Tampilkan postingan dengan label bupati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bupati. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Mei 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang Bupati Serang Adipati Mandura Raja Jayanagara

(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1844
Tahun peristiwa: abad ke-19
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh: Tubagus Abul Hasan, dengan gelar Raden Adipati Mandura Raja Jayanagara, Bupati Serang 1840-1849
Deskripsi:
Juru foto/gambar: C.W.M. van de Velde
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Sabtu, 25 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (2)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Seorang pendeta Tionghoa di sebuah kelenteng di Jakarta. Berdasarkan gambar di atas pendeta ini , kemungkinan seorang perempuan dan penganut Taoisme. Dia memakai jubah abu-abu dengan mantel merah-hitam yang berisi berbagai ornamen. Tangannya memegang sebuah lonceng perangkat ritual keagamaan.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI ini lumayan menyajikan komposisi yang disajikan oleh karya Hardouin
(klik untuk memperbesar)
Seorang bupati di Jawa yang diiringi seorang punakawan. Bupati ini mengenakan blangkon batik, pakaian kebesaran dengan banyak ornamen keemasan, keris yang dipasang di pinggang belakang, kain batik yang berurai hingga ke bawah lutut, serta celana yang panjang hingga ke bawah sepatu. Sang punakawan yang berbadan kerdil membawa payung kehormatan dari kertas, mengenakan blangkon, baju kebesaran, serta sarung selutut, tanpa alas kaki.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI ini cukup menyajikan gambaran yang realistis, kecuali celana dan sepatu bupati yang ditampilkan seperti zaman sekarang, dan bukan model stirrup pants yang menutupi sebagian sepatu.
(klik untuk memperbesar)
  
Tahun terbit: 1855
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 05 Februari 2024

Tiga potret bangsawan Jawa: Hamengkubuwono VIII, Bupati Pemalang, Bupati Trenggalek

Hamengkubuwono VIII, kemungkinan di tahun 1920-an
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1931: Bupati Pemalang, RAA Sudoro Suroadikusumo dan istri
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Bupati Trenggalek, dalam pakaian kebesaran dengan cincin dan koleksi uang logam, kemungkinan di awal 1930-an
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1920-an, 1930-an, 1931
Tempat: Pemalang, Trenggalek, Yogyakarta
Tokoh: Hamengkubuwono VIII (Sultan Yogyakarta)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 12 April 2023

Dari serakan foto-foto karya Woodbury & Page (5)

Walter Bentley Woodbury dan James Page adalah dua orang Inggris yang menjadi salah dua perintis dunia fotografi profesional di Hindia-Belanda. Studio foto yang mereka dirikan di Batavia menjadi teladan bagi fotografer lain untuk mendirikan hal yang sama di Padang, Semarang, Surabaya, dan kota-kota lain di Nusantara. Blog ini sudah menampilkan banyak karya keluaran dari studio ini. Kali ini kita akan mencoba mengumpulkan foto-foto karya Woodbury dan Page yang berserakan.


1865: Istana Bogor
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1867: Pabrik gula Colomadu, Karanganyar
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1867: Bupati Pati, Raden Adipati Ario Condro Adhi Negoro bersama para pengiringnya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1873: Para pembatik di Cikajang, Garut
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1865, 1867, 1873
Tempat: Bogor, Cikajang (Garut), Colomadu (Karanganyar), Pati
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Woodbury & Page
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Kamis, 06 April 2023

Dari serakan foto-foto karya Woodbury & Page (2)

Walter Bentley Woodbury dan James Page adalah dua orang Inggris yang menjadi salah dua perintis dunia fotografi profesional di Hindia-Belanda. Studio foto yang mereka dirikan di Batavia menjadi teladan bagi fotografer lain untuk mendirikan hal yang sama di Padang, Semarang, Surabaya, dan kota-kota lain di Nusantara. Blog ini sudah menampilkan banyak karya keluaran dari studio ini. Kali ini kita akan mencoba mengumpulkan foto-foto karya Woodbury dan Page yang berserakan.


1865: Foto studio dari sebuah keluarga Jawa di Jakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Edisi lain dari foto di atas
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1867: Bupati Kudus, Raden Mas Tumenggung Candranegara dan keluarganya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1880: Pohon-pohon palem di Kebun Raya Bogor
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah sudut Jakarta di penghujung abad ke-19
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: pertengahan kedua abad ke-19 (a.l. 1865, 1867, 1880)
Tempat: Bogor, Jakarta, Kudus
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Woodbury & Page
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 21 Desember 2022

Dari album foto seorang anggota Keraton Kanoman Cirebon (1)

PENGANTAR

Di antara album foto yang dibeli National Gallery of Australia dari koleksi Leo Haks, ada sebuah buku foto yang oleh NGA diberikan keterangan singkat "Samsoedin Indonesian family album 1930 - 1933". Sepintas isi album ini memang foto-foto keluarga Indonesia, yang berisi gambar dari anak kecil hingga dewasa, ketika di rumah atau sedang bepergian. Si keluarga tampaknya lumayan berada. Mereka memiliki mobil dengan plat nomor D, memiliki anjing ras, dan Samsoedin ini memiliki kamera yang tampaknya dia gunakan untuk mengambil banyak foto yang ada di album ini. Kemudian keluarga ini banyak berpergian, keliling Jawa, ke Bali, ke Palembang, bahkan sampai ke Singapura.

Si penyusun foto memberikan beberapa catatan, sehingga kita masih bisa mengetahui tentang apa foto-foto ini. Di salah satu foto ada keterangan De Koninklijke familie Kanoman, atau "Keluarga Kerajaan Kanoman". Ini menimbulkan dugaan bahwa keluarga yang ditampilkan di album ini adalah keluarga Keraton Kanoman, Cirebon. Dugaan ini diperkuat dengan catatan Samsoedin di foto dia bersama kerabat lelakinya yang diberi catatan 't Kanoman-trio and little brothers. Akhirnya catatan dia di awal album yang menyebutkan namanya, dan nama tempat "Soerabaja", "Bandoeng", "Java", dan "Kanoman" makin mengukuhkan dugaan ini.

Album ini menjadi menarik karena menampilkan golongan berada Indonesia di tahun 1930-an: pakaiannya, pendidikannya, bahasa yang digunakan, kegiatannya, serta pertemanannya. Album ini juga ikut memperlihatkan tempat mana saja yang menjadi tujuan perjalanan atau wisata saat itu. Dari album ini kita juga melihat bahwa Samsoedin ini sangat senang memfoto anak kecil terutama keponakannya, dan dalam beberapa foto juga kaum perempuan termasuk ibu dan saudara-saudara wanitanya. Ada juga foto yang memperlihatkan kunjungan Dr. Khalid Sheldrake ke Bandung. Khalid, yang nama aslinya Bertram William, adalah filantrop Inggris yang masuk Islam dan sempat dinobatkan menjadi Raja Islamestan di wilayah Xinjiang, RRT, sekarang.

Jilid album foto
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman awal foto yang memperlihatkan nama Samsoedin, foto dia (sebelah kanan di foto atas-bawah, dan sebelah kiri di foto kiri-kanan) bersama Mochtar, kakaknya, serta keterangan nama tempat dan waktu Surabaya, Kanoman, Bandung, 1928 dan 1933
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Foto ayah Samsoedin (Sultan Anom?) di Singapura tahun 1931, ibunya, Samsoedin sedang pusing belajar, serta ayahnya meninjau sebuah sungai di Cirebon. Ada satu foto tentang Cicalengka yang lepas.
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Lembaran dengan foto keluarga, Bupati Lamongan bersama seorang pembesar Belanda, dan kegiatan Samsoedin di sekolah
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sultan Anom (?) dan istri di Borobudur, serta keluarga dari Mochtar yang akan sering muncul di album ini
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Keponakan-keponakan Samsoedin, salah satunya adalah anak Mochtar bernama Oetje yang akan sering muncul di album ini lintas beberapa tahun
(klik untuk memperbesar | © NGA)


Waktu: di sekitar tahun 1930
Tempat: Cirebon, Lamongan, Magelang, Singapura
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: a.l. Samsudin
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Jumat, 29 Oktober 2021

Jawa Timur di sekitar tahun 1880 menurut album keluaran Herman Salzwedel (2)

1875-1879: Perjalanan di perbukitan, kemungkinan di sekitar hutan Lalijiwo (Prigen, Pasuruan)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1880: Pepohonan lidah buaya jumbo
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1877-1878: Bupati Blitar dan jajaran pemerintahannya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1875-1879: Jalan menuju Tosari
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1880: Kawasan Bromo dengan latar depan Gunung Batok
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1875-1879: Pemandangan di Tosari
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: l.d.a.
Tempat: Jawa Timur (a.l. Blitar, Malang, Tosari)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Carl Julius Herman Salzwedel
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Bandingkan foto pertama dengan lokasi foto keempat di posting ini. Edisi lain dari foto nomor 3 pernah dimuat di sini dan sini.

Rabu, 27 Oktober 2021

Jawa Timur di sekitar tahun 1880 menurut album keluaran Herman Salzwedel (1)

1875-1879: Bupati Bangkalan, Madura
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1880: Prigen/Tretes, Pasuruan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1875-1879: Muntahan abu di kawasan Bromo
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1875-1879: Candi Singhasari, Malang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1875-1879: Gunung Semeru
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1875-1879: Pemandian Diana di Prigen, Pasuruan
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: l.d.a.
Tempat: Bangkalan, Malang, Pasuruan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Carl Julius Herman Salzwedel
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 02 Maret 2021

Aneka wajah Nusantara dari album foto keluaran Kleynenberg & Co terbitan 1912-1914 (2)

PENGANTAR

Di sekitar tahun 1912-1914 penerbit Kleynenberg & Co. mengeluarkan album berisi 170 foto tentang jajahan Belanda. 150 di antaranya berasal dari Hindia-Belanda, sisanya dari Suriname. Kebanyakan foto-fotonya kemungkinan dibuat di awal abad ke-20, beberapa di antaranya berasal dari fotografer terkenal seperti Jean Demmeni (fotografer kelahiran Padang Panjang, campuran Perancis dan Madura), Christiaan Nieuwenhuis (mantan KNIL yang beralih jadi fotografer, menetap dan meninggal di Padang), Carl Kleingrothe (orang Jerman yang menjadi fotografer di Medan), atau Cassian Kephas (fotografer lokal yang autodidak), dsb.

Album ini menjadi menarik karena merupakan kompilasi keanekaragaman wajah Nusantara saat itu: dari pantai hingga ke pegunungan, dari Aceh hingga ke Papau, dari warga Dayak hingga ke warga Timor, dari perkebunan hingga ke industri tambang. Tak ketinggalan pula aneka macam bangunan mulai dari gua yang masih jadi tempat tinggal hingga ke rumah besar dan keraton. Dari candi, gereja, mesjid, hingga ke pura. Juga dari nelayan, petani, hingga ke penyepuh emas; serta dari bermain kartu, menenun kain hingga ke pacuan kuda.

Tentu tak mungkin semuanya terangkum hanya dalam beberapa foto; tetapi album ini berhasil menunjukkan satu sisi dari keanekaragaman ini.

Blog ini akan menampilkan 150 foto ini; beberapa di antaranya, terutama foto yang populer, pernah ditampilkan sebelumnya secara sendiri-sendiri. 42 foto pertama akan berasal dari yang tersedia di arsip Atlas Van Stolk, ini dipilih karena umumnya sudah menguning sehingga kental kesan kunonya; sisanya dari koleksi Universitas Leiden.


21. Salah seorang bupati di Jawa Barat bersama keluarganya
(klik untuk memperbesar | © AVS)
23. Warga Minangkabau di depan rumah gadang
(klik untuk memperbesar | © AVS)
30. Stasiun kereta Tuntang, Semarang
(klik untuk memperbesar | © AVS)
31. Kereta api Jakarta-Bandung
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: album foto terbit antara tahun 1912 dan 1914, kemungkinan foto-fotonya sudah lebih tua lagi
Tempat (d.a.k.b.): Jawa Barat, Minangkabau, Tuntang (Semarang), Jawa Barat
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Kleynenberg & Co (Haarlem) / Atlas Van Stolk
Catatan: Edisi lain dari foto no. 21 pernah dimuat di posting ini.

Minggu, 26 Juli 2020

Beberapa foto lama dari Jawa Tengah

Tegal Arum (Tegal), sekitar 1890: Makam Amangkurat I
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Pasar di Slawi (Tegal), sekitar 1890
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Kassian Cephas di Kawah Candradimuka, Banjarnegara, sekitar tahun 1895
(klik untuk memperbesar | © Kassian Cephas / NGA)

Semarang, 1930: Pertemuan Gubernur Jenderal Andries Cornelis Dirk de Graeff (duduk kelima dari kiri) dengan para bupati sekawasan Jawa Tengah
(klik untuk memperbesar | © NGA)

11 September 1932: Kunjungan Gubernur Jenderal Bonifacius Cornelis de Jonge ke Magelang
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Limpung (Batang), 27 Oktober 1932: Foto bersama di sebuah pameran agraria
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu:  1890, 1895, 1930, 1932
Tempat:  Banjarnegara, Batang, Magelang, Semarang, Tegal
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Jumat, 01 Mei 2020

Dari album foto keluarga Kartini: RMAA Sosroningrat, ayah Kartini

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Sejarah Hindia-Belanda menunjukkan bahwa tokoh yang menjadi pahlawan bagi bangsa Indonesia, bagi pihak Belanda saat itu tak lebih dari pemberontak, pembuat onar, penyulut kerusuhan, dsb. Sebaliknya, orang yang diberi tanda jasa oleh Belanda, bagi bangsa Indonesia merupakan pembantai, penjahat perang, kolaborator, dsb.

Raden Ayu Kartini merupakan satu dari sedikit pengecualian: Orang Belanda dan Indonesia sama-sama kagum dan menghargai apa yang beliau rintis untuk memajukan bangsa Indonesia, terutama kaum perempuannya. Bahkan kemudian warga Belanda bersama warga Indonesia bersama-sama meneruskan dan mengembangkan apa yang telah beliau mulai, yaitu dengan menghidupkan sarana pendidikan untuk anak-anak perempuan Indonesia.

Seri foto berikut ini akan menampilkan foto-foto Kartini dan keluarganya, dan diteruskan dengan munculnya sekolah-sekolah Kartini di berbagai pelosok

Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara
(klik untuk memperbesar | © Charls & Co. / Universiteit Leiden)
Sekitar 1898: Bupati Jepara RMAA Sosroningrat (keenam dari kanan) bersama beberapa pembesar Belanda
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
RMAA Sosroningrat, ayah Kartini
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
D.ki.k.ka.: Sumantri, Rukmini, RMAA Sosroningrat, Kartini, Kardinah
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
RMAA Sosroningrat beserta istri dan sebagian anak-anaknya a.l. (berdiri di belakang d.ki.k.ka. Kardinah, Rukmini, Kartini, Sumantri)
(klik untuk memperbesar | © NMVW)
Waktu: 1898 (foto kedua), sekitar 1900 (foto lainnya)
Tempat: Semarang (foto pertama & terakhir), Jepara (foto lainnya) 
Tokoh: Raden Ayu Kartini (perintis pendidikan perempuan), Kardinah (adik Kartini), Rukmini (adik Kartini), Sumantri (adik tiri Kartini), RMAA Sosroningrat (Bupati Jepara, ayah Kartini)
Peristiwa:
Fotografer: Charls & Co. (paling tidak foto pertama)
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden / Nationaal Museum van Wereldculturen
Catatan: Foto Kartini muda yang dimuat di posting sebelum ini tampaknya merupakan potongan dari foto terakhir di atas