Tampilkan postingan dengan label Cikajang (Garut). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cikajang (Garut). Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 April 2023

Dari serakan foto-foto karya Woodbury & Page (5)

Walter Bentley Woodbury dan James Page adalah dua orang Inggris yang menjadi salah dua perintis dunia fotografi profesional di Hindia-Belanda. Studio foto yang mereka dirikan di Batavia menjadi teladan bagi fotografer lain untuk mendirikan hal yang sama di Padang, Semarang, Surabaya, dan kota-kota lain di Nusantara. Blog ini sudah menampilkan banyak karya keluaran dari studio ini. Kali ini kita akan mencoba mengumpulkan foto-foto karya Woodbury dan Page yang berserakan.


1865: Istana Bogor
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1867: Pabrik gula Colomadu, Karanganyar
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1867: Bupati Pati, Raden Adipati Ario Condro Adhi Negoro bersama para pengiringnya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1873: Para pembatik di Cikajang, Garut
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1865, 1867, 1873
Tempat: Bogor, Cikajang (Garut), Colomadu (Karanganyar), Pati
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Woodbury & Page
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 30 Oktober 2018

Penggunaan bom peninggalan Jepang sebagai ranjau dalam menghadapi Aksi Polisionil 1

Sekitar Surabaya, 21 Juli 1947: Tentara Belanda membersihkan jalan dari ranjau yang dipasang TNI
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Karawang, 23 Juli 1947
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Semarang, 26 Juli 1947
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Juli 1947: Bom ranjau yang diamankan Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Cikajang (Garut), 28 Oktober 1947
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Madura, 20 November 1947: Tentara Belanda membersihkan jalan dari ranjau yang dipasang TNI
(klik untuk memperbesar | © de Jong / gahetna)

Waktu: 1947
Tempat: s.d.a.
Tokoh:
Peristiwa: Ketika Jepang meninggalkan Indonesia setelah kalah perang, para pejuang menyita banyak persenjataan mereka, termasuk bom-bom udara yang tidak terpakai. Ketika Belanda menjalankan Aksi Polisionil 1 para pejuang menanam bom-bom ini sebagai ranjau yang siap meledak untuk menahan gerak maju pasukan Belanda.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Jumat, 17 Agustus 2018

Warga Tionghoa di masa perang kemerdekaan (19): Evakuasi di Cikajang, Garut

Pengantar: Kerusuhan 1998 termasuk bagian paling hitam di dalam sejarah hubungan warga "pribumi" dan Tionghoa di Indonesia. Peristiwa ini memicu munculnya era reformasi yang kemudian memberikan banyak kemajuan di dalam hubungan ini.

Harus diakui, peristiwa di tahun 1998 bukanlah yang pertama. Kekurang-harmonisan ini sudah ada puluhan tahun sebelumnya, termasuk di masa perang kemerdekaan. Blog ini sebelumnya sudah memperlihatkan perusakan pada harta benda warga Tionghoa yang dilakukan pejuang kemerdekaan di beberapa tempat, dan bagaimana Belanda dipandang sebagai pelindung warga Tionghoa dan terlibat dalam pembentukan milisi Tionghoa bersenjata yang berseteru dengan para pejuang.

Sebagian dari kita boleh jadi berpendapat "Ah, sudahlah, itu masa lalu. Tidak diusah diungkit-ungkit, hanya akan membuka luka dan borok lama. Kita lihat ke depan saja agar ada hubungan yang lebih harmonis." Pendapat seperti ini mengimplikasikan bahwa kita sebaiknya menutup sejarah yang tidak enak didengar. Di sini ada kemungkinan bahwa generasi ke depan, dari semua pihak baik "pribumi" maupun Tionghoa, tidak mencernai apa yang telah terjadi sebelumnya, dan menghadapi risiko akan mengulang apa yang justru seharusnya dihindari.

Penyelidikan sejarah secara jernih, tanpa generalisasi, tanpa praduga, tanpa emosi, diharapkan bisa menjadi bahan yang berharga agar kita, semua, bisa belajar dari masa lalu. Gambar-gambar berikut mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi ke arah sana.

(klik untuk memperbesar | © Exalto / gahetna)
Kolonel Lentz (kiri depan), komandan Brigade Infantri 3, dan Kolonel Paulusson (kanan depan), komandan Brigade W, yang membebaskan warga Tionghoa dari sebuah kampung di Cikajang (klik untuk memperbesar | © Exalto / gahetna)
(klik untuk memperbesar | © Exalto / gahetna)
(klik untuk memperbesar | © Exalto / gahetna)

Waktu: 28 Oktober 1947
Tempat: Cikajang (Garut)
Tokoh:
Peristiwa: Ketika militer Belanda merengsek maju ke kota Garut semasa Aksi Polisionil 1, Juli/Agustus 1947, para pejuang kemerdekaan mundur ke pedesaan. Mereka menggiring beberapa warga Tionghoa, dan menempatkannya di sebuah kampung di wilayah Cikajang. Di bulan Oktober 1947, lokasi ini diendus oleh Belanda yang kemudian mengerahkan paling tidak dua brigade untuk menjemput dan mengembalikan warga Tionghoa ini. Catatan Belanda menyebutkan ada sekitar 500 warga Tionghoa yang mereka temukan di kampung ini.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Foto paling atas pernah dimuat di posting ini; kali ini dimunculkan lagi dengan ukuran yang lebih besar.

Jumat, 07 Juli 2017

Tindakan bumi hangus pejuang kemerdekaan (8): Garut

23 November 1947: Instalasi listrik jaringan Garut-Tasikmalaya
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
18 Oktober 1947: Mesin-mesin di pabrik teh "Juliana" di Cikajang
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 1947
Tempat: Cikajang (Garut)
Tokoh:
Peristiwa: Reruntuhan dan puing-puing hasil aksi bumi hangus yang dilakukan pejuang kemerdekaan ketika Belanda menjalankan Aksi Polisionil 1 agar aset penting tidak jatuh ke tangan Belanda.
Fotografer: Exalto
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: