Tampilkan postingan dengan label Pematang Siantar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pematang Siantar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 November 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (4)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Teks asli penyerta foto:Indonesische militairen lopen mee tijdens een loyaliteitsdemonstratie te Pematang Siantar (Pematangsiantar).
  • Terjemahan:Tentara Indonesia berpartisipasi dalam demonstrasi kesetiaan [terhadap Belanda] di Pematang Siantar (Pematangsiantar).
  • Bahasan: Ini sudah benar kejadiannya di Pematang Siantar, tepatnya tanggal 27 Agustus 1947; tetapi para lelaki yang berbaris bukanlah tentara atau militer Indonesia, melainkan sebuah milisi bernama Batakse Burgerwacht (Penjaga Warga Batak).
  • .Catatan: Lihat juga posting sebelum ini.
Waktu: 27 Agustus 1947
Tempat: Pematang Siantar
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 11 November 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (3)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Teks asli penyerta foto:Bij de bevrijding van Medan door de Politionele actie kwamen ook ondergedoken Britsch IndiĆ«rs voor de dag voor een loyaliteitsdemonstratie.
  • Terjemahan:Ketika Medan dibebaskan melalui Aksi Polisi, warga India-Inggris yang bersembunyi juga maju menunjukkan kesetiaan [terhadap pemerintahan Belanda].
  • Bahasan:Foto dibuat pada tanggal 27 Agustus 1947 di Pematang Siantar, jadi bukan di Medan. Warga di foto ini berburus mendukung Negara Sumatera Timur, jadi bukan yang tadi bersembunyi kemudian keluar menyambut kembalinya Belanda. Dan yang disebut "warga India-Inggris" sejatinya adalah para pendatang dari Jazirah Hindia dan/atau keturunannya yang mengadu untung dengan berusaha di sekitar pantai timur Sumatera.
  • Catatan: Lihat juga posting sebelum ini.
Waktu: 27 Agustus 1947
Tempat: Pematang Siantar
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 09 November 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (2)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Teks asli penyerta foto:Vreugde na de bevrijding door de politionele actie. Java.
  • Terjemahan:Kegembiraan [masyarakat] setelah pembebasan [dari kekuasaan Republik] melalui Aksi Polisionil [1]. Jawa.
  • Bahasan:Foto ini diambil pada tanggal 27 Agustus 1947 di Pematang Siantar, bukan di Jawa. Dan ini adalah unjuk rasa mendukung pembentukan Negara Sumatera Timur, bukan reaksi atas Aksi Polisionil 1 yang dimulai Belanda di bulan Juli 1947.
  • Catatan: Lihat juga posting sebelum ini.
Waktu: 27 Agustus 1947
Tempat: Pematang Siantar
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 19 September 2024

Republik Indonesia Serikat (11) - Negara Sumatera Timur: Foto-foto tambahan dari unjuk rasa di Pematang Siantar mendukung pembentukan NST

Pengantar: Sejarah Indonesia tentang masa tahun 1949-1950 akan menyebut kata RIS alias Republik Indonesia Serikat. Tetapi kita tidak banyak menemukan bahasan tentang hal itu. Boleh jadi karena negeri-negeri federasi ini dianggap negara boneka buatan Belanda, dan tokoh-tokohnya dipandang sebagai kaki tangan Belanda di dalam usaha mereka mempertahankan kendali mereka atas Indonesia.

Seri posting kali ini akan menampilkan beberapa foto yang berkenaan dengan RIS ini. Mudah-mudahan ini bisa berkontribusi di dalam menggali bagian sejarah Indonesia yang tampak terlantarkan ini.


Pengunjuk rasa dengan spanduk yang a.l. bertuliskan "Kami minta(m) Daerah Istimewa Soematra Timoer" dan "Kembalikan keamanan dan keadilan pada kami"
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kerumunan para pengunjuk rasa
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seri foto ini merupakan lanjutan dari posting sebelumnya yang dimuat sepuluh tahun lalu.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dua tokoh Negara Sumatera Timur di antara para pengunjuk rasa: Tengku Dzulkarnain (melambaikan tangan) dan Tengku Mansyur (berpeci)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 27 Agustus 1947
Tempat: Pematang Siantar
Tokoh: Tengku Mansyur (pemimpin Negara Sumatera Timur), Tengku Dzulkarnain (Ketua Dewan Sementara NST)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 25 Februari 2021

Koleksi foto dari masa kejayaan tembakau di utara Sumatera — Album V: Perkebunan teh Nagahuta dan perkebunan kopi Greahan

PENGANTAR

Seperti sudah disinggung di posting sebelum ini, dan juga sebelumnya lagi, sejarah mewariskan banyak album foto tentang wilayah utara Sumatera dari masa kejayaan perkebunan tembakau. Isinya tentunya foto-foto yang terkait dengan perkebunan tembakau, serta manusia dan tempat atau tempat di sekitarnya. Foto-foto ini umumnya jepretan C.J. Kleingrothe atau keluaran dari studio foto miliknya. Kleingrothe adalah seorang Jerman yang menetap di Medan dari penghujung abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Beberapa foto tampaknya sangat populer, sehingga ia muncul di lebih dari satu album; blog ini akan menampilkan pengulangan foto seperti ini.


Pabrik kopi di desa Greahan, Deli Serdang (atas);
para perempuan asal Jawa memilah biji kopi (bawah)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pohon kopi robusta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Perempuan asal Jawa memanen kopi
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Perkebunan teh Nagahuta, Pematang Siantar
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pengolahan teh di pabrik
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Tahun terbit album: antara 1903 dan 1920 (foto-foto bisa jadi lebih tua lagi)
Tempat: Greahan (Deli Serdang), Nagahuta (Pematang Siantar)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Carl Josef Kleingrothe
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 14 November 2017

Mohamad Amir, tentara dari kesatuan Inggris asal Hindia yang bergabung dengan para pejuang kemerdekaan, 1947

Mohamad Amir dalam tahanan Belanda
(klik untuk memperbesar)
Mohamad Amir dalam tahanan Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Mohamad Amir dalam tahanan Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Mohamad Amir (paling depan kiri) bersama tentara lain asal Hindia dan Jepang yang bergabung dengan para pejuang kemerdekaan memerangi pasukan Belanda
klik untuk memperbesar | © gahetna)
Mohamad Amir berbaris paling depan digiring tentara Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 1 Agustus 1947
Tempat: Pematang Siantar
Tokoh: Mohamad Amir, mantan serdadu Inggris dari Korps India ke-15 yang masuk ke barisan TNI dengan pangkat kapten dan berjuang bersama para gerilyawan memerangi pasukan Belanda di Sumatera Utara.
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Sabtu, 19 November 2016

Tabrakan kereta api berisi para pejuang TNI di Pematang Siantar, 1947

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 29 Juli 1947
Tempat: Pematang Siantar
Tokoh: Pergerakan pasukan Belanda dari Medan ke Tebing Tinggi semasa Aksi Polisionil 1 membuat para pejuang TNI serta pegawai pemerintahan RI mengungsi ke Pematang Siantar dengan menggunakan kereta api. Malangnya, dari arah Pematang Siantar melaju pula sebuah kereta lain, sehingga tabrakan yang mengenaskan ini tidak bisa dihindarkan.
Fotografer: van Kalken
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Minggu, 03 Agustus 2014

Republik Indonesia Serikat (4) - Negara Sumatera Timur: Milisi, Polisi, dan Tentara NST

Pengantar: Sejarah Indonesia tentang masa tahun 1949-1950 akan menyebut kata RIS alias Republik Indonesia Serikat. Tetapi kita tidak banyak menemukan bahasan tentang hal itu. Boleh jadi karena negeri-negeri federasi ini dianggap negara boneka buatan Belanda, dan tokoh-tokohnya dipandang sebagai kaki tangan Belanda di dalam usaha mereka mempertahankan kendali mereka atas Indonesia.

Seri posting kali ini akan menampilkan beberapa foto yang berkenaan dengan RIS ini. Mudah-mudahan ini bisa berkontribusi di dalam menggali bagian sejarah Indonesia yang tampak terlantarkan ini.

Negara Sumatera Timur - Milisi, Polisi, dan Tentara NST 

Batakse Burgerwacht, Pematang Siantar, 27 Agustus 1947 ((c) gahetna)
Batakse Burgerwacht, Pematang Siantar, 27 Agustus 1947 ((c) gahetna)
Batakse Burgerwacht, Pematang Siantar, 27 Agustus 1947 ((c) gahetna)
Polisi Negara Sumatera Timur ((c) gahetna)
Polisi Negara Sumatera Timur ((c) gahetna)
Polisi Negara Sumatera Timur ((c) gahetna)
Polisi Negara Sumatera Timur ((c) gahetna)
Barisan Pengawal Negara Sumatera Timur, April 1948 ((c) gahetna)
Barisan Pengawal Negara Sumatera Timur, April 1948 ((c) gahetna)

Waktu: 1947, 1948
Tempat: Pematang Siantar
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal
Catatan:

UPDATE 16 September 2019
Foto pertama dari sudut kamera yang sedikit berbeda:

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Kamis, 31 Juli 2014

Republik Indonesia Serikat (1) - Negara Sumatera Timur: Unjuk rasa di Pematang Siantar mendukung pembentukan NST

Pengantar: Sejarah Indonesia tentang masa tahun 1949-1950 akan menyebut kata RIS alias Republik Indonesia Serikat. Tetapi kita tidak banyak menemukan bahasan tentang hal itu. Boleh jadi karena negeri-negeri federasi ini dianggap negara boneka buatan Belanda, dan tokoh-tokohnya dipandang sebagai kaki tangan Belanda di dalam usaha mereka mempertahankan kendali mereka atas Indonesia.

Seri posting kali ini akan menampilkan beberapa foto yang berkenaan dengan RIS ini. Mudah-mudahan ini bisa berkontribusi di dalam menggali bagian sejarah Indonesia yang tampak terlantarkan ini.

Negara Sumatera Timur - Unjuk rasa di Pematang Siantar mendukung pembentukan NST 

© gahetna
© gahetna
© gahetna
© © gahetna
© gahetna
© gahetna
gahetna
gahetna

Waktu: 27 Agustus 1947
Tempat: Pematang Siantar
Tokoh: Tengku Mansyur (pemimpin Negara Sumatera Timur)
Peristiwa: Rentetan kejadian yang disebut Revolusi Sosial Sumatera Timur telah menumbuhkan sikap anti-republik di beberapa kalangan masyarakat di wilayah ini. Ini kemudian terakumulasi di tuntutan pembentukan Negara Sumatera Timur, seperti yang terlihat di unjuk rasa di Pematang Siantar ini. Di foto-foto ini kita melihat dukungan beberapa warga India, warga Tionghoa, dan warga lokal yang tampaknya terkait dengan para bangsawan wilayah ini, dan tentu saja pihak Belanda yang mengerahkan para petingginya (a.l. Komisaris Pemerintah J.J. van der Velde, dan Asisten Residen A. Schuyff).
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:


UPDATE 16 September 2019

Foto keenam dengan ukuran yang lebih besar:
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Tambahan dua foto dari peristiwa yang sama:
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)