Tampilkan postingan dengan label gamelan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gamelan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 September 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang penari Jawa di Pameran Dunia di Paris 1889

(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1889
Tahun peristiwa: 1889
Tempat terbit: London
Tokoh:
Deskripsi: Lukisan di atas terbit di The Illustrated London News yang memberitakan Exposition Universelle de 1889 (Pameran Dunia 1889) di Paris. Hindia-Belanda mengirimkan beberapa pertunjukan, a.l. sajian tarian yang dibawakan oleh keempat perempuan ini. Kemungkinan besar, keempat penari ini adalah para perempuan yang fotonya pernah dimuat di posting ini. Di latar belakang sebelah kiri tampak para pemain gamelan, sementar di belakang penari kelihatannya deretan wayang golek yang tampilannya tidak terlalu mengarah ke aslinya.
Juru foto/gambar: Huyot
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Selasa, 11 Agustus 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang adu ketangkasan berkuda di Jawa di abad ke-16

(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: pertengahan abad ke-17
Tahun peristiwa: abad ke-16
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi: Adu ketangkasan berkuda di Jawa, yang a.l. disebut Senenan dan kelihatannya sudah punah, tampaknya merupakan tradisi yang sudah berlangsung selama beberapa ratus tahun. Posting ini memperlihatkan bagaimana pertandingan ini dilaksanakan di abad ke-19. Lukisan yang lebih tua di posting ini menunjukkan pelaksanaan lomba ini di abad ke-17. Gambar di atas tampaknya lebih tua lagi, dari ujung abad ke-16, atau awal abad ke-17, dan menggambarkan adu berkuda ini di Tuban (atau Gresik?), Jawa Timur. Lukisan ini memperlihatkan sebuah arena melingkar, dengan tiga jalan masuk yang masing-masing diisi sebuah kesatuan prajurit, dengan tiga pasang pekuda yang saling bertarung dengan menggunakan tombak. Ini boleh jadi menyiratkan adanya perlombaan antar tiga kelompok atau wilayah. Acara ini diiringi dengan gamelan (huruf A), baik yang dimainkan sambil duduk ataupun berkeliling. Tontonan ini tampaknya ditunjukkan kepada beberapa orang Portugis (huruf B) yang boleh jadi menjadi sumber yang menceritakan tradisi ini kepada bangsa Eropa. Di dekat pemain gamelan tampak seekor gajah; hewan yang juga muncul di lukisan dari abad ke-17 di posting ini. Bedanya, di lukisan tua ini sang gajah sedang dikurung, sementara di gambar yang lebih muda tampak dikendarai oleh bangsawan tertinggi (sultan?) untuk memasuki arena.
Juru foto/gambar: Isaac Commelin
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Jumat, 17 Juli 2026

Berbagai foto semasa Perang Kemerdekaan dari koleksi tentara Belanda bernama Bob van Dijk (8)

PENGANTAR

Bob van Dijk adalah seorang tentara Belanda dari kesatuan zeni yang diterjunkan ke Nusantara, terutama di wilayah Jawa Timur, semasa Perang Kemerdekaan. Bob tampaknya menggemari fotografi, dan kamera fotonya banyak mengabadikan suasana sejak di berangkat dari Belanda melalui berbagai tempat dan pelabuhan sebelum akhirnya tiba di Hindia-Belanda. Blog ini akan mencoba untuk memperlihatkan karya-karya Bob ini yang a.l. banyak didominasi oleh suasana sehari-hari seorang tentara Belanda ketika bertugas di Indonesia.

Bob juga banyak membuat jepretan ketika dia bertugas di lapangan. Koleksi dia juga berisi beberapa foto dari medan pertempuran yang tampaknya merupakan karya jurnalis perang profesional seperti Hugo Wilmar. Secara keseluruhan, koleksi ini lumayan menarik karena memperlihatkan suasana sehari-hari semasa Perang Kemerdekaan dari sudut pandang seorang tentara Belanda.


Tulisan di bilik bambu berbunyi "1946" dan "slamet dateng". Bendera Belanda bergantungan dari atap. Ada kemungkinan ini adalah sambutan sebuah kampung atas kedatangan tentara Belanda …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… dengan menyuguhkan acara kesenian tradisional, dan memberi kesempatan foto bersama dengan para bintang panggung.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Gamelan pengiring yang kemungkinan besar adalah kelompok gambang kromong mengindikasikan bahwa peristiwa ini terjadi di Jakarta …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… dan acara yang disuguhkan adalah lenong
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah rumah yang dijadikan pasukan Belanda sebagai pos dan ditambahi dengan gardu penjagaan yang dikelilingi gundukan karung
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1946
Tempat: kemungkinan besar Jakarta dan/atau sekitarnya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Bob J. van Dijk
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 26 Desember 2025

