Tampilkan postingan dengan label Demak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Demak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 April 2022

Demak di sekitar tahun 1898 dalam album foto "Javasche Landschappen" (6)

Anak-anak Buluran (Gemulak, Sayung) berpose di depan perumahan mereka
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Tempat pemandian kuda
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jalan pos menuju Semarang di Gemulak (Sayung)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pasar Sayung
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Perahu layar di Sayung
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1898
Tempat: Demak
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Kamis, 21 April 2022

Demak di sekitar tahun 1898 dalam album foto "Javasche Landschappen" (5)

Warga Karangrejo di Gemulak (Sayung) menjemur padi
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Warga Batukidul di Gemulak membajak sawah
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah jembatan di Dwogo (?), Gemulak (Sayung)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Warga Segangan Kidul, di Gemulak (sayung) membetulkan tanggul penahan air
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Anak-anak mandi bersama kerbau di Buyaran
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1898
Tempat: Demak
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 19 April 2022

Demak di sekitar tahun 1898 dalam album foto "Javasche Landschappen" (4)

Kampung Moro (?) di Gemulak (Sayung)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Anak-anak mandi bersama kerbau di jalur Gemulak menuju arah Semarang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Warga menyusuri sungai dengan perahu
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah mesjid di Sayung
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Warga Kalikondang dengan ternak ayam dan kambing
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1898
Tempat: Demak
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Minggu, 17 April 2022

Demak di sekitar tahun 1898 dalam album foto "Javasche Landschappen" (3)

Pasar Buyaran (Karangtengah)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Perumahan warga Kalikondang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pengaturan arus air di Buyaran (Karangtengah)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Warga Batu, Gemulak (Sayung)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jalan antara Gemulak dan Bulusari (?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1898
Tempat: Demak
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Jumat, 15 April 2022

Demak di sekitar tahun 1898 dalam album foto "Javasche Landschappen" (2)

Perkampungan warga Baluran, Gemulak (Sayung)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Perumahan warga Batukendal, Gemulak (Sayung)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Perbaikan jalan pos di Gemulak (Sayung)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Dukuh Sodong di Sayung
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah sungai di kawasan Sayung dekat ke wilayah Semarang
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1898
Tempat: Demak
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 13 April 2022

Demak di sekitar tahun 1898 dalam album foto "Javasche Landschappen" (1)

Jilid dari album foto
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kawasan pecinan di Kali Pepe, Solo; satu-satunya foto yang bukan dari Demak
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Berperahu di Ngasinan (Kembangan, Bonang)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pasar Sayung
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kediaman administrateur Belanda di Kalikondang
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1898
Tempat: Demak
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Minggu, 02 September 2018

Warga Tionghoa di masa perang kemerdekaan (27): Kerusakan di Jawa Tengah

Pengantar: Kerusuhan 1998 termasuk bagian paling hitam di dalam sejarah hubungan warga "pribumi" dan Tionghoa di Indonesia. Peristiwa ini memicu munculnya era reformasi yang kemudian memberikan banyak kemajuan di dalam hubungan ini.

Harus diakui, peristiwa di tahun 1998 bukanlah yang pertama. Kekurang-harmonisan ini sudah ada puluhan tahun sebelumnya, termasuk di masa perang kemerdekaan. Blog ini sebelumnya sudah memperlihatkan perusakan pada harta benda warga Tionghoa yang dilakukan pejuang kemerdekaan di beberapa tempat, dan bagaimana Belanda dipandang sebagai pelindung warga Tionghoa dan terlibat dalam pembentukan milisi Tionghoa bersenjata yang berseteru dengan para pejuang.

Sebagian dari kita boleh jadi berpendapat "Ah, sudahlah, itu masa lalu. Tidak diusah diungkit-ungkit, hanya akan membuka luka dan borok lama. Kita lihat ke depan saja agar ada hubungan yang lebih harmonis." Pendapat seperti ini mengimplikasikan bahwa kita sebaiknya menutup sejarah yang tidak enak didengar. Di sini ada kemungkinan bahwa generasi ke depan, dari semua pihak baik "pribumi" maupun Tionghoa, tidak mencernai apa yang telah terjadi sebelumnya, dan menghadapi risiko akan mengulang apa yang justru seharusnya dihindari.

Penyelidikan sejarah secara jernih, tanpa generalisasi, tanpa praduga, tanpa emosi, diharapkan bisa menjadi bahan yang berharga agar kita, semua, bisa belajar dari masa lalu. Gambar-gambar berikut mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi ke arah sana.

Juli 1947: Perumahan warga Tionghoa yang rusak di Salatiga
(klik untuk memperbesar | © N. Kroeze / gahetna)
Juli 1947: Perumahan warga Tionghoa di Salatiga dengan coretan "Indonesia boeat bangsa Indonesia"
(klik untuk memperbesar | © N. Kroeze / gahetna)
24 Juli 1947: Puing-puing bangunan warga Tionghoa di Tegal
(klik untuk memperbesar | © P. de Bruijn / gahetna)
24 Juli 1947: Bangunan warga Tionghoa yang dibakar di Tegal
(klik untuk memperbesar | © P. de Bruijn / gahetna)
1 Agustus 1947: Kerusakan perumahan warga Tionghoa di Demak
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
5 Agustus 1947: Reruntuhan bangunan warga Tionghoa di Gombong
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: Juli/Agustus 1947
Tempat: Demak, Gombong, Salatiga, Tegal
Tokoh:
Peristiwa: Kerusakan atas perumahan warga Tionghoa di wilayah Jawa Tengah sebagai akibat dari aksi para pejuang kemerdekaan dalam rentetan kekerasan menyusul Aksi Polisionil 1 yang dilancarkan militer Belanda.
Fotografer: antara lain N. Kroeze dan P. de Bruijn
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Rabu, 19 Juli 2017

Tindakan bumi hangus pejuang kemerdekaan (14): Stok beras di Demak

(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 1 Agustus 1947
Tempat: Demak
Tokoh:
Peristiwa: Stok beras yang hangus hasil aksi bumi hangus yang dilakukan pejuang kemerdekaan ketika Belanda menjalankan Aksi Polisionil 1 agar aset yang dianggap penting tidak jatuh ke tangan Belanda.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: