Tampilkan postingan dengan label Abdul Haris Nasution. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Abdul Haris Nasution. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Februari 2024

AI-Colorizing: Abdul Haris Nasution, 1965

(klik untuk memperbesar)

Pewarnaan foto hitam putih dengan bantuan kecerdasan buatan. Foto asli bisa dilihat di posting ini.

Waktu: 6 Mei 1965
Tempat: bandara Schipol, Belanda
Tokoh: Jenderal Abdul Haris Nasution (salah satu pendiri TNI)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta:
Catatan:

Selasa, 20 Oktober 2020

A.H. Nasution dan D.N. Aidit dalam jepretan Aleksey Yurievich Drugov di depan Kedubes Uni Sovyet, 1964

(klik untuk memperbesar | © Aleksey Yurievich Drugov)

Meski sama-sama komunis, RRT (negara dengan partai komunis terbesar di dunia) berselisih dengan Uni Sovyet (negara dengan partai komunis terbesar kedua di dunia). Keduanya saling berebut pengaruh, termasuk di Indonesia (negara dengan partai komunis terbesar ketiga di dunia saat itu). Nasution dan Aidit tampak berada di area Kedutaan Besar Uni Sovyet di Jakarta, yang kemungkinan merupakan bagian dari usaha Uni Sovyet dalam melobby jajaran petinggi sipil dan militer Indonesia. 

Foto ini diambil oleh Aleksey Yurievich Drugov, yang saat itu berumur 27 tahun dan merupakan seorang staf penerjemah di kedutaan. Kelak, Drugov menjadi guru besar dalam hal keindonesiaan di Rusia.

Waktu: 1964
Tempat: Jakarta
Tokoh:  Abdul Haris Nasution (Menteri Pertahanan dan Keamanan), Dipa Nusantara Aidit (pucuk pimpinan PKI)
Peristiwa:
Fotografer: Aleksey Yurievich Drugov
Sumber / Hak cipta: Aleksey Yurievich Drugov
Catatan:

Sabtu, 17 Oktober 2020

Karikatur Belanda tentang Papua: Faktor Tunku Abdul Rahman

Vrij Nederland, 22 Oktober 1960: "Ik vond het niet nodig vooraf met de Nederl. Regering te praten"
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Vrij Nederland, 3 Desember 1960:
Soepele diplomatie: "Geen verwikken aan … welterusten!"
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Kedua karikatur ini menunjukkan bagaimana Belanda merasa bahwa Federasi Malaya (kelak menjadi Malaysia), yang diwakili oleh Perdana Menterinya, Tunku Abdul Rahman, memiliki kepentingan tersendiri dalam hal Papua (yang tidak dijabarkan lebih lanjut).
Karikatur pertama memperlihatkan bagaimana Rahman berkata kepada A.H. Nasution dalam hal Papua, di belakang Joseph Luns, bahwa "Saya tidak merasa perlu untuk berbicara dengan pemerintah Belanda sebelumnya."
Di karikatur kedua tampak Rahman tidak melanjutkan kegiatan menyetrika baju (di atas badan Subandrio), dan melepas sepatu serta memakai baju tidur, membawa lilin ke kamar, dan berkata "Selamat malam." Potongan koran di pojok kanan atas menyebutkan bahwa Subandrio sebelumnya berkata bahwa satu-satunya penyelesaian masalah Papua adalah dengan penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Indonesia secepatnya. Tunku Abdul Rahman mengomentari pernyataan ini dengan berkata: "Jika ini adalah posisi resmi pemerintah Indonesia, maka langkah saya berikutnya adalah pergi tidur dulu."

Waktu: 1960
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 10 Mei 2019

Keluarga Abdul Haris Nasution di tahun 1968

D.ki.k.ka.: Hendrianti Saharah (anak Pak Nas; kakak Ade Irma Suryani), neneknya Hendrianti, Bu Nas (Johanna Sunarti)
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: 1968
Tempat: Jakarta
Tokoh: l.d.a.
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Minggu, 05 Maret 2017

TNI hijrah dari Tasikmalaya (10): para perwira TNI, Belanda, dan pengamat internasional

PENGANTAR

Perundingan Renville menghasilkan keputusan yang diperdebatkan: di satu sisi, Belanda mengakui secara resmi eksistensi Republik Indonesia; di sisi lain, Republik Indonesia hanya diakui di Yogyakarta serta sebagian dari wilayah Banten, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Salah satu konsekuensinya adalah bahwa pasukan TNI harus hengkang dari luar wilayah itu. Maka dimulailah proses perpindahan pejuang TNI secara besar-besaran yang dikenal dengan istilah hijrah.

Banyak wilayah di Jawa Barat menjadi tempat awal proses hijrah. Pasukan TNI berkumpul a.l. di Cianjur, Cicurug, Ciwidey, Kuningan, Purwakarta, dan Sukabumi untuk meninggalkan kampung halaman dan tempat perjuangan menuju Jawa Tengah. Tapi bukan hanya dari Jawa Barat, proses hijrah juga tercatat terjadi di Sumatera Selatan (pangkalan udara Karang Endah, Gelumbang, Muara Enim), Jawa Tengah (Banyumas, Kroya), dan Jawa Timur (Bangil).

Pihak Belanda lumayan banyak membuat foto dari peristiwa ini. Betapa tidak, inilah kesempatan Belanda untuk mendokumentasikan pejuang TNI tanpa harus takut adanya baku tembak.

Kita akan lihat bagaimana pasukan TNI sebagian besar berperlengkapan seadanya, bahkan sering tanpa alas kaki. Tapi ini semua tidak menghalangi mereka untuk berbaris dengan bangga memasuki area permulaan hijrah. Ini akan sangat mendukung pernyataan bahwa TNI itu memang "berasal dari rakyat".

Beberapa foto lain akan memperlihatkan bagaimana beragamnya senjata TNI. Senjata-senjata itu harus diserahkan ke pihak Belanda sebelum proses hijrah dimulai. Kita akan lihat senapan dan mitraliur, granat dan ranjau, hingga ke pedang samurai Jepang, bahkan sampai ke ban-ban mobil untuk diserahkan ke pihak Belanda.

Kita juga akan lihat bahwa pasukan TNI bukan hanya lelaki, tetapi juga dari kaum perempuan. Ini sangat menarik buat pihak Belanda sehingga mereka membuat beberapa foto dari para pejuang wanita ini. Selain pejuang wanita, Belanda juga mencatat bahwa ada juga pejuang TNI yang masih bisa dikategorikan sebagai anak-anak. Selain itu, juru foto Belanda memperlihatkan bagaimana isteri dan keluarga pejuang TNI rela ikut meninggalkan kampung halaman mereka menuju wilayah baru yang boleh jadi tidak pernah mereka kenal atau lihat sebelumnya.

Selanjutnya, di beberapa foto akan kita lihat bagaimana pejuang TNI bisa ngobrol santai dengan pasukan Belanda, malah berfoto bersama sambil tersenyum. Suatu hal yang boleh jadi tak terbayangkan sebelumnya ketika kedua belah pihak masih saling bertempur.

Selamat menyimak bagian dari sejarah kita ini!

Pengamat dari Komisi Tiga Negara diapit dua perwira TNI
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Abdul Haris Nasution duduk di sebelah Kolonel Lentz (kanan)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Pengamat dari KTN meninjau tempat registrasi prajurit TNI
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Duduk dari kiri ke kanan: Letkol Soetardjo (?), Kolonel Hidayat Martaatmaja, Mayor Lutkie, Kolonel Lentz, seorang letnan Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
AH Nasution dan Kolonel Lentz (kanan)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 5 Februari 1948
Tempat: Tasikmalaya
Tokoh: Kolonel Abdul Haris Nasution (Panglima Divisi Siliwangi, Wakil Panglima TKR), Kolonel Hidayat Martaatmaja (Kepala Staf Divisi Siliwangi)
Peristiwa:
Fotografer: Exalto
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Selasa, 19 April 2016

Kunjungan A.H. Nasution ke Belanda di tahun 1965

(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 6/7 Mei 1965
Tempat: bandara Schiphol (Belanda)
Tokoh: Jenderal Abdul Haris Nasution (Menteri Pertahanan)
Peristiwa:
Fotografer: Wieleck
Sumber / Hak cipta: Anefo / Het Nationaal Archief
Catatan:


UPDATE 2 Januari 2020

Tambahan foto dan informasi: Nasution berada di Schiphol untuk perjalanan lanjutan ke Moskow, Uni Sovyet dalam rangka peringatan 20 tahun kemenangan Tentara Merah atas Jerman Nazi.

(klik untuk memperbesar | ©  Ge van der Werff / Het Geheugen / ANP)

Jumat, 15 April 2016

Abdul Haris Nasution di acara yang belum teridentifikasi (1950-an?)

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Waktu: kemungkinan besar 1950-an
Tempat: Jakarta (?)
Tokoh: Abdul Haris Nasution (Kepala Staf Angkatan Darat)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Foto-foto ini ada hubungannya dengan peristiwa 17 Oktober 1952?

Selasa, 12 April 2016

Jenderal A.H. Nasution di Belanda, 1971

(klik untuk memperbesar | © Cor Mulder)
(klik untuk memperbesar | © Punt/gahetna/Anefo)
(klik untuk memperbesar | © Punt/gahetna/Anefo)
Waktu: 3 Mei 1971
Tempat: Bandara Schiphol, Belanda
Tokoh: Abdul Haris Nasution (Ketua MPRS)
Peristiwa: Nasution di bandara Schiphol dalam kunjungan yang disebut sebagai lawatan pribadi ke Belanda.
Fotografer: Cor Mulder
Sumber / Hak cipta: Nationaal Archief / Spaarnestad Photo / Fotoleren / ANP
Catatan: Di tahun yang sama Nasution dibebastugaskan dari dinas militer oleh rezim Orde Baru, 2 tahun sebelum usia pensiun resmi.


UPDATE 2 Januari 2020:
Sebelumnya posting ini memuat satu foto lain yang ternyata merupakan kunjungan Nasution di tahun 1965, bukan 1971. Foto ini sudah dikeluarkan; untuk info lebih lanjut lihat posting ini.