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno karya Theodor de Bry tentang pemain gamelan di Jawa

(klik untuk memperbesar | @ Wellcome Collection)

Tahun terbit: abad ke-16 
Tempat terbit: kemungkinan Frankfurt am Main 
Tokoh:
Deskripsi: Theodor de Bry terkenal sebagai ilustrator abad ke-16 yang banyak memperkenalkan kepada warga Eropa suasana di luar Eropa seperti Amerika dan Asia Timur termasuk Nusantara. Karena de Bry menumpahkan imaginasinya berdasarkan naskah-naskah dan narasi yang dia baca atau dapat, dan bukan menyaksikan sendiri, maka tidak jarang hasil karyanya harus dipandang dengan cermat. Seperti halnya gambar tentang pemain gamelan di Jawa ini. Lelaki di sebelah kanan dipastikan adalah pemain gong. De Bry sudah benar dalam menampilkan gong dalam ukurang yang tidak sama; sayangnya tetapi kelebihan dua, dan posisinya 90 derajat terlalu banyak. Dua lelaki lain sudah benar digambarkan dalam keadaan duduk di lantai, memegang dua pemukul yang ujungnya dibungkus, menghadap "meja" yang berisi kenongan. Tetapi, bayangan de Bry tentang bentuk kenongan sedikit meleset: benjolannya terlalu lebar.
Juru foto/gambar: Theodor de Bry
Sumber / Hak cipta: Wellcome Collection
Catatan:

Rabu, 25 Juni 2025

Sebuah rangkaian foto tentang berbagai tari Jawa di kalangan keraton, keluaran tahun 1925 (7)

61. Seperangkat gamelan di Lembaga Kolonial di Amsterdam
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
62. Garuda dan Gatotkaca
63. Hanoman, para punakawan, dan tokoh bernama Bambang (?)
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
64. Sekelompok pemain wayang orang
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
65. Tarian Bedhaya
klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
66. Tarian Serimpi
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1925
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Selasa, 27 Mei 2025

Persiapan Belanda di Australia untuk merebut kembali Indonesia: Kedatangan para prajurit bantuan dari Hindia-Barat (3)

Di penghujung 1944 dan awal 1945, ketika Jerman makin terdesak di Eropa, dan Jepang makin terpukul di kawasan Asia-Pasifik, Belanda makin menggiatkan usaha-usaha untuk merebut kembali Hindia-Belanda. Usaha-usaha ini terpusat di Australia, yang secara geografis dekat dengan Indonesia, dan secara politis dan militer berada bersama Belanda di pihak yang melawan negara-negara Poros. Seri berikut akan mencoba menampilkan dokumentasi foto tentang aktivitas Belanda di wilayah Australia ini.


Fort Davis, Panama: Kolonel Wyermans memeriksa kesatuan Hindia-Barat yang akan diberangkatkan ke Australia dengan tujuan bertempur di Hindia-Timur (Hindia-Belanda)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sydney: Para tentara Hindia-Barat keturunan Jawa memainkan gamelan dan mempersembahkan pertunjukan di atas kapal Empire Mace untuk menghibur para serdadu lain dalam perjalanan menuju Australia
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
31 Agustus 1944: Mayor Mietemier (di latar depan) memberikan arahan kepada para tentara bule, Jawa, dan kulit hitam asal Hindia-Barat dalam perjalanan di kapal Empire Mace menuju Australia
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1944
Tempat: Panama, dan perjalanan laut menuju Australia
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga rangkaian posting sebelumnya mengenai para tentara Hindia-Barat ini.

Minggu, 23 Maret 2025

Dari Papua sampai ke Aceh: Nusantara dalam sketsa keluaran tahun 1883 (6)

Pertunjukan tari ronggeng (?) di bawah pohon beringin dengan disaksikan khalayak ramai di Bogor
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Sebuah kampung (di Jawa?)
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Pertunjukan gamelan di sebuah pendopo
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Sebuah keluarga dengan dua anak (kemungkinan di Jakarta)
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Lihat juga posting 1, 2, dan 3 sebelum ini.

Rabu, 08 Januari 2025

Gambar kumpulan berbagai benda yang dilihat Belanda di Nusantara (2)

Sebelum ini kita sudah melihat usaha Belanda dalam mendokumentasikan aspek sosial-budaya Nusantara dalam berbagai bentuk: ada foto berseri, foto yang diwarnai dengan tangan, foto yang dilukis ulang, foto-foto yang dikumpulkan dan digambar ulang dalam satu lukisan, serta juga kumpulan gambar-gambar yang digabungkan di dalam sebuah halaman kertas. Seri kali ini akan menampilkan contoh berikutnya dari upaya yang disebut terakhir ini.
Topeng, wayang golek dan wayang kulit, serta pertunjukan wayang kulit
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Edisi lain dari gambar pertama
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Dari atas ke bawah: kemungkinan sebuah surau (bedehuis) di Jawa, sebuah kampung di Jawa Barat, sebuah rumah tradisional Jawa
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Edisi lain dari gambar pertama
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1875
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 06 Januari 2025

Gambar kumpulan berbagai benda yang dilihat Belanda di Nusantara (1)

Sebelum ini kita sudah melihat usaha Belanda dalam mendokumentasikan aspek sosial-budaya Nusantara dalam berbagai bentuk: ada foto berseri, foto yang diwarnai dengan tangan, foto yang dilukis ulang, foto-foto yang dikumpulkan dan digambar ulang dalam satu lukisan, serta juga kumpulan gambar-gambar yang digabungkan di dalam sebuah halaman kertas. Seri kali ini akan menampilkan contoh berikutnya dari upaya yang disebut terakhir ini.
Gamelan: 1. bonang kromo, 2. gong, 3. kendang, 4. rebab, 5. kenong, 6. kempul, 7. kencer, 8. suling, 9. calempung, 10. saron, 11. gedemong, 12. selantam, 13. gambang kayu, 14. gambang gangsa, 15. gender
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Berbagai jenis senjata dari kalangan warga Dayak, Jawa, Minahasa, Papua, Sangi, dan Solor a.l. golok (2), pedang (3), penangkap maling (4), tombak (6), berbagai keris (7), pedang Sangi (8), ranjau (11), sipet (13), anak panah (14), mandau (15), pedang Solor (16), gada (17), belati (18)
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Edisi lain dari gambar pertama
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1875 (gambar lainnya)
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 23 Desember 2024

Kompilasi berwarna dari berbagai gambar dan foto yang digabungkan (2)

Di penghujung abad ke-19 ada usaha dari pihak-pihak Belanda dan pihak lain untuk memperkenalkan wajah Hindia-Belanda dengan cara yang diharapkan menarik minat banyak khalayak: Dari sekian banyak foto hitam putih, yang sebagiannya sudah pernah dimunculkan di blog ini, pihak-pihak ini mengumpulkannya, menggambar ulang dengan tangan, mewarnainya, dan menggabungkannya dengan bahan dari foto lain. Hasilnya adalah semacam kompilasi yang akan dimunculkan di seri ini.
Empat penari Bedhaya dengan iringan gamelan
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Sebuah gambar yang diberi judul "ras Melayu" dengan menampilkan dua lelaki Dayak, seorang ulama, dan sepasang orang Jawa [serta seorang petani duduk di belakang], yang merupaka kompilasi dari a.l. lukisan yang pernah dimuat di sini, sini, dan sini.
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Edisi lain dari gambar pertama
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: akhir abad ke-19
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Jumat, 08 Maret 2024

Dari sebuah album foto tentang Keraton Solo di tahun 1910-an

Pakubuwono X bersama abdi dalem keraton dan para petinggi Belanda; berjalan di depan, kedua dari kanan, kemungkinan Patih Kasunanan Surakarta, Raden Adipati Sosrodiningrat IV
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Reruntuhan Candi Borobudur
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Rombongan para pangeran Keraton Solo
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Pendopo Keraton Solo dengan perangkat gamelan
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Kemungkinan pembangunan jalan menembus lahan perkebunan
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Waktu: 1910-an
Tempat: Surakarta
Tokoh: Pakubuwono X (Susuhunan Surakarta), Sosrodiningrat IV (Patih Keraton Surakarta)
Peristiwa:
Juru foto:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 16 Oktober 2023

Pertunjukan gamelan dan wayang orang di lapangan

(klik untuk memperbesar | © NGA)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: tidak ada keterangan
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Sabtu, 30 September 2023

Empat foto tentang penari tayuban dan gamelang pengiringnya

(klik untuk memperbesar | © NGA)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: tidak ada keterangan
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 26 September 2023

Aneka foto tentang penari dan gamelan Jawa

~1920: Dua bocah dalam pakaian penari
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Duel keris dua tokoh pewayangan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Gamelan di Yogyakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Gatotkaca
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Gatotkaca
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1920
Tempat: Jawa (a.l. Yogyakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Jumat, 21 Juli 2023

Aneka foto dari zaman Belanda karya para juru foto yang belum teridentifikasi (20)

1914: Pertunjukan silat Minangkabau
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1889: Perempuan Jawa dalam pakaian tradisional dan kostum poenari di Exposition Universelle (pameran dunia) di Paris
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pertunjukan tari dengan para penari pria dan seorang lelaki berkostum wanita, dengan penonton warga kulit putih, kemungkinan di sebuah hotel
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Seorang penari Jawa berselendang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah relief di Candi Prambanan (?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1889, 1914
Tempat: a.l. Minangkabau, Paris, Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: