Tampilkan postingan dengan label Willem Drees. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Willem Drees. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Februari 2026

Para politisi Belanda setelah dimerdekakan dari tahanan Jerman Nazi, untuk kemudian harus menghadapi masalah kemerdekaan Indonesia, 1945

14 tokoh Belanda yang ditahan Jerman Nazi sebagai balasan atas penahanan warga-warga Jerman di Hindia Belanda di bulan Mei 1940. Foto diambil setelah mereka dibebaskan menyusul kekalahan Jerman dalam Perang Dunia II.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 24 Juni 1945
Tempat: wilayah selatan Belanda
Tokoh:
  • Eelco van Kleffens (ketiga dari kanan: kelak Menteri Luar Negeri Belanda, kemudian menjadi diplomat Belanda di PBB dan harus menghadapi perdebatan tentang kemerdekaan Indonesia)
  • Pieter Lieftinck (keenam dari kiri: kelak Menteri Keuangan Belanda dan a.l. harus menghadapi problematika moneter Uni Belanda-Indonesia hasil Konferensi Meja Bundar)
  • Willem Drees (kelima dari kiri: kelak Perdana Menteri Belanda, a.l. ikut terlibat di belakang layar dalam Perundingan Renville)
  • Willem Schermerhorn (ketujuh dari kiri: kelak Perdana Menteri Belanda, a.l. terlibat langsung dalam Perundingan Linggarjati)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 28 Oktober 2025

Politisi Belanda, Lambertus Neher, di Indonesia, 1947/1948

Lambertus Neher adalah seorang politisi Belanda dari Partai Buruh. Ketika Belanda diduduki Jerman, Neher merupakan salah satu tokoh kunci dari barisan warga Belanda yang melawan Jerman. Setelah Jerman kalah perang, Neher ditunjuk menjadi pucuk pimpinan dari bidang yang memang dia kuasai, komunikasi: yaitu pos, telepon, dan telegraf. Ketika Perang Kemerdekaan bergolak di Hindia-Belanda, Neher merupakan salah satu politisi yang ditunjuk untuk mencari jalan keluar.


November 1947, kemungkinan di kapal USS Renville di perairan Tanjung Priuk: Acara makan menjelang perundingan Renville yang a.l. dihadiri d.ki.k.ka Lambertus Neher, Jan Jonkman, Frank Graham, dan Willem Drees
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Jakarta, 1 Januari 1948: Neher (kanan) berbincang dengan dua orang tokoh Belanda lain dalam acara resepsi tahun baru yang diadakan oleh Letnan Gubernur Jenderal Van Mook
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Jakarta, 1 Januari 1948: Neher (kiri) berbincang dengan dua orang tokoh Belanda, salah satunya berseragam angkatan laut, dalam acara resepsi yang sama yang disebut di atas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
November 1948, kemungkinan di Jakarta: Lambertus Neher berdiskusi dengan Hussein Jayadiningrat
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1947, 1948
Tempat: Jakarta
Tokoh: Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 26 Oktober 2025

PM Belanda, Louis Joseph Maria Beel, di Indonesia 1947/1948 (2)

Kemungkinan di Kemayoran, 1947: Jan Jonkman (kiri) bersama Louis Beel (tengah) dan Van Mook (kanan berkacamata)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kemungkinan di gedung yang kelak menjadi Istana Merdeka, 1948: Politisi Belanda, Lambertus Neher (kanan), dengan didampingi Louis Beel (berjas putih), menyalami perwakilan warga Sulawesi Selatan yang berpakain seperti warga Arab
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
November 1947, kemungkinan di kapal USS Renville di perairan Tanjung Priuk: Kapten kapal USS Renville, William W. Ball (kanan) menjamu Willem Drees (kanan) dan Louis Beel (tengah) menjelang persiapan perundingan Renville.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1947, 1948
Tempat: Jakarta
Tokoh: Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 24 Oktober 2025

PM Belanda, Louis Joseph Maria Beel, di Indonesia 1947/1948 (1)

