Tampilkan postingan dengan label Philip Christison. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Philip Christison. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Oktober 2024

Pertempuran Surabaya, Oktober-November 1945 (1)

Pasukan Inggris asal Hindia membongkar blokade jalanan yang sebelumnya dipasang para pejuang kemerdekaan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Jenderal Robert Mansergh (kanan) datang langsung ke Surabaya untuk meninjau situasi
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Letkol A.T. Boott, komandan Brigade IX Divisi Hindia V, mengamati peta lokasi konflik di balik gundukan karung perlindungan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Para petinggi militer Inggris di Surabaya, d.ki.k.ka.: Jenderal Robert Mansergh, Brigadir A.G. Maclain, Jenderal Sir Philip Christison, Komandan Sayap E.N. Constable -Maxwel
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tentara Inggris mencoba menahan panasnya Surabaya dengan buka baju dan minum
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)


Waktu: Oktober-November 1945
Tempat: Surabaya
Tokoh:

  • Jenderal Robert Mansergh (Panglima Sekutu untuk wilayah Hindia-Belanda)
  • Jenderal Sir Philip Christison (Panglima Sekutu untuk wilayah Asia Tenggara); salah satu tokoh yang terlibat pertempuran Surabaya, dikritik pihak Belanda karena dianggap terlalu mengakomodasi para pejuang kemerdekaan Indonesisa

Peristiwa: Beberapa foto dari peristiwa di sekitar pertempuran antara para pejuang kemerdekaan di wilayah Surabaya melawan pasukan Inggris, di antaranya dari kesatuan asal jazirah Hindia, yang berlangsung di bulan Oktober dan November 1945.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 23 Juni 2024

Petinggi sipil dan militer Inggris di Jakarta, 1946

Jenderal Miles Dempsey (kiri), Jenderal Philip Christison (membelakangi kamera), dan Komodor Udara C.A. Stevens (kanan)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Jenderal Mansergh dan Lord Killearn memeriksa pasukan Belanda (yang kemungkinan menyambut kedatangan Killean di bandara)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Lord Killearn dan Jenderal Mansergh
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)


Waktu: 1946
Tempat: Jakarta
Tokoh:

  • Jenderal Sir Philip Christison (Panglima Sekutu untuk wilayah Asia Tenggara); salah satu tokoh yang terlibat pertempuran Surabaya, dikritik pihak Belanda karena dianggap terlalu mengakomodasi para pejuang kemerdekaan Indonesisa
  • Jenderal Robert Mansergh (Panglima Sekutu untuk wilayah Hindia-Belanda)
  • Jenderal Sir Miles Christopher Dempsey (Panglima Inggris untuk wilayah Malaya)
  • Lord Killearn (Miles Wedderburn Lampson, diplomat Inggris); datang ke Jakarta untuk turut membidani Perjanjian Linggarjati

Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 21 November 2021

Beberapa foto tentang Van Mook dari tahun 1945-1946

Jakarta, 17 Oktober 1945: Van Mook bersama para wartawan perang Sekutu
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Jakarta, Januari 1946: Van Mook (kiri) menyambut kedatangan Archibald Kerr, dengan disaksikan oleh Jenderal Philip Christison
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Jakarta, 25 Agustus 1946: Van Mook (kiri) menyambut kedatangan Lord Killearn (kanan) dengan disaksikan Jenderal Robert Mansergh (tengah)
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Pangkalpinang, Oktober 1946: Van Mook (tengah) dan Kolonel KNIL Abdulkadir Widjojoatmodjo (nomor 2 dari kanan Van Mook) dalam sebuah pertemuan
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1945 dan 1946
Tempat: Jakarta, Pangkalpinang (Bangka)
Tokoh: Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 28 November 2019

Pamflet dukungan atas Indonesia di Belanda, 1945

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / Historisch Centrum Leeuwarden)
"Surabaya! Gencatan senjata di Indonesia. Jangan ada granat, cukup berunding! Membombardir kota terbuka adalah tindakan pengecut. Kita orang Belanda, dan bukan Nazi!". Kemungkinan besar pamflet ini muncul sebagai reaksi atas pertempuran 10 November 1945.

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2)
Sebuah pamflet dengan judul "Bangsa yang merdeka" menampilkan foto dan berita dari Indonesia, a.l. Soekarno berpidato di Yogyakarta, sementara para pemuda berkumpul mendengarkannya, serdadu Inggris/India bersiaga di Jakarta dan bagaimana mereka menandu seorang pemuda yang tertembak, serta pertemuan Sutan Sjahrir dengan van Mook yang ditengahi oleh Jenderal Christison di bulan Desember 1945.

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah pamflet dari Partai Buruh dari tahun 1946 yang berbunyi "Tiga juta pemilih menuntut dari Belanda dan Indonesia implementasi penuh dari [hasil perjanjian] Linggarjati sekarang!"

Waktu: 1945, 1946
Tempat: Belanda, Jakarta, Yogyakarta
Tokoh: Soekarno (Presiden RI), Sutan Sjahrir (Perdana Menteri RI), Hubertus van Mook (Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda), Letnan Jenderal Philip Christison (Panglima Sekutu untuk wilayah Asia Tenggara)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / Historisch Centrum Leeuwarden / 
Catatan:

Senin, 24 Juni 2019

Perundingan antara Indonesia dan Belanda yang ditengahi militer Inggris, Desember 1945

Sjahrir menyalami Christion
(klik untuk memperbesar | © BeeldbankWO2/ NIOD)
D.ki.k.ka.: Amir Syarifuddin, Brigadir A.G. Maclain, Philip Christison, Sutan Sjahrir, Hubertus van Mook
(klik untuk memperbesar | © BeeldbankWO2/ NIOD)

Waktu: Desember 1945
Tempat: Jakarta
Tokoh: Sutan Sjahrir (Perdana Menteri RI), Hubertus van Mook (Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda), Letnan Jenderal Philip Christison (Panglima Sekutu untuk wilayah Asia Tenggara), Amir Syarifuddin Harahap (Menteri Pertahanan RI)
Peristiwa: Pihak sekutu mencoba meredakan ketegangan antara Republik Indonesia yang baru berdiri dengan Belanda yang ingin menginjakkan kaki lagi, dengan memanggil kedua belah pihak untuk berunding. Militer Inggris, yang mewakili Sekutu di Indonesia, berada di posisi yang tidak mudah. Di satu sisi dianggap melindungi dan diboncengi Belanda, yang membuahkan pertempuran seperti di Surabaya; di sisi lain, dianggap Belanda terlalu mengakui Republik Indonesia.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Di foto kedua tampak terlihat mengapa Sutan Sjahrir dari teman-temannya mendapat julukan "Bung Kecil".

Sabtu, 22 Juni 2019

Perundingan antara Indonesia dan Belanda yang ditengahi militer Inggris, 17 November 1945

(klik untuk memperbesar | © BeeldbankWO2/ NIOD)
(klik untuk memperbesar | © BeeldbankWO2/ NIOD)

Waktu: 17 November 1945
Tempat: markas militer Inggris di Jakarta
Tokoh: Sutan Sjahrir (Ketua Delegasi Indonesia; duduk keempat dari kanan), Hubertus van Mook (Ketua Delegasi Belanda; duduk menghadap Sjahrir), Letnan Jenderal Philip Christison (Panglima Sekutu untuk wilayah Asia Tenggara; duduk di tengah)
Peristiwa: Pihak sekutu mencoba meredakan ketegangan antara Republik Indonesia yang baru berdiri dengan Belanda yang ingin menginjakkan kaki lagi, dengan memanggil kedua belah pihak untuk berunding. Militer Inggris, yang mewakili Sekutu di Indonesia, berada di posisi yang tidak mudah. Di satu sisi dianggap melindungi dan diboncengi Belanda, yang membuahkan pertempuran seperti di Surabaya; di sisi lain, dianggap Belanda terlalu mengakui Republik Indonesia.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: