Tampilkan postingan dengan label 1879. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1879. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Desember 2024

Dari penjelajahan Carl Alfred Bock ke wilayah suku Dayak di tahun 1878/1879 (8)

PENGANTAR

Di kalangan bangsa Eropa terutama zaman dulu, suku Dayak acapkali dikonotasikan dengan dua hal: head hunters dan cannibalism, atau penggal kepala dan makan daging manusia. Salah seorang perintis berani yang mencoba untuk memeriksa pandangan ini adalah seorang peneliti Norwegia bernama Carl Alfred Bock. Dalam usia 29 tahun, di tahun 1878 dan 1879 dia melakukan perjalanan penjelajahan ke pedalaman Kalimantan –dan juga Sumatera– untuk bertemu langsung dengan masyarakat pedalaman yang menghuni kawasan yang hingga saat itu dijauhi orang. Carl Bock mendokumentasikan perjalanan ini dalam bukunya The Head Hunters of Borneo, yang diterbitkan di tahun 1881 di London, dua tahun setelah penjelajahannya berakhir. Buku ini banyak memuat gambar-gambar berwarna yang diabadikan Carl Bock selama berkelana di Kalimantan.

Halaman judul dari The Head Hunters of Borneo edisi kedua yang terbit 1882
(klik untuk memperbesar)

Blog ini akan menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang berharga ini; di kesempatan ini kenang-kenangan Carl Bock di Sumatera.


Dari Sumetara, Carl Bock mewariskan gambar-gambar hewan yang dia amati, seperti kambing hutan … (klik untuk memperbesar)
… siamang …
(klik untuk memperbesar)
… dan gobang
(klik untuk memperbesar)
Tempat kediaman Carl Bock di Payo (kemungkinan di Merapi Barat, Lahat, Sumatera Selatan)
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1878/1879
Tempat: Sumatera
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Carl Alfred Bock
Catatan:

Minggu, 15 Desember 2024

Dari penjelajahan Carl Alfred Bock ke wilayah suku Dayak di tahun 1878/1879 (7)

PENGANTAR

Di kalangan bangsa Eropa terutama zaman dulu, suku Dayak acapkali dikonotasikan dengan dua hal: head hunters dan cannibalism, atau penggal kepala dan makan daging manusia. Salah seorang perintis berani yang mencoba untuk memeriksa pandangan ini adalah seorang peneliti Norwegia bernama Carl Alfred Bock. Dalam usia 29 tahun, di tahun 1878 dan 1879 dia melakukan perjalanan penjelajahan ke pedalaman Kalimantan –dan juga Sumatera– untuk bertemu langsung dengan masyarakat pedalaman yang menghuni kawasan yang hingga saat itu dijauhi orang. Carl Bock mendokumentasikan perjalanan ini dalam bukunya The Head Hunters of Borneo, yang diterbitkan di tahun 1881 di London, dua tahun setelah penjelajahannya berakhir. Buku ini banyak memuat gambar-gambar berwarna yang diabadikan Carl Bock selama berkelana di Kalimantan.

Halaman judul dari The Head Hunters of Borneo edisi kedua yang terbit 1882
(klik untuk memperbesar)

Blog ini akan menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang berharga ini, yang berjasa menggambarkan suku Dayak menjelang akhir abad ke-19.


Seorang wanita Dayak bernama Sulau Landang, dengan ikat kepala, kalung berlapis, dua pasang anting di kuping yang memanjang, serta tattoo di tangan dan kaki
(klik untuk memperbesar)
Kuburan seorang pemuka Dayak bernama Rajah Sinen, dalam bentuk bangunan panggung dengan ukiran dan hiasan, serta penjagaan
(klik untuk memperbesar)
Seekor kancil yang ditemui Carl Bock di Sumatera
(klik untuk memperbesar)
Seorang pemburu harimau bernama Sinen di Sumatera
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1878/1879
Tempat: Kalimantan, Sumatera
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Carl Alfred Bock
Catatan:

Jumat, 13 Desember 2024

Dari penjelajahan Carl Alfred Bock ke wilayah suku Dayak di tahun 1878/1879 (6)

PENGANTAR

Di kalangan bangsa Eropa terutama zaman dulu, suku Dayak acapkali dikonotasikan dengan dua hal: head hunters dan cannibalism, atau penggal kepala dan makan daging manusia. Salah seorang perintis berani yang mencoba untuk memeriksa pandangan ini adalah seorang peneliti Norwegia bernama Carl Alfred Bock. Dalam usia 29 tahun, di tahun 1878 dan 1879 dia melakukan perjalanan penjelajahan ke pedalaman Kalimantan –dan juga Sumatera– untuk bertemu langsung dengan masyarakat pedalaman yang menghuni kawasan yang hingga saat itu dijauhi orang. Carl Bock mendokumentasikan perjalanan ini dalam bukunya The Head Hunters of Borneo, yang diterbitkan di tahun 1881 di London, dua tahun setelah penjelajahannya berakhir. Buku ini banyak memuat gambar-gambar berwarna yang diabadikan Carl Bock selama berkelana di Kalimantan.

Halaman judul dari The Head Hunters of Borneo edisi kedua yang terbit 1882
(klik untuk memperbesar)

Blog ini akan menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang berharga ini, yang berjasa menggambarkan suku Dayak menjelang akhir abad ke-19.


Seorang pria Dayak dari Long Wai dalam pakaian perang, lengkap dengan tameng, tombak, mandau, pakaian berbulu binatang
(klik untuk memperbesar)
Seorang pemuda Dayak bernama Hetdung, yang kemungkinan adalah pengiring Carl Bock dalam perjalanannya
(klik untuk memperbesar)
Carl Bock melukis semacam selfie dengan menggambarkan dia berada di depan melintasi sebuah sungai di wilayah Benanga diikuti para pengiringnya yang membawa perbekalan dan peralatan
(klik untuk memperbesar)
Seorang kepala suku Dayak terbaring dengan ditutupi kain; seorang pria dan seorang wanita yang menuntun anak berada di dekatnya
(klik untuk memperbesar)
Pria ini bernama Sibau Mobang, merupakan salah satu kepala suku Dayak, dengan kalung berlapis dan kuping memanjang yang antingnya tampaknya sudah dilepas
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1878/1879
Tempat: Kalimantan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Carl Alfred Bock
Catatan:

Rabu, 11 Desember 2024

Dari penjelajahan Carl Alfred Bock ke wilayah suku Dayak di tahun 1878/1879 (5)

PENGANTAR

Di kalangan bangsa Eropa terutama zaman dulu, suku Dayak acapkali dikonotasikan dengan dua hal: head hunters dan cannibalism, atau penggal kepala dan makan daging manusia. Salah seorang perintis berani yang mencoba untuk memeriksa pandangan ini adalah seorang peneliti Norwegia bernama Carl Alfred Bock. Dalam usia 29 tahun, di tahun 1878 dan 1879 dia melakukan perjalanan penjelajahan ke pedalaman Kalimantan –dan juga Sumatera– untuk bertemu langsung dengan masyarakat pedalaman yang menghuni kawasan yang hingga saat itu dijauhi orang. Carl Bock mendokumentasikan perjalanan ini dalam bukunya The Head Hunters of Borneo, yang diterbitkan di tahun 1881 di London, dua tahun setelah penjelajahannya berakhir. Buku ini banyak memuat gambar-gambar berwarna yang diabadikan Carl Bock selama berkelana di Kalimantan.

Halaman judul dari The Head Hunters of Borneo edisi kedua yang terbit 1882
(klik untuk memperbesar)

Blog ini akan menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang berharga ini, yang berjasa menggambarkan suku Dayak menjelang akhir abad ke-19.


Kiri: Orang Bukit dari wilayah Amuntai dengan lembing, parang, dan keranjang; kanan: seorang wanita dari Long Wai pulang membawa buah-buahan dengan ditemani seekor anjing
(klik untuk memperbesar)
Berbagai macam perabotan warga Dayak termasuk alat musik
(klik untuk memperbesar)
Berbagai macam senjata warga Dayak seperti mandau, tombak, anak panah, parang, dsb.
(klik untuk memperbesar)
Seorang wanita Dayak dari Long Wai dengan anting, kalung, dan tattoo di tangan serta kaki
(klik untuk memperbesar)
Pria dari Dayak Tring ini bernama Ipping dan merupakan dukun atau tokoh spiritual di kalangan warganya
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1878/1879
Tempat: Kalimantan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Carl Alfred Bock
Catatan:

Senin, 09 Desember 2024

Dari penjelajahan Carl Alfred Bock ke wilayah suku Dayak di tahun 1878/1879 (4)

PENGANTAR

Di kalangan bangsa Eropa terutama zaman dulu, suku Dayak acapkali dikonotasikan dengan dua hal: head hunters dan cannibalism, atau penggal kepala dan makan daging manusia. Salah seorang perintis berani yang mencoba untuk memeriksa pandangan ini adalah seorang peneliti Norwegia bernama Carl Alfred Bock. Dalam usia 29 tahun, di tahun 1878 dan 1879 dia melakukan perjalanan penjelajahan ke pedalaman Kalimantan –dan juga Sumatera– untuk bertemu langsung dengan masyarakat pedalaman yang menghuni kawasan yang hingga saat itu dijauhi orang. Carl Bock mendokumentasikan perjalanan ini dalam bukunya The Head Hunters of Borneo, yang diterbitkan di tahun 1881 di London, dua tahun setelah penjelajahannya berakhir. Buku ini banyak memuat gambar-gambar berwarna yang diabadikan Carl Bock selama berkelana di Kalimantan.

Halaman judul dari The Head Hunters of Borneo edisi kedua yang terbit 1882
(klik untuk memperbesar)

Blog ini akan menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang berharga ini, yang berjasa menggambarkan suku Dayak menjelang akhir abad ke-19.


Kuburan keluarga dari seorang tokoh Dayak bernama Rajah Dinda dalam bentuk bangunan panggung tinggi dengan hiasan dan ukiran kayu serta penjagaan
(klik untuk memperbesar)
1. Pria Dayak Punan dari Long Wahau
2-3. Dua tengkorak manusia yang menjadi piala
4. Topeng yang dipakai dalam perayaan
(klik untuk memperbesar)
Seorang perempuan Dayak dari Long Wai dengan tutup kepala, kalung, serta tattoo di punggung tangan
(klik untuk memperbesar)
Tarian perang dari kaum pria Dayak Tring
(klik untuk memperbesar)
Seorang wanita Melayu yang dijumpai Carl Bock dalam perjalanannya di Sumatera
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1878/1879
Tempat: Kalimantan, Sumatera
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Carl Alfred Bock
Catatan:

Sabtu, 07 Desember 2024

Dari penjelajahan Carl Alfred Bock ke wilayah suku Dayak di tahun 1878/1879 (3)

PENGANTAR

Di kalangan bangsa Eropa terutama zaman dulu, suku Dayak acapkali dikonotasikan dengan dua hal: head hunters dan cannibalism, atau penggal kepala dan makan daging manusia. Salah seorang perintis berani yang mencoba untuk memeriksa pandangan ini adalah seorang peneliti Norwegia bernama Carl Alfred Bock. Dalam usia 29 tahun, di tahun 1878 dan 1879 dia melakukan perjalanan penjelajahan ke pedalaman Kalimantan –dan juga Sumatera– untuk bertemu langsung dengan masyarakat pedalaman yang menghuni kawasan yang hingga saat itu dijauhi orang. Carl Bock mendokumentasikan perjalanan ini dalam bukunya The Head Hunters of Borneo, yang diterbitkan di tahun 1881 di London, dua tahun setelah penjelajahannya berakhir. Buku ini banyak memuat gambar-gambar berwarna yang diabadikan Carl Bock selama berkelana di Kalimantan.

Halaman judul dari The Head Hunters of Borneo edisi kedua yang terbit 1882
(klik untuk memperbesar)

Blog ini akan menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang berharga ini, yang berjasa menggambarkan suku Dayak menjelang akhir abad ke-19.


Perkampungan Dayak Long Wai dengan rumah panggung, babi piaraan, serta perahu
(klik untuk memperbesar)
Kemungkinan salah satu sudut Tenggarong, ibu kota Kesultanan Kutai, dengan rumah panggung di atas air dan perahu sebagai sarana transportasi utama
(klik untuk memperbesar)
Atas: Keraton Sultan Kutai; bawah: sebuah kompleks kuburan di tepi sungai yang dikawal seorang penjaga bersenjata lembing
sebuah (klik untuk memperbesar)
Seorang pria Dayak dalam pakaian perang lengkap dengan jubah dari kulit macan tutul
(klik untuk memperbesar)
Patung-patung dan hasil kerajinan tangan suku Dayak
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1878/1879
Tempat: Kalimantan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Carl Alfred Bock
Catatan:

UPDATE 14 Juli 2026: Edisi lain dari gambar pertama
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Kamis, 05 Desember 2024

Dari penjelajahan Carl Alfred Bock ke wilayah suku Dayak di tahun 1878/1879 (2)

PENGANTAR

Di kalangan bangsa Eropa terutama zaman dulu, suku Dayak acapkali dikonotasikan dengan dua hal: head hunters dan cannibalism, atau penggal kepala dan makan daging manusia. Salah seorang perintis berani yang mencoba untuk memeriksa pandangan ini adalah seorang peneliti Norwegia bernama Carl Alfred Bock. Dalam usia 29 tahun, di tahun 1878 dan 1879 dia melakukan perjalanan penjelajahan ke pedalaman Kalimantan –dan juga Sumatera– untuk bertemu langsung dengan masyarakat pedalaman yang menghuni kawasan yang hingga saat itu dijauhi orang. Carl Bock mendokumentasikan perjalanan ini dalam bukunya The Head Hunters of Borneo, yang diterbitkan di tahun 1881 di London, dua tahun setelah penjelajahannya berakhir. Buku ini banyak memuat gambar-gambar berwarna yang diabadikan Carl Bock selama berkelana di Kalimantan.

Halaman judul dari The Head Hunters of Borneo edisi kedua yang terbit 1882
(klik untuk memperbesar)

Blog ini akan menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang berharga ini, yang berjasa menggambarkan suku Dayak menjelang akhir abad ke-19.


Seorang wanita Dayak Punan, dengan kalung, tapi tanpa perhiasan lain seperti anting, hiasan rambut, tattoo, dsb.
(klik untuk memperbesar)
Tiga pria Dayak tertidur dengan mandau, tameng, dan kantung air digantung atau disandarkan ke pohon. Tampaknya masyarakat Dayak membawa semacam tikar untuk merebahkan diri saat istirahat.
(klik untuk memperbesar)
Dua wanita Dayak. Yang sebelah kiri kemungkinan memiliki jenjang sosial lebih tinggi karena berkalung, beranting, dan memakai kain yang lebih panjang. Yang sebelah kanan, menurut Carl Bock adalah maid ("pembantu"), tampaknya bertugas menggendong anak dari perempuan yang kiri.
(klik untuk memperbesar)
1-4: Pola tattoo suku Dayak. 5: Semacam anyaman untuk menyimpan barang.
(klik untuk memperbesar)
Seorang kepala suku dengan mandau dan tombak
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1878/1879
Tempat: Kalimantan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Carl Alfred Bock
Catatan:

Selasa, 03 Desember 2024

Dari penjelajahan Carl Alfred Bock ke wilayah suku Dayak di tahun 1878/1879 (1)

PENGANTAR

Di kalangan bangsa Eropa terutama zaman dulu, suku Dayak acapkali dikonotasikan dengan dua hal: head hunters dan cannibalism, atau penggal kepala dan makan daging manusia. Salah seorang perintis berani yang mencoba untuk memeriksa pandangan ini adalah seorang peneliti Norwegia bernama Carl Alfred Bock. Dalam usia 29 tahun, di tahun 1878 dan 1879 dia melakukan perjalanan penjelajahan ke pedalaman Kalimantan –dan juga Sumatera– untuk bertemu langsung dengan masyarakat pedalaman yang menghuni kawasan yang hingga saat itu dijauhi orang. Carl Bock mendokumentasikan perjalanan ini dalam bukunya The Head Hunters of Borneo, yang diterbitkan di tahun 1881 di London, dua tahun setelah penjelajahannya berakhir. Buku ini banyak memuat gambar-gambar berwarna yang diabadikan Carl Bock selama berkelana di Kalimantan.

Halaman judul dari The Head Hunters of Borneo edisi kedua yang terbit 1882
(klik untuk memperbesar)

Blog ini akan menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang berharga ini, yang berjasa menggambarkan suku Dayak menjelang akhir abad ke-19.


Rute penjelajahan Carl Bock dalam garis merah yang yang menyambungkan Banjarmasin dan Samarinda. Carl Bock menuliskan kawasan yang dihuni suku Dayak, suku Melayu, dan wilayah yang tak berpenghuni atau dipenuhi belantara. Carl Bock juga menunjukkan area yang merupakan daerah yang hanya dihuni Dayak Punan.
(klik untuk memperbesar)
Seorang pemuda Dayak membawa mandau
(klik untuk memperbesar)
1 dan 2: Dua pemuda Dayak yang mengiringi Carl Bock dalam penjelajahannya. 3: Gaya rambut seorang pria Dayak dari Long Blehh.
(klik untuk memperbesar)
Seorang pria Dayak dari Long Wahau, dengan hiasan di kuping, leher, tangan, betis, dan tentu saja mandau
(klik untuk memperbesar)
Para bangsawan Kesultanan Kutai. Carl Bock mencantumkan nama-namanya. Sultan Kutai saat itu adalah Aji Muhammad Sulaiman. Dua orang dengan tutup kepala tanpa umbul-umbul, dan tanpa nama, kemungkinan adalah abdi dalem.
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1878/1879
Tempat: Kalimantan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Carl Alfred Bock
Catatan:

Jumat, 14 Oktober 2022

Dari sebuah album yang berisi foto-foto tentang Jawa (dan Minahasa) di sekitar tahun 1880 karya Herman Salzwedel (3)

1875: Air terjun Tonsea Lama, Minahasa
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1875: Belukar bambu
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1875: Pembukaan lahan dengan pembabatan hutan bambu
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1880: Tosari
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1879: Perumahan warga Tosari
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Waktu: 1875, 1879, 1880
Tempat: Jawa (a.l. Tosari) dan Minahasa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Carl Julius Herman Salzwedel
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Bandingkan gambar nomor 4 dengan foto lain yang dimuat di posting ini.