Tampilkan postingan dengan label 1954. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1954. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 November 2020

Karikatur tentang perasaan Belanda bahwa Amerika Serikat dan Jepang mengincar Hindia-Belanda

Ada beberapa karikatur Belanda yang menunjukkan bahwa Belanda merasa wilayah jajahan mereka di Nusantara ini diam-diam diincar oleh Amerika Serikat dan Jepang, dua kekuatan adi daya di Pasifik saat itu. Perasaan terhadap Jepang memang beralasan, karena Jepang sejak akhir abad ke-19 sudah menduduki Formosa, kemudian semenanjung Korea, dan Manchuria. Menarik bahwa Belanda juga merasa Amerika melirik wilayah Nusantara; boleh jadi ada alasan Belanda untuk itu yang sekarang kita tidak tahu.Yang jelas, sangkaan terhadap Jepang terbukti benar ketika di tahun 1942 Jepang berhasil mengusir Belanda dari wilayah Nusantara.

(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur di atas terbit bulan Oktober 1932. Kemungkinan ada peristiwa di Portugal atau Timor Timur yang sempat membuat ada semacam kevakuman kekuasaan di Timor Timur. Tampak Paman Sam, dan militer Jepang menghampiri sambil bertanya kepada Nona Belanda: "Tempat ini kosong?". Si Nona yang duduk di Timor Barat ini menjawab: "Tidak tahu, tapi apakah Tuan-tuan merasa tempat ini pas?"

(klik untuk memperbesar | © Piet van der Hem / AVS)

Karikatur ini terbit sekitar tahun 1939, memperlihatkan Paman Sam dan seorang samurai, tampaknya sama-sama berpura-pura, saling mempersilakan untuk memberikan jalan kepada Srikandi Indonesia.

(klik untuk memperbesar | © Louis Raemaekers / AVS)

Di tahun 1941 ancaman Jepang menjadi realitas. Karikatur di atas berkomentar bagaimana Belanda (singa) memiliki keberanian untuk melawan Jepang (naga), tapi menyayangkan bahwa si singa tidak bisa terbang. Ini tampaknya sudah menyiratkan bahwa Jepang akan lebih unggul.

(klik untuk memperbesar | © Louis Raemaekers / AVS)

Karikatur tahun 1941 ini memperlihatkan bagaimana akhirnya militer Jepang mendarat di Hindia-Belanda. Tetapi dia kaget melihat bagaimana Paman Sam sudah duduk di samping Mbok Indonesia. Jepang-san berteriak: "Aku pikir dia sendirian di sini."

(klik untuk memperbesar | © Charles Boost / AVS)

Ketika Jepang sudah kalah perang, tampaknya Belanda masih merasa bahwa Amerika tetap melirik Indonesia. Karikatur yang terbit tahun 1954 di atas memperlihatkan dua sikap Paman Sam terhadap Belanda: Tersenyum melihat Belanda bergabung di Uni Eropa Barat, tetapi berang melihat Belanda ada di Indonesia.

Waktu: 1932, 1939, 1941, 1954
Tempat: 
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan | Piet van der Hem | Louis Raemaekers | Charles Boost
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 08 Mei 2020

Soekarno dalam karikatur Belanda: 1954-1956

(klik untuk memperbesar | © AVS)
30 Januari 1954. Kasus persidangan Leon Jungschläger pernah menjadi kontoversi sengit antara Belanda dan Indonesia. Belanda merasa bahwa Indonesia tidak sepenuhnya jujur dalam hal ini. Karikatur ini menggambarkan bagaimana ketika Soekarno bicara tentang kasus ini, di depan a.l. Dwight Eisenhower dan John Foster Dulles, detektor kebohongan ditawarkan, tetapi Amerika (diwakili Richard Nixon) menolaknya.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
15 November 1955. Soekarno berkata di Bandung bahwa "Hanya ada tiga pemimpin besar dalam sejarah yang mampu menarik jutaan orang untuk berkumpul: Hitler, Gandhi, dan Soekarno!" Ucapan penuh percaya diri ini disambar karikaturis Leendert Jordaan dengan menggambarkan Soekarno bersama pecinya, diberi kacamata dan jubah Gandhi, serta rambut, seragam, dan ayunan tangan Hitler. Jordaan memberi judul karikatur ini "three in one".
(klik untuk memperbesar | © AVS)
24 Mei 1956. Soekarno mendapat gelar doktor kehormatan dari Columbia University, dan langsung merobek pengakuan bersalah terhadap Belanda.

Waktu: 1955, 1955, 1956
Tempat:
Tokoh: Soekarno (Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa:
Karikaturis: Charles Boost (nomor 1 dan 3), Leendert Jurriaan Jordaan (nomor 2)
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 16 April 2016

Gadis dan perempuan Bali zaman dulu dalam pelbagai aktifitas (1)

Menjemur padi
(klik untuk memperbesar | © fotomuseum)
Menumbuk padi, 1954
(klik untuk memperbesar | © Three Lions / Corbis)
Mengusung padi, 1928
(klik untuk memperbesar | © Franklin Price Knott /
National Geographic Society / Corbis)
Di pesawahan, 1939
(klik untuk memperbesar | © Horace Bristol/ Corbis)
Waktu: l.d.a.
Tempat: Bali
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: l.d.a.
Sumber / Hak cipta: l.d.a.
Catatan:

Senin, 13 April 2015

Persidangan atas Leon Nicolaas Huber Jungschläger (1), 1954

(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 1954
Tempat: Jakarta
Tokoh: Leon Nicolaas Hubert Jungschläger (mantan perwira intel AL Belanda), Herman Bouman (pengacara Jungschläger; berdasi)
Peristiwa: Persidangan atas Jungschläger yang didakwa membantu pemberontakan DI/TII dengan memasok uang dan peralatan militer.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:
1. Jungschläger didakwa hukuman mati yang menyulut dukungan penduduk Belanda atas dirinya. Di tahun 1956, hanya beberapa hari sebelum vonis dijatuhkan, Jungschläger menderita pendarahan dan meninggal. Persidangan tidak dilanjutkan.
2. Wanita di barisan belakang kemungkinan adalah isteri dari Herman Bouman, yang kemudian menjadi pembela Jungschläger karena Herman Bouman belakangan ikut dituduh bekerja sama dengan Jungschläger dan karenanya segera meninggalkan Indonesia. Isteri Bouman sebenarnya guru bahasa, tidak mengecap pendidikan hukum.

Sabtu, 31 Mei 2014

Ali Sastroamidjojo dan Presiden India Rajendra Prasad, 1954

(klik untuk memperbesar)
Waktu: 30 September 1954
Tempat: New Delhi
Tokoh: Ali Sastroamidjojo (Perdana Menteri RI), Titi Roelia (isteri Ali Sastroamidjojo), Rajendra Prasad (Presiden India)
Peristiwa: Ali Sastroamidjojo melawat ke India untuk berdiskusi dengan Jawahrlal Nehru tentang dampak pembentukan Pakta Manila (SEATO) atas situasi di Asia Tenggara.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Bettmann / Corbis

Kamis, 22 Mei 2014

Richard Nixon meninjau Candi Borobudur, 1954

(klik untuk memperbesar)
Waktu: Januari 1954
Tempat: Magelang
Tokoh: Richard Milhous Nixon (Wakil Presiden AS)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Bettmann / Corbis

Minggu, 24 November 2013

Soekarno menyambut kedatangan Vijaya Lakshmi Pandit, 1954

Waktu: 12 September 1954
Tempat: Bandung
Tokoh: Soekarno (Presiden RI), Fatmawati (isteri ke-3 Soekarno), Vijaya Lakshmi Pandit (Presiden Majelis Umum PBB)
Peristiwa: Vijaya Lakshmi Pandit, sebagai Presiden Majelis Umum PBB, berkunjung ke Bandung dan disambut oleh Soekarno dan Fatmawati dengan lantunan lagu Indonesia Raya.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Bettmann / Corbis
Catatan: Vijaya Lakshmi Pandit adalah adik dari pejuang kemerdekaan India, Jawaharlal Nehru, dan merupakan wanita pertama yang menjabat presiden dari Majelis Umum PBB.