Tampilkan postingan dengan label Aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aceh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 April 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang sekelompok pria Aceh dan mesjid yang dibentengi

Mesjid di Aceh yang diberi tembok pertahanan sekeliling (atas); enam pria Aceh termasuk satu anak-anak (bawah)
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1874
Tahun peristiwa: abad ke-19
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: 's Hage Wed. E. Spanier & Zn.
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Rabu, 15 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (19)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Kapal uap berbendera Belanda bernama “Zeemeuw”, kemungkinan dalam pelayaran menyusuri pantai barat Sumatera
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Suasana di sebuah kampung di Aceh. Seorang ibu tampak mencuci sehelai kain atau pakaian di sungai, sementara anaknya duduk di tepi, kemungkinan sesudah mandi di kali ini. Kali kecil ini memiliki jembatan sederhana dari sebilah papan. Di sebelah kiri tampak sebuah rumoh Aceh sangat sederhana, yang merupakan rumah panggung agak tinggi, terbuat dari kayu, bambu, dan atap sirap, dengan sebuah tangga menuju tempat keluarga berdiam.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Pulau Penyengat yang terletak tidak jauh dari Tanjungpinang. Karena lukisan ini lumayan mirip dengan sebuah karya Van de Velde yang terbit sekitar tahun 1844 (lihat posting ini) ada kemungkinan Rappard mengambil inspirasi (menjiplak dengan variasi?) dari karya yang lebuh dulu muncul ini.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah tungku peleburan timah (di sekitar Bangka?). Tujuh pria bertopi caping (Tionghoa?) tampak bekerja di gedung yang panas ini. Lima orang tampak terlibat langsung di pengolahan biji timah  di dalam tungku, seorang jongkok mengawasi keluaran cairan timah dari tungku, dan seorang lain memindahkan timah cair ini ke cetakan.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 10 April 2025

Dari Papua sampai ke Aceh: Nusantara dalam sketsa keluaran tahun 1883 (15)

Jembatan kayu di atas Krueng Aceh
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Tentara Belanda di sisi utara Keraton Aceh yang mereka duduki
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Area kuburan para sultan Aceh
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Gambar para panglima yang oleh Belanda disebut "penakluk" Aceh: Köhler, Van Swieten, Van Kerchem, Vam der Heijden, Van Pittius, Pel, Verspyjk, Diemont
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Tiga pemuka Kuala Gigieng, Aceh: Syahbandar, Habib Abdurrahman, dan Raja
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Lihat juga posting 1, 2, dan 3 sebelum ini.

Minggu, 06 April 2025

Dari Papua sampai ke Aceh: Nusantara dalam sketsa keluaran tahun 1883 (13)

Pelabuhan Ulee Lheue di Aceh
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, beserta denahnya
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Sebuah kawasan pemukiman di Ulee Lheue, Aceh
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Tentara Belanda di Pantai Perak, Aceh
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Lihat juga posting 1, 2, dan 3 sebelum ini.

Rabu, 25 Desember 2024

Kompilasi berwarna dari berbagai gambar dan foto yang digabungkan (3)

Di penghujung abad ke-19 ada usaha dari pihak-pihak Belanda dan pihak lain untuk memperkenalkan wajah Hindia-Belanda dengan cara yang diharapkan menarik minat banyak khalayak: Dari sekian banyak foto hitam putih, yang sebagiannya sudah pernah dimunculkan di blog ini, pihak-pihak ini mengumpulkannya, menggambar ulang dengan tangan, mewarnainya, dan menggabungkannya dengan bahan dari foto lain. Hasilnya adalah semacam kompilasi yang akan dimunculkan di seri ini.
Pengadilan desa di Jawa, pewarnaan dari foto yang pernah dimuat di posting ini
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Wajah-wajah kaum pria di Nusantara: 1. pemuka warga Sumatera bagian utara, 2. pria Aceh, 3. warga Padang, 4. warga Minangkabau, 5. tetua warga Pasemah, 6. pria Nias dalam pakaian perang, 7. kuli angkut di kalangan warga Dayak, 8. pemuka warga Timor, 9. pria Arafura dalam pakaian perang, 10. lelaki Bali, 11. pria Papua
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Wajah-wajah kaum wanita di Nusantara: 1. pengantin Jawa, 2. perempuan Jawa, 3. wanita Pasundan, 4. perempuan Madura, 5. warga Payakumbuh, 6. warga Minangkabau dari kawasan Gunung Merapi, 7. perempuan Payakumbuh, 8. wanita Singgalang, 9. pemuka warga Nias, 10. budak dari Batak, 11. anak perempuan dari seorang raja Batak, 12. wanita Bali, 13. perempuan Dayak
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: akhir abad ke-19
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Sabtu, 13 April 2024

Aceh di tahun 1870 (2)

Krueng Aceh di Kutaraja
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Pesawahan di Long Leumoh (?)
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Warga Aceh di Aneuk Galong melintasi Krueng Aceh dengan bantuan rakit dan tali
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Waktu: 1870
Tempat: Aceh
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 11 April 2024

Aceh di tahun 1870 (1)

Sebuah benteng Belanda di Kluet Kambing (?)
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Pasukan Belanda di Kutaraja
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Sungai Krueng Aceh di Aneuk Galong (?)
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Waktu: 1870
Tempat: Aceh
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 23 Maret 2023

Kumpulan foto hasil jepretan Christiaan Benjamin Nieuwenhuis (4)

Christiaan Benjamin Nieuwenhuis adalah seorang prajurit KNIL menjelang akhir abad ke-19 yang kemudian beralih profesi menjadi juru foto. Awalnya di Batavia, Nieuwenhuis kemudian menekuni dunia fotografi ini di Padang hingga akhir hayatnya. Tidak mengherankan apabila banyak karya fotonya memiliki tema Minangkabau. Karena kedekatan geografis dari Padang, Nieuwenhuis juga menjadi fotografer yang banyak mewariskan foto tentang Aceh. Meski demikian, Nieuwenhuis membuat juga banyak foto tentang Jawa, terutama Bogor. Karya-karya dia beberapa di antaranya sudah pernah dimuat di blog ini. Kali ini kita akan mencoba mengumpulkan beberapa foto dia lainnya yang bertebaran.


Pria Minang mengunyah sirih
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pasukan Belanda di Aceh
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Padang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Yogyakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Wanita Minang menenun
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Garut
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: akhir abad ke-19
Tempat: Aceh, Garut, Minangkabau (a.l. Padang), Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Christiaan Benjamin Nieuwenhuis
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Foto nomor 1 pernah dimuat di posting ini; nomor 3 di posting ini.

Selasa, 21 Maret 2023

Kumpulan foto hasil jepretan Christiaan Benjamin Nieuwenhuis (3)

Christiaan Benjamin Nieuwenhuis adalah seorang prajurit KNIL menjelang akhir abad ke-19 yang kemudian beralih profesi menjadi juru foto. Awalnya di Batavia, Nieuwenhuis kemudian menekuni dunia fotografi ini di Padang hingga akhir hayatnya. Tidak mengherankan apabila banyak karya fotonya memiliki tema Minangkabau. Karena kedekatan geografis dari Padang, Nieuwenhuis juga menjadi fotografer yang banyak mewariskan foto tentang Aceh. Meski demikian, Nieuwenhuis membuat juga banyak foto tentang Jawa, terutama Bogor. Karya-karya dia beberapa di antaranya sudah pernah dimuat di blog ini. Kali ini kita akan mencoba mengumpulkan beberapa foto dia lainnya yang bertebaran.


Petani bersawah di lembah Gunung Marapi
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Para pembesar Belanda berpose bersama para pemuka masyarakat Aceh
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pemandangan di Minangkabau (?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Dua perempuan Aceh
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Dua perempuan dan satu bocah lelaki Aceh
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: akhir abad ke-19
Tempat: Aceh, Minangkabau
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Christiaan Benjamin Nieuwenhuis
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: 

Minggu, 19 Maret 2023

Kumpulan foto hasil jepretan Christiaan Benjamin Nieuwenhuis (2)

Christiaan Benjamin Nieuwenhuis adalah seorang prajurit KNIL menjelang akhir abad ke-19 yang kemudian beralih profesi menjadi juru foto. Awalnya di Batavia, Nieuwenhuis kemudian menekuni dunia fotografi ini di Padang hingga akhir hayatnya. Tidak mengherankan apabila banyak karya fotonya memiliki tema Minangkabau. Karena kedekatan geografis dari Padang, Nieuwenhuis juga menjadi fotografer yang banyak mewariskan foto tentang Aceh. Meski demikian, Nieuwenhuis membuat juga banyak foto tentang Jawa, terutama Bogor. Karya-karya dia beberapa di antaranya sudah pernah dimuat di blog ini. Kali ini kita akan mencoba mengumpulkan beberapa foto dia lainnya yang bertebaran.


Pasukan Belanda di Cot Iri, Aceh
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Seorang perempuan Minang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Padang (?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Terowongan kereta di Lembah Anai
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Danau Maninjau
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: akhir abad ke-19
Tempat: Cot Iri (Aceh), Minangkabau
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Christiaan Benjamin Nieuwenhuis
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: 

Kamis, 03 November 2022

Dari album foto lain keluaran Topografische Dienst van Nederlands-Indië semasa Perang Aceh (7), 1874-1878

PENGANTAR

Di posting sebelum ini, blog ini menampilkan 30 foto dari album yang dikeluarkan oleh Topografische Dienst van Nederlands-Indië (Jawatan Topografi Hindia-Belanda) pada tahun 1874, yang memperlihatkan situasi di Aceh pada saat itu yang masih diselimuti oleh suasana Perang Aceh. Ke-30 foto tersebut berasal dari tweede serie (seri kedua) dengan judul dertig gezigten (tiga puluh wajah); seri pertama dengan judul vierendertig gezigten (tiga puluh empat wajah), yang memang berisi 34 foto, akan ditampilkan di rangkaian berikut ini.


1874: Pasukan Belanda di Kuala Aceh
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1874: Bivak kesehatan di Gampong Peunayong
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1874: Mess perwira Belanda di Kuala Aceh
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1874: Kesatuan laut Belanda di Kuala Aceh
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1874
Tempat: Aceh
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Topografische Dienst van Nederlands-Indië
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 26 Oktober 2022

Dari album foto lain keluaran Topografische Dienst van Nederlands-Indië semasa Perang Aceh (3), 1874-1878

PENGANTAR

Di posting sebelum ini, blog ini menampilkan 30 foto dari album yang dikeluarkan oleh Topografische Dienst van Nederlands-Indië (Jawatan Topografi Hindia-Belanda) pada tahun 1874, yang memperlihatkan situasi di Aceh pada saat itu yang masih diselimuti oleh suasana Perang Aceh. Ke-30 foto tersebut berasal dari tweede serie (seri kedua) dengan judul dertig gezigten (tiga puluh wajah); seri pertama dengan judul vierendertig gezigten (tiga puluh empat wajah), yang memang berisi 34 foto, akan ditampilkan di rangkaian berikut ini.


1878; Sebuah benteng pertahanan Belanda
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1878: Kompleks kuburan di kawasan Keraton Aceh
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1878: Area pesawahan yang menjadi medan pertempuran pada tanggal 12 Januari 1874
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1878: Perbatasan Keraton Aceh yang menjadi dinding pertahanan Belanda
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1878: Krueng Aceh dilihat dari pos pertahanan meriam Belanda
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1878
Tempat: Aceh (a.l. Kutaraja)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Topografische Dienst van Nederlands-Indië
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Sabtu, 22 Oktober 2022

Dari album foto lain keluaran Topografische Dienst van Nederlands-Indië semasa Perang Aceh (1), 1874-1878

PENGANTAR

Di posting sebelum ini, blog ini menampilkan 30 foto dari album yang dikeluarkan oleh Topografische Dienst van Nederlands-Indië (Jawatan Topografi Hindia-Belanda) di tahun 1870-an, yang memperlihatkan situasi di Aceh pada saat itu yang masih diselimuti oleh suasana Perang Aceh. Ke-30 foto tersebut berasal dari tweede serie (seri kedua) dengan judul dertig gezigten (tiga puluh wajah); seri pertama dengan judul vierendertig gezigten (tiga puluh empat wajah), yang memang berisi 34 foto, akan ditampilkan di rangkaian berikut ini.


1874: Pasukan Belanda menaiki Gunongan (kiri) dan membuat benteng karung ke arah makam Sultan Iskandar Thani (kanan)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1878: Dua meriam kaliber 12 cm
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1878: Para petinggi Belanda di geladak kapal Prins Alexander
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1878: Sebuah mesjid di Gampong Jawa, Kutaraja
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1878: Para perwira dan prajurit dari Brigade III, yang juga berisi wajah-wajah pribumi
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1874, 1878
Tempat: Aceh
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Topografische Dienst van Nederlands-Indië
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: