Tampilkan postingan dengan label Cilacap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cilacap. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 April 2023

Kegiatan para tentara Sekutu yang ditawan Jepang di kamp Cilacap, 1944

Berenang di Selat Nusakambangan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Memancing di laut
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Disalami tentara Jepang di kegiatan memancing
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Berolahraga di pantai
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 29 Januari 1944
Tempat: Cilacap (atau Nusakambangan?)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 06 Juni 2022

Dari sebuah album foto tentang Cilacap dan sekitarnya di kisaran tahun 1908 (5)

Kali Yasa, dilihat dari Brug Menceng
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Perkampungan rumah panggung di Pulau Motean, Segara Anakan
(orang Belanda menerjemahkan Segara Anakan sebagai Kinderzee)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Hotel Bellevue di Cilacap
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pantai Karangbolong di Nusa Kambangan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kawasan benteng Banteng Mati di Nusa Kambangan dilihat dari Pulau Jawa
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1908
Tempat: Cilacap, Nusa Kambangan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Sabtu, 04 Juni 2022

Dari sebuah album foto tentang Cilacap dan sekitarnya di kisaran tahun 1908 (4)

Kawasan pelabuhan di Cilacap
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah jalan utama di Cilacap
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Stasiun kereta Cilacap
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Tangsi militer Cilacap
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Area kediaman para perwira KNIL
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1908
Tempat: Cilacap
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Kamis, 02 Juni 2022

Dari sebuah album foto tentang Cilacap dan sekitarnya di kisaran tahun 1908 (3)

Hoo Swan Hie, salah satu pemuka warga Tionghoa di Cilacap
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pasar Plasen
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Stasiun kereta barang di Donan, Cilacap
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Dua kapal uap Jerman berlabuh di Cilacap: Reichenbach dan Thüringen
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Gedung De sociëteit te Tjilatjap dengan latar belakang sebuah kapal uap
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1908
Tempat: Cilacap
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 31 Mei 2022

Dari sebuah album foto tentang Cilacap dan sekitarnya di kisaran tahun 1908 (2)

Solok Kipah, di pesisir selatan Nusa Kambangan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah jalan yang diapit rangkaian pohon kenari
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Gudang penyimpanan gula
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kediaman Asisten Residen Cilacap
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Gedung De sociëteit te Tjilatjap
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1908
Tempat: Cilacap, Nusa Kambangan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Sabtu, 16 November 2019

Tindakan bumi hangus pejuang kemerdekaan (32): Banyumas, Bogor, Cilacap

Stasiun kereta Sumpiuh, Banyumas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah sekolah di Cilacap
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah gereja (atau biara?) di wilayah Bogor
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Rumah praktek dokter R. Koestedjo
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: Juli/Agustus 1947
Tempat: Bogor, Cilacap, Sumpiuh (Banyumas)
Tokoh:
Peristiwa: Reruntuhan dan puing-puing hasil aksi bumi hangus yang dilakukan pejuang kemerdekaan ketika Belanda menjalankan Aksi Polisionil 1 terhadap bangunan yang dipandang mewakili sosok Belanda.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 16 Oktober 2018

Batang pohon sebagai barikade penghalang gerak maju pasukan Belanda: Cilacap, Tegal

PENGANTAR

Sebelum ini kita sudah melihat banyak foto yang menunjukkan bagaimana TNI menghancurkan banyak jembatan untuk menghadang gerak maju militer Belanda di Aksi Polisionil 1. Tindakan TNI yang lain adalah memasang barikade di jalur yang dianggap penting dengan menebang pohon di sekitarnya dan melintangkan batang pohon ini badan jalan. Ini memang tidak bisa menghalangi tentara Belanda secara permanen, tapi paling tidak memperlambat mereka.

Berikut beberapa foto dari berbagai daerah.

Tegal, Juli 1947
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Cilacap, 27 Juli 1947
(klik untuk memperbesar | © Hugo Wilmar / spaarnestad)
Cilacap, 27 Juli 1947
(klik untuk memperbesar | © Hugo Wilmar / spaarnestad)
Cilacap, 10 Oktober 1947: Sisa-sisa barikade yang dikerumuni warga dan anak-anak
(klik untuk memperbesar | © J.C. Taillie / gahetna)

Waktu: Juli & Oktober 1947
Tempat: Cilacap, Tegal
Tokoh:
Peristiwa: Pasukan Belanda mencoba mengenyahkan batang-batang pohon yang ditumbangkan TNI guna menghalang gerak maju militer Belanda saat Aksi Polisionil 1 di sekitar Cilacap dan Tegal.
Fotografer: Hugo Wilmar (foto nomor 2 & 3), J.C. Taillie (foto nomor 4)
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief / Spaarnestad Photo
Catatan:

Senin, 13 Agustus 2018

Warga Tionghoa di masa perang kemerdekaan (17): Kerusakan di Cilacap

Pengantar: Kerusuhan 1998 termasuk bagian paling hitam di dalam sejarah hubungan warga "pribumi" dan Tionghoa di Indonesia. Peristiwa ini memicu munculnya era reformasi yang kemudian memberikan banyak kemajuan di dalam hubungan ini.

Harus diakui, peristiwa di tahun 1998 bukanlah yang pertama. Kekurang-harmonisan ini sudah ada puluhan tahun sebelumnya, termasuk di masa perang kemerdekaan. Blog ini sebelumnya sudah memperlihatkan perusakan pada harta benda warga Tionghoa yang dilakukan pejuang kemerdekaan di beberapa tempat, dan bagaimana Belanda dipandang sebagai pelindung warga Tionghoa dan terlibat dalam pembentukan milisi Tionghoa bersenjata yang berseteru dengan para pejuang.

Sebagian dari kita boleh jadi berpendapat "Ah, sudahlah, itu masa lalu. Tidak diusah diungkit-ungkit, hanya akan membuka luka dan borok lama. Kita lihat ke depan saja agar ada hubungan yang lebih harmonis." Pendapat seperti ini mengimplikasikan bahwa kita sebaiknya menutup sejarah yang tidak enak didengar. Di sini ada kemungkinan bahwa generasi ke depan, dari semua pihak baik "pribumi" maupun Tionghoa, tidak mencernai apa yang telah terjadi sebelumnya, dan menghadapi risiko akan mengulang apa yang justru seharusnya dihindari.

Penyelidikan sejarah secara jernih, tanpa generalisasi, tanpa praduga, tanpa emosi, diharapkan bisa menjadi bahan yang berharga agar kita, semua, bisa belajar dari masa lalu. Gambar-gambar berikut mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi ke arah sana.

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: (5) Agustus 1947
Tempat: Cilacap
Tokoh:
Peristiwa: Kerusakan atas perumahan warga Tionghoa di wilayah Cilacap sebagai akibat dari aksi para pejuang kemerdekaan dalam rentetan kekerasan menyusul Aksi Polisionil 1 yang dilancarkan militer Belanda.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Rabu, 11 April 2018

Aksi Polisionil 1: Beberapa foto dari Jawa Tengah

Banyumas, September 1947: Sabotase TNI atas jembatan di atas parit ini memperlambat laju kendaraan lapis baja Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
27/28 Juli 1947: Pos pemberhentian Belanda di antara Banyumas dan Cilacap
(klik untuk memperbesar | © Hugo Wilmar / spaarnestad / gahetna)
20 Juli 1947: Pasukan Belanda menguasai alun-alun Purwokerto
(klik untuk memperbesar | © Hugo Wilmar / spaarnestad / gahetna)
Konvoi pasukan Belanda di Solo
(klik untuk memperbesar | © Henri  Cartier Bresson / Magnum / gahetna)
Tegal, Juli 1947: Penduduk membongkar barikade yang dipasang para pejuang, dengan disaksikan prajurit Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Ambarawa, Agustus 1947: Kesatuan KNIL dalam pertempuran melawan para pejuang kemerdekaan
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 1947
Tempat: Ambarawa, Banyumas, Cilacap, Purwokerto, Solo, Tegal
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Hugo Wilmar (2 foto), Henri  Cartier Bresson (1 foto)
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo / Het Nationaal Archief
Catatan:

UPDATE 3 Januari 2020
Foto nomor 3 dalam ukuran yang lebih besar:

(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Spaanerstad)

Rabu, 14 Maret 2018

Aksi Polisionil 1 di Cilacap: Pergerakan pasukan Belanda

27 Juli 1947: Pergerakan pasukan Belanda di malam hari
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad / gahetna)
27 Juli 1947: Pasukan Belanda menghitung posisi tembak artileri
(klik untuk memperbesar | © Hugo Wilmar / gahetna)
27 Juli 1947: Kesatuan artileri Belanda
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad / gahetna)
27 Juli 1947: Artileri Belanda di pesawahan
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad / gahetna)
27 Juli 1947: Pasukan Belanda menyeberangi kali Serayu
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad / gahetna)
27 Juli 1947: Pasukan Belanda menyeberangi kali Serayu
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad / gahetna)
27 Juli 1947: Pasukan Belanda setelah merebut pendopo yang sebelumnya dijadikan markas TNI
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad / gahetna)
Waktu: 27/28 Juli 1947
Tempat: Cilacap
Tokoh:
Peristiwa: Pergerakan pasukan Belanda di wilayah Cilacap semasa Aksi Polisionil 1, 27/28 Juli 1947.
Fotografer: Hugo Wilmar
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

UPDATE 3 Januari 2020
Foto nomor 4 dan 7 dalam ukuran yang lebih besar:

(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Spaanerstad)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Spaanerstad)