Tampilkan postingan dengan label PBB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PBB. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Agustus 2024

Musa Surianata Jumena dan Burhanudin di acara pendirian PBB di San Francisco, 26 Juni 1945

Ketika PBB didirikan di San Francisco pada tanggal 26 Juni 1945, dan perwakilan dari 50 negara pendiri menandatangani piagam PBB, banyak tidak diketahui bahwa paling tidak ada dua orang asal Indonesia hadir di acara ini, meskipun Republik Indonesia saat itu belum lahir dan masih berada di bawah pendudukan Jepang.

Yang pertama adalah seorang diplomat asal Pasundan bernama Raden Muhammad Musa Surianata Jumena, yang saat itu menjadi Sekretaris Pertama Kedutaan Besar Belanda di AS. Di tahun 1949, Musa Surianata sempat ditunjuk menjadi Konsul Belanda di Manila. Setelah pengakuan kemerdekaan oleh Belanda, tampaknya Musa kemudian berbakti untuk Republik Indonesia.

Yang kedua adalah Burhanuddin, seorang wartawan yang menerbitkan suratkabar Penjoeloeh.

Berikut beberapa foto tentang Musa dan Burhanudin di acara pendirian PBB.

Musa (berkacamata) bersama diplomat Belanda Adrian Pelt dan J.H. Sprockel
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Musa (nomor 3 dari kanan), dan Burhanudin (nomor 6 dari kanan) pada saat delegasi Belanda menandatangani Piagam PBB yang diwakili oleh Dr. A. Loudon
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Musa dan Burhanudin di antara para petinggi sipil dan militer a.l. Charles Olke van der Plas (berjenggot), mantan Gubernur Jawa Timur yang kelak sangat menentang kemerdekaan Indonesia
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Musa kali ini tampak mundur ke belakang, sementara Burhanudin tetap di belakang A. Loudon
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 26 Juni 1945
Tempat: San Francisco
Tokoh: Burhanudin (wartawan penerbit suratkabar Penjoeloeh), Raden Muhammad Musa Surianata Jumena (diplomat Belanda asal Indonesia)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 18 November 2020

Karikatur Belanda tentang posisi PBB dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, 1947-1949

De Groene Amsterdammer, 9 Agustus 1947
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur ini keluar pada saat Aksi Polisionil 1 dan menggambarkan bagaimana Dewan Keamanan PBB, yang digambarkan sebagai polisi militer, menghentikan gerak maju pasukan Belanda yang digambarkan mengendarai kendaraan militer dengan bersenjata.

De Vlaam, Januari 1949
(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Karikatur ini keluar pada saat Aksi Polisionil 2, dan menggambarkan aksi Belanda sebagai perusakan atas sebuah cagar budaya. Lampu spot dengan nama "UNO" (PBB) mengarah ke aksi Belanda ini. Teks yang mengiringi berbunyi: "Belanda, dunia mengawasimu …".

Vrij Nederland, 22 Januari 1949
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Tindakan Belanda yang menangkap para petinggi pemerintah Republik Indonesia dalam Aksi Polisionil 2, dan membuangnya ke Bangka, digambarkan sebagai aib yang memalukan di karikatur ini. Belanda tampak tampil di sidang Dewan Keamanan PBB dengan mengenakan baju tidur (?) bertuliskan "Banka", sementara negera-negara lain, dalam pakaian resmi dan terhormat, terkaget-kaget melihat penampilan Belanda.

Elsevier De Groene, 23 Januari 1949
(klik untuk memperbesar | © Eppo Doeve / AVS)

Berbeda dengan 3 karikatur di atas yang cenderung kritis atas aksi Belanda, karikatur yang keempat ini justru melihat PBB bersama komunisme internasional sebagai luapan bah yang siap menenggelamkan Indonesia. Justru Belanda lah, yang digambarkan sebagai bocah yang dengan jarinya menutup lubang yang berpotensi memicu runtuhnya bendungan pelindung, yang menjadi pencegah terjadinya bencana. Penggambaran ini tampaknya diilhami oleh novel Hans Brinker.

Waktu: 1947, 1949
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa di Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Eppo Doeve | Leo Jordaan | Wim van Wieringen
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Minggu, 24 Juni 2018

Para pejuang TNI memasuki Purworejo, 1949

PENGANTAR

Di tahun 1949, terutama menjelang akhir tahun di mana Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, di berbagai pelosok terjadi peristiwa yang sama: Militer Belanda menarik diri dari wilayah yang didudukinya, dan para pejuang kemerdekaan "turun gunung" mengambil alih daerah yang selama ini dikuasai Belanda. Beberapa foto dari berbagai daerah akan diperlihatkan di seri berikut ini.

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: Oktober 1949
Tempat: Purworejo
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: van den Brink
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Jumat, 28 Oktober 2016

Lambertus Palar dan Mohammad Roem di saat Indonesia menjadi anggota PBB, 1950

D.ki.k.ka: Solomon V. Arnaldo (perwakilan Unesco), Ny. Palar, Lambertus Palar
(klik untuk memperbesar | © Acme Neswpictures / gahetna)
D.ki.k.ka.: Andrei Vishinsky (diplomat Uni Sovyet), Lambertus Palar, Mary Elizabeth (putri Lambertus Palar, saat itu berusia 14 tahun), Ny. Palar, Jacob Malik (diplomat Uni Sovyet), Mohammad Roem
(klik untuk memperbesar | © Acme Neswpictures / gahetna)

Waktu: 18 November 1950
Tempat: kediaman keluarga Palar di New Rochelle (New York)
Tokoh: Lambertus Nicodemus Palar (Duta Besar RI di PBB 1950-1953; pahlawan nasional), Johanna Petronella Volmers ("Yoke Palar"; isteri "Babe Palar"), Mary Elizabeth (anak pertama keluarga Palar), Mohammad Roem (Menteri Luar Negeri RI)
Peristiwa: Keluarga Lambertus Palar bersama Mohammad Roem dan beberapa diplomat internasional di dalam acara resepsi menyambut masuknya Indonesia sebagai anggota PBB.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Acme Neswpictures / Het Nationaal Archief
Catatan:

Rabu, 26 Oktober 2016

Sutan Sjahrir dan Haji Agus Salim

(klik untuk memperbesar | © Acme Neswpictures / gahetna)

Waktu: Juli/Agustus 1947 (?)
Tempat: New York (?)
Tokoh: Sutan Sjahrir (utusan Republik Indonesia ke PBB), Haji Agus Salim (Menteri Luar Negeri RI)
Peristiwa: Foto ini tidak memiliki catatan; tapi kemungkinan ini adalah saat Sutan Sjahrir dan Agus Salim berada di New York untuk berbicara di depan forum PBB memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Acme Neswpictures / Het Nationaal Archief
Catatan:

Minggu, 22 September 2013

Soekarno berbicara di Majelis Umum PBB, 1960

(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 30 September 1960
Tempat: New York
Tokoh: Soekarno (Presiden RI), Letnan Kolonel Sabur (ajudan Soekarno)
Peristiwa: Soekarno berbicara di depan Majelis Umum PBB.
Fotografer: Al Fenn [3; dan juga 2?]
Sumber / Hak cipta: Bettmann / Corbis [1-2], LIFE [3]