Jakarta, 1948: Louis Beel (kanan) berbicara dengan perwakilan warga bagian timur Nusantara di sebuah acara di gedung yang kelak menjadi Istana Merdeka. Kedua dari kiri berkumis kemungkinan adalah Don J. Thomas Ximenes da Silva dari Sikka (Flores), sementara di sebelah kirinya, berkacamata dan berjas terang, adalah Cokorda Gde Raka Sukawati dari Bali.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Jakarta, November 1948: Louis Beel (kiri) berbicara dengan Wakil PM Belanda, Willem Drees (kanan) menjelang penyelenggaraan perundingan Renville
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kemayoran, 7 Mei 1947: Menteri Penerangan Mohammad Natsir (kiri), menyambut kedatangan Menteri Urusan Jajahan Belanda, Jan Jonkman (membelakangi), dengan disaksikan oleh Van Mook (bertopi) dan Louis Beel (kanan)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1947, 1948
Tempat: Jakarta
Tokoh:Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 28 Juli 2021

Penandatanganan hasil Konferensi Meja Bundar dalam sketsa dan berita koran Belanda, 27 Desember 1949

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Koran Nieuwe Rotterdamse Courant terbitan 27 Desember 1949 mewartakan penandatangan hasil Konferensi Meja Bundar di halaman utamanya. Tampak PM Belanda, Willem Drees sedang membubuhkan tanda tangannya, dengan disaksikan oleh Ratu Juliana di sebelahnya, serta Muhammad Hatta dan Sultan Hamid II. Acara berlangsung di Koninklijk Paleis op de Dam (Istana Kerajaan di Amsterdam).

(klik untuk memperbesar | © Chris Schut / AVS)

Peristiwa yang sama dalam sketsa karya Chris Schut yang dibuat di bulan Februari 1950. Di sketsa ini tampak dokumen hasil Konferensi Meja Bundar diperlihatkan kepada Ratu Juliana untuk ditandatangani.

Waktu: 27 Desember 1949
Tempat: Amsterdam
Tokoh: Juliana (Juliana Louise Emma Marie Wilhelmina; Ratu Belanda), Muhammad Hatta (anggota delegasi Indonesia), Sultan Hamid II (anggota delegasi Indonesia), Willem Drees (Perdana Menteri Belanda)
Peristiwa: l.d.a.
Juru foto/gambar:  Chris Schut
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: lihat juga foto di posting ini.

Kamis, 04 Februari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1949-1952

De Vlam, 26 Maret 1949
(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Salah satu saat paling kelam dalam sejarah Belanda adalah era pendudukan Jerman Nazi di masa Perang Dunia II. Karenanya, membandingkan petinggi sipil dan militer Belanda dengan tokoh Nazi merupakan sindiran yang sangat pedas. Dan ini dilakukan oleh karikaturis Wim van Wieringen.

Pemicunya adalah sanggahan dari para pejabat Belanda atas adanya kekerasan atau malah kejahatan perang yang dilakukan KNIL dan/atau militer Belanda di Indonesia; padahal, laporan tentang itu paling tidak terdengar dari Sulawesi Selatan, Pakishaji, Bondowoso, Karawang, dan Bangka. Wim membandingkan sanggahan ini dengan penyangkalan para tokoh Nazi bahwa mereka tahu adanya pengiriman kaum Yahudi ke kamp pemusnahan.

Wim menggambarkan Komisioner Tinggi untuk Hindia-Belanda, Louis Beel (kelak menjadi PM Belanda), dan Panglima Belanda Jenderal Simon Spoor, berbaris seirama dengan Panglima SS, Heinrich Himmler, dan Menteri Propaganda Jerman, Joseph Goebbels, dan semuanya berteriak dalam bahasa Jerman "Es ist nicht wahr" (Itu tidak benar).

De Vlam, 5 November 1949
(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Penghujung 1949 adalah masa ketika Belanda harus mengakui kedaulatan Indonesia. Karikatur di atas menggambarkan burung garuda yang menjadi terbang bebas meninggalkan sebagian kalangan Belanda yang tampaknya selama ini memiliki beberapa rencana yang terpaksa menjadi batal dan berantakan. Rencana yang terbaca a.l. penangkapan atas ibunda Soekarno, pergerakan tentara, serta rencana atas Papua.

