Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Maret 2026

Peta Indonesia ketika jumlah penduduknya masih 59 juta

Peta dengan penomoran di beberapa daerah, beserta wajah penduduk daerah tsb. (Lampung, Palembang, Djakarta, Sunda, Solo, Djokja, Madura, Bali, Flores, Sumba, Timur, Makasar, Bugis, Buton, Dajak, Sangir, Menado, Donggala, Napoe-Toradja, Bada-Toradja, Moena)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: ?
Tempat: Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Peta ini sejatinya memunculkan beberapa pertanyaan. Di tahun 1930an penduduk Hindia-Belanda sudah mencapai 60 juta, yang memberi dugaan bahwa peta ini berasal dari era ini. Tetapi peta ini tidak menggunakan bahasa Belanda, serta menggunakan kata "Indonesia" atau "bangsa Indonesia" yang menyiratkan bahwa ini dibuat setelah Indonesia merdeka. Tetapi berikutnya, peta ini menyebut "Borneo" bukan "Kalimantan", serta "Papoea" bukan "Irian" yang kembali membawa kita ke masa sebelum proklamasi. Tambah membingungkan: Penulisan bunyi "u" terkadang "oe" (oekoeran, djoemlah pendoedoek, dsb.), terkadang juga "u" (Lampung, Sunda, Madura, dsb.). Pertanyaan tambahan: Tidak ada wajah dari suku lain yang juga dominan seperti Aceh, Batak, atau Minangkabau.

Sabtu, 22 November 2025

Peta kuno keluaran Jerman tentang Asia dan Nusantara dari tahun 1624

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)


Tahun terbit: 1624
Tempat terbit: Jerman
Tokoh:
Deskripsi: Ini merupakan peta berbahasa Latin karya orang Jerman bernama Philipp Clüver yang sekarang dikenang sebagai salah satu perintis geografi sejarah (historical geography). Terkait Nusantara, berikut nama pulau/kepulauan dan tempat yang sudah dikenal di kalangan masyarakat berpendidikan di Eropa pada saat itu:

  • Aru
  • Baly (Bali)
  • Banca (Bangka)
  • Banda
  • Borneo (Kalimantan)
  • Bouro (Buru)
  • Cambava (Sumbawa)
  • Carimon Iava (Karimun Jawa)
  • Celebes (Sulawesi)
  • Ceram (Seram)
  • Flores
  • Gilolo (Halmahera)
  • Iava Maior (Jawa)
  • Madura
  • Mintaon (Mentawai)
  • Moretay (Morotai)
  • Nyas (Nias)
  • Pars Nova Guinea
  • Sumatra
  • Timor

  • Achem (Aceh)
  • Amboina (Ambon)
  • Bancalis (Bengkalis)
  • Bandarmassin (Banjarmasin)
  • Bantam (Banten)
  • Batavia / Iacatra (Jakarta)
  • Iamby (Jambi)
  • Macasser (Makassar)
  • Manado
  • Mataran (Mataram)
  • Palimbam (Palembang)
  • Sambas
  • Sampit
  • Succadano (Sukadana)
  • Tetolli (Toli Toli)

Juru kartografi: Philipp Clüver (berdasarkan karya Willem Blaeu)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Selasa, 21 Oktober 2025

Peta Sir Stanford Raffles tentang Nusantara dari tahun 1830

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1830
Tempat terbit: London
Tokoh: 
Deskripsi: Peta ini diterbitkan tahun 1830 di London untuk mengenang Sir Stanford Raffles yang meninggal empat tahun sebelumnya. Raffles pernah menjadi orang Inggris nomor satu di Bengkulu dan juga Jawa, sebelum akhirnya mengambil posisi puncak di Singapura. Peta ini dibuat a.l. berdasarkan catatan dan penelitian yang dilakukan di zaman Raffles dan tentunya juga dengan menggunakan bahan yang sudah tersediua sebelumnya. Peta ini cukup komprehensif memperlihatkan pulau-pulau dari Sabang hingga ke Merauke, dengan banyak pembubuhan nama kota, pulau, selat, teluk, laut, bahkan hingga informasi tentang kapan wilayah di Papua "ditemukan" atau kapan Belanda menyelidiki sebuah sungai di Kalimantan.
Selain wilayah Nusantara, peta ini juga memperlihatkan Jepang, Korea, Tiongkok, dsb. meskiu informasi yang ditampilkan tidak seramai seperti yang dibubuhkan di Nusantara.
Juru kartografi:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 24 Agustus 2025

Sebuah peta dari tahun 1910 yang membandingkan Belanda dengan Kepulauan Nusantara

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1910
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Peta keluaran Belanda ini tidak hanya menampilkan wilayah Hindia-Belanda, tetapi juga kawasan yang sekarang merupakan bagian dari Filipina, Malaysia (di utara Kalimantan), Papua Nugini (di timur Papua), serta Timor Leste (di timur Timor). Dalam skala yang sama, yaitu 1:10 juta, disandingkan pula wilayah Belanda yang tampak hanya mengisi sebagian dari kotak yang dibatasi garis lintang dan garis bujur, sementara wilayah Hindia-Belanda sendiri berada di tidak kurang dari 27 kotak penuh.
Juru kartografi:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 31 Juli 2025

Peta dari abad ke-18 tentang Asia ketika benua ini dibagi dalam empat wilayah: India, Tiongkok, Sumatera dan pulau-pulau sekitarnya, serta Jawa

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: abad ke-18
Tempat terbit: ?
Tokoh:
Deskripsi: Henri Abraham Chatelain, pembuat peta ini, adalah seorang pastor dari kelompok Huguenot, sebuah aliran Protestan di Perancis, yang sempat mengalami penindasan hebat dari mayoritas warga Katolik di negeri ini. Chatelain sendiri orang Belanda, yang pernah tinggal di Paris, London, Den Haag, serta Amsterdam; jadi peta ini bisa dibuat di salah satu dari kota-kota itu. Yang menarik, tampaknya bagi Chatelain benua Asia yang besar dan luas ini dibagi dalam empat wilayah: India, Tiongkok, Sumatera dan pulau-pulau di sekitarnya, serta Jawa. Peta ini menyebut nama-nama lain seperti Filipina, Jepang, Korea, Mongolia, Siam, dsb., tetapi empat nama di atas yang menjadi judul tentang benua Asia. Dan jika kita baca kotak naskah yang ditempatkan di bawah kanan dari peta ini, memang nama-nama dari wilayah Nusantara yang diketengahkan. Kita a.l. bisa baca nama Mataram, Jepara, Cirebon, dan Batavia. Ini tampaknya menunjukkan pentingnya kawasan ini saat itu. 
Juru kartografi: Henri Abraham Chatelain (1684-1743)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 11 Juni 2025

Peta kuno dari tahun 1561: Ketika Halmahera lebih besar daripada Jawa bahkan Kalimantan

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1561
Tempat terbit: Venezia
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini luar biasa banyak salahnya; tetapi justru ini membuatnya sangat berharga karena menunjukkan bagaimana pandangan awal bangsa Eropa terhadap wilayah Nusantara ketika mereka belum banyak menjelajahi dunia. Dari sudut posisi, mereka sudah benar menempatkan Nusantara dengan bingkai di utara dari mulai India (Bengala), Myanmar (Burma), Kamboja (Camboia), serta Tiongkok (Lachina). Ketika peta bergerak ke selatan, kita menemukan beberapa nama yang tampaknya sudah sangat dikenal di Eropa: Malaka (Malaca), Camatra (Sumatra), Bireuen (Biraem), Pidie (Pedir), Kampar (Campar), Palembang (Paliban), Bangka (Banca), Funda (Selat Sunda), Jepara (Iapara), Tuban, Brunei (Burna), Timor, Malaka (Malaca), Ambon, Malaka (Malaca), Tidore (Tidora), Makian (Machian), Bacan, Jailolo (Gilolo), Ternate (Tereneta), dll. Hanya saja, bentuk dan ukuran pulau-pulau di Nusantara ini masih jauh dari akurat, meskipun posisi relatif dari satu pulau ke pulau lain sudah terlihat lumayan. Kita lihat misalnya Sumatera membengkak ke arah barat daya. Jawa (Iava Mazor) sudah benar membentang searah garis khatulistiwa, tetapi konturnya masih dipengaruhi oleh perkiraan. Kalimantan (Iava Menor) terlihat hanya secuwil di utara khatulistiwa dengan ukuran tidak terlalu jauh dari Timor. Sementara itu, pulau paling terkenal saat itu, yaitu Halmahera (Gilolo), tampak berukuran sangat besar, dan kemungkinan dilukis hanya bagian pesisir baratnya saja. Bali, Flores, Lombok, Sulawesi, dan tentunya Papua, saat itu tampaknya belum dikenal bangsa Eropa.
Juru kartografi: Girolamo Ruscelli
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 28 April 2025

Peta keluaran Inggris dari tahun 1844 tentang Nusantara dan sekitarnya

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: ~1844
Tempat terbit: London
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini memperlihatkan wilayah Asia Tenggara dan sekitarnya, yaitu hingga ke Myanmar dan malah Kalkutta di barat, serta Taiwan di utara, dengan fokus utama di kawasan Nusantara. Karena ini peta keluaran Inggris, perhatian khusus diberikan ke Singapura dan Pulau Pinang (Penang) yang saat itu merupakan jajahan Inggris. Peta memberikan warna-warna khusus untuk menunjukkan siapa menjajah wilayah mana: Inggris merah, Belanda oranye, Spanyol hijau, Portugis ungu, dan Denmark (!) coklat yang saat itu memiliki jajahan kecil di sekitar India. Tetapi tampaknya kode warna ini, yang memang dioleskan secara manual, tidak akurat, karena tidak mencerminkan situasi sesungguhnya
Juru kartografi: Edward Stanford & A.K. Johnston
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Sabtu, 12 April 2025

Peta untuk umum tentang Nusantara keluaran Inggris dari tahun 1798


Tahun terbit: 1798
Tempat terbit: Inggris    
Tokoh:
Deskripsi: Peta di zaman dahulu umumnya disusun untuk para pelaut, penjelajah, pihak yang berkecimpung dalam dunia perjalanan, ahli ilmu bumi, militer, dan semacamnya. Peta ini, yang dicetak di ujung abad ke-18, merupakan salah satu pertama yang dipublikasikan untuk khalayak umum, tidak eksklusif hanya untuk kalangan tertentu saja. Peta Inggris ini kelihatannya kurang updated, dibandingkan misalnya dengan apa yang sudah diketahui oleh orang Belanda, Perancis, atau Portugis saat itu. Selat Makassar, misalnya, tampak terlalu "lebar"; sementara wilayah Sulawesi Selatan tampak "bengkak". Pulau Halmahera, yang konturnya sudah dikenal baik orang-orang lain, di peta Inggris ini tampak tidak akurat. Begitu juga kontur pulau Timor, yang entah disalin dari mana sehingga bentuknya sama sekali jauh dari mirip. Peta ini juga cukup berani membagi pulau Papua menjadi dua dengan menempatkan sebuah selat yang menembus Teluk Yos Sudarso ke Laut Aru.
Juru kartografi:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 03 Maret 2025

Peta Nusantara dari tahun 1860: Ketika di selatan Fak Fak ada pulau bernama "Van den Bosch" yang sekarang hilang

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1860
Tempat terbit: London
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini merupakan kompilasi dari berbagai peta, yang berasal dari berbagai sumber seperti Amerika, Belanda, Inggris, dan Spanyol. Dalam skala yang ditampilkan, peta ini lumayan mendetail. Pulau-pulau kecil yang berserakan sepanjang Nusantara diberi nama. Beberapa tempat memiliki nama hingga ke jenjang kecamatan. Peta ini juga sudah sangat akurat untuk wilayah dari Aceh hingga ke Maluku. Di sekitar Papau peta ini cukup jujur untuk mengatakan bahwa beberapa kontur pantai masih belum terpetakan dengan benar. Ini terlihat dari garis putus-putus atau tanpa garis di sekitar Teluk Yos Sudarso, Kepulauan Aru, dan Kepulauan Tanimbar. Yang menarik, di selatan Fak Fak tampak garis putus-putus, kemudian kosong di bawahnya, dan muncul pulau dengan nama "Van den Bosch". Sekarang kita sudah tahu bahwa itu semua merupakan bagian utuh dari pulau Papua, dengan kata lain garis putus-putus, wilayah kosong, dan pulau itu seharusnya menyatu ke Papua.
Yang menarik lainnya: Garis-garis pantai diberi warna sesuai dengan siapa yang menguasainya: oranye untuk Spanyol dan Portugis, orange pucat untuk Belanda, pink untuk Inggris, serta abu-abu untuk wilayah yang masih dikuasai penduduk setempat. Jadi menurut peta ini, masih banyak wilayah di Nusantara yang saat itu tidak atau belum dikuasai Belanda:Aceh, pesisir timur Sumatera, pedalaman Kalimantan, Bali, Lombok, bagian barat Flores, serta Papua.
Juru kartografi: J. Bartholomew
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Selasa, 11 Februari 2025

Peta kuno keluaran Italia dari tahun 1690 tentang kepulauan Nusantara

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)


Tahun terbit: sekitar 1690
Tempat terbit: Italia
Tokoh:
Deskripsi:

Ini merupakan versi hitam-putih dari peta yang sebelumnya dimuat di posting ini. Peta keluaran Italia ini memuat relatif  banyak nama-nama tempat, baik yang biasa muncul di peta lain, maupun yang jarang. Di Sumatera misalnya, selain nama biasa seperti Aceh, Pedir, dan Palembang, peta ini juga memuat Pasai (Passay), Kampar (Camfer), Jambi, Pasaman, serta Pulau Wei (Vay), Pulau Nias (Nyas). Di Kalimantan, selain nama langganan seperti Banjarmasin dan Sukadana, peta ini juga memuat nama lain seperti Balikpapan (Billipapan), Sampit, dan Kota Waringin (Cotaringin).

Menariknya, Pulau Jawa, yang bentuknya masih perlu beberapa koreksi, hanya diwakili oleh sedikit nama saja, yaitu Banten, Batavia, Demak, Mataram, Tuban, Pasuruan, dan Blambangan. Sulawesi sebaliknya: Di peta-peta lain umumnya hanya diberi sedikit nama tempat; di peta ini malah sebaliknya, lumayan banyak. Selain nama biasa seperti Makassar dan Manado, ada juga Toli-toli (Tettoli), Gorontalo (Coroutalao), dan Mamuju (Mamoya).

Wilayah Maluku dan Nusa Tenggara seperti biasa dipenuhi dengan pulau-pulau kecil dan sedang dengan nama-nama yang relatif sudah terkenal di Eropa, seperti Seram, Halmahera (Gilolo), Banda, Timor, Flores, dsb. Papua masih digambar "ngambang" yang menandakan bahwa konturnya memang belum sepenuhnya terjelajahi. Begitu juga Kepulauan Aru, yang masih digambar seolah-olah sebuah pulau besar dengan kontur bagian timur dibiarkan kosong (Arow).

Juru kartografi: Vincenzo Maria Coronelli
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Jumat, 24 Januari 2025

Peta kuno terbitan London dari tahun 1705: Ketika wilayah Nusantara masuk kategori Filipina

(klik untuk memperbesar | Indies Gallery)

 
Tahun terbit: 1705
Tempat terbit: London
Tokoh:
Deskripsi: Ada beberapa hal yang bisa dicatat dari peta kuno keluaran Inggris ini. Pertama, pembuatnya, Herman Moll, sejatinya bukan orang Inggris, tapi orang Jerman utara, kemungkinan besar dari wilayah sekitar Bremen. Ketika Perang Skania berkecamuk di tanah airnya, dia mengungis ke Inggris, dan menjadi pembuat peta kondang. Kedua, meski East Indies diberi huruf besar, peta ini tetap berjudul The Philippine Islands; pulau-pulau dan wilayah lain dimasukkan ke kategori others.

Kemudian, meski beberapa nama tempat di peta ini terkesan berasal dari julukan yang diberikan orang Inggris, atau cara penulisan orang Inggris (misalnya York or Bencouli untuk Bengkulu, Pepper Country untuk wilayah selatan, Kalimantan, Str. of Bally untuk Selat Bali, dsb.), beberapa nama lain mengindikasikan bahwa Herman Moll bertumpu pada peta-peta sebelumnya yang misalnya dibuat oleh orang Portugis. Yang langsung mencolok mata misalnya Achin (Aceh), Manincabo (Minangkabau), Palimbam (Palembang), Lomboc (Lombok), dsb.

Menariknya, penulisan beberapa nama lain tampak unik dan jarang ditemukan di peta kuno lain. Masuk dalam kategori ini a.l.

  • Siaque (Siak)
  • Yambe (Jambi)
  • Lampin (Lampung)
  • Carabon (Cirebon)
  • Surbaia (Surabaya)
  • Cumbava (Sumbawa)
  • Siaque (Siak)

Terakhir: Antara Karimunjawa dan Bawean di laut Jawa, Herman Moll menggambar sebuah pulau fiktif (?) dengan nama Lubeck. Boleh jadi ini sebuah gag yang ditinggalkan Herman yang mengindikasikan wilayah asal muasal dia di Jerman.

Juru kartografi: Herman Moll
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Selasa, 14 Januari 2025

Peta dekoratif tentang Nusantara keluaran Inggris dari tahun 1851

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1851
Tempat terbit: London
Tokoh:
Deskripsi: Peta tentang Nusantara dan sekitarnya ini merupakan contoh jitu tentang jenis peta dekoratif yang sempat menjadi mode sebelum orang beralih ke peta modern, yang dicetak, tampil lebih sederhana, dan sejatinya tidak seartistik peta dekoratif. Peta seperti ini a.l. memiliki karakteristika sbb.:
  • Garis luar pulau atau benua diberi tambahan garis berwarna yang lebih tebal. Ini terkadang juga diterapkan ke batas wilayah atau negeri.
  • Huruf yang digunakan berjenis Roman, yang apabila perlu dibuat melengkung agar tidak terlihat kaku.
  • Jalur sungai yang besar dibuat jelas. Barisan pegunungan dihiasi dengan permainan garis-garis halus yang memunculkan kesan 3D. Lautan dangkal di sekitar pulau atau benua diberi garis halus dengan warna biru yang bisa memunculkan persepsi adanya daratan "rendah" di bawah permukaan laut.
  • Margin peta diberi ornamen hiasan yang membuat peta ini seolah-olah layak dipasang di dinding layaknya sebuah lukisan berfigura.
  • Ruang "kosong" di samudra luas diisi dengan gambar atau lukisan kecil yang menambah informasi visual tentang wilayah yang ditampilkan di peta. Lukisan ini tapi dibuat tidak begitu menonjol sehingga fokus utama tetap berada di peta.
Juru kartografi: tim dari John Tallis
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Sabtu, 04 Januari 2025

Peta kuno keluaran Austria tentang Asia Timur dan Nusantara dari tahun 1786

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)


Tahun terbit: 1786
Tempat terbit: Wina (Austria)
Tokoh:
Deskripsi:

Austria pada saat ini adalah sebuah negara dengan jumlah penduduk di bawah 10 juta orang. Pada masa jayanya, Kekaisaran Austria pernah mencakup wilayah yang sekarang menjadi negara, atau bagian dari, Italia, Ceko, Slowakia, Polandia, Slowenia, Kroasia, Bosnia, Serbia, Hungaria, dan Rumania, malah juga Ukraina. Sebuah wilayah yang sangat luas. Meski demikian, fokus Austria umumnya ke wilayah Eropa Tengah dan Timur, tidak ke Asia yang jauh di sana.

Karena itu, peta kuno keluaran Austria yang memperlihatkan wilayah Asia Timur dan Nusantara merupakan hal yang relatif jarang. Peta ini memperlihatkan kontur pulau-pulau di Nusantara dan sekitarnya dengan cukup baik, dengan beberapa catatan:

  • Bali, Bangka, Belitung, Jawa, Kalimantan, Lombok, Sumatera, Timor, dan beberapa pulau kecil di sekitarnya sudah digambarkan dengan akurasi yang lumayan.
  • Sulawesi Tengah tapi masih salah digambarkan terutama di kawasan Teluk Tolo/Towori, sebuah kekeliruan yang menimpa banyak peta kuno.
  • Peta-peta kuno umumnya menggambarkan Halmahera dengan benar, karena pulau ini merupakan salah satu dari yang pertama dijelajahi bangsa-bangsa Eropa. Anehnya, di peta ini Halmahera (Gilolo) malah kehilangan satu "lengan".
  • Sumbawa masih ditampilkan secara keliru. Di lain pihak, peta ini berusaha untuk menggambarkan Papua (Papus Land) secara utuh, tetapi malah memisahkan beberapa wilayah di sekitar Kepala Burung.
Juru kartografi: Franz Anton Schrämbl
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Jumat, 27 Desember 2024

Peta kuno tentang Nusantara dari tahun 1630 dengan pembaruan dari hasil perjalanan kapal "Duyfken"

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)


Tahun terbit: 1630
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:

Ini merupakan edisi lain dari peta yang pernah dimuat di posting ini sebelumnya.

Duyfken adalah nama sebuah kapal layar Belanda dari awal abad ke-17 yang tidak berukuran besar, tidak bersenjata berat, serta hanya aktif selama sekitar tujuh tahun sebelum dipensiunkan, tetapi memiliki perjalanan sejarah yang lumayan. Kapal ini terlibat dalam pertempuran laut Banten di tahun 1601/1602 ketika Belanda dan Portugis berebut monopoli jalur perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Kapal ini terlibat dalam pengokohan kekuasaan Belanda di Sunda Kelapa, sebelum berlayar ke Ternate untuk kemudian kembali ke Belanda dengan membawa rempah-rempah. Di tahun 1605 kapal ini terlibat dalam pertempuran yang mendepak Portugis dari Ambon. Tiga tahun kemudian kapal ini dikerahkan untuk mengusir perahu-perahu dari Tiongkok yang mencoba masuk ke perairan Maluku. Di tahun yang sama "Duyfken" harus ikut bertempur melawan armada Spanyol dalam memperebutkan Pulau Makian. Jejak peristiwa yang banyak ini membuat kapal ini harus pensiun di tahun 1608.

Kapal ini juga pernah ditugaskan VOC untuk menyusuri wilayah timur dan selatan Nusantara yang belum dikenal bangsa Eropa. Dan "Duyfken" mencatat sejarah sebagai kapal pertama yang bukan hanya mendarat di Australia tetapi juga mendokumentasikannya. Peta di atas merupakan peta tentang Hindia Timur yang sudah diperbarui dengan catatan-catatan dari perjalanan kapal ini. Salah satu pulau/kepulauan di selatan Papua dicantuman sebagai Duyfkens Eylant (Pulau Duyfken).

Juru kartografi: Jan Jansson
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 19 Desember 2024

Salah satu peta kuno teraneh tentang Nusantara dari tahun 1608

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)


Tahun terbit: 1608
Tempat terbit: Köln (Jerman)
Tokoh:
Deskripsi: Peta berusia 400 tahun lebih ini telah menggambarkan kontur Hindia, Semenanjung Malaka, dan pesisir timur Vietnam serta Tiongkok dengan cukup baik. Tapi di luar itu, luar biasa menarik jika dilihat dari sudut pandang sejarah kartografi, alias lumayan amburadul. Hanya Sumatera yang tergambar dengan cukup lumayan. Kita a.l. bisa membuat catatan sbb.:

  • Sumatera disebut sebagai pulau legendaris Taprobana. Pedir sudah dikenal; Palembang ditulis sebagai "Zoida". Ada tempat di pantai barat dengan nama "Birnem" yang entah apakah maksudnya Bireuen, yang sejatinya ada di pantai timur.
  • Pulau Bangka disebut dengan nama lamanya Chinabato; di sini ditulis "Clinabare" yang kemungkinan salah salin.
  • Pulau Jawa ("Iaua Manor") sudah pas posisinya tapi bentuknya terlalu gemuk.
  • Pulau Kalimantan ("Borneo") dan Sulawesi ("Celebis") tidak karuan bentuknya.
  • Pulau Halmahera ("Gilolo") dan Seram ("Caylã") relatif lebih tergambar kontur aslinya.
  • Di Nusa Tenggara pulau ini mengenal Sumbawa ("Cambada"), Sumba ("Subao"), Flores ("Batuliar"), dan Timor.

Juru kartografi: Matthias Quad dan Johann Bussemacher
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 01 Desember 2024

Nusantara dalam peta kuno berbahasa Latin keluaran tahun 1680

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1680
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Ini salah satu dari sekian peta yang berjudul "Hindia Timur" (Indiæ Orientalis) tetapi sejatinya menampilkan wilayah yang lebih luas. Peta ini malah mencakup Persia, Hindia, Asia Tenggara daratan, Tiongkok, Taiwan, bahkan sebagian Jepang. Di wilayah Nusantara peta ini banyak sekali mencantumkan nama tempat, yang umumnya di sekitar pesisir. Sayang sekali salinan yang kita dapat ini resolusinya terlalu kecil, sehingga sulit sekali untuk membaca nama-nama ini. Kita hanya bisa melihat bahwa peta ini cukup menampikan Nusantara dengan kontur yang lumayan. Pengecualian besar tapi bisa terlihat di wilayah Sabah (ujung timur laut Kalimantan), serta "lengan" Sulawesi Tengah yang tidak tampak. Papua, yang saat itu memang belum banyak terjelajahi, ditampilkan seadanya; dan peta ini cukup jujur dengan menampilkan kontur Papua masih secara terputus, belum dalam garis penuh.
Juru kartografi: Frederick de Wit
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Jumat, 29 November 2024

Peta kuno dari tahun 1760: Peta keluaran Inggris tentang kepulauan Nusantara

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1760
Tempat terbit: London
Tokoh:
Deskripsi: Ada beberapa hal yang menunjukkan bahwa ini memang peta buatan orang Inggris.
  • Pertama tentunya bahasa yang digunakan.
  • Kemudian peta Filipina, yang saat itu dikuasai Spanyol dan seluk beluknya tidak diketahui orang Inggris, yang tampak digambarkan secara ngasal. Ini berbeda sekali dengan misalnya jazirah Hindia yang dikenal baik oleh Inggris sampai-sampai muara Sungai Ganga di sekitar Teluk Benggala digambarkan dengan cukup mendetail untuk skala peta seperti ini.
  • Bengkulu, yang pernah dikuasai Inggris, tentunya diberi perhatian khusus: Bencoolen, Marlbro Fort.
  • Di bagian bawah peta, garis bujur ditambahi keterangan tentang perbedaan tentang perbedaan waktu dengan London (Hours East from London); ini cikal bakal istilah GMT+6, GMT+7, dsb. yang kita gunakan sekarang.
Peta ini berjudul "Hindia Timur", tetapi sejatinya menampilkan wilayah Hindia (Barat) hingga ke Papua termasuk Tiongkok, Korea, dan Taiwan. Peta ini masih memuat kesalahan bahwa Makassar (Maccasser) itu sebuah pulau di barat Sulawesi. Sementara itu Flores disebut "Floris", yang merupakan tambahan nama untuk pulau ini; sebelumnya sudah kita temukan beberapa julukan lain di pembahasan tentang peta-peta kuno lainnya.
Juru kartografi: kemungkinan Francis Garden
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 25 November 2024

Peta kuno dari tahun 1818: Ketika Makassar bernama Rotterdam

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1818
Tempat terbit: Augsburg (Jerman)
Tokoh:
Deskripsi: Dokumen berbahasa Jerman ini berjudul Karte von Ostindien (Peta Hindia-Timur), dan menggunakan istilah Vorder-Indien (Hindia Depan) untuk menyebut jazirah Hindia, dan Hinter-Indien (Hindia Belakang) untuk menamakan wilayah yang sekarang menjadi Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand, dan Vietnam. Wilayah Nusantara, yang seharusnya diberi nama Ostindien, dibagi menjadi dua bagian: Sundische Inseln (Kepulauan Sunda) dan Molukische Inseln (Kepulauan Maluku). Dengan cakupan seluas ini peta ini tentunya hanya fokus ke nama-nama yang menurutnya penting. Maka di Sumatera kita hanya baca 4 nama: Aceh, Bengkulu, Padang, dan Palembang. Jawa malah hanya diwakili oleh 2 nama: Banten dan Jakarta. Sementara Kalimantan a.l. memperoleh Banjarmasin, Brunei, dan Sambas. Sulawesi malah hanya diwakili oleh satu nama saja, yang justru malah salah; peta ini tidak menyebut "Makassar", tapi menulis nama benteng Belanda yang ada di kota ini: Rotterdam.
Juru kartografi: Johan Walch
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 21 November 2024

