Tampilkan postingan dengan label Pemalang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemalang. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Februari 2024

Tiga potret bangsawan Jawa: Hamengkubuwono VIII, Bupati Pemalang, Bupati Trenggalek

Hamengkubuwono VIII, kemungkinan di tahun 1920-an
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1931: Bupati Pemalang, RAA Sudoro Suroadikusumo dan istri
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Bupati Trenggalek, dalam pakaian kebesaran dengan cincin dan koleksi uang logam, kemungkinan di awal 1930-an
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1920-an, 1930-an, 1931
Tempat: Pemalang, Trenggalek, Yogyakarta
Tokoh: Hamengkubuwono VIII (Sultan Yogyakarta)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Kamis, 21 November 2019

Konstruksi jembatan bambu zaman dulu: Tipe segitiga

PENGANTAR

Sebelum warga Nusantara belum mengenal konstruksi beton atau baja, bambu adalah bahan yang digunakan untuk membuat jembatan. Bambu relatif mudah didapat, tersedia dalam berbagai ukuran panjang, mudah dipotong sesuai kebutuhan, dan cukup elastis dalam menahan beban.

Kelemahan bambu tetapi adalah daya topangnya yang terbatas. Di sini, warga Nusantara mencoba menyiasatinya dengan berbagai kreasi struktur, yang akan kita lihat di beberapa foto berikut ini.

Ketika beban yang harus diseberangkan makin besar dan rumit, serta rentang jembatan makin panjang, akhirnya bambu menemui limit kemampuannya, dan harus menyerahkan fungsi jembatan kepada beton dan baja hingga sekarang ini.

Jawa 1935: Bentuk awal dari tambahan bambu yang mencuat miring ke atas membentuk segitiga. Ini tampaknya untuk memperbesar stabilitas pada jembatan yanga agak panjang.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Kebon Sirih, Jakarta 1936: Jika di foto atas bagian yang miring disambung dengan bambu horisontal, di sini sambungannya menggunakan bambu vertikal di tengah. Secara teknis ini akan menambah beban ke jembatan; dan karenanya ada tumpuan tambahan dari dasar sungai.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Moga, Pemalang 1903: Konstruksi segitiga di jembatan ini bisa dipertanyakan karena tampaknya justru hanya menambah beban yang tidak perlu. Tapi secara estetis memang lebih ok.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Bandung 1930: Sambungan vertikal di jembatan ini lumayan masif, ada tiga pasang dengan masing-masing dua batang bambu. Jelas ini adalah penambahan beban yang lumayan, dan boleh jadi kurang sebanding dengan stabilitas yang dihasilkan.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Cikapundung, Bandung 1920: Jembatan dengan segitiga ganda. Konstruksi ini bisa termasuk stabil karena kaki segitiga berpijak langsung di dasar sungai, bukan ke tanggul.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Jawa 1918: Ini versi ganda dari jembatan di Bandung di atas. Tiap segitiga memiliki tiga pasang bambu vertikal dengan masing-masing dua batang bambu. Secara sepintas si jembatan akan lebih terasa ringan jika tambahan segitiga ini dihilangkan.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1903, 1918, 1920, 1930, 1935, 1936
Tempat: Bandung, Jakarta, Jawa, Pemalang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:


UPDATE 3 Januari 2020

Konstruksi segitiga yang digunakan tentara Belanda sebagai gerbang masuk ke area perkemahan mereka, 15 Juli 1948:

(klik untuk memperbesar | © Hugo Wilmar / Het Geheugen / Spaanerstad)

Senin, 16 April 2018

Dewan pemerintahan daerah (regentschapsraad) di zaman Belanda: Pemalang, 1930

PENGANTAR

Dimulai di pertengahan tahun 1920-an pemerintah Hindia-Belanda membentuk regentschapsraad (dewan pemerintahan daerah) di beberapa wilayah. Meski kewenangannya tidak besar, dan juga keanggotaannya tidak ditentukan rakyat, ini termasuk langkah maju di dalam menampung aspirasi warga jajahan, sebagaimana halnya pembentukan Volksraad beberapa tahun sebelumnya. Berdasarkan foto-foto yang tersedia, dewan pemerintahan daerah ini kelihatannya hanya dibentuk di wilayah Banten, Jakarta, Jawa Barat, dan sebagian kecil Jawa Tengah.

Yang menarik dari foto-foto ini adalah keanggotaan dewan dan bagaimana pakaian yang dikenakan menunjukkan latar belakangnya. Warga Belanda tentunya berpakaian a la Barat; dan tanpa tutup kepala. Jumlah warga Belanda ini umumnya sedikit, kecuali di daerah yang menjadi tempat favorit mereka tinggal, seperti Jakarta, Bandung, atau Garut.

Warga lokal memiliki keanekaragaman dalam hal berpakaian. Kelompok priyayi umumnya mengenakan blangkon, baju adat, serta kain batik untuk bawahannya. Warga yang mendapat pendidikan Barat sudah mengenakan pakaian a la Barat, misalnya bercelana panjang, berjas, berdasi, dan tanpa tutup kepala. Kaum bangsawan yang mengenyam pendidikan modern berada di tengah-tengah: tetap mengenakan blangkon dan baju adat, tetapi menambahinya dengan dasi, baik yang panjang maupun kupu-kupu; bawahannya bisa celana atau kain tradisional. Di samping itu ada juga kelompok ulama atau saudagar Muslim yang mengenakan serban atau peci, baju jas tertutup atau jubah panjang, dengan bawahan kain sarung atau celana panjang.

Hampir semua yang muncul di foto adalah laki-laki. Ada beberapa wanita kulit putih, serta perempuan berkebaya di foto tertentu; tapi tidak jelas apakah mereka anggota dewan juga, atau istri dari salah satu anggota dewan.

Dewan pemerintahan daerah Pemalang, 1930
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: 31 Januari 1930
Tempat: Pemalang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: