Tampilkan postingan dengan label Madiun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Madiun. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Februari 2023

Perkebunan tebu di Madiun 1914 dalam jepretan D. Huppe (2)

Pohon tebu menjelang panen
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Panen tebu
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Seorang mandor dan petani tebu pada saat panen
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Waktu: 1914
Tempat: Madiun
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: D. Huppe
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 07 Februari 2023

Perkebunan tebu di Madiun 1914 dalam jepretan D. Huppe (1)

Penyiapan bibit tebu
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pembersihan bibit tebu
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Membawa bibit ke kawasan perkebunan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Penanaman bibit tebu
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Waktu: 1914
Tempat: Madiun
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: D. Huppe
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 07 Juni 2022

Fasisme di Hindia Belanda: Perjalanan kereta menuju acara Landdag di Jakarta (2)

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda, termasuk perjalanan kereta menuju Landdag, atau pertemuan akbar di Jakarta yang menjadi ajang unjuk kekuatan para pendukung NSB.


Kemungkinan di stasiun Madiun (?): Para peserta Landdag …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

… menunggu kereta yang akan membawa mereka ke arah Jakarta
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Ketibaan para peserta Landdag asal Jawa Tengah dan Jawa Timur di stasiun Manggarai …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

… menjadi kesempatan untuk foto bersama di depan gerbong khusus Landdag
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: Desember 1937
Tempat: Jakarta, Madiun (?)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 23 Mei 2020

Warisan Kartini: Sekolah Kartini di Madiun, Malang

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Sejarah Hindia-Belanda menunjukkan bahwa tokoh yang menjadi pahlawan bagi bangsa Indonesia, bagi pihak Belanda saat itu tak lebih dari pemberontak, pembuat onar, penyulut kerusuhan, dsb. Sebaliknya, orang yang diberi tanda jasa oleh Belanda, bagi bangsa Indonesia merupakan pembantai, penjahat perang, kolaborator, dsb.

Raden Ayu Kartini merupakan satu dari sedikit pengecualian: Orang Belanda dan Indonesia sama-sama kagum dan menghargai apa yang beliau rintis untuk memajukan bangsa Indonesia, terutama kaum perempuannya. Bahkan kemudian warga Belanda bersama warga Indonesia bersama-sama meneruskan dan mengembangkan apa yang telah beliau mulai, yaitu dengan menghidupkan sarana pendidikan untuk anak-anak perempuan Indonesia.

Seri foto berikut ini akan menampilkan foto-foto Kartini dan keluarganya, dan diteruskan dengan munculnya sekolah-sekolah Kartini di berbagai pelosok

12 Januari 1915: Peletakan batu pertama Sekolah Kartini di Madiun
(klik untuk memperbesar | © NMVW)
12 Januari 1915: Peletakan batu pertama Sekolah Kartini di Madiun
(klik untuk memperbesar | © NMVW)
Sekitar 1930: Guru dan murid Sekolah Kartini di Malang
(klik untuk memperbesar | © NMVW)
1937: Para murid Sekolah Kartini Malang berbaris di acara Pesta Oranye
(klik untuk memperbesar | © NMVW)

Waktu: 1915, 1930, 1937
Tempat: Madiun, Malang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Nationaal Museum van Wereldculturen
Catatan:

Rabu, 18 Juli 2018

Kolonel Sungkono di penghujung tahun 1949

Kediri, September 1949: Kol. Sungkono, didampingi Letkol. Sukanda Bratamanggala mengunjungi masyarakat dan pasukan TNI di Kediri
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Madiun, 17 Desember 1949: Kol. Sungkono memberikan piala kepada tim Belanda yang menang 2-1 atas tim Indonesia
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Madiun, 17 Desember 1949: Tim sepakbola Indonesia dan Belanda yang bertanding
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 1949
Tempat: Kediri, Madiun
Tokoh: Kolonel Sungkono (Gubernur Militer Jawa Timur), Letkol. Sukanda Bratamanggala (perwira Siliwangi)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

UPDATE 18 Agustus 2018
Tambahan foto dari acara kunjungan Kol. Sungkono dan Letkol. Sukanda ke Kediri:
Kol. Sungkono (kanan) berdampingan dengan Letkol. Sukanda di acara kunjungan ke Kediri
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Kesatuan pemuda pejuang yang menyambut Sungkono dan Sukana di Kediri
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Kamis, 17 Mei 2018

Para pejuang TNI memasuki Madiun, 1949

PENGANTAR
Di tahun 1949, terutama menjelang akhir tahun di mana Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, di berbagai pelosok terjadi peristiwa yang sama: Militer Belanda menarik diri dari wilayah yang didudukinya, dan para pejuang kemerdekaan "turun gunung" mengambil alih daerah yang selama ini dikuasai Belanda. Beberapa foto dari berbagai daerah akan diperlihatkan di seri berikut ini.

(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 15 November 1949
Tempat: Madiun
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: A.J.M. Loomans
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Rabu, 07 Desember 2016

Pemberontakan PKI Madiun 1948: Eksekusi atas para pemberontak

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: September 1948
Tempat: Madiun
Tokoh: 
Peristiwa: Eksekusi di depan umum dengan menggunakan senapan dan bayonet atas para pelaku pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948. 
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Tiga dari foto di atas pernah dimuat di posting tanggal 29 Agustus dan 20 Oktober 2016. Sekarang ketiga foto ini digabung dengan dua foto lain dari peristiwa yang sama, yang baru terkumpul belakangan.

Kamis, 20 Oktober 2016

Pemberontakan PKI Madiun 1948: Nasib akhir para pelaku pemberontakan (2)

Diikat, digiring ke lubang, sesaat sebelum dieksekusi
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Eksekusi dengan ditusuk bayonet di muka umum
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Mayat seorang pelaku pemberontakan
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Kemungkinan besar tangga tempat eksekusi para pemberontak di foto sebelumnya
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: September 1948
Tempat: Madiun
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan tanggal 5 November 2016: Foto pertama dan kedua akan dimuat ulang di posting tanggal 7 Desember 2016 bersama 3 foto lain dari peristiwa yang sama.

Senin, 29 Agustus 2016

Pemberontakan PKI Madiun 1948: Nasib akhir para pelaku pemberontakan (1)

Diikat, digelandang, ditusuk bayonet, kemungkinan kemudian dieksekusi dan dikubur di tempat
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Dipertontonkan di depan umum
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Ditusuk parang di depan umum
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: September 1948
Tempat: Madiun
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan tanggal 5 November 2016: Foto pertama akan dimuat ulang di posting tanggal 7 Desember 2016 bersama 4 foto lain dari peristiwa yang sama.

Selasa, 23 Agustus 2016

TNI menggelandang pelaku pemberontakan PKI Madiun 1948 (2)

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: September 1948
Tempat: Madiun
Tokoh:
Peristiwa: TNI menggelandang beberapa pelaku pemberontakan PKI Madiun dengan diikuti tatapan khalayak ramai.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Selasa, 26 Juli 2016

Jasad pemberontak PKI Madiun dipertontonkan, 1948

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: September 1948
Tempat: Madiun
Tokoh:
Peristiwa: Jasad seorang pemberontak PKI Madiun, dengan tangan terikat dan punggung terluka, diperlihatkan ke khalayak.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Senin, 01 Februari 2016

TNI menggelandang pelaku pemberontakan PKI Madiun 1948

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: September 1948
Tempat: Madiun
Tokoh:
Peristiwa: TNI mengikat, menggelandang, dan menginterogasi pelaku pemberontakan PKI Madiun 1948
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Selasa, 22 Desember 2015

Tindakan bumi hangus pejuang kemerdekaan (4): Cilacap, Pekalongan, Pagotan

Pabrik pupuk di Cilacap
(klik untuk memperbesar | © gahetna/spaarnestad)
Volkscredietbank di Pekalongan
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Pabrik gula di Pagotan (antara Ponorogo dan Madiun)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 1947
Tempat: Cilacap, Pekalongan, Madiun
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Hugo Wilmar (foto pertama)
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief dan Spaarnestad (foto pertama)
Catatan:

Kamis, 19 November 2015

Senin, 25 Agustus 2014

Kerusakan akibat pemberontakan PKI di Madiun, 1948

(klik untuk memperbesar, © gahetna)
Waktu: 18 September 1948
Tempat: Madiun
Tokoh:
Peristiwa: Kerusakan akibat pemberontakan PKI di Madiun.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Kamis, 03 Juli 2014

Warga lokal yang tidak bersahabat dengan para pejuang kemerdekaan 2

Tidak semua rakyat Hindia Belanda menginginkan kemerdekaan. Dengan berbagai alasan beberapa pihak malah lebih senang hidup di bawah kekuasaan Belanda atau malah memusuhi para pejuang kemerdekaan. Generalisasi tentu tidak bisa disimpulkan terhadap kelompok atau suku tertentu. Tapi foto-foto berikut mudah-mudahan bisa menambah bahan masukan untuk diskusi tentang hal ini.


2. Kedua adalah kalangan aristokrat yang terbiasa hidup senang di bawah perlindungan Belanda dan ingin mempertahankan status ini.

Foto di bawah memperlihatkan R.M.T.R. Koesnandar, bangsawan Madiun, yang merasa senang setelah pasukan Belanda memukul mundur para pejuang kemerdekaan dari kotanya.

© gahetna

[bersambung]

Waktu: antara 1946 dan 1949
Tempat: Madiun
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Nationaal Archief

Kamis, 07 Februari 2013

Upacara para pemuda mendukung kemerdekaan, 1946

(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
Waktu: 1946
Tempat: Madiun
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: John Florea
Sumber / Hak cipta: Time Life
Catatan: