Tampilkan postingan dengan label koran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label koran. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Juni 2026

Tentara Belanda membaca koran "Kompas", 1947 (18 tahun sebelum surat kabar Kompas terbit)

Seorang tentara Belanda tanpa baju membaca koran "Kompas" dengan kepala berita "This is America!", di sebelah sebuah rumah berdinding anyaman bambu 
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 8 Februari 1947
Tempat: kemungkinan Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:  Bentuk huruf koran ini mirip dengan harian berbahasa Indonesia yang mulai terbit 18 tahun kemudian, berbeda di posisi kemiringan saja. Di kalangan Katolik Belanda, atau dalam pengaruh Belanda, tampaknya nama "kompas" dan/atau bentuk huruf ini relatif disukai. Lihat misalnya tampilan koran ini, atau berita tentang media ini.

Rabu, 18 Juni 2025

Persiapan Belanda di Australia untuk merebut kembali Indonesia: Suasana sehari-hari di kamp penggemblengan (2)

Di penghujung 1944 dan awal 1945, ketika Jerman makin terdesak di Eropa, dan Jepang makin terpukul di kawasan Asia-Pasifik, Belanda makin menggiatkan usaha-usaha untuk merebut kembali Hindia-Belanda. Usaha-usaha ini terpusat di Australia, yang secara geografis dekat dengan Indonesia, dan secara politis dan militer berada bersama Belanda di pihak yang melawan negara-negara Poros. Seri berikut akan mencoba menampilkan dokumentasi foto tentang aktivitas Belanda di wilayah Australia ini.


Dua prajurit asal Suriname keturunan Jawa mempelajari sebuah peta
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang penghuni kamp mengamati sebuah samurai yang tampaknya direbut dari pasukan Jepang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kamp Casino: Seorang prajurit asal Suriname keturunan Jawa bertugas di dapur kamp
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kamp Casino: Pemeriksaan pakaian
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Maret 1945: Seorang perawat asal Indonesia mengobati luka di lengan seorang pilot
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kamp St. Ives: Ramain-ramai membaca koran
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Australia
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 03 Juni 2022

Fasisme di Hindia Belanda: Landdag, pertemuan akbar para pengikut NSB

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda, termasuk Landdag, atau pertemuan akbar para pengikut NSB yang berlangsung di Jakarta pada tanggal 18 Desember 1937. Pertemuan ini selain menjadi ajang konsolidasi juga menjadi kesempatan bagi NSB untuk unjuk kekuatan.


Petinggi NSB, dr. Van Oordt, berbicara di pertemuan pengikut NSB. Tampak beberapa bendera NSB dipasang dengan identifikasi asal daerah seperti Jokjakarta, Soekaboemi, dan Soerabaia.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Ruangan acara dipenuhi oleh seragam fasis hitam-hitam
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Tentu saja salam fasis menjadi bagian dari acara
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Jurnal mingguan NSB Volk en Vaderland diedarkan di kalangan anggota NSB
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Ada pula pameran material propaganda NSB
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Sebuah pojok tampak ramai dikerumuni ibu-ibu NSB, barangkali tempat cendera mata
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 18 Desember 1937
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 20 Mei 2022

Fasisme di Hindia Belanda: Lambang dan organ NSB

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda.


18 Desember 1937: Segitiga lambang NSB dekat lonceng Natal di acara Landdag (pertemuan akbar) di Jakarta
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Hanya ada di Hindia-Belanda: Segitiga lambang NSB di gong
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dua pendukung NSB membaca Volk en Vaderland, jurnal mingguan NSB, sambil mengenakan fez (peci)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1930-an (a.l. 1937)
Tempat: Jawa (a.l. Jakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 28 Juli 2021

Penandatanganan hasil Konferensi Meja Bundar dalam sketsa dan berita koran Belanda, 27 Desember 1949

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Koran Nieuwe Rotterdamse Courant terbitan 27 Desember 1949 mewartakan penandatangan hasil Konferensi Meja Bundar di halaman utamanya. Tampak PM Belanda, Willem Drees sedang membubuhkan tanda tangannya, dengan disaksikan oleh Ratu Juliana di sebelahnya, serta Muhammad Hatta dan Sultan Hamid II. Acara berlangsung di Koninklijk Paleis op de Dam (Istana Kerajaan di Amsterdam).

(klik untuk memperbesar | © Chris Schut / AVS)

Peristiwa yang sama dalam sketsa karya Chris Schut yang dibuat di bulan Februari 1950. Di sketsa ini tampak dokumen hasil Konferensi Meja Bundar diperlihatkan kepada Ratu Juliana untuk ditandatangani.

Waktu: 27 Desember 1949
Tempat: Amsterdam
Tokoh: Juliana (Juliana Louise Emma Marie Wilhelmina; Ratu Belanda), Muhammad Hatta (anggota delegasi Indonesia), Sultan Hamid II (anggota delegasi Indonesia), Willem Drees (Perdana Menteri Belanda)
Peristiwa: l.d.a.
Juru foto/gambar:  Chris Schut
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: lihat juga foto di posting ini.

Jumat, 11 September 2020

Kartu pos kuno dari Jawa Barat

1900: Istana Bogor
(klik untuk memperbesar | © F.B. Smits / AVS)

1908: Kebun Raya Bogor
(klik untuk memperbesar | © Tio Tek Hong / AVS)

Bandung, sekitar 1915: Anak-anak sekolah membaca koran Bintang Hindia
(klik untuk memperbesar | © Visser & Co. / AVS)

1930-1934: Stasiun radio Malabar, Bandung
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Rumag di perkampungan Sunda
(klik untuk memperbesar | © Kawai & Co. / AVS)

Waktu (dari atas ke bawah): 1900, 1908, 1915, antara 1930 dan 1934, ?
Tempat: Bandung; Bogor
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar/foto: F.B. Smits / Tio Tek Hong / Visser & Co. / ? / Kawai & Co.
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: Foto nomor 3 pernah dimuat di posting ini dalam versi diwarnai.

Jumat, 12 Juni 2020

Perempuan Belanda dan kebaya (8)

(klik untuk memperbesar | © NGA)
17 Juni 1900
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jakarta, antara 1900 dan 1910
(klik untuk memperbesar | © Busenbender & Co / NGA)
1914
(klik untuk memperbesar | © Uges / NGA)
Jakarta, sekitar 1915
(klik untuk memperbesar | © Charls & Van Ess & Co / NGA)
Sekitar 1915
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sekitar 1920
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1900, 1910, 1914, 1915, 1920
Tempat: Jakarta (a.l.)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Busenbender & Co / Charls & Van Ess & Co / Uges
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 04 Mei 2020

Soekarno dalam karikatur Belanda: 1931-1947

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Ini mungkin karikatur terawal yang menampilkan Soekarno. Gambar ini dimuat di harian De Notenkraker terbitan 1 Augustus 1931. Setahun sebelumnya Soekarno mengeluarkan pledoi "Indonesia menggugat" yang ditulisnya di penjara. Menteri Urusan Jajahan, Simon de Graaff, menyangkal adanya tahanan politik, dan dikutip menyebut "Kami tidak memiliki tahanan politik, hanya keadilan yang kokoh tertanam di sanubari."

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Harian Metro terbitan 26 Oktober 1945 menampilkan karikatur Soekarno di halaman depan dengan judul "Soekarno membebaskan Hindia[-Belanda]". Soekarno digambarkan mencoba membebaskan seorang perempuan terikat, perlambang Hindia-Belanda ("Mbok Indonesia"), dengan langsung menebang pohonnya, bukan membuka tali pengikatnya.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Karikatur terbitan 16 November 1946 menampilkan pertandingan bola, antara Soekarno, bersama Muhammad Hatta dan Sutan Sjahrir, di satu tim, melawan tim politisi Belanda a.l. yang terdiri dari Schermerhorn, van Mook, van Roijen (?), van Verduynen, dan Lampson. Yang menjadi objek tendang dan permainan adalah mahkota Kerajaan Belanda.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Karikatur keluaran 5 Juli 1947 ini menampilkan bagaimana Soekarno dan van Mook, yang sedang berdebat tentang (Perjanjian) Linggarjati, kaget ketika Amerika Serikat, dilambangkan dengan Paman Sam, datang bergabung dengan berkata "Hello boys! Aku datang untuk menengahi."

Waktu: 1931, 1945, 1946, 1947
Tempat:
Tokoh: Soekarno (pejuang kemerdekaan, kemudian Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa:
Karikaturis: Wybo Meyer, Marten Toonder, Eppo Doeve, Leendert Jurriaan Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 02 Maret 2020

Jepretan Charles Breijer 1947-1953: Koran dinding di Yogyakarta, 1948

(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
Waktu: 1948
Tempat: Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Charles Breijer
Sumber / Hak cipta: Het Geheugen van Nederland / Nederlands Fotomuseum
Catatan:

Selasa, 07 Mei 2019

Berita koran Soeara Asia tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia, 1945

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 20 Agustus 1945
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa: Harian terbitan Surabaya, Soeara Asia, memberitakan proklamasi kemerdekaan Indonesia, serta pengangkatan Soekarno dan Muhammad Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Koran ini juga mengabarkan pengesahaan UUD 1945, pembagian wilayah Indonesia dalam 8 daerah, serta teks lagu Indonesia Raya.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 13 April 2019

Fatmawati di tahun 1950

(klik untuk memperbesar | © Ipphos / KITLV)
(klik untuk memperbesar | © Ipphos / KITLV)
Waktu: 1950
Tempat: Jakarta (kemungkinan di Istana Merdeka)
Tokoh: Fatmawati (istri Presiden Republik Indonesia Soekarno)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Ipphos / Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Catatan:

Kamis, 21 Februari 2019

Aktifitas sehari-hari warga Indonesia di masa perang kemerdekaan, jepretan Hugo Wilmar, 1947

Jakarta, Agustus 1947: Tukang cukur bawah pohon dan pelanggannya
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Jakarta, 2 Agustus 1947: Anak-anak penjual rokok melayani seorang Belanda
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Sumatera, September 1947: Seorang perawat menangani anak kecil yang penuh perban dan ditemani bapaknya. Tidak ada keterangan apakah anak ini luka-luka karena peperangan atau bukam.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Yogyakarta, Desember 1947: Warga membaca koran dinding di kantor "Persatoean Kaoem Teknik" yang menurut majalah Belanda Katholieke Illustratie (majalah Katolik) adalah een Republikeins propagandakantoor (kantor propaganda Republik [Indonesia]).
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: 1947
Tempat: Bali, Solo
Tokoh:
Peristiwa: Hugo Wilmar adalah seorang fotografer lapangan Belanda yang mengiringi militer Belanda ketika menginjakkan kaki kembali di Indonesia dan harus menghadapi perlawanan bersenjata dari rakyat Indonesia. Blog ini sudah menampilkan beberapa foto jepretan Hugo Wilmar terkait perseteruan antara Belanda dan Indonesia.
Selain konflik militer, Hugo Wilmar juga memotret hal-hal lain di luar tentara, senjata, dan perang, seperti yang ditampilkan di atas.
Fotografer: Hugo Wilmar
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Senin, 09 Juli 2018

Bocah-bocah Bogor dan Bandung zaman dulu dalam pakaian tradisional dan baju sehari-hari

Bogor, 1911: Anak-anak kecil hingga besar, diapit orang dewasa, dalam pakaian tradisional
(klik untuk memperbesar | © Jean Demmeni / Universiteit Leiden)
Bandung, 1915: Bocah-bocah lelaki membaca koran "Bintang Hindia"
(klik untuk memperbesar | © N.V. Boekhandel Visser & Co./ Universiteit Leiden)
Bogor, antara 1925 dan 1931: Seorang anak Belanda dikelilingi anak-anak kampung
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Bogor, 1930: Anak-anak dengan dan tanpa pakaian
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: 1911, 1915, 1925, 1930
Tempat: Bandung, Bogor
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Jean Demmeni (foto atas)
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:


UPDATE 29 Agustus 2020: Foto nomor 2 dalam versi tidak diwarnai akan dimuat di posting tanggal 11 September 2020.

Kamis, 03 November 2016

Masyarakat mengamati koran dinding, 1948

(klik untuk memperbesar | © Acme Neswpictures / gahetna)
Waktu: 1948
Tempat: Yogyakarta (?)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Acme Neswpictures / Het Nationaal Archief
Catatan:

Rabu, 04 Mei 2016

Sisa-sisa kantor Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) di Purwokerto, 1947

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: 27 Juli 1947
Tempat: Purwokerto
Tokoh:
Peristiwa: Sisa-sisa kantor Pesindo yang tampaknya dihancurkan semasa Aksi Polisionil 1.
Fotografer: Hugo Wilmar
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan: 1. Pesindo merupakan cikal bakal organisasi Pemuda Rakyat bawahan PKI. 2. Kantor ini rupanya tempat redaksi Kedaulatan Rakyat di Purwokerto.


UPDATE 2 Januari 2020
Foto yang sama dalam ukuran yang lebih besar:

(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Spaanerstad)