Tampilkan postingan dengan label 1935. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1935. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Januari 2024

Wajah penghuni Hindia-Belanda: Dua sobekan dari sebuah album foto

Antara 1930 dan 1935: Pembukaan sekolah pribumi khusus perempuan di Mardikenya, Purwokerto (atas); dua warga Tionghoa dengan nama Ang Beng Siang dan Ang [?] Koan (bawah)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Yogyakarta, 18 Desember 1934: Para pegawai OVL (kemungkinan Openbare Verlichting = Jawatan Lampu Penerangan Umum)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Antara 1930 dan 1935: 30 pria Eropa dengan pakaian resmi bersama seorang pria Jawa
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman asal dua foto di atas
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1934
Tempat: Jawa (a.l. Purwokerto, Yogyakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 08 Agustus 2023

Aneka foto dari zaman Belanda karya para juru foto yang belum teridentifikasi (29)

Pemandangan dari Hotel Bellevue ke Gunung Salak dengan latar depan jalur kereta dan Sungai Ciliwung
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Februari 1935: Sebuah toko buku Kristiani
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jembatan Batutulis dengan latar belakang Gunung Salak
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah gedung pemerintahan yang belum teridentifikasi
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah gedung yang belum teridentifikasi
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1935
Tempat: Jawa (a.l. Bogor)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Jumat, 04 Agustus 2023

Aneka foto dari zaman Belanda karya para juru foto yang belum teridentifikasi (27)

Di bagian dalam sebuah pabrik gula, kemungkinan bagian bengkel
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1923: Kantor Malang Stoomtram Maatschappij, perusahaan kereta api yang beroperasi di wilayah Malang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1935: Sebuah kantor perusahaan Tionghoa dengan 2 orang berpakaian tradisional, dan 1 berpakaian Barat
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Berburu banteng
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Berburu banteng
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1923, 1935
Tempat: Jawa (a.l. Malang)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 02 Januari 2023

Dari album foto seorang anggota Keraton Kanoman Cirebon (7)

PENGANTAR

Di antara album foto yang dibeli National Gallery of Australia dari koleksi Leo Haks, ada sebuah buku foto yang oleh NGA diberikan keterangan singkat "Samsoedin Indonesian family album 1930 - 1933". Sepintas isi album ini memang foto-foto keluarga Indonesia, yang berisi gambar dari anak kecil hingga dewasa, ketika di rumah atau sedang bepergian. Si keluarga tampaknya lumayan berada. Mereka memiliki mobil dengan plat nomor D, memiliki anjing ras, dan Samsoedin ini memiliki kamera yang tampaknya dia gunakan untuk mengambil banyak foto yang ada di album ini. Kemudian keluarga ini banyak berpergian, keliling Jawa, ke Bali, ke Palembang, bahkan sampai ke Singapura.

Si penyusun foto memberikan beberapa catatan, sehingga kita masih bisa mengetahui tentang apa foto-foto ini. Di salah satu foto ada keterangan De Koninklijke familie Kanoman, atau "Keluarga Kerajaan Kanoman". Ini menimbulkan dugaan bahwa keluarga yang ditampilkan di album ini adalah keluarga Keraton Kanoman, Cirebon. Dugaan ini diperkuat dengan catatan Samsoedin di foto dia bersama kerabat lelakinya yang diberi catatan 't Kanoman-trio and little brothers. Akhirnya catatan dia di awal album yang menyebutkan namanya, dan nama tempat "Soerabaja", "Bandoeng", "Java", dan "Kanoman" makin mengukuhkan dugaan ini.

Album ini menjadi menarik karena menampilkan golongan berada Indonesia di tahun 1930-an: pakaiannya, pendidikannya, bahasa yang digunakan, kegiatannya, serta pertemanannya. Album ini juga ikut memperlihatkan tempat mana saja yang menjadi tujuan perjalanan atau wisata saat itu. Dari album ini kita juga melihat bahwa Samsoedin ini sangat senang memfoto anak kecil terutama keponakannya, dan dalam beberapa foto juga kaum perempuan termasuk ibu dan saudara-saudara wanitanya. Ada juga foto yang memperlihatkan kunjungan Dr. Khalid Sheldrake ke Bandung. Khalid, yang nama aslinya Bertram William, adalah filantrop Inggris yang masuk Islam dan sempat dinobatkan menjadi Raja Islamestan di wilayah Xinjiang, RRT, sekarang.


Halaman yang banyak menunjukkan foto saudara perempuan dan keponakan Samsoedin, serta suasana Ramadhan di tahun 1932
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Samsoedin sebegai pemain bola, dia menyebut posisinya center voor (depan tengah)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman yang banyak menunjukkan tim sepakbola serta kunjungan wisata ke tempat yang tidak disebutkan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Wisata ke Borobudur, teman-teman sekolah, dan tambahan foto keluarga dari saudara dan keponakan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman yang dipenuhi para keponakan; Samsoedin malah muncul memangku dua di antaranya, sementara di foto lain dia menyebutkan nama-namanya: Atikah, Elly, Farida, dan tentu saja Ontje
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman yang sekali lagi menampilkan ayah dan ibu Samosoedin, para saudaranya, teman-teman sekolahnya, dan kunjungan a.l. ke Sangkanhurip (Kuningan), serta Sumedang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
 
Waktu: di sekitar tahun 1930
Tempat: a.l. Kuningan, Sumedang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: a.l. Samsudin
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 29 Juni 2022

Berbagai wajah perkebunan di sekitar tahun 1930-an

1935: Perkebunan pinus di Sumatera Utara
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Perkebunan jati di Rembang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
1937: Perkebunan jati di Kedu (Temanggung)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah ladang di Sulawesi
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Hasil perkebunan tebu di Jawa
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: sekitar 1930-an (a.l. 1935, 1937)
Tempat: Jawa, Kedu, Rembang, Sulawesi, Sumatera Utara
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 30 Mei 2022

Fasisme di Hindia Belanda: Para pengikut NSB di Medan

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda.


22 Februari 1935: Sebuah rumah yang menjadi markas NSB di Medan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
8 Juli 1936: Pimpinan NSB di Medan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
6 September 1936: Tokoh NSB Belanda, Gerrit van Duyl (memegang topi kolonial) bersama para pengikut NSB di pelabuhan Belawan …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… sebelum Van Duyl kembali ke Belanda setelah lawatannya di Nusantara
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)


Waktu: 1935, 1936
Tempat: Medan
Tokoh: Gerrit van Duyl (teolog Protestan dan politisi pucuk pimpinan NSB)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lelaki di foto keempat yang mengenakan topi kolonial di belakang Van Duyl lumayan mirip dengan tokoh yang disinyalir sebagai "dalang" NSB oleh karikatur yang pernah dimuat di posting ini. Pilihan lain adalah lelaki paling kanan di foto kedua.

Kamis, 26 Mei 2022

Fasisme di Hindia Belanda: Pengikut NSB di Surabaya

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda, antara lain di Surabaya.


19 Januari 1934: Deklarasi pendirian NSB di Surabaya, dengan bendera NSB, foto Ratu Wilhelmina, dan foto Anton Mussert
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
19 Januari 1935: Foto bersama para pengikut NSB memperingati satu tahun berdirinya NSB di Surabaya, sesi para lelaki …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… dan sesi foto bersama para wanita
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
22 Agustus 1936: Pimpinan Nationale Jeugdstorm (berseragam) bersama seorang petinggi NSB …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
…  dan bersama tiga petinggi NSB
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tiga pimpinan NSB di Surabaya, salah satunya kemungkinan berdarah campuran
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1930-an (a.l. 1934, 1935, 1936)
Tempat: Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 24 Mei 2022

Fasisme di Hindia Belanda: Kunjungan Anton Mussert ke Nusantara

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda, termasuk kunjungan pucuk pimpinan NSB Anton Mussert dari Belanda ke Jawa bulan Juli/Agustus 1935.


Anton Mussert di tangsi tentara Darmo, Surabaya, bersama simpatisan NSB dari kalangan militer. D.ki.ke.ka.: Kruitbos (pemimpin NSB Surabaya, mantan kapten artileri), Koppers (kolonel kesatuan lapis baja), Anton Mussert, 2 petinggi NSB, J. de Mos (kapten KNIL)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kruitbos (kedua dari kiri) dan Anton Mussert (tengah), di teras sebuah rumah dengan lambang NSB
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anton Mussert bersama para pendukung NSB di Tretes, Pasuruan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)


Waktu: 1935
Tempat: Surabaya, Tretes (Pasuruan)
Tokoh: Anton Adriaan Mussert (tokoh utama fasisme di Belanda)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga karikatur yang kritis atas kunjungan Anton Mussert ini di posting ini.

Rabu, 18 Mei 2022

Fasisme di Hindia Belanda: Pengikut NSB di Jakarta dan Semarang

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda, antara lain di Batavia (Jakarta).


29 Oktober 1935: Pimpinan NSB Batavia, Plaggert, berpidato didampingi petinggi NSB lainnya, yang salah satunya berwajah lokal
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

27/28 Desember 1935: Kedatangan para pengikut NSB dari kereta asal Jakarta/Bandung/Cirebon di stasiun Semarang dalam rangka mengikuti pertemuan akbar Landdag (di sebelah kanan tampak pula warga lokal berseragam fasis hitam-hitam)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

1936: Para pengikut NSB berkumpul di bioskop/restoran Capitol (di depan Mesjid Istiqlal sekarang) menyambut pertunangan Putri Juliana. Catatan foto menyebut Wat in Nederland niet mogelijk is! (Sesuatu yang mustahil di Belanda!)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

18 Agustus 1936: Pertemuan sekitar 800 pendukung NSB di bioskop Royal (Jalan Bojong, Semarang) dengan slogan-slogan anti komunisme, mengeklaim Papua, dan pengedepanan kewajiban di atas hak.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1935, 1936
Tempat: Jakarta, Semarang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 14 Mei 2022

Fasisme di Hindia Belanda: Salam fasis atau Hitlergruß

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda. Salam fasis, atau Hitlergruß di Jerman, menjadi mode di kalangan orang Eropa yang tinggal di Nusantara.


Salam fasis di Cimalati (Cicurug, Sukabumi) …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

… yang rupanya juga dilakukan oleh perempuan berwajah lokal, serta seorang lelaki yang mengenakan Lederhose khas Jerman gunung
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Kebon Sirih, Jakarta, 28 Oktober 1935: Salam fasis, yang juga dicoba diajarkan seorang ibu kepada anaknya di barisan depan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Nongkojajar (Pasuruan), 14 Januari 1938: Salam Hitler bahkan masuk ke kawasan Tengger di kaki Gunung Bromo
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1930-an (a.l. 1935, 1938)
Tempat: Jawa (a.l. Jakarta, Pasuruan, Sukabumi)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 12 Januari 2022

Sebuah pertandingan persahabatan bulutangkis di Surabaya, 1935

(klik untuk memperbesar | © NGA)
Waktu: 24 April 1935
Tempat: Surabaya (?)
Tokoh:
Peristiwa: Sebuah kejuaraan bulutangkis antara perkumpulan "Siok" melawan perkumpulan "Insaf" yang terdiri dari 3 partai tunggal dan 3 partai ganda. Para pemainnya bernama Tisna, Daan, Jahri, Sutaryo, Sapi'i, dan Dachlan dari "Siok"; serta Mamat, Am (?), Rosad, Ashari, Tohir, Esa, Rachim, dan Nangtji dari "Insaf".
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Gambar diambil dari album foto milik keluarga Samsudin.

Kamis, 07 Januari 2021

Karikatur Belanda tentang fasisme Belanda-Nazi di Hindia-Belanda serta dalangnya, 1935/1945

Hitler dengan ideologi fasismenya memiliki banyak penggemar di Eropa, termasuk di Belanda. Tokoh fasis utama Belanda adalah Anton Mussert dengan organisasinya yang bernama NSB (Nationaal-Socialistische Beweging), yang juga memiliki pengikut di Hindia-Belanda. Ketika Jerman menguasai Belanda, Mussert menjadi salah satu pucuk pimpinan Belanda pendudukan, yang ikut bertanggung jawab atas penindasan atas rakyatnya sendiri.

Menarik untuk dicatat bahwa para karikaturis Belanda terkadang mengaitkan Mussert dengan Hindia-Belanda, dan malah menggambarkan bahwa Mussert hanyalah boneka dari seseorang yang berada di kepulauan Nusantara. Sang dalang ini digambarkan berperawakan agak gemuk dan mengenakan topi tropis kolonial.

De Notenkraker 15 Juni 1935
(klik untuk memperbesar | © Albert Hahn jr. / AVS)

Karikatur ini berasal dari masa sebelum Perang Dunia II pecah, dan Adolf Hitler baru saja menjadi Führer dan Reichskanzler. Mussert tampak datang ke Hindia-Belanda, digambarkan dengan daun kelapa dan sinar matahari, serta berlutut di depan Gubernur Jenderal Bonifacius de Jonge. Permohonan Mussert ke De Jonge tapi agak aneh: Dia meminta kedatangannya ditolak.

De Notenkraker 9 November 1935
(klik untuk memperbesar | © Peter van Reen / AVS)

Di tahun 1935 tampaknya Mussert datang ke Hindia-Belanda, dan berkampanye untuk memperbesar barisan pengikutnya. Karikatur di atas menggambarkan bagaimana warga Belanda di Nusantara, dengan mengantongi koran Batavia Nieuwsblad dan De Indische Courant, dengan latar depan daun kelapa, menyambut Mussert dengan lemparan buah khas negera tropis: pisang

De Vlam 1 Desember 1945
(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Setelah Jerman Nazi kalah perang, Anton Mussert ditangkap dan diadili. Di pengadilan, Mussert digambarkan sebagai boneka dari seorang dalang yang berada di Hindia-Belanda (digambarkan dengan pohon kelapa dan rakyat Nusantara yang ditindas).

De Groene Amsterdammer 8 Desember 1945
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur ini memiliki judul "Siapa di belakang Mussert?". Anton Mussert digambarkan berdiri tegak memberi salam Nazi, sementara di latar belakang, seorang tokoh mengawasinya di latar belakang. Tokoh ini berada di Hindia-Belanda, dengan gunung, pohon kelapa, dan rumah panggung.

Waktu: 1935, 1945
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke hal terkait fasisme Belanda dan hubungannya dengan Hindia-Belanda
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Albert Hahn jr. | Leo Jordaan | Peter van Reen | Wim van Wieringen
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: