang di tahun 2001 ketika hubungan Presiden Abdurrahman Wahid dengan Polri serta TNI tidak begitu harmonis. Presiden dianggap menimbulkan perpecahan terutama di badan Polri. Ketika Gus Dur hendak mengelurkan dekrit atau maklumat, sementara MPR mempersiapkan pemakzulan Presiden, kesatuan tentara mengadakan "apel siaga" di Monas, dengan alasan untuk melindungi Istana, tetapi dengan moncong tank mengarah ke Istana.

Minggu, 13 Juli 2014

Soekarno, disunting dari film tahun 1950-an




Waktu: 1952
Tempat: Surabaya, Jakarta
Tokoh:Soekarno (Presiden RI), Muhammad Hatta (Wakil Presiden RI)
Peristiwa: Dua gambar pertama kemungkinan besar menunjukkan kedatangan Soekarno di bandara Surabaya, sebelum beliau meresmikan Tugu Pahlawan. Gambar kedua memperlihatkan Soekarno dan Hatta menghadiri shalat Idul Fitri di lapangan yang kemungkinan menjadi cikal bakal lokasi mesjid Istiqlal.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Michael Rogge

Sabtu, 21 September 2013

Soekarno berorasi, 17 Oktober 1952

(klik untuk memperbesar)
Waktu: 17 Oktober 1952 (?)
Tempat: Istana Merdeka, Jakarta (?)
Tokoh: Soekarno (Presiden RI)
Peristiwa: Presiden Soekarno berorasi menyusul adanya demonstrasi yang diarahkan ke istana, sesuatu yang disebut Peristiwa 17 Oktober 1952.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Bettmann / Corbis


UPDATE 31 Mei 2019
Tambahan foto dari peristiwa yang sama; di sebelah kanan Soekarno berdiri Ida Anak Agung Gde Agung.

(klik untuk memperbesar)

Jumat, 06 September 2013

Soekarno berpidato di Sukabumi, 1952

Waktu: 20 Oktober 1952
Tempat: Sukabumi
Tokoh: Soekarno (Presiden RI)
Peristiwa: Presiden Soekarno berpidato di Sukabumi, mengajak rakyat Jawa Barat untuk tidak mendukung DI/TII.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Bettmann / Corbis