Peta kuno dari tahun 1596: Antara Batochina dan Chinabata

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1596
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi: Peta dengan utara di sebelah kanan ini memperlihatkan Asia Timur dan Tenggara, dengan hiasan berbagai gambar hewan baik di daratan maupun di lautan. Selama ini kita cenderung mengamati pulau-pulau besar di perairan Nusantara; kali ini kita coba untuk melihat pulau-pulau yang lebih kecil.
  • Pulau Bangka pernah bernama Chinabata; sementara di Halmahera ada tempat bernama Batochina. Ini boleh jadi salah satu, atau salah dua, indikasi yang menunjukkan aktivitas perdagangan dengan Tiongkok di masa lampau hingga ke pelosok Maluku,
  • Pesisir utara Halmahera diberi nama Costa do Moro, atau "pantai kaum Muslim", yang menunjukkan agama yang dianut penduduk di sekitar ini. Istilah Moro yang diberikan orang Spanyol dan Portugis ini kemudian beralih ke penduduk Mindanao, Filipina, yang hingga sekarang menyebut diri Bangsa Moro.
  • Perairan Maluku merupakan kawasan yang sangat dikenal hingga pulau-pulau kecil dan sedang pun digambarkan dan dicantumkan namanya, seperti: Ternate, Tidore, Bakian, Run, Ai, Buru, Kepulauan Aru, dll.
  • Pulau Flores memiliki satu nama lagi: Froles; Bali disebut Galle; sementara Sumbawa diberi nama Aram d'Avara.
  • Nama-nama lain sudah cocok atau mendekati, seperti Madura, Karimata (Crimata), Karimun Jawa (Cirima Iaoa), Lingga (Linga), Bintan (Bintam), Mentawai (Nintaon), Engano, Natuna (Natuma).
  • Satu lagi, tapi kali ini terkait pulau besar: Peta ini mengklaim Sulawesi sebagai milik Portugis; di pulau ini kita bisa baca nama Purtugal.
Juru kartografi: Henricus Van Langren
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Jumat, 15 November 2024

Peta kuno dari tahun 1770: Ketika orang Inggris bukan hanya menggambar peta tapi juga bercerita

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1770
Tempat terbit: London
Tokoh:
Deskripsi: Orang Inggris terkenal memiliki selera sendiri soal narasi, dan terutama kekhasan dalam hal humor. Peta keluaran Inggris ini juga memiliki keunikan. Ketika peta-peta lain terfokus pada nama-nama tempat, atau sungai dan gunung, atau juga ilustrasi tentang dunia fauna yang mendiami sebuah tempat, peta Inggris ini dihiasi dengan beberapa catatan. Di perbatasan Laos-Siam misalnya, peta ini memperingatkan adanya orang-orang liar yang mendiami wilayah pegunungan di sekitar itu. Begitu juga di perbatasan Kamboja-Vietnam, di sini peta ini malah menyebut nama dari orang-orang liar ini, yaitu suku Kemoy. Wilayah Nusantara dan sekitarnya pun terkena. Salah satu teluk di barat Kalimantan diberi nama Bad Luck. Sebuah titik di barat Filipina diklaim sebagai English Bank; sementara bagian selatan Sumatera diakui sebagai Eng[lish] Fact. Pulau Sulawesi di sekitar garis khatulistiwa diberi catatan bahwa "tidak ada sungai yang layak dicatat di pulau ini". Bagian utara Kalimantan diberi catatan "bagian ini tidak banyak diketahui", sementara bagian tengah ditambahkan peringatan "bagian pulau ini dihuni oleh suku liar bernama Biayos (=Dayak)".
Juru kartografi: Thomas Kitchin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: