Tampilkan postingan dengan label Buru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buru. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Desember 2024

Foto-foto pengintaian udara yang diambil Sekutu semasa Perang Dunia 2: Jambi dan Pulau Buru

Landasan pacu di Pulau Buru …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… yang kelak menjadi Bandara Namlea
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Landasan pacu di Jambi
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: antara 1942 dan 1945
Tempat: Jambi, Pulau Buru
Tokoh:
Peristiwa: Menjelang akhir Perang Dunia 2, ketika Jepang makin defensif, pihak Sekutu memanfaatkan keunggulan udara mereka untuk melakukan pengintaian atas-atas posisi penting atau strategis, termasuk berbagai tempat di wilayah Nusantara seperti yang ditampilkan di foto-foto di atas.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 22 Agustus 2024

Pasukan Australia di Maluku, 1945

Oktober 1945: Beberapa tentara Australia berdiri tegap sementara bendera Australia dan Belanda dinaikkan dengan iringan musik genderang dan seruling dari beberapa warga lokal
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Ambon: Seorang tentara Australia berjaga di sebuah jalan yang lumayan banyak dilewati warga
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Oktober 1945: Seorang perwira Inggris bersama seorang perwira (?) Australia
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pasukan Australia (sebagian tanpa baju) dan Belanda di Laha, Ambon …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… pada saat kedatangan sebuah kesatuan Belanda dari Morotai yang akan ditempatkan di Ambon
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Edisi lain dari foto pertama
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Maluku (kemungkinan semuanya di Ambon)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:


UPDATE 30 November 2024
Militer Australia yang diwakili Mayor J. Arnott (berdiri di kiri) dan Mayor Laut Whitebrook (berdiri dengan celana pendek) tiba di Pulau Buru dalam rangka pengambilalihan kendali atas landasan pacu Namlea dari pasukan Jepang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Selasa, 21 Mei 2024

Peta kuno keluaran Paris dari tahun 1747: Ambon, Banda, Buru, Seram, dan sekitarnya

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1747
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru kartografi: Jacques-Nicolas Bellin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Selasa, 07 Mei 2024

Peta navigasi kuno dari tahun 1724: Ambon, Buru, Haruku, Saparua, Seram, dan sekitarnya

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1724
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru kartografi: François Valentyn
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 26 Oktober 2023

Hindia-Belanda dalam foto stereoskopi (13)

PENGANTAR
Di akhir abad ke-19 foto stereoskop cukup populer untuk melihat foto dengan kesan tiga dimensi. Teknik yang digunakan saat itu adalah dengan membuat dua foto dengan sudut pengambilan yang sedikit berbeda. Kemudian kedua foto ini disandingkan, dan dilihat dengan menggunakan alat bersekat yang memisahkan pandangan mata kiri dan kanan. Gambar di kiri memperlihatkan contoh alat ini.

Wilayah Hindia-Belanda pun tak luput dari mode fotografi ini. Seri berikut akan menampilkan beberapa motif foto dari Hindia-Belanda yang ada di koleksi penggemar stereoskopi.

Dua pria Belanda di Kayeli, Pulau Buru
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah gua pinggir laut di Pulau Damar, Maluku
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Istana air Taman Sari, Yogyakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Teluk Tomini dilihat dari Poso, Sulawesi Tengah
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Teluk Tomini dilihat dari Pagimana, Sulawesi Tengah
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Seorang pria duduk di tepi laut
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: tidak ada keterangan
Tempat: Maluku (Pulau Buru, Pulau Damar), Sulawesi Tengah (Pagimana, Poso), Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 27 Juni 2022

Rumah kusta Lau Simomo di tahun 1931 dan beberapa fasilitas kesehatan lainnya pada masa Hindia-Belanda

1931: Rumah perawatan bagi penderita kusta yang didirikan Belanda di Lau Simomo (Kabanjahe, Karo)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Deli, 1931: Sebelumnya para penderita kusta diasingkan di rumah atau gubuk seperti ini
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Klinik yang didirikan Belanda di Leksula (Pulau Buru) bagi masyarakat dan juga pesakitang yang ditahan di sana
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Rumah sakit Santo Carolus di Yogyakarta
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Deli: Posyandu untuk ibu dan anak dari pekerja perkebunan tembakau asal Jawa
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: sebelum 1942 (a.l. 1931)
Tempat: Deli, Kabanjahe, Pulau Buru, Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 09 Agustus 2021

Peta Maluku karya Cornelis van Baarsel dan putranya, 1818 (1)

Pulau Buru (kiri) dan Pulau Seram (kanan), dengan pemandangan ke pesisir Seram (bawah)
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Teluk Baguala, Ambon (atas), dan peta Pulau Ambon (bawah, dengan arah utara menuju ke kiri bawah)
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1818
Tempat: Ambon, Buru, Seram
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Cornelis van Baarsel dan putranya
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 16 November 2016

Ilustrasi dari buku The Malay Archipelago karya Alfred Wallace (11): peta Minahasa, Seram, dan sekitarnya

PENGANTAR

Bagi dunia ilmu pengetahuan nama Alfred Russel Wallace disejajarkan dengan Charles Robert Darwin, yang bukan hanya hidup senegeri dan sezaman, tapi juga menggeluti bidang ilmu yang sama. Namun tidak dapat disangkal bahwa Darwin jauh lebih dikenal dan diperdebatkan. Padahal karya utama Wallace, yaitu The Malay Archipelago berisi terobosan-terobosan ilmiah yang kemudian menelurkan istilah garis Wallace dan efek Wallace. Buku yang pertama kali terbit tahun 1869 ini (dan masih diterbitkan hingga sekarang!) merupakan hasil perjalanan dan penelitian Wallace tujuh tahun di wilayah Nusantara dari tahun 1856 hingga 1862.

Berikut beberapa peta dari buku ini.

(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
Waktu: 1856-1862
Tempat: 
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: The Malay Archipelago
Catatan:

Senin, 08 Juni 2015

Peta Maluku Utara dari tahun 1724

(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1724
Tempat: Maluku
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Oud en nieuw Oost-Indiën (1724) karya François Valentijn
Catatan:

Kamis, 27 Februari 2014

Serangan udara pihak sekutu di Pulau Buru, 1944

(klik untuk memperbesar)
Waktu: 15 Oktober 1944
Tempat: Pulau Buru
Tokoh:
Peristiwa: Pasukan sekutu menjatuhkan bom-bom berparasut untuk menghancurkan pesawat-pesawat militer Jepang di Pulau Buru
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Hulton-Deutsch Collection / Corbis

Kamis, 29 Agustus 2013

Peta Sulawesi, Maluku, dan sekitarnya dari tahun 1700


Waktu: 1700
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Luca Tettoni
Sumber / Hak cipta: Corbis
Catatan: Peta ini dikeluarkan oleh Pieter Vander Aa; gambar dengan ukuran 1243x900 bisa diunduh dari laman Barry Lawrence Ruderman Antique Maps Inc.