Tampilkan postingan dengan label 1900-an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1900-an. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 April 2023

Dari serakan foto hasil jepretan studio "Ernst & Co" dan "Charls, Van Ess & Co"

Ernst & Co, 1880: Sebuah rumah di kawasan perkebunan di Sumatera
(klik untuk memperbesar | © NGA)
H. Ernst, 1885: Pengeboran sebuah sumur di tengah hutan di Sumatera (?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
H. Ernst, 1910: Pembesar perkebunan di Sumatera (?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Charls, Van Ess & Co, awal 1900-an: Sebuah gedung komersial di Jakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Charls, Van Ess & Co: Tampak dalam sebuah rumah Belanda
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1880, 1885, awal 1900-an, 1910
Tempat: Jakarta, Sumatera
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Ernst & Co | Charls, Van Ess & Co
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 08 Mei 2019

Beberapa wajah warga Nusantara dari akhir abad ke-19 ke awal abad ke-20

Sumatera, September 1885: Dua warga lokal menemani seorang pemburu Belanda. Di sekeliling tenda tampak kepala badak, banteng, serta kaki badak yang sudah dipotong.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Bali(?), 1900-1910: Anak-anak bermain di sungai
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
1913: Seorang ibu berkebaya bersama anak berbaju monyet di sebelah pohon kelapa yang lebat buahnya
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Jawa, 1918: Acara selamatan
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: 1885, 1900-an, 1913, 1918
Tempat: Bali(?), Jawa, Sumatera
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Selasa, 09 Oktober 2018

Sebuah perlawanan rakyat Jawa di awal tahun 1900-an yang belum teridentifikasi

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: antara 1900 dan 1910
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa: Foto-foto memperlihatkan jenazah beberapa lelaki yang tampaknya tewas setelah perlawanan mereka ditumpas oleh pasukan Belanda. Jenazah tampak dikelilingi oleh warga lokal, pamong yang pro-Belanda, pasukan KNIL, dan pejabat Belanda. Belum ada informasi mengenai waktu, tempat, dan detail lain tentang peristiwa ini.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Sabtu, 21 Juli 2018

Seni Sunda zaman dulu dari berbagai masa

Bandung, antara 1863-1865: Empat mojang penari serimpi
(klik untuk memperbesar | © van Kinsbergen / Universiteit Leiden)
Wayang golek di sekitar tahun 1900; kemungkinan besar dalam pose dan posisi yang diatur si fotografer
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Sekitar 1905: Kuda lumping dengan iringan angklung
(klik untuk memperbesar | © Sigrist / Universiteit Leiden)
Garut, 1910: sekelompok mojang penari wayang orang
(klik untuk memperbesar | © Knackstedt & Co./ Universiteit Leiden)
Waktu: 1863, 1900-an, 1905, 1910
Tempat: Bandung, Garut, Jawa Barat
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Jumat, 15 Juni 2018

Jalur kereta api wilayah Priangan di tahun 1900-an (4)

PENGANTAR

Buat para insinyur Belanda, yang berasal dari negeri yang umumnya berkontur datar, jalur kereta api di Indonesia adalah tantangan. Tidak mudah untuk membentangkan rel kereta yang memerlukan lahan landai, tetapi harus melewati perbukitan, dengan sungai, lembah, atau malah jurang di antaranya.
Tidak mengherankan, ketika mereka bisa menjawab tantangan ini, bahkan bisa menyambungkan rel dari Jakarta hingga Bandung di tahun 1884, warga Belanda bangga dengan prestasi ini. Jalur rumit, yang menembus bukit dan melompati lembah, menjadi motif yang banyak muncul di foto dan kartu pos. Kartu pos, yang dikirim ke Belanda seolah-olah berkata ke warga Belanda di sana: "Kami punya ginian loh di sini."

sekitar 1900
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
sekitar 1920
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Stasiun Cigombong (Sukabumi), sekitar 1915
(klik untuk memperbesar | © Helmig & Co. / Universiteit Leiden)
Stasiun Malangbong (Garut), sekitar 1900
(klik untuk memperbesar | © Salzwedel / Universiteit Leiden)

Waktu: sekitar 1900, 1915, 1920
Tempat: Jawa Barat
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Senin, 11 Juni 2018

Jalur kereta api wilayah Priangan di tahun 1900-an (2)

PENGANTAR

Buat para insinyur Belanda, yang berasal dari negeri yang umumnya berkontur datar, jalur kereta api di Indonesia adalah tantangan. Tidak mudah untuk membentangkan rel kereta yang memerlukan lahan landai, tetapi harus melewati perbukitan, dengan sungai, lembah, atau malah jurang di antaranya

Tidak mengherankan, ketika mereka bisa menjawab tantangan ini, bahkan bisa menyambungkan rel dari Jakarta hingga Bandung di tahun 1884, warga Belanda bangga dengan prestasi ini. Jalur rumit, yang menembus bukit dan melompati lembah, menjadi motif yang banyak muncul di foto dan kartu pos. Kartu pos, yang dikirim ke Belanda seolah-olah berkata ke warga Belanda di sana: "Kami punya ginian loh di sini."

Palasari (?)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Cisaat, Sukabumi
(klik untuk memperbesar | © Salzwedel / Universiteit Leiden)
(klik untuk memperbesar | © Salzwedel / Universiteit Leiden)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1900-an
Tempat: Jawa Barat
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Sabtu, 09 Juni 2018

Jalur kereta api wilayah Priangan di tahun 1900-an (1)

PENGANTAR

Buat para insinyur Belanda, yang berasal dari negeri yang umumnya berkontur datar, jalur kereta api di Indonesia adalah tantangan. Tidak mudah untuk membentangkan rel kereta yang memerlukan lahan landai, tetapi harus melewati perbukitan, dengan sungai, lembah, atau malah jurang di antaranya.

Tidak mengherankan, ketika mereka bisa menjawab tantangan ini, bahkan bisa menyambungkan rel dari Jakarta hingga Bandung di tahun 1884, warga Belanda bangga dengan prestasi ini. Jalur rumit, yang menembus bukit dan melompati lembah, menjadi motif yang banyak muncul di foto dan kartu pos. Kartu pos, yang dikirim ke Belanda seolah-olah berkata ke warga Belanda di sana: "Kami punya ginian loh di sini."

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1900-an
Tempat: viaduct di atas Ciherang, antara Malangbong dan Cipeundeuy (Garut)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Minggu, 03 Juni 2018

Rumah tradisional di pedesaan Jawa Barat zaman dulu

PENGANTAR

Di bawah ini ada sedikit foto yang menunjukkan rumah di pedesaan Sunda zaman dulu. Rumah-rumah ini bergerombol atau didirikan bertetangga dekat satu sama lain. Bangunannya hanya memiliki satu lantai, berjenis panggung dengan jarak relatif dekat ke permukaan tanah. Tiang dari kayu, sementara dinding dan lantai dari bambu atau anyaman bambu. Atap memiliki kemiringan yang lumayan, dengan bahan dari rumbia atau injuk; foto yang lebih baru menunjukkan atap yang lebih landai dengan genteng sebagai penutup atap. Sebagian rumah memiliki beranda sebelum pintu masuk, sebagian lain tidak. Fasilitas mandi-cuci-kakus bisa dipastikan tidak ada di dalam rumah.

1875
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Garut, 1900-an
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1910
(klik untuk memperbesar | © Kurkdjian / Universiteit Leiden)
Waktu: 1875, 1900-an, 1910
Tempat: Jawa Barat
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Kurkdjian (foto bawah)
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Jumat, 01 Juni 2018

Berbagai jenis jembatan bambu di zaman Belanda

1930: Model sederhana, jembatan gantung (dan goyang) tanpa pegangan yang kokoh
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Sekitar 1900, aliran Cisadane di Batutulis (Bogor): Jembatan melengkung dengan tumpuan di bentangan (dan sambungan) bambu di antara dua tepian sungai
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1893 Cipait/Citarum, Karawang: Konstruksi yang lebih rumit dengan menggabungkan bentangan dan lengkungan, dilengkapi dengan atap bertingkat
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1905 Cikampek: Penyelesaian jembatan bambu yang rumit bisa membanggakan. Pembukaan dan peresmiannya menjadi kesempatan buat warga Belanda mengadakan pesta, di atas jembatannya.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Perayaan yang sama, difoto dari luar. Wedana wilayah Cikampek berdiri dipayungi sebelah kanan; isterinya berkebaya di tengah, di sebelah insinyur Belanda, B.M. Biljdenstein. Di latar belakang tampak kerumunan warga di tepi seberang sungai.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1893, 1900, 1905, 1930
Tempat: Jawa Barat (a.l. Bogor, Cikampek, dan Karawang)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Selasa, 26 Maret 2013

Beberapa foto hasil jepretan Thomas Barbour di Papua

(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
Waktu: antara 1906 dan 1909
Tempat: Papua
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Thomas Barbour
Sumber / Hak cipta: National Geographic Society / Corbis
Catatan: Thomas Barbour (1884-1946) adalah seorang pakar herpetologi dari Amerika. Dia menikah tahun 1906 dan melakukan perjalanan bulan madu selama dua tahun antara lain ke Jawa, Papua, dan wilayah lain di Nusantara. Riwayat singkatnya bisa dilihat di wikipedia.