Minggu, 10 April 2016

Jenderal A.H. Nasution di tahun 1960-an (2)

2 Januari 1962
(klik untuk memperbesar | © gahetna/Antara)
(klik untuk memperbesar | © gahetna/Keystone)
(klik untuk memperbesar | © gahetna/spaarnestad)
Waktu: 1960-an
Tempat:
Tokoh: Jdeneral Abdul Haris Nasution
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Keystone / Spaarnestad / Antara / Het Nationaal Archief
Catatan: Lihat juga foto-foto Nasution dari periode yang sama.

Sabtu, 10 Oktober 2015

Nasution, Soeharto, dan Franz Josef Strauss di tahun 1961

(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 27 Juni 1961
Tempat: Bonn (?)
Tokoh: Franz Josef Strauss (Menteri Pertahanan Jerman Barat), Abdul Haris Nasution (Menteri Pertahanan dan Keamanan RI), Soeharto (Panglima Kostrad)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Ini adalah satu dari sedikit foto yang masih jelas menunjukkan posisi Suharto di bawah Nasution saat itu.

Sabtu, 22 Agustus 2015

Abdul Haris Nasution, Chaerul Saleh, Johanes Leimena, dan Soebandrio di Istana Bogor, 1965

(klik untuk memperbesar)

Waktu: 24 November 1965
Tempat: Istana Bogor
Tokoh (d.ki.k.ka.): Jenderal Abdul Haris Nasution (Menteri Pertahanan dan Kemanan; dengan kaki yang mash pincang), Chareul Saleh (Ketua MPRS), Johannes Leimena (salah satu menteri koordinator di Kabinet Dwikora I), Soebandrio (Wakil Perdana Menteri)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Nationaal Archief / Spaarnestad Photo / Fotoleren / UPI
Catatan: Di akhir masa perang kemerdekaan Nasution pernah menangkap Chaerul Saleh dan membuangnya ke Jerman karena Chaerul menentang hasil Konferensi Meja Bundar.

Minggu, 16 Agustus 2015

Soekarno dan Nasution setelah percobaan pembunuhan kelima atas Soekarno, 1962

(klik untuk memperbesar)

Waktu: 18 Mei 1962
Tempat: Jakarta
Tokoh: Soekarno (Presiden RI), Jenderal Abdul Haris Nasution (Menteri Pertahanan dan Keamanan)
Peristiwa: Soekarno tersenyum dan melambaikan tangan setelah selamat dari usaha pembunuhan kelima atas dirinya (atas). Nasution dengan pengawalan ketat berbicara kepada khalayak setelah usaha pembunuhan tsb. tetapi dia tidak menyinggung hal itu di dalam pidatonya.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Nationaal Archief / Spaarnestad Photo / Fotoleren / ANP
Catatan:

Senin, 23 Februari 2015

Jenderal A.H. Nasution di tahun 1960-an (1)

(klik untuk memperbesar | © Beryl Bernay/Getty Images)
Waktu: 1960-an (kemungkinan 1965 atau 1966)
Tempat: Jakarta (?)
Tokoh: Jenderal Abdul Haris Nasution
Peristiwa:
Fotografer: Beryl Bernay
Sumber / Hak cipta: Getty Images
Catatan:


UPDATE 28 November 2015:
Foto berikut ini kemungkinan berasal dari acara yang sama.
(klik untuk memperbesar | © Ed van der Elsken/fotoleren)

Selasa, 17 Februari 2015

Kediaman Jenderal A.H. Nasution di Jl. Teuku Umar, Jakarta 1961

(klik untuk memperbesar | © Keystone Features/Getty Images)
Waktu: 1961
Tempat: Jl. Teuku Umar, Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Getty Images
Catatan:

Senin, 28 Juli 2014

Soekarno di sebuah upacara Hari Kemerdekaan

(klik untuk memperbesar)
Waktu: 1960-an (?)
Tempat: Jakarta
Tokoh: Soekarno (Presiden RI), Abdul Haris Nasution (berjalan di belakang Soekarno?)
Peristiwa: Soekarno di sebuah upacara Hari Kemerdekaan
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Rabu, 23 Oktober 2013

Jenderal Nasution setelah peristiwa G-30-S


Waktu: 6 Oktober 1965
Tempat: Jakarta
Tokoh: Jenderal Abdul Haris Nasution (Kepala Staf Angkatan Bersenjata)
Peristiwa: Setelah peristiwa G-30-S yang menyarangkan peluru di badannya, dan menewaskan putrinya, Nasution unjuk diri dengan kawalan ketat para tentara.
Fotografer: Beryl Bernay
Sumber / Hak cipta: Getty Images


UPDATE 28 November 2015:
Foto-foto tambahan dari peristiwa yang sama.
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna / spaarnestad / ANP Scans)

Senin, 31 Desember 2012

Jenderal Abdul Haris Nasution

(klik untuk memperbesar)
Waktu: 1966
Tempat: -
Tokoh: Abdul Haris Nasution
Fotografer: Co Rentmeeste
Hak cipta: Time Life