Vrij Nederland, 28 Januari 1950
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Buku sejarah di Indonesia umumnya menyebut pemberontakan APRA sebagai ulah Westerling. Tetapi karikatur di atas menggambarkan bahwa Westerling hanyalah sebagai bidak catur yang dimainkan orang lain. Karikatur ini bertanya: "Wie is de speler?" (Siapa pemainnya/dalangnya?).

Vrij Nederland, 31 Maret 1952
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Pada tanggal 22 Mei 1952, atasa militer Indonesia di Belanda, Kolonel Mas Tirtodarmo Haryono, dikepung dan ditodong dengan pistol oleh 2 orang tak dikenal. Sempat terjadi pergulatan dan tembakan, namun Haryono selamat meskipun kepalanya berdarah terpukul gagang pistol. Karikatur di atas memperlihatkan bagaimana PM Belanda, Willem Drees, bersama Nona (Nyonya?) Belanda harus kaget melihat bahwa di kasur mereka (artinya di negeri mereka) banyak sekali kutu busuk. Menurut catatan atas karikatur ini, pelaku kekerasan atas Haryono bukanlah perorangan, melainkan bagian dari kelompok anti-Indonesia yang terorganisir.

Waktu: 1949, 1950, 1952
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa di Belanda dan Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan | Wim van Wieringen
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 01 Januari 2021

Karikatur karya Leo Jordaan tentang Mbok Indonesia, 1949

Vrij Nederland, 7 Mei 1949
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Di Eropa ada tradisi tiang Mei di mana masyarakat menari bersama di sekeliling sebuah tiang/batang pohon yang dihias. Di bulan Mei 1949 hanya negara kolonial Inggris, diwakili PM Clement Atlee, yang menari senang bersama mantan jajahannya, India; sementara Belanda (diwakili PM Willem Drees) dan Perancis (diwakili PM Robert Schuman) masing-masing harus pusing menghadapi penentangan dari wilayah jajahan Indonesia dan Vietnam.

Vrij Nederland, 14 Mei 1949
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Seminggu kemudian, Willem Drees sudah bisa mencapai beberapa kesepakatan dengan Mbok Indonesia. Namun ini bukan tanpa tantangan: PM Belanda sebelumnya, Louis Beel, tanpa menghindar dan tidak mau tahu tentang pendekatan Belanda-Indonesia ini. Perlu dicatat bahwa ketika kemudian Drees turun sebagai perdana menteri di tahun 1958, dia digantikan oleh Beel.

Waktu: 7 dan 14 Mei 1949
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke konflik Belanda-Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 16 November 2020

Karikatur tentang silang pendapat Belanda menghadapi kemerdekaan Indonesia

Dalam menarasikan perjuangan kemerdekaan, buku pelajaran sejarah di Indonesia, begitu juga blog ini, umumnya menggunakan istilah "Belanda" seolah-olah sebagai satu blok yang menyatu. Sejatinya, ada banyak pandangan di Belanda dalam menyikapi kemerdekaan Indonesia; mulai dari yang mendukung penuh (mis. kelompok komunis), hingga ke yang menentang mati-matian (mis. kelompok konservativ), dan tentunya posisi di antara keduanya dengan kadar kebebasan untuk Indonesia yang berbeda-beda mulai dari yang seminimal mungkin hingga ke yang relatif luas. Beberapa karikatur di bawah ini menyiratkan perbedaan-perbedaan ini.

Het Parool, 21 Mei 1947
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur ini memperlihatkan kendaraan pemerintah Belanda yang sudah sesak dengan Louis Beel, Willem Drees, dan Jan Jonkman dengan beban perjanjian Linggarjati, dicoba dihentikan oleh Carl Romme dan Jo Meynen yang ingin ikut menumpang.

De Groene Amsterdammer, 23 Agustus 1947
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur ini memperlihatkan ketersesatan para politisi Belanda di labirin Indonesia. Mereka bukan hanya tidak menjalani langkah dan posisi yang sama, tapi sebagian tampak bingung harus ke mana. Tokoh-tokoh yang ditampilkan a.l.: Max van Poll, Van Mook, Willem Drees, Koos Vorrink, Jan Jonkman, Willem Schermerhorn, Pieter Sjoerds Gerbrandy, Louis Beel, Carl Romme, dan Eelco van Kleffens.

Elsevier, 13 Agustus 1949
(klik untuk memperbesar | © Eppo Doeve / AVS)

Silang langkah para politisi Belanda dalam menghadapi kemerdekaan Indonesia diperlihatkan dalam sebuah karikatur yang menggambarkan perosotan yang meliuk-liuk, memiliki banyak putaran, meninggalkan banyak tahap seperti perjanjian Linggarjati dan Renville, keputusan Dewan Keamanan PBB, serta perjanjian Roem-Royen, sebelum menuju putaran final di Konferensi Meja Bundar dengan hasil akhir yang masih menjadi tanda tanya. Beberapa tokoh tampak terlempar atau tertinggal, seperti Willem Schermerhorn, Jan Jonkman, Van Mook, dan Louis Beel. Tokoh-tokoh lain tampak masih bertahan, seperti Carl Romme, Willem Drees, Eelco van Kleffens, Herman van Roijen, dan Van Maarseveen, tetapi mahkota Kerajaan Belanda tampak akhirnya terlempar juga.

Waktu: 1947, 1949
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke
Tokoh:

  • Carl Romme (anggota parlemen, pendiri Partai Rakyat Katolik)
  • Eelco van Kleffens (diplomat Belanda di PBB)
  • Hubertus Johannes van Mook (Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda)
  • Jan Anne Jonkman (Menteri Urusan Jajahan)
  • Jan Herman van Roijen (diplomat)
  • Johannes Henricus van Maarseveen (Menteri Urusan Jajahan)
  • Johannes Meynen (politisi)
  • Koos Vorrink (pemuka kelompok sosialis) 
  • Louis Joseph Maria Beel (PM Belanda)
  • Maximus Josephus Maria van Poll (politisi)
  • Pieter Sjoerds Gerbrandy (politisi penentang kemerdekaan Indonesia)
  • Willem Drees (Wakil PM Belanda)
  • Willem Schermerhorn (mantan PM Belanda)
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan | Eppo Doeve
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Selasa, 13 Oktober 2020

Karikatur Belanda tentang Papua: Tema yang membesar

Vrij Nederland, Oktober 1958: Je kunt er mee sukkelen …
(Mereka bisa bergelut dengannya)
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Di tahun 1958, Belanda masih melihat dirinya senasib dengan Inggris dan Amerika dalam hal Papua. Inggris, digambarkan oleh Harold MacMillan harus menangani masalah Siprus, dilambangkan dengan kucing galak dalam karung. Sementara Amerika, digambarkan oleh John Foster Dulles harus berurusan dengan persoalan Taiwan yang dilambangkan dengan naga penyembur api. Belanda, digambarkan oleh Willem Drees, meski tampak harus menanggung beban berat, tetapi relatif tidak terganggu oleh beban Papua yang dilambangkan dengan babi hutan. Ketiganya digambarkan harus membawa "hewan peliharaan" mereka ke klinik hewan PBB.

Vrij Nederland, Juli 1961: "Luipaard op schoot"
(Macan tutul di pangkuan)
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

"Luipaard op schoot" adalah acara TV populer di Belanda tentang hewan liar. Karikatur ini menggambarkan bagaimana di tahun 1945 Belanda masih melihat Papua sebagai kucing kecil yang lucu. Tetapi di tahun 1961, kucing ini sudah membesar menjadi macan besar yang memberatkan.

Algemeen Dagblad, Oktober 1962: Einde tijdperk Nieuw Guinea
"Vaarwel mijn Nieuw Guinea, verwacht een andere Heer"
(Akhir dari Ginea Baru; "Selamat tinggal Ginea Baruku, nantikan tuan barumu")
(klik untuk memperbesar | © Fritz Behrendt / AVS)

Akhirnya  di tahun 1962, Belanda, digambarkan oleh Joseph Luns dan Jan de Quay dalam kapal layar berbentuk terompah tradisional Belanda, harus meninggalkan Papua. Di ufuk langit tampak matahari bermuka Soekarno terbit.

Waktu: 1958, 1961, 1962
Tempat: Papua (dilambangkan)
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan | Fritz Behrendt
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 06 Mei 2020

Soekarno dalam karikatur Belanda: 1948-1952

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Januari 1948. Karikatur ini menggambarkan tokoh sosialis Belanda, Koss Vorrink, merobek mahkota Kerajaan Belanda di tengah kehancuran setelah Perang Dunia II. Di latar belakang tampak Soekarno digambarkan bersiap memegang mahkota baru yang terbuat dari tulang belulang.
(klik untuk memperbesar | © AVS)
10 Januari 1948. Karikatur ini diberi judul "Silakan duduk di sini!", menggambarkan bagaimana Soekarno merasa keki karena diberi tempat perundingan kecil bersama wilayah-wilayah federasi buatan Belanda, sementara meja perundingan besar diisi penuh olah para politisi Belanda, Belgia, Australia, dan Amerika (Louis Beel, van Mook, Paul van Zeeland, Richard Kirby, Frank Graham).

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Februari 1949. Karikatur ini menggambarkan Komisaris Tinggi untuk Urusan Hindia-Belanda, Louis Beel, tampak sendirian berteriak-teriak "Halo! Halo!" semantara bayangan besar Soekarno-Hatta ada di latar belakang. Saat itu Soekarno-Hatta dan para pemimpin sipil lain diasingkan di Bangka oleh Belanda setelah Aksi Polisionil 2.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
18 November 1952. Soekarno berbicara di Tanjung Karang bahwa dulu orang menyalahkan Belanda atas hal-hal yang buruk, sekarang (ketika banyak ketidakpuasan dilontarkan daerah ... yang kemudian berujung ke pemberontakan), orang menyalahkan pemerintah pusat di Jakarta atas semua hal yang salah. Karikaturis Leendert Jordaan menggambarkan Soekarno menjadi "kambing hitam baru" yang disambut beberapa politisi Belanda yang juga pernah dikambinghitamkan dalam urusan Hindia-Belanda: van Mook, Louis Beel, dan Willem Drees. Ketiganya menyambut Soekarno "Silakan masuk, selamat datang."


Waktu: 1948, 1949, 1952
Tempat:
Tokoh: Soekarno (Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa:
Karikaturis: Karel Thole (#1), Leendert Jurriaan Jordaan (#2,4,5), Wim van Wieringen (#3)
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Minggu, 04 Desember 2016

Sutan Sjahrir bersama PM Belanda Willem Drees dan diplomat Michiels van Verduynen, 1949

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Waktu: 24 Januari 1949
Tempat: Jakarta
Tokoh: Edgar Frederick Marie Justin Baron Michiels van Verduynen (Diplomat Belanda), Sutan Sjahrir (pejuang kemerdekaan di jalur diplomasi), Willem Drees (Perdana Menteri Belanda)
Peristiwa: Sutan Sjahrir bertemu dengan Willem Drees dan Michiels van Verduynen untuk membicarakan kemerdekaan Indonesia.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Aneta / Spaarnestad Photo
Catatan:

Minggu, 31 Agustus 2014

Acara pengakuan Kerajaan Belanda atas kedaulatan Indonesia, 1949

(klik untuk memperbesar)
Waktu: 27 Desember 1949
Tempat: Istana Kerajaan Belanda di Amsterdam
Tokoh: Muhammad Hatta (Wakil Presiden RI), Juliana (Ratu Belanda), Willem Drees (PM Belanda; berdiri), Sultan Hamid II (anggota delegasi Indonesia; di sebelah Hatta)
Peristiwa: Acara pengakuan Kerajaan Belanda atas kedaulatan Indonesia, di Amsterdam 1949, menyusul penandatanganan hasil Konferensi Meja Bundar.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Sebelumnya, blog ini menyebut acara ini berlangsung di Den Haag, padahal seharusnya di Amsterdam.