Tampilkan postingan dengan label 1916. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1916. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Juli 2023

Aneka foto dari zaman Belanda karya para juru foto yang belum teridentifikasi (21)

Schouwburg, dengan plang jalan Komedie Buurt, sekarang Gedung Kesenian Jakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah sudut Jakarta dengan jalur trem
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1920: Tiga wanita Jawa membatik
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1920-an: Kemungkinan Pangeran Buleleng, Gusti Ngurah Ketut Jelantik, bersama tiga penari Legong
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1916: Stasiun kereta Purwokerto
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1916, 1920, 1920-an
Tempat: a.l. Buleleng, Jakarta, Purwokerto
Tokoh: Gusti Ngurah Ketut Jelantik (Pangeran Buleleng)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 27 Juni 2023

Aneka foto dari zaman Belanda karya para juru foto yang belum teridentifikasi (8)

24 Juli 1916: Tempat persinggahan wisata hutan di kawasan Lalijiwo (Prigen, Pasuruan)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kemungkinan besar gudang pengolahan tembakau dengan helai tembakau kering, mesin press, dan tembakau yang sudah dikemas
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Seorang Belanda dengan topi kolonial di sebuah kawasan perkebunana
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Membajak lahan untuk perkebunan dengan traktor bertenaga uap
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sepasang warga Bukittinggi di samping pohon sebuah pepaya di antara pepohonan kopi
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1916
Tempat: a.l. Bukittinggi, Prigen (Pasuruan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Foto pertama kemungkinan berasal dari studio foto Onnes Kurkdjian
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Foto pertama pernah dimuat di posting ini, tanpa catatan dalam tulisan tangan.

Selasa, 16 Mei 2023

Dari sebuah seri foto tentang tujuan wisata di Jawa-Bali pada awal abad ke-20 (2)

Empat belas foto berikut ini berasal dari sebuah seri yang menampilkan tujuan-tujuan wisata di Jawa dan Bali. Tampaknya yang mengumpulkan foto-foto ini bertujuan menyimpan kenang-kenangan dari tempat-tempat yang sempat dia kunjungi. Foto-foto ini berasal dari para juru foto yang namanya sudah banyak bermunculan di blog ini. Salah satu foto kemungkinan malah menampilkan sosok Thilly Weissenborn, fotografer profesional perempuan pertama di Hindia-Belanda.


~1920: Beberapa pura desa dengan latar belakang Gunung Batur
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1916: Hotel Sindanglaya di Cipanas, Cianjur
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Satu keluarga Belanda berfoto di Tosari
(klik untuk memperbesar | © Studio Onnes Kurkdjian / NGA)
~1930: Cibodas, Bogor
(klik untuk memperbesar | © Thilly Weissenborn / NGA)
~1920: Cadas Pangeran, Sumedang?
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1916, 1920, 1930
Tempat: Bali, Cibodas (Bogor), Sindanglaya (Cipanas, Cianjur), Sumedang (?), Tosari
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: a.l. Studio Onnes Kurkdjian, Thilly Weissenborn
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Minggu, 14 Mei 2023

Dari sebuah seri foto tentang tujuan wisata di Jawa-Bali pada awal abad ke-20 (1)

Empat belas foto berikut ini berasal dari sebuah seri yang menampilkan tujuan-tujuan wisata di Jawa dan Bali. Tampaknya yang mengumpulkan foto-foto ini bertujuan menyimpan kenang-kenangan dari tempat-tempat yang sempat dia kunjungi. Foto-foto ini berasal dari para juru foto yang namanya sudah banyak bermunculan di blog ini. Salah satu foto kemungkinan malah menampilkan sosok Thilly Weissenborn, fotografer profesional perempuan pertama di Hindia-Belanda.


1916: Danau di Sindanglaya (Cipanas, Cianjur)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1920: Sebuah pemandangan di Jawa Barat
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Alun-alun Garut dengan Masjid Agung-nya; wanita dengan kamera dan tripod kemungkinan adalah Thilly Weissenborn yang membuka studio foto Lux di kota ini
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kawah Papandayan, Garut
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kawah Papandayan, Garut
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1916, 1920
Tempat: Jawa Barat (a.l. Garut, Cianjur)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Thilly Weissenborn (kecuali foto pertama?)
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 21 Juni 2022

Gubernur Jenderal Alexander Idenburg dan Johan Paul van Limburg Stirum

Alexander Idenburg
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Van Limburg Stirum
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: antara 1909 dan 1916 (foto atas); antara 1916 dan 1921 (foto bawah)
Tempat: Jakarta (?)
Tokoh: Alexander Willem Frederik Idenburg (Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1909-1916); Johan Paul van Limburg Stirum (Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1916-1921)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 18 Desember 2020

Karikatur-karikatur karya Johan Braakensiek tentang Nona Belanda dan Mbok Indonesia, 1904-1930

Amerika punya Uncle Sam, Inggris memiliki John Bull, dan dari Belanda ada Nederlandse Maagd (Dutch Maiden; Nona Belanda). Nona Belanda ini bisa tampil dalam versi terhormat seperti dewi Romawi, atau versi ndeso dalam pakaian tradisional Belanda.

Para karikaturis Belanda zaman dulu tampaknya juga mencoba mengilustrasikan Hindia-Belanda dalam bentuk seorang perempuan. Perempuan ini bisa mengenakan kain dan kebaya, atau kain kemben. Si Mbok Indonesia ini terkadang langsing, terkadang juga berisi; terkadang terlihat lanjang, atau memiliki banyak anak.

Posting kali ini akan memperlihatkan si Nona Belanda dalam kaitannya dengan Indonesia, atau malah muncul bersamaan dengan si Mbok Indonesia.

De Amsterdammer, 14 Agustus 1904
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

John Bull, yang mengalami konflik di jajahannya di Afrika Selatan, bertemu dengan Nona Belanda, yang masih berperang melawan rakyat Aceh. John Bull menawarkan Nona Belanda untuk meniru cara dia di Afrika Selatan, yaitu dengan membuat kamp konsentrasi serta juga memerangi wanita dan anak-anak. Nona Belanda menampik dengan berujar bahwa dia memerangi musuhnya, tapi tidak menyiksanya.

De Amsterdammer, 16 April 1905
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Perang Jepang melawan Rusia di tahun 1904-1905, yang dimenangkan Jepang, telah membuat Nona Belanda merasa khawatir bahwa posisi Mbok Indonesia terancam. Si Nona berteriak minta pertolongan, yang disambut oleh PM Belanda Abraham Kuyper. Saat itu Belanda tampaknya sudah memiliki firasat bahwa Jepang suatu saat akan datang ke Indonesia.

De Amsterdammer, 20 Agustus 1905
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Louis Frederik Johannes Bouwmeester adalah salah seorang seniman teater dan perfilman Belanda yang terkenal. Di tahun 1905-1906 Bouwmeester meninggalkan Belanda untuk menjalankan bakat seninya di Hindia-Belanda. Kepergian ini membuat Nona Belanda tampak cemburu dan bertanya apakah Bouwmeester sudah merasa menjadi seniman yang terlalu besar untuk ukuran Belanda. Bouwmeester menjawab bahwa ada hal-hal kecil yang mendorongnya pergi, katanya sambil menggandeng tangan Mbok Indonesia.

De Amsterdammer, 14 Oktober 1916
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Karikatur ini memperlihatkan bagaimana berharganya wilayah jajahan Hindia-Belanda buat Nona Belanda, laksana untaian kalung zamrud.

De Amsterdammer, 9 Oktober 1920
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Nona Belanda memperkenalkan Dirk Fock sebagai Gubernur Jenderal Hindia-Belanda yang baru. Sambutan Mbok Indonesia cukup mengagetkan.

1930
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Letusan Gunung Merapi di tahun 1930 menginspirasi Johan Braakensiek untuk memperlihatkan bahwa Nona Belanda bisa menjadi pelindung bagi Mbok Indonesia dan anak-anaknya.

Waktu: 1904, 1905, 1916, 1920, 1930
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa terkait Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk | Universiteit Leiden
Catatan:

Minggu, 31 Desember 2017

Selasa, 12 September 2017

Warga Belanda berpose di petilasan Teuku Umar, 1916/1920

Kutaraja 1920: Warga Belanda berpose di depan gua Teuku Umar
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
Meulaboh 1916: Beberapa warga Belanda, termasuk anggota KNIL dan anak isteri, berfoto di tugu tempat gugurnya Teuku Umar
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
Waktu: 1916 & 1920
Tempat: Kutaraja, Meulaboh
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Catatan: Tugu di Meulaboh bertuliskan HIER SNEUVELDE TEUKOE OEMAR 11 FEBR. 1899 (Di sini tewas Teuku Umar 11 Februari 1899)

Selasa, 14 Februari 2017

Serah terima jabatan Gubernur Jenderal Hindia Belanda dari Idenburg ke van Limburg Stirum, 1916

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: 1916
Tempat: Paleis Rijswijk (sekarang Istana Merdeka, Jakarta)
Tokoh: Alexander Willem Frederik Idenburg (Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1909-1916; berdiri menghadap kamera, paling kanan); Johan Paul van Limburg Stirum (Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1916-1921; berdiri di tengah menghadap kamera)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Senin, 29 September 2014

Tiga bangunan yang kelak menjadi Istana Kepresidenan, 1916

Paleis te Buitenzorg, cikal bakal Istana Bogor
klik untuk memperbesar (© gahetna)
Paleis te Rijswijk, cikal bakal Istana Negara
klik untuk memperbesar (© gahetna)
Paleis te Koningsplein, cikal bakal Istana Merdeka
klik untuk memperbesar (© gahetna)
Waktu: 1916
Tempat: Bogor, Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Istana Bogor ketika itu merupakan tempat kediaman Gubernur Jenderal Hindia Belanda.


UPDATE 14 Oktober 2020: Sebelumnya posting ini berjudul "Istana Bogor di tahun 1916"; sekarang sudah dibetulkan.