Tampilkan postingan dengan label 1818. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1818. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 April 2025

Beberapa lukisan kuno tentang Jakarta dari berbagai masa (4)

Karya C. Reiss (aslinya karya Joseph Meyer), abad ke-19: Salah satu sudut Jakarta dengan gedung-gedung perkotaan di latar belakang, serta Laut Jawa di sebelah kanan
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Karya T. Dixon, 1818: Lukisan yang cukup dramatis karena mengesankan seolah-olah Jakarta berada di kaki gunung berapi dan dipenuhi oleh perkebunan kelapa
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: abad ke-19 (a.l. 1818)
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: C. Reiss (aslinya karya Joseph Meyer), T. Dixon
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 25 November 2024

Peta kuno dari tahun 1818: Ketika Makassar bernama Rotterdam

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1818
Tempat terbit: Augsburg (Jerman)
Tokoh:
Deskripsi: Dokumen berbahasa Jerman ini berjudul Karte von Ostindien (Peta Hindia-Timur), dan menggunakan istilah Vorder-Indien (Hindia Depan) untuk menyebut jazirah Hindia, dan Hinter-Indien (Hindia Belakang) untuk menamakan wilayah yang sekarang menjadi Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand, dan Vietnam. Wilayah Nusantara, yang seharusnya diberi nama Ostindien, dibagi menjadi dua bagian: Sundische Inseln (Kepulauan Sunda) dan Molukische Inseln (Kepulauan Maluku). Dengan cakupan seluas ini peta ini tentunya hanya fokus ke nama-nama yang menurutnya penting. Maka di Sumatera kita hanya baca 4 nama: Aceh, Bengkulu, Padang, dan Palembang. Jawa malah hanya diwakili oleh 2 nama: Banten dan Jakarta. Sementara Kalimantan a.l. memperoleh Banjarmasin, Brunei, dan Sambas. Sulawesi malah hanya diwakili oleh satu nama saja, yang justru malah salah; peta ini tidak menyebut "Makassar", tapi menulis nama benteng Belanda yang ada di kota ini: Rotterdam.
Juru kartografi: Johan Walch
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Sabtu, 14 September 2024

Denah dan deskripsi tentang Teluk Kalumbayan di Lampung dari tahun 1818, dipersembahkan untuk Sir Stamford Raffles

Sketsa tentang Teluk Kalumbayan, dilihat dari Pulau Kelapa
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Petunjuk arah untuk mencapai Teluk Kalumbayan
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Peta Teluk Kalumbayan dengan sketsa dan petunjuk yang ditampilkan di dua gambar sebelumnya
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1818
Tempat terbit: London
Tokoh:
Deskripsi: Peta atau denah ini berasal dari masa ketika Sir Stamford Raffles berada di Bengkulu. Saat itu Teluk Kalumbayan menjadi tempat persinggahan untuk kapal-kapal yang berlayar dari kawasan India/Sri Lanka menuju Selat Sunda untuk selanjutnya mengarah ke Maluku dan wilayah penghasil rempah-rempah lainnya. Peta ini dianggap perlu karena sebelumnya di tahun 1786 sebuah kapal Inggris bernama Horsburgh karam di sekitar wilayah ini akibat petunjuk navigasi yang kurang.
Juru kartografi: W.H. Hull, W.H. Johnstone, R.N. June
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 11 Agustus 2021

Peta Maluku karya Cornelis van Baarsel dan putranya, 1818 (2)

Peta Pulau Banda Api, Banda Neira, dan Banda Besar, dengan pemandangan ke arah benteng Belanda di Banda
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Peta Halmahera, diapit oleh Sulawesi dan Papua, dengan pemandangan ke arah Ternate
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1818
Tempat: Banda, Halmahera
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Cornelis van Baarsel dan putranya
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 09 Agustus 2021

Peta Maluku karya Cornelis van Baarsel dan putranya, 1818 (1)

Pulau Buru (kiri) dan Pulau Seram (kanan), dengan pemandangan ke pesisir Seram (bawah)
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Teluk Baguala, Ambon (atas), dan peta Pulau Ambon (bawah, dengan arah utara menuju ke kiri bawah)
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1818
Tempat: Ambon, Buru, Seram
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Cornelis van Baarsel dan putranya
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: